Selalu Ada Ocehan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 23 December 2017

Hidup di antara sebuah keluarga yang tidak harmonis itu tidak enak, yah selain membuat bosan juga tidak ada tanda-tanda adanya sebuah rumah tangga. Di rumah itu aku tinggal, dan setiap hari selalu ada pertengkaran baik dari masalah kecil hingga merembet ke masalah yang besar, aku fine fine aja karena suasana seperti itu sudah sering terjadi di rumahku tak menjadi hal yang tabu lagi kalau misal gelas pecah, barang berserakan di mana-mana.

Setiap hari aku bersekolah di SMP TUNAS HARAPAN JAKARTA, sekolahku besar dan terbilang sekolah yang favorit karena banyak anak-anak yang pintar dan kaya bersekolah di sana.
Rumahku di Perumahan Indah Sari jalan fatmawati, rumahku lumayan besar dan megah. Memang dari luar rumahku itu terlihat indah dan terdapat kedamaian di sana, tetapi orang tidak tau kalau di dalam rumah itulah aku sering mengeluh karena keadaan keluarga.

Aku ingin mengenalkan keluargaku, ibuku bernama Livy Amaliah dan ayahku bernama Teuku Fatah, kakak perempuanku bernama Silvya Amaliah Fathonah dan kakak laki-lakiku Teuku Fatih dan namaku sendiri adalah Ananda Amaliah Fathonah. Kami dari keluarga yang berada, kedua orangtuaku adalah pengusaha sukses mereka sudah memiliki banyak cabang perusahaan di mana-mana dan karena itulah mereka jarang di rumah.

Kakakku yang pertama Teuku Fatih sudah kuliah S-2 semester 6, ia kuliah di Universitas Negeri di Jakarta. Kakakku yang kedua Silvya Amaliah Fathonah kuliah S-1 semester 7 di Universitas Gajah Mada di Bandung, ya dia tidak tinggal bersama kami disana dia tinggal di rumah nenekku.

Ibu dan ayahku sering sekali bertengkar hanya karena permasalahan kecil, seperti kalau ayahku pergi tanpa memberi tau ibu maka ibuku marah-marah waktu ayah pulang. Kepalaku sakit mendengar setiap hari ada saja ocehan-ocehan yang tidak meng-enakan didengar. Ibuku juga sering memarahiku tanpa sebab, terkadang kalau aku baru pulang dari sekolah dia langsung memaki-maki dan memarahiku, tidak sampai disitu dia bukan hanya memarahiku habis habisan tetapi juga memukul tanpa rasa kasihan.
Hari-hari aku jalani begitu terus aku sudah tidak tahan dengan semua ini, kenapa aku terlahir dari keluarga yang seperti ini.

“Kenapa aku dilahirkan di keluarga ini, kenapa tidak di keluarga yang lebih baik lagi. Aku tak apa jika harus terlahir dari keluarga yang miskin asal keluarga itu bahagia tidak seperti keluargaku sekarang ini”. Pikirku dalam hati.

Suatu saat aku merasakan sakit yang teramat menyiksa, seluruh tubuhku seperti tertusuk jarum dan besi-besi panas, aku memberitahu kepada orangtuaku tapi tak seorangpun dari mereka menggubris pengaduanku. Akhirnya aku tahan semua sakit ini sendiri.
Aku menelepon kakakku Silvya di Bandung dan mengadu padanya, ya memang hanya dia yang peduli padaku.

“Hallo assalmualaikum kak?” tanyaku di telepon.
“Ya waalaikumsalam, ini kamu da?” jawab kakak.
“Iya kak ini aku Ananda, kakak apa kabar di sana?” aku menanyakan kabar kakakku.
“Ohh kakak baik-baik saja kok di sini, kamu bagaimana kabarnya? Kakak kangen nih sama kamu.” kakak balik bertanya keadaanku.
Aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada kakakku, karena aku takut mengganggu konsentrasi belajarnya kalau aku memberitahu bagaimana keadaanku sekarang.
“Aku juga baik-baik saja kak, aku ingin sekali bertemu dan bercerita lagi bareng kakak. Kakak kapan pulang ke sini?”
“Hmm kakak belum bisa pulang kalau bulan ini kakak masih harus menyelesaikan tugas kakak. Oh iya kabar ayah dan ibu bagaimana?”
“Ayah dan ibu baik saja kok kak.” jawabku bohong pada kakak ku.
“Oh syukurlah kalau begitu. Sudah dulu ya da, kakak mau lanjut buat tugas kakak. Selamat malam adikku yang manis mimpi indah ya, assalamualaikum” kakak mentup teleponya.
“Ya kak, waalaikumsalam”.

Hari-hari terus berlalu ibuku sekarang mulai sering di rumah karena tidak ada kerjaan yang mengharuskannya ke luar rumah, aku senang sekaligus sedih kalau ibu di rumah. Aku senang kalau dia di rumah dan bisa menemaniku, dan aku sedih karena kalau dia di rumah pasti ada saja alasan untuknya memarahiku.

“Nanda Nanda Nanda!!!” teriak ibuku dari teras kolam berenang.
Aku lari dan langsung menghampiri ibu, aku takut jika aku terlambat menghampirinya maka dia akan memarahi dan memukulku.
“Ya bu ada apa?” nafasku masih terasa sesak berlari turun tangga dari kamarku.
“Lama sekali kamu ini dipanggil punya telinga nggak sih!” nada suara ibuku marah. Mungkin sudah dari tadi ia memanggilku tapi aku tidak dengar karena tadi sedang mengerjakan tugas sekolah.
“Maaf bu aku tadi sedang menyelesaikan tugas sekolahku, ada apa ibu memanggilku ada yang bisa aku bantu?”
“Kamu pergi ke Supermarket di seberang jalan sana tolong belikan ibu lotion untuk berjemur, lotion ibu sudah habis” perintah ibuku.
Perintah itu langsung aku lakukan, aku merasakan lagi sakit disekujur tubuhku saat sedang keluar gerbang untuk menyebrang, akhirnya aku putuskan untuk beristirahat dulu di pinggir jalan untuk sekedar meredakan rasa sakit itu.

Setelah selesai membeli lotion aku langsung bergegas pulang, walau badanku masih terasa sakit aku paksakan untuk berlari agar ibuku tidak marah jika aku terlambat tiba dan memberikan lotion itu padanya.
“Apa Saja kerjaanmu, lama sekali hanya membeli itu saja” bentak ibuku.
“Maaf bu aku tadi terpleset di jalan dan kakiku sakit makanya aku lama sampai ke sini”. Aku berbohong pada ibuku.
“Sudah masuk sana ke kamarmu” suruhnya padaku.

Satu bulan kemudian sakitku bertambah parah, kulitku terkelupas seperti luka dan berbau busuk. Aku tidak tahu penyakit apa ini, mulai sejak saat itu aku tidak mau lagi untuk bersekolah, aku selalu bolos dari rumah aku pamit ke sekolah tapi nyatanya aku mencari tempat yang jauh dari orang-orang untuk bersembunyi.
Karena aku sudah sering sekali bolos sekolah, pihak sekolah memberitahu pada orangtuaku, aku pun dimarahi oleh ayah, ibu dan kakakku.

“Dasar anak nakal kamu!! ke mana aja kamu selama ini tidak pernah ke sekolah mau jadi apa kamu!! Kamu pikir kamu sekolah itu murah!!” ocehan ayahku sambil menjambak rambutku.
“Kamu itu dimasukkan ke sekolah yang bagus itu supaya masa depan kamu baik, kamu malah menyia nyiakan sekolahmu!! Mau jadi apa kalau tingkah kamu seperti ini terus!!” ibuku juga memarahiku dan menamparku.
“Ampun bu, yah aku nggak akan ngulangi lagi kesalahanku aku mohon ampun” aku menangis sejadi-jadiknya karena kulitku sangatlah sensitif karena sekali tampar saja kulitku mengelupas dan berdarah.

Kakakku juga ikut memukulku dan malam itu aku merasa bahwa aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku merasakan tubuhku seperti mati. Aku tidak tau harus mengadu pada siapa lagi tak ada lagi tempat untukku mengadu, hanya kakak perempuanku yang selalu membelaku tapi sekarang dia tidak ada di sini. Aku terus menangis terisak-isak di sepanjang malam itu.

Esoknya aku sekolah aku tidak berani menampakkan wajahku pada teman-temanku karena wajahku mengoyak akibat tamparan ibuku tadi malam. Di sekolah semua teman-teman menjauhiku tak ada yang mau berteman denganku, hanya guru di sekolah itulah yang menyayangiku dan selalu peduli padaku.

Seminggu setelah kejadian itu luka di wajahku tak kunjung sembuh malah tambah mengoyak dan hampir seluruh wajahku menjadi sasarannya. Aku juga tak pernah lagi ikut makan malam bersama keluargaku karena aku tidak mau kalu mereka tau keadaanku sekarang. Hari demi hari aku jalani dengan semua bekas luka pukulan, tamparan, tendangan dan penyiksaan yang aku alami menjadi luka yang besar dan menjijikkan.

Aku bermimpi pada suatu malam bahwa aku bertemu dengan kakak perempuanku dan aku mengucapkan selamat tinggal padanya aku bilang aku ingin pergi yang jauh. Esok pagi aku berangkat ke sekolah dan di sekolah aku pingsan dan lalu dibawa ke rumah sakit.

Di rumah sakit hanya aku sendirian tak ada seorangpun yang menungguiku bahkan orangtuaku tidak datang untuk menjemputku pulang. Aku mendengar suara percakapan dokter dan suster yang baru saja menanganiku.
“Bagaimana ini dok keadaan anak itu sangat memprihatinkan penyakit kanker darah dan kanker kulit yang ia derita tak bisa kita antisipasi lagi” suster itu berkata pada dokternya.
“Coba kamu hubungi orangtuanya apakah ada yang bisa datang ke sini sebab berita ini harus disampaikan pada orangtuanya.” Kata sang dokter.
“Di handphonenya ini tidak terdapat banyak nomor hanya ada satu nomor hp di sini namanya kakakku”. Jawab susternya pada sang dokter.
Dan setelah mendengar percakapan itu aku tidak tahu lagi apa lanjutan percakapan sang dokter dan suster aku tertidur hingga ketika aku bangun ada kakakku Silvya yang sedang menungguiku dengan raut wajah cemas.
“Kak” panggilku dengan suara yang hampir tak bisa keluar dari mulutku.
“Iya sayang kamu tidak apa-apa? kamu tidak usah takut kakak di sini menemanimu” ucap kakakku menyemangatiku.
“Kak, ayah, ibu dan kak Fatih tidak ke sini?” tanyaku.
“Tidak da, mungkin mereka sibuk nanti pasti juga ke sini.” Jawab kakak.
Aku menitipkan selembar surat untuk diberikan pada ayah, ibu dan kakakku tapi aku ingin surat itu dibaca setelah aku tidak ada.

Isi suratku itu adalah tentang keinginanku untuk disayang dan bukan untuk disiksa.

Assalamualaikum wr.wb
Yah, Bu, kak Fatih dan kak Silvya mungkin saat kalian membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi ditengah-tengah kalian, aku minta maaf selama ini kalau misalkan aku sering merepotkan dan membuat kalian marah dan benci padaku. Bu aku ingin minta maaf sering buat ibu kesal karena setiap ibu menyuruhku untuk melakukan sesuatu aku lambat untuk menyelesaikannya, bukan karena aku malas tapi tubuhku sakit bu, jadi aku tidak bisa bergerak cepat, ibu ingat waktu ibu menyuruhku membeli lotion ibu dan aku telat mengantarkannya dan aku berbohong kalau aku terpeleset makanya aku lama mengantarnya itu salah bu, itu karena badanku terasa sakit jadi aku beristirahat dulu di jalan. Yah aku juga minta maaf sama ayah kalau waktu itu aku pernah numpahin makanan di baju ayah waktu ayah ulang tahun, maksud aku mau ngajakin ayah kayak dulu lagi bercanda canda. Kak Fatih aku juga minta maaf karena gara-gara aku kakak dan pacar kakak putus, aku bicara apa adanya kak kalau kak Fira itu jahat dia hanya mau uang kakak dan juga bukan aku yang memukul adiknya tapi dialah yang menampar aku. Dan buat kak Silvya kakak adalah kakak terhebat dan kakak terbaik buat aku, aku bangga dan bahagia bisa menjadi adik dari seorang kakak yang cantik, pintar dan penuh kasih sayang. Dan buat semuanya maaf waktu itu aku bolos sekolah bukan karena aku malas, tapi aku malu untuk sekolah karena badanku korengan dan berbau busuk aku, tidak tahu penyebabnya dan ayah, ibu dan kak Fatih pukulan, tamparan dan cacian kalian itu sangat menyakitkan bagiku. Semenjak kalian sudah memukuliku kulitku bertambah terkoyak seperti luka yang parah, tapi aku tidak marah mungkin kalian begitu karena kalian sayang padaku. Aku minta maaf ya sama ayah, ibu, kak Fatih dan kak Silvya karena aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi bersama kalian. Aku berharap kalian bisa berbahagia dengan kepergianku.
Salam sayang dariku
Ananda Amaliah Fathonah

Setelah aku menyerahkan surat itu ketangan kak Silvya aku langsung merasakan hawa sejuk dan lama kelamaan pandanganku menjadi kabur dan aku pergi meniggalkan keluarga yang aku cintai.

Kak Silvya panik melihat tubuhku yang sudah tak bergerak, dia langsung keluar untuk memanggil dokter,
“Dokter!! Dokter!! Tolong adik saya” teriak kak Silvya dari dalam ruangan.
“Ada apa dik? Kenapa dengan adikmu?” dokter itu bertanya pada kak Silvya sambil memeriksa diriku yang sudah tak bernyawa.
“Bagaimana adik saya dokter? Dia baik-baik saja kan? Dia pasti sembuh kan?” isak kakakku sambil menarik baju yang dikenakan dokter itu.
“Mohon maaf dik, seharusnya sudah dari awal kamu bawa adikmu ke sini. Sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi, adikmu sudah menghadap sang pencipta”
“Tidak! Tidak! Tidak mungkin dokter! Adik saya masih hidup, dia pasti sembuh!” isak tangis kakakku menggema diruangan itu,
Tak lama kemudian kak Silvya menelepon Ibu, Ayah dan kak Fatih untuk memberitahukan bahwa aku sudah tiada dan untuk membawa jenazahku pulang ke rumah.
“Hallo ibu assalamualaikum. Ini aku Vya, aku sekarang lagi di rumah sakit Ibu, Ayah dan kak Fatih cepatlah ke sini.” kakakku menangis di telepon.
“Hey ada apa Vya? Bukannya kamu ada di Bandung kenapa tiba-tiba kamu sekarang di Jakarta?” suara ibuku bertanya lewat telpon.
“Cepatlah kalian ke sini!” teriak kakak di telpon dan langsung mematikan teleponnya.

Ayah, Ibu dan Kak Fatih sudah berada di depan ruang ICU, aku tau mereka datang karena khawatir dengan keadaan kakakku bukan denganku.
“ada apa Vya? Kamu baik-baik saja kan?” tanya ibu saat kak Vya keluar ruangan itu.
“aku baik-baik saja bu, tapi Ananda yang tidak baik!” jawab kakakku.
“ada apa dengan anak sial itu!!! Apa dia berulah lagi?!” tanya ayah dengan nada tinggi dan kesal.
“Cukup ayah! Cukup! Sudah cukup kau caci dia! Kau siksa dia! Kau pukul dia! Kini dia sudah tidak ada, dia pergi untuk selamanya” tangis kak Vya pecah lagi disaat itu.
“Hey Vya apa maksudmu? Siapa yang pergi selamanya?” tanya kak Fatih.
“Adik yang selalu kau marahi! Adik yang selalu kau hina! Adik yang selalu kau pukul!” bentak kak Vya pada kak Fatih.
“Gak! Gak Vya! Ini gak mungkin, Ananda itu anak yang kuat. Dia anak yang tangguh. Tidak!! Ini tidak mungkin!!” teriak ibuku, lalu pingsan.
“Jangan bohong kamu Vya, di mana Ananda sekarang? Di mana dia?” ayah tampak cemas.
“Dia di dalam, sudah berhari-hari dia disini sendiri melalui semua rasa sakit sendiri dan kalian tidak ada di sampingnya!”
Semua langsung masuk ke ruang ICU dan terisak nangis didepan jenazah Ananda anak yang sering mereka dzolimi,
“Ananda bangun nak! Bangun! Ibu di sini, ibu akan menemanimu setiap waktu. Ibu janji ibu tidak akan memarahi dan memukulimu lagi, tolong bangun nak!” ibu berteriak histeris didepan jenazahku.
“Iya Nanda bangun dek! Kakak minta maaf! Kamu adik yang baik dan kakak adalah kakak yang jahat!” kak Fatih menggenggam tangan Ananda.
“Lihat! Apa yang sudah kalian lakukan pada adikku! Lihat!” teriak kak Vya.
Ayah pada saat itu tidak berkata sepatah kata pun, dia hanya menangis dan menepuk-nepuk kepalanya tanda penyesalannya. Ibu pun yang sedang nangis memeluki jenazahku pingsan dan tak sadarkan diri,

Hari berganti, tidak terasa sudah 1 bulan semenjak kepergianku. Ayah, Ibu dan kakak-kakakku masih menangis di depan fotoku. Lalu kak Vya berdiri kekamarku dan mengambil surat yang aku titipkan padanya sesaat sebelum aku pergi.
“Yah, bu, kak. Ini ada titipan surat dari Ananda, dia menitipkan ini sesaat sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit itu.” Terang kak Vya sambil menyodorkan surat itu kepada ibu.

Ibu membacanya dengan keras agar kami semua mendengar, dan rasanya tersayat-sayat hari ibu saat membaca bait demi baik suratku. Semuanya menangis terisak setelah selesai membaca suratku. Ibu pergi meninggalkan rumah dan pergi ke pemakamanku. Ibu mengangis memeluk batu nisanku, dan aku pun di sini merasakan pelukan hangat yang sudah lama aku nantikan itu.

Aku senang bisa pergi dengan tenang karena semua orang telah menyayangiku. Aku bahagia bisa merasakan pelukan ibu walaupun pada saat ragaku sudah terkubur di tanah.

SELESAI

Cerpen Karangan: Tessa Polanda Lensiana
Facebook: Tessa Luisha Fernanda
Nama: Tessa Polanda Lensiana
SMK N 1 Bengkulu
SMP N 12 Bengkulu
SD N 44 Bengkulu
Ig: @tessa_polandaaa
@Tessapolanda

Cerpen Selalu Ada Ocehan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelukan Terakhir Ibu

Oleh:
Hidup tak selalu indah layaknya kisah manis dalam sinetron. Kadang aku berpikir kalau happy ending itu memang hanya ada dalam film atau cerita lainnya. Sejak kecil aku terbiasa hidup

Surat Usang Dari Samudra

Oleh:
Aku meletakan sebuah surat yang dibungkus dengan amplop coklat dan dihiasi pita pink di atas meja kerjaku. Amplopnya sudah usang warnanya. Tadi sepulang kerja, aku sengaja mengambilnya dari dalam

Tentang Sahabat Ku, Bimo

Oleh:
Namaku Dila. Dulu, aku punya sahabat namanya Bimo. Dia orangnya dingin banget, dan sangat cuek. Aku gak tahu apa sebabnya tapi, aku tetap sayang sama sahabatku itu. Sampai suatu

Kliwon

Oleh:
“kliwon… kliwon… kliwon! tunggu! Bekalmu!”. Teriak ibu dari kejauhan. “Jangan sampai honey jajan sembarangan dan jatuh sakit”. Timpal ibu dengan nada yang halus, sembari memasukan bekal makanan yang khusus

Hijrah (Part 1)

Oleh:
Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa-masa keemasan. Masa itu pula, orang-orang akan memilih lingkungan mana yang sreg dengan hatinya dan menjadikannya zona nyaman. Ya, mungkin begitu. Tetapi bagiku, masa-masa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *