See You Again Papa, Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

Mendung datang dalam kehidupanku. Sudah berhari hari sejak aku kehilangan semua orang yang kusayangi. Aku selalu didatangi mendung tanpa akhir. Kehidupanku sunyi dan kelam.
Kapan aku hidup bahagia. Mungkin, aku harus pergi ke negeri dongeng. Dimana sang gadis miskin berubah menjadi putri. Tanpa sadar aku berharap mentari akan datang kembali.

“Shifa”. Panggil seseorang membangunkanku dalam lamunan. Terlihat temanku Dimas berdiri di depanku. Dia menyodorkan sebuah kertas. Tepatnya kertas angket.
“Kemarin kamu nggak masuk kan? Kamu harus isi angketnya.” Jelasnya. Aku menerima kertas itu dan langsung mengisinya. Terlihat Dimas duduk di kursi depanku. Ia melihatku mengisi angket.
“Kamu bolos lagi, apa kamu tidak masalah kalau terus terusan bolos sekolah?” Tanyanya.
“Tidak masalah. Lagi pula sudah tidak ada lagi yang bisa aku banggakan.” Ucapku. “Lagipula, aku ke sekolah hanya untuk absen.” Lanjutku.
“Hmh…” Nafas berat terdengar dari Dimas. Mungkin dia kesal denganku.
“Kamu kesal? Maaf ya.” Ucapku lalu menyerahkan angket itu kepada Dimas lalu pergi.

Aku melangkah cepat. Secepat mungkin hingga tak dikejar lagi. Beberapa kali aku menoleh dan aku sadar bahwa aku tidak dikejar.
“Heh… lucu.” Gumamku pada diriku sendiri. Tidak kusangka aku akan ke ge-er ran. Jam tanganku menunjukkan bahwa sekarang adalh pukul 09.30. Sudah waktunya bel istirahat telah usai.
Seperti kataku ke Dimas. Aku masuk hanya untuk memenuhi absenku. Jadi kuputuskan untuk duduk duduk di atap sekolah. Oh, ya kebetulah sekolahku memiliki atap.

Sudah 3 menit aku duduk duduk saja. Dan akhirnya aku dimakan oleh rasa bosanku sendiri. Dan akhirnya aku berada di alam mimpiku.

Aku membuka mata secara perlahan. Dan beberapa saat setalah itu, aku sadar bahwa sekarang aku bukan ada di atap sekolah lagi.
Dimana aku? Kurasa aku mengenal tempat ini. Ah… iya, ini di kator mama. Dulu setiap pulang sekolah aku sering kesini.
“Shifa…!!” Suara yang sudah tidak asing terdengar memanggilku. Dengan cepat tubuhku memutar. Mencari sumber suara.
‘Mama.’ Panggilku dalam hati. Ada rasa rindu yang amat sangat. Yang akhirnya menuntun kakiku untuk berjalan.
Belum ada satu langkah. Aku disusul oleh seseorang dengan cepat.
“Mama… lihat aku dapat juara 1 Matematika!!” Terlihat diriku 1 tahun yang lalu. Teriakan bahagia itu, aku merindukannya.
Terlihat mama tersenyum dengan lembut disertai belaian tangannya. Air mata mulai menghujani pipiku. Aku lebih merindukan senyumannya, belaian tangannya, dan juga suara lembutnya. Di banding dengan suara ceriaku dulu dan prestasiku.
Aku mengusap air mataku kasar. Dan begitu aku membuka mataku, Aku sudah berada di rumahku. Rumah yang sekarang ini hanya dihuni aku dan bibiku.
Disana terlihat papa sedang duduk di sofa sembari menonton tv. Dan tentunya aku yang duduk di lantai. Entah kenapa aku merindukan momen ini.
Dan terlihat dari arah dapur, mama membawa sepiring roti dan teh beraroma melati khas mama. Hah… lagi lagi air mataku turun begitu deras. Aku rindu dengan roti, teh dan masakan mama.

“Ma, bagaimana kalau untuk merayakan rangking 1 nya Shifa. Gimana kalau kita jalan jalan.” Tanya papa. Seandainya aku bisa berteriak. Aku ingin agar aku yang disana bilang tidak.
“Ayo, aku ingin ke kebun binatang aja deh. Papa sama mama kan sering sibuk. Jarang di rumah. Sekali kali boleh dong.” Aku menyesal kalimat itu sampai terucap.
“Oke.” Ucap mama.

Sekejap dunia nampak berpindah. Disini, dimana kecelakaan itu terjadi. Terdengar suara tubrukan. Dan terlihat sebuah mobil menabrak sebuah pembatas jalan. Dan disana nampak ramai.
Terlihat aku dikeluarkan dalam kondisi tidak sadar. Tubuhku hanya terlihat lecet. Aku ingat setelah itu aku mengalami koma.
Dan setelah itu, dikeluarkanlah mama. Mama dalam kondisi sadar. Tapi, mama tampak lemas dan berlumuran darah.
“Semoga kamu tetap hidup nak.” Ucap mama lirih. Terlalu lirih sampai sampai nyaris tidak terdengar. “Semoga kamu hidup dengan bahagia.” Lanjutnya.
Aku tertegun. Keinginan mama adalah agar aku bisa tetap bahagia. Tidak meratapi nasib seperti ini. Mama pasti kecewa. Tangisku mulai meledak. Aku sudah lelah menahan air mataku.

Dunia nampak berubah. Tampak seperti dunia yang tidak aku kenal. Disana aku merasakan hangat seperti dipeluk.
Itu mama. Mama nampak sama. Wajah, senyuman yang lembut itu, semuanya. Dia mengusap air mataku. Membuat air mataku mengalir semakin deras.
“Maaf ya nak, mama nggak bisa menemanimu.” Ucapnya dengan suara lembut yang kurindukan. “Sudah cukup dengan kepura puraanmu itu. Sudah mama bilang jangan sok kuat.” Lanjutnya.
“Ehm…” Ucapku sambil mengangguk. “Maaf ma…” Ucapku sambil menangis sejadi jadinya.
“Keluarlah nak dan berlari ke arah mentari yang terang. Berbahagialah!.” Pintanya.
“Mama, aku rindu mama. Aku tidak masalah hanya bertemu dalam mimpi. Aku sangat senang. Sangat senang sampai sampai aku menangis. Aku rindu semuanya dari mama dan papa. Aku senang meskipun hanya bertemu seperti ini. Meskipun sampai sekarang aku masih menginginkan kalian kembali.” Aku mencurahkan isi hatiku.
“Mama dan papa juga. Tapi untuk sekarang kita belum bisa.” Ucap mama. Sedikit demi sedikit rasa sentuhan mama mulai menghilang. Dan rasanya mama seperti bayang bayang.
“Selamat tinggal mama! Aku selalu sayang sama mama dan papa. Aku sayang kalian…” Teriakku. Mama tersenyum.
“Jangan ucapkan selamat tinggal nak. Itu membuat mama sedih.” Ucapnya.
“Sampai jumpa lagi. Untuk sementara titip salam buat papa ya…” Ucapku. Mama tersenyum sambil mengangguk lalu menghilang.

“Hah…” Aku terkejut ketika membuka mata. Aku sudah berada di sekolah. Pandanganku juga tampak kabur. Apa aku habis menangis?
“Kau sudah bangun ya?” Ucap seseorang dengan hangat. “Kelas sudah berakhir dari tadi lho…” Lanjutnya sambil tersenyum. Dan ternyata dia Dimas.
Aku terkejut dan segera mengusap air mataku. Kuharap dia tidak melihatku menangis dalam tidur.
“Kenapa kamu nangis?” Tanyanya. Aku terkejut. Aku tidak tahu bagaimana cara menjawabnya. Ah… iya aku tahu.
“Hanya sedikit bernostalgia.” Ucapku sambil tersenyum. Yah… hanya sedikit bernostalgia. Soalnya suatu saat aku akan menemui mereka dan bersama lagi.

Cerpen Karangan: Farani Nabila
Facebook: Farani nabila

Cerpen See You Again Papa, Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last Love

Oleh:
Ada seorang cowok ganteng pinter dance lagi, tapi dia angkuh terutama terhadap cewek. Tapi sebenarnya seorang penyayang terutama pada keponakannya. Apapun yang keponakannya minta pasti dituruti. Dan yang aneh

Itu Bukan Milik Mu Nak

Oleh:
Suatu hari di pagi itu sekitar pukul 06.30 saat dimana anak sekolah semuanya mulai bergegas berangkat menuju ke sekolahnya. Namun tiba-tiba ada terdengar suara orang yang dipukul, dan ternyata

Happy Mother’s Day!

Oleh:
Besok hari ibu. Sisyl bingung, mau memberi apa pada mama-nya. Lalu dia menatap foto mama-nya. “Mama…” Kata Sisyl pelan. Lalu Sisyl punya ide. “Aku kasih aja foto aku sama

The Journey of Life

Oleh:
Terkadang kita menanyakan apa itu perjalanan hidup, sebagian orang mengatakan bahwa jalan hidup itu adalah sebuah perjuangan tanpa henti namun ada juga yg mengatakan perjalanan hidup adalah sebuah takdir!

Hujan 23 Oktober

Oleh:
“Namanya Pak Hasir. Adalah petani sayuran. Ia single parent, istrinya meninggal saat melahirkan anak semata wayangnya. Keluarga kecilnya -Pak Hasir dan Nining anaknya- tinggal di lereng bukit daerah Bogor.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *