Secercah Kebahagiaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 May 2017

Baru lima bulan Ayah dan Ibu berpisah, kini Ayah telah mendapatkan calon istri baru. Menyebalkan sekali, bukan? Aku benci ayahku. Ia juga yang menyebabkan Ibu pergi dari rumah karena merasa tak dihargai oleh Ayah. Sebenarnya, aku ingin ikut dengan Ibu, tetapi Ayah melarang. Ia bilang ia membutuhkanku untuk memasak dan membersihkan rumah. Padahal aku baru kelas 2 SMP, tapi sudah disuruh ini-itu olehnya. Terkadang aku sampai harus bolos sekolah karena terlalu capek. Tapi, Ayah tak peduli meski prestasiku menurun. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Benar-benar egois!

Hubunganku dengan Ayah tak bisa dibilang baik. Kami sering bertengkar, dan ujung dari pertengkaran itu adalah lebam-lebam biru di sekujur tubuhku. Oleh karena itu, aku sebisa mungkin menghindari Ayah. Pagi-pagi buta, aku sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk kami berdua, lalu langsung berangkat ke sekolah. Untungnya, sepulang sekolah, aku tak akan menemukan Ayah di rumah, soalnya Ayah bekerja sampai larut malam. Entah dia memang pergi bekerja atau hanya mabuk-mabukan di kedai dekat kantornya. Aku tidak tahu dan aku tidak peduli.

Sebenarnya, aku ingin mengadu pada pihak sekolah atau bahkan polisi tentang ayahku dan segala keburukan-keburukannya, tapi aku takut mereka tak akan percaya. Kalau pun percaya, aku tidak yakin mereka bisa memberikan perlindungan penuh padaku. Apalagi, kalau Ayah tahu, tampaknya dia tidak akan ragu untuk membunuhku.

Malam itu aku terbangun dari tidurku karena merasa haus. Aku pun keluar dari kamarku dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ini sudah jam dua, seharusnya Ayah sudah pulang. Ruang tamu tampak terang, mungkin Ayah sedang menonton televisi di sana. Akan tetapi, ketika aku berjalan melewati ruangan tersebut, yang kulihat bukanlah Ayah yang sedang menonton televisi, melainkan seorang wanita yang memakai seragam kantor seperti Ayah yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.

Aku terkejut, gelas yang kupegang langsung jatuh dan pecah. Wanita itu kontan bangkit dari posisi duduknya dan menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan; antara terkejut, bingung, atau mungkin takut.

“Suara apa tadi?” Ayahku muncul dari ruang keluarga di sebelah. Kemudian ia melihatku. Kukira Ayah akan marah, seperti biasanya, ketika mendapati bahwa aku belum tidur, tapi ternyata ia tak melakukannya di depan wanita asing itu. Dengan rahang yang mengeras, ia menatapku dingin. “Kenapa kau belum tidur, Vinney?”
Aku menunjuk genangan air dan pecahan gelas di lantai. “Cuma haus,” ucapku, lalu menatap Ayah sinis. “Siapa wanita itu, Yah? Gebetan baru?”
Ayah tidak menjawab, membuatku semakin geram. Aku sudah akan membentaknya ketika wanita itu tiba-tiba berjalan menghampiriku.
“Aku Lauren,” ia memperkenalkan diri. “Rekan kerja ayahmu … sekaligus calon ibu tirimu.”

Dan sejak saat itu, kebencianku pada Ayah semakin berlipat ganda. Aku juga membenci Lauren, apalagi akhir-akhir ini ia sering datang untuk menginap. Dari awal, wanita itu sudah mendapatkan kesan buruk di mataku. Ditambah lagi, ia seenaknya saja membuang barang-barang peninggalan ibuku, seperti vas atau piring kesayangan Ibu. Ia juga membakar foto keluarga kami, padahal itu satu-satunya kenangan yang tersisa tentang Ibu. Apalagi, Lauren sering mencelaku. Dia bilang makanan yang kumasak tidak seenak buatannya. Ia bahkan memuntahkan masakanku. Tapi memang, ia lebih jago dariku, namun dia tidak akan pernah menjadi lebih hebat dari Ibu.

Ah, di mana ibuku sekarang? Aku ingin pergi dari tempat terkutuk ini dan tinggal bersamanya saja. Apalagi, minggu depan Ayah dan Lauren berencana akan menikah. Aku tidak akan menghadiri acara itu, meskipun aku adalah anak dari pernikahan pertama Ayah. Pokoknya aku tidak akan mau.

Hari ini, aku bangun agak kesiangan. Jadi, mau tak mau, aku harus makan semeja dengan Ayah. Kami sama sekali tidak membicarakan apa pun, sampai tiba-tiba Ayah berkata, “Ibumu kecelakaan.”
Aktivitas makanku segera terhenti. Aku menggenggam garpuku erat-erat. Ayah sedang bercanda, kan? Ya. Pasti. Tapi, untuk apa Ayah mencandaiku? Bukankah beliau selalu serius dengan apa yang diucapkannya?
“Ia tidak meninggal,” ujar Ayah, membuatku lega sejenak. “Hanya saja, ibumu sekarang sedang dalam keadaan koma di rumah sakit.”
Aku langsung bangkit dari posisi dudukku. Tampaknya aku tidak akan pergi ke sekolah hari ini. “Rumah sakit mana?” tanyaku.
“Tidak. Kau tidak akan pergi ke sana,” tegas Ayah. “Aku sekedar memberitahu. Sebenarnya, aku berharap wanita itu mati saja.”
Aku melempar piringku ke lantai hingga pecah berserakan. “Bukankah Ayah dan Ibu adalah pasangan yang sudah berjanji sehidup semati?” pekikku. “Lantas, kenapa kalian harus berpisah? Apa pula yang menyebabkan Ayah begitu membenci Ibu sampai-sampai ingin Ibu mati?”
Ayah mendengus. “Aku tidak membenci Sarah. Kami berpisah hanya karena aku mencintai Lauren, bukan dia lagi.”
Tes. Sebutir air mata jatuh dari pelupuk mataku, disusul oleh butiran-butiran lainnya. Aku buru-buru menyeka mataku dengan kasar, lalu melangkah pergi.

“Mau ke mana?” cegat Ayah ketika aku sudah sampai di depan pintu. Aku menatap pria itu dengan penuh kebencian. “Minggirlah!” aku mendorongnya keras-keras, “aku mau bertemu dengan ibuku!”
Ayah mencengkeram lenganku kuat-kuat sampai tulangku serasa mau patah. “Tidak boleh,” ia berkata.
“Memangnya kau siapa?” ujarku dingin. “Kau tak berhak melarang-larangku.”
Ayah tampak terkejut mendengar nada bicaraku. Sesering-seringnya aku membentaknya, tak pernah sekali pun aku berkata sesinis ini padanya.
“Aku ayahmu.”
Kalimat itu membuatku tertawa keras. Aku menyentakkan lenganku untuk melepaskan cengkeraman Ayah. “Ternyata, kau masih menganggapku sebagai anakmu,” kataku. “Sayangnya, aku tak lagi menganggapmu sebagai seorang ayah. Selamat tinggal.”
“Kau mengatakannya seolah-olah kau tak akan pernah kembali lagi kemari.”
“Tentu saja,” ujarku. Tekadku sudah bulat. Toh, selama dua bulan ini aku bisa mengurus diriku sendiri. Kalau Ibu tak keberatan, aku bisa tinggal bersama Ibu, atau menginap di rumah Bibi, atau menjadi pengemis di pinggir jalan. Itu lebih baik ketimbang harus hidup di tengah-tengah Ayah dan Lauren.
Bahkan, mati pun bukan opsi yang buruk.

Aku hendak melangkah ke luar rumah, namun Ayah menghalangiku. “Kau tidak boleh pergi,” ucap pria itu. Aku mengangkat alis. “Kenapa? Anda, kan, sudah punya Lauren. Dia bisa memasak dan membersihkan rumah. Apa lagi kegunaan saya di sini?”
“Kau mengatakannya seolah-olah kau adalah seorang pembantu.”
“Memang selama ini Anda perlakukan seperti itu, bukan?”
Bukannya membiarkanku pergi, Ayah malah menyeretku kembali ke ruang tamu. Aku meronta-ronta dan menendang-nendang, tapi tenaga Ayah jauh lebih besar. Ayah mencampakkanku ke dalam gudang, lalu mengurungku di dalam sana.
“Keluarkan aku!” teriakku, tapi percuma. Ayah tak mungkin akan melepaskanku keluar begitu saja.

Dering bel pintu terdengar. Mungkin Lauren datang lagi. Mendengar bunyi langkah Ayah yang semakin menjauh, aku menghela napas pasrah.
Biasanya Ayah akan memukuliku sampai babak belur, tapi kali ini ia hanya mengunciku di gudang. Entah itu artinya dia terlalu marah atau terlalu tersinggung.

Aku duduk di atas salah satu peti tua yang ada di gudang itu. Tempat ini benar-benar gelap, panas, dan pengap. Rasanya aku tak akan betah berlama-lama di sini.
Daripada bosan, aku memutuskan untuk menggeledah gudang itu. Mungkin saja ada buku tua yang bisa kubaca atau apa. Namun, yang kutemukan adalah sebuah foto berukuran sedang yang bingkainya terbuat dari kayu. Aku mengusap debu yang menyelimuti foto tersebut dengan ujung jariku. Ternyata itu adalah foto ketika aku, Ibu, dan Ayah pergi ke taman bunga matahari enam tahun yang lalu. Betapa aku merindukan saat-saat keluarga kami masih harmonis. Aku mendekap foto itu erat-erat dan menangis dalam diam.
Semuanya telah berubah. Ibu telah pergi, dan Ayah ….
Aku menarik napas dalam-dalam. Tak ada gunanya menyesali takdir. Tuhan telah mengatur semuanya. Aku tinggal menjadi peserta dalam lomba-Nya. Dan, yah, aku harus memenangkan lomba ini.
Yang penting, aku harus kabur dari tempat ini sekarang juga untuk menjenguk ibuku.

Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling gudang. Kalau tak salah ingat, rasanya gudang ini dulu punya jendela. Aku menyingkirkan tumpukan kardus yang mungkin saja menutupi jendela itu. Benar saja, tumpukan kardus yang tinggi telah menghalangi jendela tersebut.

Masalahnya, jendela tersebut tak bisa dibuka. Maklum, usianya sudah bertahun-tahun dan selama itu belum pernah ada yang membukanya. Aku mencari-cari benda yang kira-kira bisa kugunakan untuk memecahkan kaca itu, dan yang kutemukan adalah sebuah palu yang sudah berkarat.
Simpel saja, aku melemparkan palu itu ke jendela hingga pecah berkeping-keping. Pecahannya beterbangan dan mengenaiku, tapi aku baik-baik saja. Semoga Ayah dan Lauren sedang sibuk membicarakan pernikahan mereka sehingga tidak mendengar bunyi kaca pecah. Aku membawa foto tua itu di tanganku, lalu menyelinap keluar lewat jendela yang sudah kupecahkan.

Hah. Udara segar.
Aku tidak tahu Ibu dirawat di rumah sakit mana, jadi mungkin lebih baik kalau aku bertanya pada Bibi, adik perempuan Ibu. Mungkin saja Bibi tahu. Untung aku hapal alamat rumah Bibi.

“Felicia?” Bibi tampak terkejut ketika melihatku berdiri di depan pintu rumahnya dengan tubuh luka-luka terkena pecahan kaca. “Apa yang terjadi?” tanyanya cemas.
“Tak apa-apa, Bi,” aku menyunggingkan segaris senyum. “Omong-omong, Bibi tahu rumah sakit tempat Ibu dirawat?”
Bibi pun memberitahukan nama dan alamat rumah sakit tersebut padaku, dan aku langsung pergi ke rumah sakit yang Bibi sebutkan. Sesampainya di sana, beberapa orang suster langsung menghampiriku.

“Apa yang terjadi? Kenapa Anda luka-luka begitu?” tanya salah satu suster.
“Itu tidak penting! Aku ke sini untuk menjenguk Sarah Widya, ibuku. Di kamar mana ia dirawat?”
Raut wajah suster itu langsung berubah. “Maksud Anda, pasien bernama Sarah Widya? Apa dia adalah ibumu?”
“Iya! Di mana ia? Bawa aku ke sana!”
Suster itu memegang pundakku. “Maaf, Nak. Ibumu telah mengembuskan napas terakhirnya sekitar setengah jam yang lalu.”

Aku tidak bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Rasanya seperti disayat-sayat pecahan kaca setajam silet dan tertusuk ribuan duri pada waktu yang bersamaan. Tenggorokanku tercekat, rasanya aku tak bisa bersuara sedikit pun, bahkan menangis saja aku tak sanggup. Aku telah kehilangan ibuku, begitu saja.

Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai, dan suster-suster itu juga tidak menahan kepergianku. Kenapa dunia seolah tidak perduli lagi kepadaku? Aku terus melangkah, tanpa tahu ke arah mana aku pergi. Semakin lama langkahku semakin cepat, hingga akhirnya aku berlari kencang. Ingin rasanya aku lari dari kenyataan, ingin rasanya aku memejamkan mata dan mengakhiri semuanya.

Tak kusangka, keinginanku itu terkabul. Aku tertabrak mobil yang sedang melaju kencang di tengah jalan. Yang kurasakan hanyalah sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhku, namun entah kenapa hatiku jadi terasa lebih lega. Rasanya mirip seperti ketika kau memenangkan sebuah perlombaan setelah susah payah berjuang.

Foto yang kupegang sejak aku kabur dari rumah tadi, terhempas ke jalanan dan pecah. Napasku serasa tersumbat, entah hidungku patah atau ajal sudah dekat; atau mungkin dua-duanya. Hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya menggelap adalah sosok Ibu, yang sedang tersenyum lembut padaku.
Aku balas tersenyum. Paling tidak, di saat-saat terakhirku, aku bisa merasakan secercah kebahagiaan.

Cerpen Karangan: Tricia Ofelia Wijaya
Facebook: Tricia Ofelia
Tricia Ofelia Wijaya, 13 tahun.

Cerpen Secercah Kebahagiaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Yang Hilang

Oleh:
Jam berdetak cepat secepat detak jantung keyla. ia melangkah kesana-kemari layaknya setrika yang sedang menyetrika pakaian. ia tidak memikirkan apa-apa kecuali adiknya reyhan yang sedang operasi. keyla tidak bisa

Keluarga Ku Motivasiku

Oleh:
Aku adalah anak yang manja dan selalu mengandalkan orang-orang di sekelilingku. Aku sangat menyayangi ibu dan bapakku. Mereka selalu memberikan yang terbaik dan paling baik untuk ku. Sekilas aku

Semangkuk Bakmi

Oleh:
Namaku Karina. Aku adalah putri semata wayang dari keluarga berekonomi tinggi. Jelas, karena orangtuaku menyekolahkanku di sekolah swasta international di Jakarta. Namun orangtuaku sangat memanjakanku… Padahal aku sudah besar.

Nadia

Oleh:
Hujan mengguyur bumi. Membasahi gundukan tanah yang baru saja dipakai. Maksudnya yang baru diisi oleh sesosok makhluk. Sesosok makhluk yang denyut nadinya hilang ditelan kesedihan. Nadia, kembaranku. Ia selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *