Segelas Kopi di Kedai Pontianak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Hujan sore-sore di hari Sabtu betul-betul menjadikan suasana rumah sendu berkepanjangan. Ketiga anakku duduk tenang tanpa ekspresi yang biasanya cerah ceria. Terlelap tenggelam dalam gemuruh butiran hujan menimpa atas genteng seng rumah kami. Di depan televisi semua terduduk, tidak banyak komentar yang ke luar. Menunggu malam minggu yang diprediksi, sepi karena hujan yang turun.

“Haa.. hujan berhenti,” teriak anak perempuanku.
“Memangnya mau ke mana?”
“Mietiauw Tanjungpura lah, pak.”
“Di pasar Sudirman saja dik. Kalau sudah tidak hujan gini, enak duduk-duduk di teras luarnya”
“Bakso gepeng di Kapuas sajalah mbak, ya mas.. yaa,” sela adik bungsunya.
“Aah.. kamu bakso saja, sukamu dik.”

“Ayolah pak,” istriku terus berdiri menarik tanganku ke ruang makan, sambil berkata pelan, “Kasihan anak-anakmu itu. Di sekolahan kawan-kawannya sering mengejek anak-anakmu.”
“Memang kawannya ngapain?”
“Ini Pontianak pak. Anakmu perempuan sering ditanyain kawan-kawannya, pernah makan bakso di sini.. mietiauw di sini.. sotong pangkung di sini.. ayam goreng yang baru itu kamu sudah ke sana. Malu dia sama kawan-kawannya.”
“Tetapi kita masih banyak cicilan kridit rumah belum lunas semua.”
“Mietiauw sajalah pak. Kita nongkrong saja di pasar Sudirman sana. Banyak orang lalu-lalang di sana. Pasti ada kawannya yang lihat nanti.”

Kami kembali ke ruang tv, istri tersenyum sambil memandangku. Melihat ketiga anak kami sudah berpakaian rapi-rapi. Rasanya aku dengan istri tadi ngomong hanya sebentar saja. Cepat sekali mereka berganti baju. Tanpa disuruh si bungsu yang waktu itu masih kelas tiga Sekolah Dasar menyodorkan kunci mobil kepadaku. Aku mengerti ini adalah strategi anak aku perempuan itu. Dia yang paling piawai menyusun strategi yang semacam. Aku ke luar berjalan ke depan garasi, membuka pintu mobil Kijang Super kami. Ketiga anak kami langsung membuka pintu belakangnya.

“Hah.. Mama lambat kali,” kata si mas yang masih kental logat Medannya.
“Kan Mama masih cek kompor, masih nyala apa sudah dimatikan apinya.”
Terlihat di spion dalam, anak perempuanku meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya. Lalu mengacungkan dua jari jempol tangannya ke muka mas dan adiknya. Kami menuju pusat kota Pontianak yang berjarak 3 Km dari tempat tinggal kami.

“Opa dan oma siram-siram bunga di halaman depan.”
“Tidak lihat mobil kita dia mbak.”
“Ada mobil pacar Om Edi.”

Ribut sekali anak-anak setiap kali kami melintas depan rumah mertua. Jalan terdekat yang selalu kita lewati, bila kita menuju ke pusat kota. Pasar di jalan Sudirman tujuan kami, samar-samar udah menampakkan garis-garis bangunannya. Mobil memasuki area pasar, berhenti dan parkir. Kedai kopi di Pontianak atau di kota pariwisata nasional Singkawang, berlainan suasananya dibandingkan dengan kedai-kedai kopi di daerah Sumatera Utara dan Aceh. Di Pontianak, pengunjungnya kebanyakan seperti kami sekeluarga kali ini. Tujuannya juga sama, wisata kuliner semampunya.

“Lihat pak. Kalau malam Minggu habis hujan mesti jalanan ramai sekali,” kata istri selanjutnya, “Sejak dari dulu sewaktu aku anak-anak terus remaja dan sampai sekarang, masih belum berubah juga.”

Daging sapi segar bergelantungan dalam almari kaca dekat tungku minyak tekan tempat penggorengan, adalah identitas halal untuk kedai yang menyajikan Mietiauw Pontianak. Aku memang sengaja memilih lokasi proyek di Pontianak tempat istriku berasal, dibanding beberapa lokasi proyek lain yang ditawarkan perusahaan. Kesempatan untuk bersilahturahmi dengan seluruh keluarga istri. Kumpul keluarga besar setelah lebih dari sepuluh tahun kami menikah, dan meninggalkan kota Pontianak.

Aku meminta istri terakung seorang menemaniku untuk memenuhi tuntutan pekerjaanku. Mejelajahi pulau-pulau Sulawesi, Sumatera dengan kota-kotanya Palu, Ujungpandang, Medan sampai masuk daerah pedalaman di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Dari sejak berangkat meninggalkan Pontianak hanya berdua saja, sampai dikarunai anak tiga orang. Sesekali saja kami mengunjungi keluarga Pontianak, dalam rentang waktu 2 tahunan sekali. Itu pun hanya istri sendirian ditemani salah seorang anak kami. Biasanya tinggal mudik di Pontianak hanya untuk seminggu saja.

Anak-anak kami berlarian menuju ke tempat yang masih belum ada pengunjungnya. Beberapa keluarga nampak telah menempati kelompok-kelompok kursi dan meja yang lain. Masih separuh dari tempat yang disediakan, terisi pengunjung kedai. Halaman beraspal di luar ruko itu masih basah oleh bekas hujan sore tadi. Sebagian besar kursi dan meja diatur di halaman depan kedai tanpa naungan, di udara terbuka, dingin sejuk walau tanpa kipas angin sekali pun.

“Jang, mietiauw lima ya…” Kata istriku kepada anak muda yang menghampiri kami.
“Minumnya apa bu?” jawab bujang.
“Lidah buaya dua”
“Es Kacang Hijau satu. Air asam pakai es satu. Es campur satu.”
“Es Jeruk gitu loh. Pakai bilang air asam segala. Maa… Ma.”
“kan sudah di Pontianak.”
“ini kalau di Medan kan warung kopi ya.. ma..,” kataku.
“Sini juga. Tuh bapak-bapak yang sebelah sana itu hanya minum-minum kopi saja.”
Minuman yang kami pesan diantar bujang terlebih dahulu.

Aku memperhatikan ketiga anak-anak yang selalu mengawasi jalanan yang mulai ramai oleh lalu lalangnya kendaraan sepeda motor maupun mobil. Betul kata istriku jalanan lebih ramai daripada malam minggu biasanya. Pontianak di malam minggu sehabis hujan deras yang agak lama. Tak lama kemudian, bujang mengantar pesanan kami, 4 piring mietiauw goreng, 1 piring mietiauw rebus, dan 5 cucing isi jeruk sambal kecil yang sudah diiris ujungnya. Kami terus memeras jeruk ke dalam cucing masing-masing. Dan menambahkan kecap asin, kecap manis, dan cabe halus dalam botol-botol yang sudah disediakan di tengah meja.

“Ma.. maa.. Itu Rina sama Rita ke sini juga ma, Sama Papa Mama dan abang-abangnya.. maa.”
“Mama kan sudah bilang ke mietiauw sini saja. Nanti kawanmu pasti ada juga yang ke sini.”
Anak perempuannya mengangguk-angguk sambil meneruskan makan mietiauw-nya, yang masih tinggal separuh. Sementara di piring adik dan masnya sudah hampir habis makanan di piring mereka.

“Mama nggak habis, sudah kenyang Mama,” kata si mas setelah apa yang dihadapinya bersih.
“Sudah… niiih… ambillah,”
“Gantian kita sekarang. Dulu kita yang menghabiskan makanan mereka.”
“Itulah yang bikin badanku kayak gini.”
“Aah.. alasan saja itu, maa… Ibu Pontianak seharusnya dicontoh. Mengurangi makan sebelum gemuk. Bukan sesudah berat badan bertambah, baru berencana mengurangi makan.”

Istriku tersenyum. Dia terus mengawasi gerak-gerik anak perempuannya yang sebentar-sebentar mengawasi teman sekolahnya yang kembar itu. Mereka mengambil tempat yang agak jauh dari tempat kami. Sebuah mobil kelihatan mendatangi kedai, selesai parkir, dan membuka pintu-pintunya. Serombongan keluarga lagi memasuki kedai tempat kami menikmati mietiauw. Seorang gadis kecil sebaya anak kami, kelihatan berjalan bergegas meninggalkan rombongan baru tiba itu, menghampiri tempat kami.

“Sri.. Sri.. sudah lama kau di sini rupanya”
“Hei.. Dika sama siapa kau?”
“Sama Mamaku.. itu..” katanya sambil menunjuk rombongannya yang baru mengatur kursi di bagian dalam ruko.

Kawan itu lalu membisikkan sesuatu ke telinga anak kami. Sesekali mereka berdua mengarahkan pandangannya ke arah kawan kembar mereka. Anehnya kawan kembar mereka itu pun menoleh ke arah anak perempuan kami yang sedang asyik berbicara dengan kawannya yang baru datang itu. Pembicaraan yang serius sedang terjadi. Sekitar sepuluh menit pun sudah berlalu, dari tempat kami duduk nampak pembicaraan makin tegang. Sampai saat seorang abang Dika menghampiri dan mengajak Dika menuju rombongan keluarganya. Anak kami pun menuju kursinya. Mukanya memerah.

“Ada apa, siapa itu tadi?”
“Dika ma. Kawan sebangku,” piring mietiauw pun didorongnya ke tengah meja.
“Ketahuan sekarang, mereka berdua Rita dan Rina itu sumbernya. Sehingga Manaf mengolok-olok aku di sekolahan kemarin.”

Melihat wajah anak perempuannya memerah menahan tangis, istriku pun menggeser kursinya mendekati anaknya itu, “Sudahlah nak, besok Senin Mama ke sekolahanmu. Tunjukkan Mama. Mana anak laki-laki yang mengolok-olok kamu itu. Biar Mama pukul dia.”
“Loh.. kok jadi Mama yang mau berkelahi.”
“Sudahlah.. Bapak nggak usah ikut-ikut. Ini urusan Mama. Itu kawanmu yang laki-laki itu, pasti anak dari sembudun sana.”

Sementara istriku mengorek informasi masalah dari anak perempuannya. Si bungsu diam-diam meraih piring mietiauw mbakyunya yang didorong ke tengah meja tadi. Dengan senyap, pelahan dan pasti isi piring pun segera bersih.
“Mobilnya… bagus mobil kita. Mereka nggak tahu siapa Mama ini nak.”
“Pak sudah dibayar semuanya?”
“Sudah.”
“Ayo kita pulang. Nggak usah jalan-jalan lagi.”

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, istriku terus berbicara dengan anak perempuannya. Selesai memasukkan mobil ke garasi. Semua sudah berganti dengan baju rumah ketika aku masuk ke ruang tv. Kedua anak lakiku asyik melihat tayangan sepak bola Inggris. Masalah yang dihadapi istri dan anak perempuannya rupanya belum beres juga, asyik mereka berbincang. Aku lebih memilih masuk kamar tidur dan merebahkan diri.

Sudah hampir lima belas tahun yang lalu, ketika aku masih lajang dan bekerja di Pontianak ini, setiap malam minggu juga berjalan-jalan seperti barusan kami lakukan bersama keluargaku. Bersepeda motor berempat atau berlima berkeliling kota, mencari tempat singgah di kedai–kedai minum yang ada. Hampir semua kedai kopi di kota ini pernah kami kunjungi. Kedai-kedai kopi di Pontianak, hampir semua diusahakan oleh orang kita keturunan Cina. Kedai kopi di Kalimantan Barat ini sebagian besar area jualannya di luar atap bangunan utama, di halaman terbuka. Bila hari sudah menjelang sore hari, pengunjung mulai berdatangan. Lebih banyak lagi saat malam hari.

Teringat aku pembicaraan kami di suatu malam minggu, sambil bersepeda motor ria berkeliling kota, lima belasan tahun yang lalu.
“Kau enak Toni, sudah jadi Pegawai Negeri, masa depan tidak usah berpikir lagi.”
“Iya kalau aku ini sarjana. Aku kan pegawai kecil. Masih banyak yang harus aku pikirkan. Sama saja dengan kau Dedy. Masa depan masih belum jelas.”
“Enak Tomolah sebentar lagi sarjana.”
“Mana enak, itu pun belum pasti. Mana biayaku sangat minim untuk menerusakan kuliahku. Makanya aku jauh-jauh merantau ke sini.”
“Heeh.. Tom.. kemarin aku mengikuti kamu ke Kotabaru. Kau tak terasa keeeh…”
“Mane ade, ngramput jak kau Salam”

“Heh.. budak-budak. Tomo ini kemaren ngapelin budak Cina Kotabaru.”
“Stop.. stop ini penting. Kita kembali ke pos Pancasila. Ini baru cerite yang perlu dibahas bersama.”
“Betul Dedy. Ini cerite yang harus dibahas. Kita balik ke pos utama kite”
“Ya setuju. Kita harus balik. Tomo harus transparan. Kebetulan amat aku ikuti die.”

Tak lama kemudian kami sampai di rumah Salam, pos utama grup kami.
“Bagaimana Tom, susahkah dapatken budak Cine. Ngape kau cari budak Cine?”
“Sabar Tony, memang tidak sesusah seperti kalau di Jawa. Kan sering amat kite omong-omong di jalan. Kite mau hidup enak di hari tua dengan modal sikit. Bagaimane care. Aku tengok waktu nonton bioskop di Tanjungpura, ada budak Cine cantik membalas senyum awak. Awak ikuti die, mane rumah die. Ketemu, eh besoknya ke sana, ketahuan Salam pulak. Sial.”

“Jangan bilang sial. Ini masalah masa depan. Semua harus tahu. Bagaimana ape dia mau nikah dengan kau, Tom?”
“Belum sampai sana laah.. Tony. Cuma awak tanya berapa biaya usaha kedai kopi. Dia lalu menghitung-hitung akhirnya keluarlah angka dari mulutnya yang indah itu Tony. Alah mak tak kuat aku mengingatnya.”
“Hati-hati Tomo. Loya-loya Cina itu sangat kuat. Nanti tak dapat lepas kau. Berapa biaya yang dia bilang.”

Tomo pun menunjukkan kepada Salam angka yang dimaksud dengan jari-jarinya.
“Haah.. itu gaji Tony dan Dedy enam bulan. Gajiku delapan bulan. Gaji Tomo empat bulan.”
“Sudah makan kita seumur hidup ya Tom. Pandai juga die, dari pada memilih gadis cantik yang tidak setia, susaaah.. Ataupun anak orang kaye yang pengusaha kapal yang sudah pasti sudah dijodohkan oleh orangtuanya, pilih yang same kayanye.”

Pembicaraan membahas masa depan dan pacar memang mengasyikan, sampai larut malam masih sekitar itu saja. Ada beberapa yang tertidur sebentar, bangun lagi, ngomong lagi. Adzan subuh yang membubarkan kami, kembali ke rumah masing-masing. Untuk besok siang hari Minggu, berkumpul kembali di pos utama. Anehnya dan ternyata apa yang menjadi guyonan kami sewaktu masih jomblo-jomblo dulu, beberapa kawan ternyata mempraktekannya di dalam kehidupannya. Dalam kunjungan kami kembali pulang ke Pontianak sepuluh tahun kemudian, beberapa kawan aku, istrinya betul-betul orang kita yang gadis Cina. Betul juga kehidupannya lumayan.

Seperti biasanya pagi-pagi istri menyiapkan makan pagi anak kami, terus mengeluarkan mobil pick-up putihnya. Anak-anak selesai dan terus makan pagi. Si sulung pergi sendiri ke sekolah menaiki sepedanya. Adik-adiknya menaiki pick-up.
“Asalamualaikum, asalamualaikum, asalamualaikum.”
“Yaaa.. wasalam.”
“Pa, sarapan di meja yaa… Berangkat dulu”

Setelah makan pagi aku pun berangkat ke kantor. Sengaja aku lewat jalan yang melintasi sekolahan anakku perempuan. Terlihat mobil istriku parkir di sekolahan tersebut. Entah apa yang mau dikerjakan istri di sekolahan anaknya. Tak sempat berpikir lebih jauh, mobil yang aku kemudikan sudah memasuki halaman kantor dan terus ku parkir. Walaupun aku tahu akan kemampuan istri yang sewaktu remaja pernah belajar beladiri. Untuk beberapa waktu konsentrasi kerja kurang penuh juga. Di siang harinya pun aku tidak dapat pulang ke rumah karena harus meninjau pelaksanaan pekerjaan di lokasi proyek. Selepas salat Isya di ruang tv, baru aku dapat menanyakannya.

“Menunggu apa tadi Mama di sekolahan?”
“Yaa.. mencari kawan Sri yang laki itu. Sudah terasa rupanya dia, waktu pagi mama ke sekolah tidak langsung pulang.”
“Mama kembali lagi ke sekolahan Sri, Menunggu keluarnya anak-anak pulang sekolah, ketemu anak itu?”
“Rupanya dia sudah memperkirakan Mama ini akan datang waktu pulang sekolahan. Begitu di ambang pintu dia sudah menebar pandangannya ke sekililngnya dan terus berlari ke luar dia. Masih tetap seperti dulu waktu Mama sekolah di situ. Cari tempat sembunyi. Terpegang, aku pukul dia.”
“Keras Mama pukul dia?”
“Kepegang saja dia sudah nangis. Tapi Mama pukul juga tak keras. Panggil Mamamu. Aku bilang gitu. Aku sebutkan alamat Ibu,”

Ketiga anaknya tersenyum mendengarkan cerita Mamanya kepadaku itu.
“Sudahlah kalau begitu malam Minggu nanti nggak usah beli mietiauw lagi.”
“Haaaaa…,” ketiga anak-anak berteriak bersamaan.
“Yaaa.. nggak sedaplah pak,” tambah si bungsu si jago makan.
“Kita ke kedai di Kapuas Indah saja. Kami es lidah buaya saja. Bapak minum kopi. Lihat sampan milir mudik di sungai Kapuas pak,” si anak perempuan ahli strategi mulai pasang jaring.
“Kami sudah makan dulu di rumah pak. Ya pak yaa…” si bungsu berjanji.
“Di sana kopi tarik pak. Si bujangnya hebat, nariknya sampai belakang punggung.” Si sulung pun memperagakan gaya kopi tarik.

Cerpen Karangan: Suyono Mardjuki
Facebook: Suyono Mardjuki

Cerpen Segelas Kopi di Kedai Pontianak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepenggal Cinta Fatimah Untuk Bunda

Oleh:
Kudapati seorang wanita rupawan duduk rapi menadakan tangannya mengharapkan do’anya dikabulkan oleh sang ilahi, ia menangis mengeluarkan bulir-bulir mutiara segarnya setelah seharian penuh ia bekerja, aku melihatnya dan memandangnya

Makna Ultah

Oleh:
Akhirnya aku mengerti makna dari hari ulang tahun. Dulu aku menganggap hari ulang tahun adalah hari yang paling bahagia bagiku selain hari raya idul fitri dan idul adha. Aku

Aku dan Ayah

Oleh:
“Hoaahhmm…” Hari Sabtu yang melelahkan. Pagi-pagi berangkat sekolah, lalu mengerjakan PR, dan lalu mengikuti kegiatan Pramuka. Aku beranjak tidur karena sangat lelah. Minggu pagi yang cerah, aku segera mandi

Someone Like You

Oleh:
Di suatu pagi yang cerah… “LIA! SINI KAMU!” teriak wanita yang sudah setengah baya itu “Apa lagi sih ma? Lia kan gak sengaja” balas perempuan yang bernama Lia itu

Promises

Oleh:
Gumpalan-gumpalan awan berwarna abu-abu memenuhi langit siang itu. Setetes demi setetes air jatuh membasahi bumi, bersamaan dengan jatuhnya tetes demi tetes air mata yang membasahi pipi seorang gadis kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *