Sedih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 February 2018

Gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Mama! Papa! Kakak! Tolong aku. Aku tak ingat apa yang terjadi, tolong bantu aku.

“Luthfia, bisa lihat Papa, nak?” suara Papa! Tapi aku tidak bisa melihatnya, gelap sekali “Papa, Luthfia nggak bisa lihat papa. Gelap, Papa matikan lampu?” Papa tak menjawab, aku ragu untuk menduganya “Nggak, papa nyalakan kok. Luthfi bisa lihat Papa?” aku menggeleng, aku mengantuk.

“Pa, Luthfia mau es krim” pinta seorang gadis yang duduk di kursi roda bersama Ayahnya yang sedang mendorong dengan susah payah “Oh, ya? Luthfia mau rasa apa?” gadis itu terdiam, ia tidak bisa melihat apa yang ada di depannya” Luthfia nggak tahu, gelap” Ayah anak tersebut kaget, ia buru-buru mendorong kursi roda menuju rumah sakit.

Setelah diperiksa, positif anaknya itu menderita kebutaan. Gadis tersebut yang bernama Luthfia masih terdiam, ia tidak bisa melihat kesedihan Ayahnya, ia tidak bisa menghibur ayahnya tersebut. Ia merasa, ia terlalu merepotkan. Ialah yang membuat pertengkaran antara kedua orangtuanya, ia adalah permasalahan bagi ibunya.

“Aku sudah lelah, mas! Aku… nggak bisa menjaganya! Ia buta, mas!” mamanya berkata dengan keras, Ia kembali meresap perkataan Mamanya. Ia sebuah rongsokan, ia tak pernah diinginkan oleh siapapun.

“Heh! Anak buta, lo bisa nggak sih nyuci! Dasar anak rongsokan! Nyuci aja pake lama segala, gue bilangin ke nyokap baru tau rasa lo” olokan dan caci-makian terhadap dirinya membuat ia merasa pesimis. Tak ada peluang untuk ia hidup, ia tak berguna.

“Anak buta! Liat-liat dong, kalau jalan. Pake mecahin vas bunga gue lagi, sono! Pergi dari kehidupan gue. Gue nggak butuh adik buta macam lo! Dasar anak haram!” ia menangis, perkataan makian kakaknya itu, terlalu menyayat hatinya. Ya tuhan, berilah kesabaran untuk diriku, Gadis tersebut menangis dalam do’a-nya.

“Mendingan, lo nggak usah pulang ke rumah. Untuk apa?! Untuk merugikan keluarga gue?! Untuk merampas harta gue?! Udah cukup sandiwara lo, gue berharap lo MATI!” ia menahan air matanya. Ia tak ingin terlihat cengeng di hadapannya. Ia tahu, ia tak berhak untuk hidup di dunia.

13 tahun kemudian
“Luthfi, ajari gue nomor ini, dong! Lo kan, bintang kelas” Luthfia, gadis yang dulu diolok kini dipuji. Gadis yang lemah kini kuat. Gadis yang pasrah kini percaya. Perubahan 180 derajat membuatnya ia pintar. Dengan senang hati, Luthfi mengajari temannya itu. Setelah temannya mengerti, ia membuka sebuah surat yang ia tulis oleh dirinya sendiri. Kenangan yang menyedihkan, ia berharap tak pernah bertemu dengan Kakaknya. Semoga.

Cerpen Karangan: Hanania

Cerpen Sedih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Kayuh Ribuan Mimpi

Oleh:
Secuil kisah tentangku yang merupakan gadis kecil anak kampung yang tinggal di sisi pinggir kota besar. Aku Sriami Wulandari anak pertama dari keluarga kecilku. Keluarga kecil yang bisa dibilang

Selendang Hijau

Oleh:
Tampak bengkak kedua mata Putri, ia hanya bisa duduk terdiam dan terpaku pada seujung dipan yang memang sedari tadi telah menemaninya. Gejolak batin yang saat ini sedang ia rasakan

Si Hitaf

Oleh:
Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan hatiku. Di sebuah kegelapan gubuk dengan berjuta kemalangan di dalamnya kisahku bermula. Tempat aku dan keluarga kecilku bertahta dan mengarungi

Teruslah Tersenyum Aa (Part 3)

Oleh:
Dulu, sewaktu di sekolah Aa pernah belajar pencak silat. Hal itu nampaknya masih membekas saat ini, melihat kuda-kuda yang ia pancangkan terkesan mantap. Juga tendangan menyapu yang dilayangkan Aa

Luki Mencuri Jambu

Oleh:
Hari itu hari minggu. Langit mendung dan hujan mulai turun. Semakin lama, hujan turun semakin deras. Luki yang sedari tadi hendak pergi bersama teman-temannya terlihat kesal. Ia memajukan bibir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *