Selalu Ada Jalannya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 19 September 2017

Hmmmph, untuk sebuah senja hari, kurasa senja kali ini akan lebih menyenangkan. Tapi entahlah… Karena mungkin aku hanya akan bisa merasakannya. Ya, senja ini aku diperbolehkan bermain ke taman. Katanya di sana aku akan menemukan sebagian kecil keindahan yang diciptakan Tuhan. Aku sangat bahagia, mengapa? Karena biasanya aku hanya akan menghabiskan senjaku di dalam kamar. Dari jendela yang selalu menjadi tempatku menerawang masa depanku, juga impianku. Tempatku mengenang masa laluku. Suasana kamar belum terlalu kuhafal. Di rumah baruku. Kamar berukuran kecil yang katanya berwarna biru dan berisi lukisanku sewaktu aku masih kecil dulu. Katanya? Iya, karena aku tak dapat melihatnya sendiri.

Sejak kejadian itu, kejadian yang membawa pergi kebahagiaanku, penglihatanku, juga senyumku. Kejadian yang benar-benar membuatku tak bisa memaafkan diriku. Karena kejadian itu juga mengikutsertakan kepergian harta kesayanganku. Adikku. Maya Desvita. Saat-saat yang tepat bagi kami untuk menghabiskan masa kanak-kanak kami, harus usai dengan datangnya gempa yang sangat dasyat itu menghancurkan semuanya. Hanya aku dan kedua orangtuaku saja yang selamat. Tidak dengan adikkku yang saat itu masih berumur 2,5 tahun dan aku berumur 4 tahun. Saat itu, ayah dan Bunda sedang tidak di rumah.

“6… 7… 8… 9… 10… Aku akan mencarimu Maya…”
Setelah 5 menit berlalu, tak kutemukan juga adikku..
Tiba-tiba…
Bbruukk, bruukkk… suara itu beriringan dengan guncangan yang dasyat.
“Maya.. Maya.. Kamu di mana?” teriakku panik.
“Kak Jihan… Huaaaa, atit Kak.. atiit…” tangisan itu masih kudengar jelas.
“Maya.. Iya dik, kamu di mana?” teriakku sembari terus mengitari penjuru rumah kami.
“AAAAAAA… Kak Jihan…” suaranya melemah bersamaan dengan jatuhnya sesuatu dari atas.

Saat aku melintas melewati kamar orangtuaku terjulur sebuah tangan mungil yang kupikir itu adalah tangan adikku.
“Maya.. Pegang tangan Kakak, Maya! Ayo Maya kamu harus berusaha!” teriakku.
Tak lagi kudengar teriakannya juga tangisnya. Tangannya dingin dan lemas. Dan saat aku terus berusaha menarik tangannya tiba-tiba… Bruuuk.. sebuah benda yang keras dan juga berat menimpa kepalaku. Dan aku tak tau apa yang terjadi setelah itu.

Dan.. sejak saat itu aku tak lagi tau apa yang terjadi pada semuanya. Rumahku. Adikku. Dan diriku sendiri. Aku percaya pada yang dikatakan Bunda, semua baik-baik saja.

“Jihan, kamu jadi ingin ke taman atau tidak, sayang?” kata Bunda membuyarkan lamunan masa lalu ku.
“Iya bun, Jihan pake kerudung dulu sebentar.” sahutku dari dalam kamar.
Itulah Bundaku, seorang yang sangat hebat bagiku. Sejak aku kehilangan senyumku, Bundalah yang membuatku tersenyum untuk pertama kalinya. Bunda begitu tegar menghadapi semuanya. Katanya, semuanya akan kembali kepada-Nya, Jihan. Kita hanya bisa berusaha dan lalu Dialah yang menentukan segalanya. Ahh.. Bunda betapa aku rindu melihat senyummu itu. Senyuman bidadari surga yang terindah dari bidadari surga yang lain, kata Ayah.

“Jihan selasai Bunda, yuk kita berangkat.” ucapku sembari mendekati Bunda.
“Ayo, sayang..” sahut Bunda sambil menggandeng tanganku.
Ada lagi yang kukagumi dari Bunda. Dia selalu menanggapi semua perkataanku. Sesepele apapun itu. Bunda.. Bunda.. sungguh sabarnya dirimu.

Saat di taman…
Sungguh jelas terdengar olehku, bahwa di sini banyak sekali anak-anak sebayaku. Humm.. suasananya pun berbeda. Aku ingin terus di sini.
“Maafkan bunda ya, Jihan!” kata Bunda lembut. Sangat lembut.
‘Mengapa Bunda berkata seperti itu? Apa salah Bunda padaku? Sepertinya ada sesuatu.’ ucapku dalam hati.
“Ada apa, Bunda?” tanyaku padanya.
“Kau harus jadi kuat, sayang. Kau harus bisa jadi wanita yang tegar dan sabar. Hanya itu yang Bunda minta darimu.”
“Bunda, mengapa Bunda berkata seperti itu? Apa yang telah terjadi, Bunda? Bukankah aku selalu menuruti perkataan Bunda. Iya kan, Bunda?” tanyaku penuh kecemasan.
“Ahh.. sudahlah nak. Tak usah diteruskan lagi, kita ke sini dengan maksud bersenang-senang, bukan? Ayo kita bermain.” Kata Bunda.
Apa pun yang dikatakan Bunda, aku harus menurutinya. Begitupun dengan Ayah. Mereka selalu bisa buat aku bahagia, dan mereka mencoba terus membuat aku bahagia.
‘Maafkan Jihan, Ayah, Bunda. Harusnya akulah yang berusaha membuat kalian bahagia. Tapi dengan keterbatasanku, saat ini aku belum bisa berbuat apa-apa untuk bahagiakan kalian. Tapi aku berjanji, Ayah, Bunda, suatu hari nanti akan kubahagiakan kalian, membuat kalian tersenyum bangga. Karenaku…’
Kadang aku letih dengan semuanya. Ingin ku seperti teman-temanku yang lain. Tertawa lepas bersama kebahagiaan mereka. Berlarian mengejar cita-cita mereka. Belajar untuk gapai masa depan mereka. Tapi, sungguh aku tak pernah memaksakan keinginanku agar segera dipenuhi kedua orangtuaku.

“Jihan.. apa kau ingin seperti mereka?” tanya Bunda tiba-tiba.
“Sungguh Jihan sangat ingin seperti mereka Bunda. Tapi dengan kekurangan ini, apa Jihan bisa seperti mereka?” tanyaku pada Bunda.
“Banyak cara yang dapat kamu lakukan Jihan. Yakinlah, kamu pasti bisa. Bunda mendukungmu, Bunda akan terus berdo’a untukmu.” kata Bunda.
“Iya Bunda.” sahutku.
“Jihan, apa kau ingin bisa melihat lagi?” tanya Bunda lagi.
“Ingin sekali Bunda.”
“Apa yang kamu harapkan setelah nanti kamu dapat melihat lagi, Jihan?”
“Jihan akan belajar Bunda. Belajar dengan sungguh-sungguh. Jihan akan banggakan Ayah dan Bunda juga Maya di surga.” Jawabku yakin. Tanpa terasa buliran putih dari mataku telah mengalir jatuh ke pipiku.
“Ayo kita buat matamu berfungsi lagi, sayang.” Kata Bunda.
“Bagaimana caranya, Bunda?” tanyaku benar-benar penasaran.
“Operasi.”
“Yakinlah, Jihan. Kamu pasti bisa, serahkan semuanya pada Allah. Dia pasti mendengarkan janji, permintaanmu dan do’a mu sedari tadi. Dia pasti mengabulkannya, Jihan. Karena kamu adalah anak yang solehah, selalu berbakti pada Ayah dan Bunda. Percayalah pada ALLAH, Jihan. Kalau kamu mau, kita akan melaksanakan operasi itu besok.”
“Hummm, besok Bun. Mengapa secepat itu?”
“Agar kamu sesegera mungkin dapat hidup layaknya mereka, Jihan.”
“Lalu, apabila aku dapat melihat lagi, dapatkah aku menimba ilmu seperti mereka? Sedangkan aku sudah berumur 11 tahun Bunda, setara dengan umur untuk siswa SMP. Tidak mungkin kan aku mengulangi dari Sekolah Dasar? Sedangkan untuk masuk SMP aku juga butuh ijazah SD, bukan?”
“Subhanallah, kamu mengetahui hal seperti itu dari mana, nak?”
“Aku mempelajarinya sebelum kejadian itu, Bunda. Bunda tentunya tahu, kalau aku sangat suka membaca buku. Dari situlah aku menyimpulkan semuanya.”
“Jihan, akan selalu ada jalan untuk setiap masalah yang hadir di hidup kita. Kita hanya tinggal bertawakal menerimanya. Bunda yakin kamu bisa, Jihan.”
“Baiklah Bunda. Bila memang itu keputusannya, Jihan akan menurutinya.”
‘Ya ALLAH… bantulah Jihan besok. Lancarkanlah semuanya, Jihan hanya minta itu Ya ALLAH…’

Sepoi angin lunturkan peluhku. Seakan langit bernyanyi menghiburku, berikan harapan bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Ya, asal kita percaya. Kicauan burung pun lantunkan harapan, seakan dengar apa yang akan terjadi. Aku tahu, Tuhan Maha Tahu, melebihi apa yang kuketahui. Pasti ada jalan untuk semua ini. Tapi aku masih sering bertanya, bertanya pada diriku sendiri. Ada apa sebenarnya dengan mataku. Apakah aku benar-benar buta? Atau hanya ada saraf yang rusak sehingga berakibat pada mataku. Bunda pasti tau. Tapi mengapa dia tidak mengatakannya.

“Hei, kau lihat bonekaku kan? Bukannya ini boneka terbagus yang pernah kau lihat? Apa kau memilikinya?” tanya suara seorang gadis kecil dari belakangku.
Pertanyaan-petanyaan yang sebenarnya tak perlu kujawab. Apa yang barusan dikatakannya membuatku berkesimpulan bahwa aku tak terlihat seperti orang buta. Tapi, tetap saja, tubuh ini bergetar. Mempertanyakan apa yang harus kukatakan padanya. Biarkan sajalah, aku yakin dia adalah orang kaya yang sedang memamerkan barang barunya. Dan saat dia tau apa yang sebenarnya terjadi padaku, akhirnya adalah dia pasti mengejekku. Sudah dapat kuduga.
“Maaf adik, temanmu ini tidak dapat melihatnya.” Sahut Bunda menjawabnya.
“Oh, jadi dia buta. Mama lihat gadis ini. Dia sangat buruk, tidak dapat melihat lagi. Huu, percuma aku dari tadi berbicara padamu.” Bentak gadis kecil itu padaku.
Kata Bunda, aku harus jadi orang yang kuat, jadi orang yang sabar. Akankah dari kejadian pelecehan atas diriku ini aku bisa membuktikannya.
“Maafkan anak saya bu, dia memang seperti ini. Maafkan saya ya, bu.” Kata Ibu dari anak yang mengajakku berbicara tadi.
“Sudahlah, tak apa. Dia juga masih kecil,” sahut Bunda ku.
“Ayo, Jihan. Kita pulang sekarang.” Kata Bunda lagi, kali ini kepadaku.
“Ayo Bunda” sahutku.

Setibanya kami di rumah…
Perkataan gadis kecil tadi, sedikit menyayat perasaanku, membuah goresan luka dalam hatiku. Tapi Bunda selalu berkata padaku, bahwa masalah itu ada tingkatannya. Dan Allah tidak akan menguji hamba melebihi kemampuan hamba tersebut. Sedangkan ini, hanyalah masalah ke duaku. Aku bisa melewatinya. Pasti bisa. Dan harus bisa. Tidaklah mungkin bagiku untuk tidak mempercayai perkataan Bunda. Apa yang dikatakannya adalah benar. Pasti benar. Karena aku tahu, Bunda adalah malaikat titipan Allah untukku.

“Jihan, istirahatlah. Besok kamu akan melaksanakan operasi itu!” perintah Bunda.
Aku tetap terbisu, seakan tak peduli dengan apa yang dikatakan Bunda. Ya, aku masih memikirkan kejadian tadi.
“Jihan, apa kamu masih memikirkan kejadian tadi?” tanya Bunda yang sepertinya sekarang sedang berada di belakangku.
“Iya Bunda. Selain itu, Jihan juga memikirkan apa yang harus Jihan lakukan besok.” Paparku pada Bunda.
“Sudahlah sayang. Tidak usah dipikirkan lagi!” saran Bunda.
“Baik Bunda. Jihan akan istirahat sekarang.” seruku.
“Ucapkan Bismillah untuk operasimu besok!” saran Bunda lagi.

Saat operasi dilaksanakan…
Ku dengar sayup-sayup suara dari luar ruangan ini. Ayah, Bunda dan saudara-saudaraku berada di sana. Berdo’a agar semuanya baik-baik saja. Ya, aku tahu bahwa operasi adalah perjalan antara kesembuhan atau kematian. Tapi aku yakin, bahwa Allah pasti masih memberi kesempatan hidup untukku. Agar aku dapat menepati janjiku pada Ayah dan Bunda. Membahagiakan mereka. Pasti.

Dan perjalanan antara kesembuhan atau kematianku pun dimulai. Sekarang semuanya putih. Tak lagi hitam seperti yang biasanya kulihat. Hanya ruangan kosong. Tanpa satu pun benda, atau setitik pun noda. Hanya putih. Aku berusaha mencari sudut dari ruangan itu. Berjalan ke utara, lalu ke timur, ke barat, dan lalu ke selatan. Lama aku mengitari ruangan putih ini, namun tak kutemui sudutnya.

Sampai akhirnya…
Sayup-sayup kudengar suara tangisan seorang perempuan. Tangisan yang sepertinya kukenal. Mataku menerawang kemana-mana. Hingga kutemukan pemilik suara itu. Seorang gadis kecil yang duduk sambil memeluk kakinya sendiri. ‘Sedang apa dia di sini? Bagaimana dia bisa berada di sini?’ Kudekati gadis itu. Kusentuh bahunya. Dan, ASTAGHFIRULLAH… dia sangat mirip dengan Maya adikku. Ya, sangat mirip. Tapi kali ini dia sudah tumbuh besar. Meskipun aku telah lama tidak melihatnya, tapi aku yakin dia adalah Maya.
‘YA ALLAH, sedang di mana aku sekarang? Apakah dia benar-benar Maya adikku? Apa yang akan terjadi Ya ALLAH? Mengapa kami berada di tempat ini? Apa Kau benar-benar sudah tak mengizinkanku untuk bisa membahagiakan orangtuaku?’ kesedihanku tertumpah di sana, saat itu juga.

Gadis kecil yang kuduga Maya itu menoleh ke arahku. Berdiri lalu menatapku.
“Kak Jihan.” Katanya
‘Apa? Dia memanggilku. Jadi benar kalau dia adalah Maya. Apa yang harus kukatakan?’
“Sedang apa kakak di sini? Aku Maya kak. Apa kakak telah melupakanku?” tanyanya.
“M… Ma.. May.. Maya… Benarkah ini kamu?” tanyaku gugup. Seolah tak berani melakukan interaksi dengannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini Maya? Mengapa kita berada di sini?” tanyaku lagi.
“Kak Jihan katakan padaku, mengapa kau berada di sini?” tanyanya padaku.
“Tadi, aku sedang menjalankan operasiku. Aku buta sejak kejadian itu Maya. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa berada di sini.” Jelas ku pada Maya.
“Mungkin ini adalah perjalan antara kesembuhan atau kematianmu kak Jihan.” Katanya padaku.
Maya tertunduk, dan tak terasa buliran putih dari mataku tak mampu kubendungkan lagi. Aku menangis. Tak menyangka bahwa aku akan bisa bertemu adikku lagi. Dan bertemu di tempat aneh ini. Tangisan Maya terdengar lagi. Kini hanya sesenggukan saja.

“Pergilah kak.” Katanya
“Kenapa? Apa kau tak menginginkan kehadiranku di sisimu Maya? Padahal aku sangat merindukanmu.” Tangisku semakin pecah di hadapannya.
“Bukan itu yang aku maksud kak. Pergilah. Tetaplah bersama Ayah dan Bunda. Bahagiakan mereka kak! Aku tak ingin mereka kehilanganmu juga. Cukup aku saja yang pergi. Dan kau kak Jihan, pulanglah! Buat mereka tersenyum atas kesembuhanmu. Dan sampaikan salam rinduku pada mereka.” Kata Maya yang kemudian beranjak berlalu meninggalkanku.
Kini aku mulai sendiri lagi. Aku berusaha mengejarnya. Tapi, tak sanggup lagi aku mengikuti langkahnya. Aku kehilangan jejaknya.
“Maya… Maya…” teriakku mencarinya.
Sekali lagi, aku mencarinya. Tapi semakin jauh aku melangkah, semakin aku tak tau ke mana arah tujuanku sebenarnya.

Dan kini, suasananya telah berbeda. Aku melihat taman yang sangat indah. Ahh, di mana lagi aku sekarang.
“Jihan… Jihan… Bangun sayang.” Sayup-sayup kudengar suara seorang wanita dewasa. Suara wanita yang sangat sering kudengar.
Aku melihat senyumannya. Aku melihat dia sedang berdiri sembari menciumiku yang sedang merebahkan diri di atas kasur. Aku melihat ruangan dan alat-alat yang tak kuketahui namanya. Aku melihatnya.
‘Tuhan, Aku melihat dunia. Terimakasih. Terimakasih untuk ini semua. Ayah, Bunda aku akan membuat kalian bahagia.’
Aku melihat awan menari di atas sana. Mungkin mereka menyambut kesembuhanku. Aku tersenyum, tiada henti. Aku sangat bahagia.

“Bunda, ini minumnya.” Ujarku pada Bunda yang sedang duduk di sofa saat itu.
“Terimakasih sayang.” Kata Bunda.
“Bunda..” ucapku ragu-ragu.
“Ada apa Jihan?” tanya Bunda.
“Bunda, apa sebenarnya yang telah terjadi di kejadian itu?” tanyaku kini mantap.
“Saat kejadian itu, Ayah dan Bunda baru saja tiba dari rumah om kamu. Saat kami memasuki rumah. Semuanya telah roboh, dan berguncang. Ayah dan Bunda yang panik, langsung berhambur ke dalam rumah untuk mencari kalian. Hingga akhirnya, Ayahmu menemukanmu yang sudah tertimpa balok kayu yang sangat besar di atas kepalamu. Ayah melihat tanganmu yang menjulur berusaha mengambil sesuatu. Dan saat itu juga, Ayah melihat tubuh mungil adikmu yang sudah tidak berdaya juga penuh darah karena tertimpa kerangka kasur itu. Ayah hanya menyelamatkanmu karena tidak ada kemungkinan adikmu akan selamat.” Jelas Bunda padaku.

“Bunda, saat operasi itu aku melihatnya sedang menangis. Menangis di pojok ruangan aneh, ruangan yang hanya ada putih di dalamnya. Dia menangis dan lalu melihatku. Awalnya aku tak percaya bahwa itu dia. Dan setelah aku yakin bahwa itu benar-benar dia, aku justru berpikir bahwa aku sudah mati, menyusulnya. Setelah melihatku, tangisnya semakin menjadi, dia berkata kalau aku harus pergi saat itu juga. Lalu dia berlari Bunda, berlari meninggalkanku yang mulai sendirian lagi. Lama aku mengitari ruangan itu untuk mencarinya, sampai akhirnya aku sudah berada di taman yang sangat indah. Dan lalu, semua berakhir saat Bunda mamanggilku.” Ceritaku pada Bunda.
“Dia Maya, Jihan?” tanya Bunda. Bunda yang saat ku lihat ternyata sudah mengeluarkan air matanya.
“Iya Bunda. Tapi, mengapa Bunda menangis?”
“Bunda sangat merindukan Maya, Jihan. Bunda menyesal tak ada di sana saat kejadian itu. Bunda ingin mengulangi semuanya. Agar kau tak buta dan dapat menjalani kehidupanmu layaknya teman-temanmu. Agar masih terdengar tawa Maya dan dirimu yang bermain bersama mengitari taman itu. Agar Bunda dan Ayah bisa berhasil merawat titipan Allah buat kami.” Tangis Bunda yang langsung dihapusnya.
“Sudah Bunda. Bunda tak perlu merasa bersalah atas semuanya. Ini kehendak Allah, Bunda. Kita sebagai ciptaan-Nya hanya merencanakan, tercapai atau tidaknya semua itu hanya keputusan Allah. Kita hanya disuruh qonaah dan tawakal akan semua takdir yang diberikan-Nya pada kita. Bunda, kita harus menjadi manusia yang sabar.” Tuturku pada Bunda.
“Terimakasih, sayang. Kau permata hati Bunda satu-satunya. Jadilah wanita yang bisa melakukan segalanya ya, Nak. Bunda bangga padamu.”

Sejak itu, kurasa dunia memihakku. Burung pun memujaku. Dan semuanya ada untukku. Terimakasih Ya Allah. Kau masih memberikanku kesempatan. Membuatku kembali bisa melihat semuanya. Aku berjanji akan menepati janjiku.

Cerpen Karangan: Alfina Muharoma
Facebook: Alfina Muharoma

Cerpen Selalu Ada Jalannya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Doa Ku Selalu Untuk Mu, Sayang

Oleh:
Marisa Anastasya itulah adik kesayanganku umurnya 18 tahun. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan Risa, dia anak yang baik, lucu, dan cantik. Jadi tak heran jika banyak lelaki yang menyukainya.

Perasaan Kita (Part 2)

Oleh:
Saat capucino pesananku telah datang… “minumlah alvin..” “iya..” “bagaimana rasanya?” “harum..” Aku sangat senang sekali mendengar jawaban itu.. 17 tahun lamanya aku tak pernah mendengar kata-kata itu.. terima kasih

Antara Cinta dan Idealisme

Oleh:
Ini adalah sebuah era dimana tidak ada kesetaraan… Sebuah era dimana tidak adanya kepusaan dan kepercayaan… Sebuah era yang penuh penuh dengan diskriminasi… Era dimana kita dilihat berdasarkan siapa

Je T’aime (Part 1)

Oleh:
“Dek, kakak hari ini gak bisa jemput kamu. Tapi kakak udah minta tolong kok sama temen kakak untuk jemput kamu. Kamu tunggu aja ya” Chika menghela nafas mengingat ucapan

Cahaya di Ujung Jalan

Oleh:
Seperti biasa setiap malam senin, banyak anak muda berkumpul di jalan untuk menyaksikan balapan liar. Teriakan mereka tidak pernah padam untuk memberi support kepada jagoan mereka masing masing. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *