Sekelumit Cerita Dari Sekejap Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 16 September 2018

Beberapa hari lalu aku bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat menamparku. Saat aku terbangun, aku segera mengambil ponselku dan merekam apa yang aku ingat. Saat ini aku akan menceritakannya kembali. Memang aku tidak ingat lagi detailnya, tapi setidaknya aku sempat merekam garis besar ceritanya. Selamat membaca…

Saat aku membuka jendela kecil di depan mataku, aku menangkap sosok yang telah lama kulupakan. Itu Bapak. Hatiku mencelos. Bapak menatap dalam mataku. Ini membuatku merasa sangat sakit, hatiku begitu sakit.

“Ke mana saja kau saat itu, nak? Bapak selalu menunggumu pulang. Tapi kau tak pernah. Kenapa? Apa kau begitu sibuk? Bapak merindukanmu…”

Beberapa kalimat dari Bapak dengan nada kecewa sukses membuatku menitikkan air mata saat itu juga. Kulihat mata teduh Bapak juga berkaca-kaca. Aku tak bisa bergerak. Aku ingin menghambur ke pelukan Bapak saat itu juga. Hatiku semakin sakit. Dadaku kian sesak. Aku merindukan Bapak. Ayolah, kenapa kaki ini hanya mampu berdiri mematung di depan jendela dan mata ini hanya mampu menangis memandang kekecewaan yang tersaji dalam mata Bapak…

Saat aku mulai mampu melangkahkan kakiku mendekat pada Bapak yang berada di luar, di sebuah padang rumput, Bapak menggeleng dan mundur selangkah. Entah bagaimana aku bisa di luar sekarang. Jendela itu teramat kecil.. bahkan untuk seorang anak dengan tubuh mungilpun kurasa tak akan mampu melewati jendela itu.. Tapi sekali lagi entah bagaimana aku dapat menembusnya dengan mudah.

Pak, tak bolehkah sekarang aku merindukanmu? Maafkan aku, Pak. Maafkan aku. Aku terlalu egois.

Suara suara itu seakan berkecamuk dalam kepalaku. Tapi aku masih tak bisa berbuat apa-apa. Masih berdiri, masih menangis, masih diam, masih terluka, masih menatap ke dalam mata Bapak. Aku melihat sebuah kekecewaan yang membuat hatiku serasa sangat sakit. Begitu sakit.

Mimpi ini bermula dari tawa seorang temanku. Kali ini aku berada di dapur salah seorang teman. Sedang meyiapkan berbagai masakan, entah untuk siapa dan untuk apa. Kurasa itu untuk sebuah acara yang lumayan besar. Namun kurasa teman temanku mulai bermalas-malasan menyiapkan hidangan. Aku berusaha untuk menghandle hidangan lain yang harus segera siap. Tapi entah mengapa, seorang kawanku, sang pemilik rumah tak puas akan hasil kerjaku. Hey, bukannya berterimakasih sudah kubantu malah mengomel begini begitu. Siapa yang tak kesal? Tapi aku masih mau disuruhnya pergi membeli beberapa bahan makanan untuk tambahan, entah apa itu, aku tak ingat.

Aku pergi bertiga bersama dua kawanku yang lain, menggunakan dua sepeda model federal. Temanku membonceng aku, duduk di depan sambil memegang kendali, sedangkan aku duduk di sedel sepeda dan mengayuhnya. Seorang lagi membawa sepedanya sendiri. Seingatku, kami lewat jalan yang cukup besar, melewati sebuah turunan, lalu berbelok di sebuah perempatan dan berjalan lurus. Setelah mendapat barang pesanan temanku yang kulupakan, aku dan dua orang temanku kembali pulang. Aku tak hafal jalan ini. Ini masih baru bagiku. Entah bagaimana, aku dan teman-temanku berada di sebuah terminal. Untuk melewati pintu gerbangnya dan mengambil sepeda kami, kami harus membayar. Tapi kupikir saat itu kami tak lagi punya uang. Cukup lama berdebat dengan seorang petugas agar kami dapat lewat, akhirnya kami dapat melewati gerbang kecil di samping gerbang utama tanpa membayar. Tapi, hey! Tunggu. Dua orang temanku meninggalkanku dengan sepeda mereka. hey! Tunggu aku! Aku tak hafal jalanan di sini. Ini seperti tempat yang sangat asing bagiku. Saat itu aku terus mengejar dang mengejar mereka sampai akhirnya kehilangan jejak setelah mereka berbelok di tikungan kecil. Aku sangat lelah. Entah ke mana aku harus pergi.

Lagi lagi, entah bagaimana, kurasa aku memasuki sebuah lorong panjang dengan cahaya yang temaram. Bukan. Ini bukan seperti seseorang yang akan mati di sinetron sinetron.. lorong ini seperti lorong di sebuah bangunan kuno. Aku terus berjalan berusaha melewati lorong ini dan menemukan jalan untuk kembali pulang. Tapi hey, ada seorang pria yang mengawasiku dan tertawa. Aku sangat yakin dia seorang pria jahat. Baju tebalnya terlihat compang camping. Nafasku mulai berat. Kuakui, aku takut. Aku terpojok.

“Kau lihat tembok itu? Itu satu satunya jalan keluar dan lepas dariku. Berlarilah kesana dan tembuslah. Sekarang pilihannya hanya selamat melalui tembok itu, atau mati di tanganku…”

Apa kau pikir aku orang bodoh yang percaya bahwa manusia dapat berjalan menembus tembok? Itu hanya bisa dilakukan manusia yang sudah mati, hantu. Tapi ini satu satunya pilihan. Aku harus berlari menembus tembok itu. Entah mengapa saat itu aku tak berpikir untuk berjalan kembali menyusuri lorong itu dan keluar. Mungkin temanku akan kembali. Tapi anehnya, aku percaya kalau aku memang harus berlari menembus tembok. Dan. Aku hanya ingin pulang.

Mataku bergantian menatap tembok itu dan mata sang pria jahat. Aku harus berlari menembusnya. Aku harus berhasil. Setelah menguatkan hati, aku mengambil beberapa langkah ke belakang sebagai ancang-ancang dan segera berlari menuju tembok itu. Tapi tubuhku kembali terpental. Aku gagal.

Seketika pria itu menerkam tubuhku, hendak membunuhku. Aku hanya memejamkan mataku pasrah. Aku benar benar sudah lelah, aku ingin pulang. Kupikir, inilah akhir hidupku. Saat pria itu hampir menikamku, datang dua pria bertopi membantuku, membunuh si pria jahat. Entah bagaimana mereka menang, dan tubuh mati pria jahat menghilang.

“Kau percaya padanya? Minumlah” kata salah satu dari mereka menyodorkan wadah air dari kulit yang mereka bawa. Aku menerimanya dan menenggak air itu. Pikiranku sangat kacau.
“Kau ingin pulang” kata pria satunya. Aku mengangguk.
“Bukan tembok itu. Tapi yang itu.” Pria yang memberiku minum menunjuk ujung lorong di belakang tembok yang tadi gagal kutembus. Di ujung lorong ini, ada sebuah tembok tersembunyi dengan jendela kecil di tengahnya.
“Pulanglah”
Aku memandang mereka. Aku masih tak dapat berkata apapun. Tapi aku sangat bersyukur mereka menemukanku.

Perlahan aku berjalan mendekati tembok yang katanya bisa membawaku pulang. Memandang lekat jendela kecilnya. Berharap dapat segera kembali berkumpul dengan teman-temanku. Tanganku bergerak mengelus jendela di hadapanku, dan mulai membukanya perlahan. Aku menemukan sosok yang lama telah kulupakan. Sosok yang membuat air mataku tak terkontrol lagi saat ini. Sosok yang membuat hatiku terasa begitu sakit. Ya.. saat aku benar benar ingin pulang, keajaiban membawaku padanya. Sosok yang menunggu kepulanganku di akhir sisa hidupnya. sosok yang tiap hari menungguku dengan sabar walau aku tak mengingatnya. Keajaiban yang membuatku sangat terpukul. Saat aku harus pulang.. aku bukan harus pulang ke rumahku, di antara banyak teman-teman saat ini. Tapi aku harus pulang pada sosok hangat, sosok yang memberi rasa nyaman dengan segala perlindungan yang menjadi rumahku yang sebenarnya. Bapak.

Cerpen Karangan: R. Kararia
Blog: rkararia.tumblr.com

Cerpen Sekelumit Cerita Dari Sekejap Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kafe Kafein (Part 1)

Oleh:
Betapa banyaknya ketidakyakinan di dunia ini. Kita tidak yakin akan nasib kita hari esok, atau kita tidak yakin betapa besarnya seluruh alam semesta ini. Kita tidak yakin dengan potensi

3 sekawan dan Gadis Berjubah Merah

Oleh:
Triple best friend bernama Safari Anatasya Sarah dipanggil sara, gadis ini berumur 17 tahun lho.. Tepatnya 3 SMA. Anisya Rizqia tasya dipanggil Icha berumur 16 tahun tepatnya kelas 2

Doa Ku Selalu Untuk Mu, Sayang

Oleh:
Marisa Anastasya itulah adik kesayanganku umurnya 18 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Risa, dia anak yang baik, lucu, dan cantik. Jadi tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya.

Narina (Part 2)

Oleh:
“Narina apakah ada yang salah dengan ucapanku? Christian apakah dia meninggalkanmu?” Narina menunduk bahkan untuk mengangkat kepalanya Ia benar-benar kesulitan. Allena tak tau apa sebenarnya yang terjadi dengan sahabatnya

Kado Terakhir Untuk Bunda

Oleh:
Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *