Seharusnya Percaya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 26 November 2013

Hari ini hari yang menegangkan buatku, mau gak mau, suka gak suka aku harus berani terus terang kepada keluargaku. Selama hampir 2 tahun ini aku diam-diam menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang memang dari pertama aku perkenalkan ke keluargaku, orangtuaku terutama tak pernah suka dengan orang ini. Dia yang selama ini bisa mengerti aku dalam keadaan sedih, susah, dia yang selalu ada untukku. Aku kadang bingung dengan apa yang mereka fikirkan, apa aku salah memilih orang yang aku sayang dan menyanyangiku.

“huft… bad day for me”
“kenapa lagi ra?”, tanya windi padaku yang tertunduk lemas di bangku kuliah.
“aku harus gimana lagi win, aku gak ngerti jalan fikiran mereka kayak apa?”
“sabar, semua masalah pasti ada jalan keluarnya”.

Hampir 1 jam penuh aku hanya terdiam dalam lamunan, diam-diam Dito mengagetkanku dari belakang. Dito… hanya dia yang mengerti dengan kegundahanku saat ini. Dia adalah sahabat terbaik Rangga kekasih yang tak direstui oleh kedua orangtuaku.
“aku tadi baru ketemu rangga, dia sama keadaanya denganmu. Aku mengerti apa yang kalian alami, tapi jangan kayak gini. Semua pasti ada jalan keluarnya kalau kalian berusaha”
“aku paham… aku hanya gak mengerti apa yang mereka fikirkan, apa salahnya aku bahagia dengan pilihanku sendiri”.
Dito merasa terpuruk karena melihat beberapa hari ini aku tak semangat untuk kuliah atau ketemu dulu dengan Rangga.

Sesampainya di rumah
Ternyata ruangan begitu sepi tak sama dengan yang aku fikirkan saat masih dalam perjalan pulang. Langsung saja aku menuju ke kamar untuk menenangkan fikiranku sejenak. Tak aku sangka Rangga inbox aku melalui handphone.
“sayang… jangan lupa makan?”

Sudah hampir 2 hari ini pula aku tak pernah membalas satu pun inbox dari Rangga, aku hanya masih menghormati orangtuaku meski dalam hati kecilku tak mau melakukan ini. Tiba-tiba saja ibuku mengetok pintu kamarku dan memanggilku untuk makan malam. Sesegera mungkin pesan masuk dari Rangga aku hapus dari handphone ku. Dalam suasana tenang ayah mendahului pembicaraan.
“masih berhubungan dengan dia…?”
Aku terdiam hampir beberapa menit.
“e… enggak yah…”, lidahku sulit untuk mengucapkan tidak.
“bagus… ayah gak mau kamu terluka karena dia…”

Keesokan harinya di tempat kuliah
Saat jam kuliah habis aku menyempatkan waktu berkumpul dengan teman-teman. Aku hanya tak mau terlalu terpuruk dengan keadaan. Di tengah-tengah perbincangan hangatku dengan teman-teman, Rangga muncul dengan menenteng tas di pundaknya. Dia terlihat begitu tampan dan sangat mempesona di tambah badannnya yang kekar. Dia menghampiriku dan segera menarikku ke luar kantin kuliah. Tanganku digandengnya dengan erat, gandengan inilah yang serasa lama aku tak pernah rasakan.
“aa… aku mau terus terang”
“iya apa sayang..”, aku mencoba tersenyum di depan kekasihku ini.
“aku mau pindah kuliah… tapi bukan aku kabur dari semua ini tapi..?”
“apa… kamu mau ninggalin aku…”, air mataku tiba-tiba menetes tanpa aku duka.
“kalau gitu aku ikut kamu”
“gak mungkin sayang… kamu harus jaga perasaan orangtuamu…”
“aku gak perduli..!!!”
Tanpa aku sadari ternyata ayah melihatku dari kejauhan dan langsung menuju ke tempatku dimana aku sedang berbicara dengan Rangga. Secara terpaksa aku pulang dengan ayah. Aku sudah mengerti apa yang akan ayah lakukan denganku nanti. Semua itu seakan bagai ramalan bagiku, dengan nada sangat kesal ayah memarahiku dan tanpa dia sadari sebuah tamparan hebat melayang ke pipiku. Malam itu juga aku memilih untuk keluar dari rumah tanpa orangtuaku mengerti. Aku langsung menghubungi Rangga dan mengajak dia pergi. Awalnya dia gak mau tapi lama-lama dia pun mengerti.

Setelah satu bulan keluar dari rumah tanpa memberi kabar apapun, aku merasa sangat bersalah jika harus meninggalkan kedua orangtuaku. Karena hanya aku harta yang dimilki mereka. Aku putuskan hari ini pulang kembali ke rumah. Kaget, dalam hati bertanya-tanya kenapa ada banyak tamu di rumah. Tanda bendera warna kuning, apa maksudnya sesegera mungkin aku masuk rumah. Sedikit demi sedikit aku melangkah menuju seseorang yang terbaring kaku ditutupi beberapa kain. Tersontak aku tersadar bahwa itu adalah…
“ayah… “, aku langsung memeluk dia yang tak mungkin lagi membalas pelukanku.
“ayah bangun… windy disini ingin ketemu ayah… ayah!!!”, hatiku sangat kacau jika waktu bisa aku putar, aku tak akan pernah meninggalkan rumah ini jika pada akhirnya ada seseorang yang akan pergi dari hidupku untuk selamanya.
“puas melihat ayahmu seperti ini pergi kamu, mama gak mau melihat anak durhaka seperti kamu”
“aku minta maaf ma… aku memang anak durhaka… aku mau minta maaf ma”
Tiba-tiba pelukan seorang ibu bisa aku rasakan juga untuk sekarang.

Ini adalah hari ke-7 peninggalan ayahku selama ini pula sesampainya aku pulang kembali ke rumah Rangga tak pernah menghubungiku. Aku gak mengerti kenapa tiba-tiba dia menghilang. Keesokan harinya di tempat kuliah, dari kejauhan aku melihat seperti Rangga menggandeng seorang cewek. Langsung aku menghampirinya, dan ternyata benar itu Rangga.
(Pluuukkk) sebuah tamparan kecil menghiasi pipinya.
“aku nyesel gak pernah percaya dengan apa yang dikatakan ayah tentang kamu, kamu hanya laki-laki bajingan yang tak punya hati. Segampang ini mencari cinta lain”
“gua emang kayak gini… gua bosen terus sama loe… hubungan kita memang harus di akhiri”
“brengsek loe Rang… loe akan dapat yang lebih dari apa yang aku alami sekarang”.

Percaya dengan apa yang orangtua kita katakan itu perlu karena mereka hanya ingin kita bahagia bukan untuk sesaat tapi selamanya. Selama mereka masih ada, hargai apa yang mereka katakan dan SEHARUSNYA PERCAYA itu hanya untuk Tuhan yang pertama dan kedua orangtua kita.

TAMAT

Cerpen Karangan: Yuni Violet

Cerpen Seharusnya Percaya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menangis Dibalik Kesenyuman

Oleh:
Siang ini guru menyuruh kami untuk membuat sebuah lagu untuk sebagai pentas seni kami pun berbagi tugas untuk kelompok kami. Di kelompok kami ada silmi, dewi dan intan sedangkan

Salju Di Jendela

Oleh:
Angin malam berhembus melalui jendela, menusuk bak ingin mencabik-cabik kulit dan membekukan tulang. Tak hujan, hanya senyap, serasa hanya diriku satu-satunya manusia di bumi ini. Dengan malas ku singkapkan

Audieku Sayang

Oleh:
Kasih sayang orangtua kepada anaknya memang tidak akan pernah ada habisnya, dari anak itu masih dalam kandungan, hingga dilahirkan ke dunia, bahkan walaupun nanti anaknya sudah menikah dan tidak

Tangkap Ikan Di Bendung Batang Gadis

Oleh:
“Pak.. paaak… Liat di TV ini. Orang–orang Panyabungan menangkap ikan di bendungan Batang Gadis,” teriak anak bungsuku. Kami serumah langsung bergegas lari menuju tempat TV yang lagi menayangkan reportase

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *