Selamat Berbuka Kak Roby!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 August 2013

Bulan ramadhan kali ini sama seperti sebelumnya, jauh dari keluarga memang sangat tidak menyenangkan, apalagi di saat mengingat momen dimana kami sedang berbuka dan sahur bersama.
Aku Hanna umurku 19 tahun dan aku kuliah di Jogja dengan jurusan sastra. Aku berasal dari kota yang sangat jauh dengan pulau berbentuk “K” Sulawesi Selatan Makassar tepatnya.
Tiga tahun sudah aku tidak pulang, tiga kali puasa tiga kali lebaran aku tidak pulang. Bahkan aku di juluki bang toyib oleh teman-temanku, tempat tinggalku yang sangat jauh sangat tidak mendukung untuk pulang, ditambah lagi libur yang tidak pernah lama.

Yang kurasakan saat ini yaitu kerinduanku pada kedua orang tuaku tentunya namun karena ayah dan ibuku selalu menghubungiku rasa rinduku bisa sedikit terobati dengan mendengar suara mereka. Sekarang yang sangat kuharapkan adalah mendengar suara kakak ku. ka’ Roby namanya, sudah amat sangat lama bahkan semenjak aku duduk di kelas tiga smp aku sudah tidak pernah mendengar suara kakaku, mungkin kesibukanlah yang membuat aku selalu dikesampingkan dan bahkan tidak pernah menganggap ku ada. Sosok seorang kakak yang dulu selalu ada di saat aku menangis dan selalu ada untuk mengusap air mataku yang selalu membuatku tersenyum itulah yang kuinginkan ada saat ini.

Ingin rasanya aku memeluk kak Roby dan mengatakan “aku sayang kakak”. Banyak pertanyaan yang muncul di fikiranku apakah aku dan kak Roby benar-benar saudara kandung? Bukankah saudara tidak pernah melupakan saudaranya? Nomor handphone pun ku tak punya, sering ku tanyakan pada ibu di mana kakak sekarang? kabarnya bagaimana? Kapan kakak pulang? Apakah kak Roby tidak ingin menemuiku ibu? Namun, tak pernah kutanyakan lagi semua itu karena setiap ku tanyakan tentang kak Roby, ibu selalu menangis dan hanya membuat semakin banyak pertanyaan dalam benakku.

Mungkin sekarang hanya khayalan dan sangat tidak mungkin terjadi jika aku menginginkan kehadiran kak Roby di sampingku. Tujuanku sekarang adalah bagaimana caraku untuk meraih kesuksesanku dan bersatu kembali dengan keluargaku.
Dengan oseng kangkung dan sepotong tahu goreng ditemani segelas teh hangat, buka kali ini terasa semakin biasa saja.

Aku punya keluarga di pulau jawa ini tepatnya di kota Malang, namun karena sangat jauh sehingga aku pulang hanya saat lebaran saja. Dipertengahan bulan ramadhan ini teman-temanku sudah banyak yang mudik atau pulang kampung kecuali buat para mahasiswa perantau seperti aku, hanya tersisa beberapa anak saja di asrama ini dan itu semakin membuatku merasa semakin merasa sendiri dan sepi. Tak sedikit dari teman-temanku mengajak untuk ikut pulang bersamanya, namun sangat canggung bagiku untuk tinggal di rumah orang sehingga membuatku memutuskan untuk tetap tinggal dan menunggu waktunya tiba untuk pulang ke rumah keluarga saudara saja.

Kerinduanku terhadap kampung halamanku semakin mendalam, terlebih kerinduanku terhadap kak Roby, ingin kumendengar suara kak Roby meski hanya ucapan “selamat berbuka dek” khayalku, tapi setiap ku mengingat kak Roby hanya air mata kerinduan yang kudapat.

Jumat 26 juli, aku pergi mengumpulkan tugasku ke kampus dan sepulangnya dari kampus aku mampir di perpustakaan untuk mengisi waktu kosongku, ditengah ku menyusuri lembar demi lembar yang ku baca, tiba-tiba handphoneku berdering dan saat ku angkat telfonku tedengar suara yang tak asing di telingaku “kak roby” sautku dengan sedikit terkejut dan suara yang sedikit meninggi.
“kamu gimana kabarnya dek?” Tanya kak roby. “aku baik-baik aja kok kak” jawabku dengan nada bahagia.
“Alhamdulillah kalau gitu, sorry banget ya kakak udah lama banget nggak hubungin kamu”. “kakak baik-baik aja kan di sana?” ujarku, lalu tiiitt tiba-tiba telfon kami terputus.

Saat mendekati waktu berbuka puasa aku mengirim pesan pada kak Roby “Selamat Berbuka Puasa kak, kalau makan jangan kenyang-kenyang lo kak ntar gemuk” beberapa saatpun berlalu namun tak ada satupun balasan dari kak Roby, sepulang dari tarawih ku lihat handphoneku dengan harapan besar ada balasan dari kak Roby namun, itu semua hanya sia-sia kak Roby sedang sibuk fikirku pasti tak sempat untuk mengurusi hal-hal sepele seperti aku.

Berkali-kali ku telfon kak Roby namun “maaf nomer yang anda tuju sedang tidak aktif dan bla bla blaaa” hanya suara ini yang ku dengar.

Seminggu menjelang lebaran aku putuskan untuk mudik, perjalanan yang melelahkan di mulai “ya” perjalanan antar provinsi. Keesokan harinya setibanya di rumah tante ku, aku di sambut dengan hangat. Tante Mira namanya dia adalah adik dari ibuku, tante Mira tidak bisa memiliki anak karena keguguran pada kehamilan pertamanya dan menjalani mengangkatan rahim karena ada kangker di rahim tante Mira, mungkin itu sebabnya tante Mira memperlakukanku seperti anaknya sendiri.

Di rumah ini aku merasa seperti berada di rumahku sendiri. Om Sandi suami tante Mira, juga sangat baik padaku. Hari ini aku membantu tante Mira membuat kue lebaran, tante Mira terlihat mirip seperti mama saat masak dan saat membuat kue seperti ini, aku merasa nyaman berada disini.

Lebaran pun tiba, malam ini saat takbir berkumandang air mataku tak hentinya menetes dan malam ini kuputuskan untuk di kamar saja, aku tak ingin tante Mira tau kalau aku sedang sedih sekarang, mungkin tante Mira mengerti kesedihanku saat ini, tante Mira membuka pintu kamarku dengan perlahan dan mengusap air mataku lalu memeluku.
“nggak apa-apa kok sayang nanti kamu pasti bisa berkumpul lagi bersama ayah sama ibu kamu, sabar ya” tante Mira sambil mengusap pundaku.

Keesokan harinya setelah sholat ied, aku meminta maaf pada tante Mira dan om Sandi. Beberapa saat kemudian ibu menelfon dan air mataku pun tak bisa tertahankan lagi, kini satu telfon lagi yang kutunggu “ya” telfon dari kak Roby. Namun sampai malam ku tunggu tak ada satupun pesan dari kak Roby. “biarlah mungkin kak Roby sedang sibuk” gumamku.
Beberapa hari setelah lebaran aku mendapat telfon dari ibu “nak kakak mu sedang sakit keras dan sekarang sudah di rumah” ujar ibu dengan suara lirih.
“kakak sakit apa bu?” tanyaku dengan suara sedikit meninggi. “kakakmu menderita infeksi paru-paru dan sudah sangat parah, kemungkinan sembuh sangat kecil, dokter memvonis hidup kakakmu tinggal beberapa bulan lagi, kamu pulang yaa sayang ya…” jelas ibu dengan suara semakin lirih.
“iya bu” badanku tiba-tiba seperti lemas dan nyaris jatuh, sontak tante Mira langsung menangkapku dan menuntunku ke kamar, tante Mira mengambilkanku segelas air untuk menenangkanku.

Keesokan harinya aku pulang ke kampung halamanku bersama tante Mira, ayah menjeputku di bandara, saat kulihat ayah yang berdiri di tengah ramainya orang dengan sedikit berlari dan melambaikan tangan, aku langsung berlari ke arah ayah dan memeluknya, setibanya di rumah aku ke Rumah Sakit tempat kak Roby di rawat, tak kuasa aku melihat kak Roby yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan bantuan oksigen dan beberapa selang infuse di badanya, aku pun berlari ke arah kak Roby dan memeluknya.
Kak Roby tersenyum melihatku sambil menjitak kepalaku dan berkata “adek kakak udah gede’ ya ternyata” sapa kak Roby, tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku.
“aduuuh cengeng banget sih nih anak, coba sini kakak liat udah timbul belum yaa jerawatnya” kak Roby sambil meledek. Aku pun bangun dari pelukanku “kakak kemana aja sih, lama banget di tungguin?” jawabku ku dengan suara manja.
“kak Roby kan cari kakak baru buat kamu tapi nggak dapet nih, gimana dong?” jawab kak Roby meledek. “iiihh kakak tau ah, pokoknya kakak harus cepet bangun dari kasur yang bau obat ini terus temenin aku main uno yaa” jawabku dengan ekspresi kesal.

Malam ini aku bersama ayah yang menemani kak Roby di Rumah Sakit, ibu kusuruh pulang karena sudah dua malam ibu tidak bisa istirahat. Kak Roby memintaku untuk menyanyikan lagu “ambilkan bulan bu”. Ku genggam erat tangan kak Roby sambil menyanyikan lagu kecil kita yang sering di nyanyikan ibu dulu sebelum tidur, perlahan ku lantunkan lagu ini sampai mata kak Roby tertutup, dan aku pun tidur di sampingnya dengan genggaman eratku.

Keesokan harinya saat ku terbangun, ku lihat kak Roby masih belum bangun juga. Akupun bergegas ke kamar mandi dan mencuci mukaku yang semakin berminyak ini, dengan harapan kak Roby sudah bangun saat aku kembali.
Di perjalanan menuju kamar kak Roby ku lihat ibu, ayah, dan tante Mira berada di luar dengan wajah cemas dan ku lihat ibu yang menagis di pundak ayah, sontak ku berlari dan pandanganku tiba-tiba teralihkan pada kak Roby yang sedang menjalani pemeriksaan oleh dokter lewat kaca jendela yang sedikit terbuka.
“kak Roby kanapa bu…?” tanyaku dengan risau.
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan kak Roby dengan wajah kusut dan kecewa “maaf kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa, mungkin ini sudah jalannya semoga di berikan besabaran untuk kelurga”
“maksud dokter apa…?” aku semakin kacau dan dan langsung berlari kearah kak Roby, ku lihat tubuh kak Roby sudah tertutupi selimut dan wajah yang pucat.
Aku tak bisa berkata apa-apa sekarang, badanku lemas dan pandanganku semakin kabur. Dunia berhenti sekarang fikirku, setelah itu aku tak ingan apa-apa lagi.

Saat aku membuka mata, ku lihat kak Roby di samping ku sambil tersenyum melihatku, “kakak di disini? Jangan tinggalin Hanna ya kak, Hanna butuh kakak” ujarku, ku lihat kak Roby mengelus kepalaku dengan senyuman di wajahnya. Lalu ku terbangun dan bertanya pada ayah yang saat itu berada di sampingku “kak Roby mana yah?” tanyaku.
Ayah memelukku “kak Roby ada kok bersama kita, kata kak Roby kamu harus jadi anak ayah sama ibu yang kuat nggak cengeng” jelas ayah sambil mengelus kepalaku.

Ku mendengar lantunan ayat Al’Quran dari kamarku, saat ku membuka pintu pandanganku tertuju pada mayat yang tergeletak dengan terbungkus kain kafan dan di iringi lantunan surat Yasin. Aku tertegun dengan pandangan kosong melihat semua keanehan yang ada di sini
“kenapa mereka ada di sini?, kenapa ibu menangis terisak-isak di sana?, siapa mayat itu?, kenapa ada di rumahku?” pertanyaan-pertanyaan yang ingin ku ucapkan namun bibir ini serasa terkena lem dan tidak bisa kubuka.
Ayah memeluku dan menenangkan ku, aku berjalan ke arah yang belum ku ketahui bersama ayah, ibu dan orang-orang dan ku lihat enaam laki-laki itu memikul keranda yang diselimuti kain berwarna hijau bertuliskan lafadz “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” dan kudengar iringan kalimat “Laa ilaa ha illallah” dari orang-orang ini.

Ku lihat mayat itu di kuburkan sontak ku berteriak “kak Robyy… jangan tinggalin Hanna kak.. kak Roby bangun kaak…” Ingin ku berlari dan membawa kembali jasad yang baru ku sadari kalau itu adalah kak Roby.
Sulit sekali bahkan teramat sulit, menerima kenyataan kalau kini kak Roby sudah tidak ada di dunia ini, kini aku tau betapa berharganya mereka orang-orang yang ku sayangi. “Ibu, ayah” tak akan pernah ku buat mereka kecewa dan tak mungkin aku meninggalkan mereka.

Kusadari perpisahan memang tak seindah saat pertemuan, dan tak ada yang kekal di dunia ini. Ku percaya satu hal “janji Tuhan pasti selalu ditepati, dan rencana Tuhan pasti akan jauh lebih indah”.
Sekarang aku menjalani hidupku sebagai anak yang baik, mahasiswa yang baik, dan satu lagi “adik yang baik”.
“Selamat tinggal kak Roby doa di setiap sujudku akan selalu bersamamu dan selalu menerangi langkahmu disana, Aamiin”

THE END

Cerpen Karangan: Mufidatul Husna
Facebook: fhy loveyou

Cerpen Selamat Berbuka Kak Roby! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kecelakaan Berakhir Bahagia

Oleh:
Namaku Neirsya Khumaira Nazaresya, panggil saja Neirsya, aku adalah seorang anak Presdir Mobil, dapat diduga kehidupanku bagaimana, kaya ya tentu saja. “Neirsya, Papa mau kerja, ke tamannya ditemankan Zaenal

Kenangan Terindah

Oleh:
Hari ini, Amanda sangat sedih. Anak perempuan berumur 10 tahun ini, harus pindah sekolah ke Bali. Sebenarnya ia tak mau, namun apa daya, ia harus mengikuti dinas Papanya. Sesekali,

Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Setangkai Mawar Putih

Oleh:
Percayalah padaku, maksudku ini sungguh. Aku tak berbohong kali ini, aku mohon percayalah padaku untuk kali ini. Dan, sekarang aku akan bercerita tentang Kay and Key. Yah, tebakanmu benar.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Berbuka Kak Roby!”

  1. Heru Cakiel says:

    sedikit bisa mengeluarkan air mata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *