Selamat Hari Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 April 2014

Hari kemarin tanggal 12 November bertepatan dengan Hari Ayah. Hari dimana peran seorang ayah adalah seorang pahlawan untuk keluarganya, hari dimana sosok seorang ayah adalah lelaki tangguh yang tak akan pernah tergantikan di mata keluarganya. Sekalipun pernah tersirat rasa benci saat masalah yang selalu datang menghadang, Namun sosok seorang Ayah tetap tak ada duanya.

Masih ingat dulu saat aku kecil, tertawa dan menangis dalam pangkuan ayah, aku meronta manja meminta ayah untuk menuruti semua yang aku minta, senang rasanya jika semua itu terkabulkan oleh seorang ayah yang amat aku sayang. Beranjak dewasa dengan usia yang teramat muda aku lebih mengerti akan arti sebuah kasih sayang orangtua. Aku tumbuh dalam pertumbuhan keluarga yang amat sederhana, ibu ku seorang ibu rumah tangga yang terkadang menjadi seorang pekerja buruh di saat orang lain atau tetangga yang sedang membutuhkan, dan ayahku hanya seorang buruh biasa yang sehari-harinya hanya mendapatkan uang tidak lebih untuk membiayai aku sekolah dan membiayai kebutuhan rumah.

Pagi itu suasana sangat indah sekali, aku terbangun dari tidurku dan meninggalkan semua mimpi indahku untuk memulai sekolah SD. Aku mulai merengek manja kepada ibu yang saat itu sedang membersihkan halaman rumah dan mempersiapkan keperluan aku sekolah. Aku pun masih menangis manja di atas tempat tidurku dan berharap ibu cepat menghampiriku dan menggendong aku untuk mandi dan bersiap untuk berangkat sekolah. Aku memang terbilang anak manja dan harus dituruti jika memang ada keinginan yang belum tercapai.

Setelah semua di persiapkan oleh ibu, aku pun bergegas pergi menuju sekolah. Aku mulai berpamitan kepada ibu, dan ayah saat itu.

“Yah.. Buu.. aku berangkat sekolah dulu ya..”
“ia Nak, hati hati ya di jalannya.. dan kalau sudah selesai sekolah cepat pulang ya nak!” Ayah berkata
“Ia yah..” aku pun menjawabnya
Tak lama kemudian aku pun berjalan menghampiri teman teman sekolahku untuk pergi ke sekolah bersama. Jarak untuk menempuh ke tempat sekolah ku lumayan jauh, dan hanya dengan jalan kaki untuk bisa sampai ke sana.

Di tengah tengah perjalanan aku pun tiba tiba bertemu dengan ayah, wajahnya begitu berseri, senyumnya begitu tulus, dan lambaian pelan tangannya mengarah kepadaku seakan itu adalah wajah terbaik ayah yang selama ini aku kenal. Aku pun berteriak memanggilnya!!
“yaaahhh.. ayyaahhh.. ayah mau kemana?”
“Nak.. ayah mau mencari lauk pauk untuk nanti kamu makan pulang sekolah” ayah pun menjawabnya
“kenapa sepagi ini yah?” Aku bertanya heran
“Ia nak, karena suasana pagi ini bagus sekali untuk ayah mencari ikan di sungai” Ayah pun tersenyum

Aku yang saat itu masih lugu hanya bisa diam melihat langkah ayah yang perlahan pergi menghilang dari pandanganku.

Tak lama.. temanku memanggil..
“Wooyy.. mau berangkat sekolah atau tidak ni!!!”
“Ia sebentar” aku pun berlari menghampiri kembali temanku yang tadi sempat aku hiraukan.

Dengan senang hati aku berjalan dan bernyanyi sambil sesekali bercanda dengan temanku selagi aku berjalan menuju sekolah. Hari ini rasanya senang sekali, entah apa yang ada di benakku saat itu. Aku merasakan kegembiraan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku bangga mempunyai teman yang baik selama aku sekolah, dan yang paling berharga adalah orangtua ku yang selama ini merawat aku termasuk ayahku yang dekat sekali dengan aku. Dan aku bangga sekali.

Hingga bel pulang sekolah berbunyi pun aku masih merasakan kegembiraan itu yang aku simpan dalam besarnya sebuah senyuman. Aku berlari-lari dengan teman sekolahku, sampai keringat ini menetes deras di seragam sekolahku, dan aku tidak peduli. Hingga sampai di rumah, aku merasakan kesunyian yang berbeda dari seperti biasanya. Rumah tetanggaku terlihat begitu sepi dari kejauhan, aku pun merasakan keanehan, dan sesaat sampai di rumah, aku berteriak memanggil ibu.

“Buu.. ibuuu..” Tak ada jawaban sama sekali
Aku pun masuk ke dalam rumah dan mencoba memanggil ibu beberapa kali, dan masih tak ada jawaban. Beberapa ruangan rumah aku masuki hanya untuk mencari ibu atau ayah yang mungkin saat itu sedang tidur atau melihat TV. Tapi tak ada satu orang pun di dalam rumah. Aku mulai merasa kesal dengan keadaan saat itu, lalu aku berpikir mungkin ibu dan ayah sedang ke pasar membelikan aku makanan. Yaa, hanya pikiran itu yang saat itu membuat aku tenang.

Waktu demi waktu sudah hampir beberapa jam aku menunggu mereka, sampai aku tertidur di ruang TV menunggu mereka pulang, tapi sampai saat ini mereka pun belum terlihat. Rasa kesal semakin bertambah, aku berlari keluar rumah, aku menghampiri beberapa rumah tetangga dekat rumahku, namun masih tidak ada satu orang pun yang terlihat. Rasa aneh semakin besar dalam pikiranku, was was, dan terpikirkan sesuatu yang tidak tahu entah itu apa pada waktu itu.

Tak lama kemudian, temanku dudi menghampiriku yang sedang duduk kesal di depan rumah.

“Ki, kok kamu diam disini? kenapa kamu tidak ikut mencari ayahmu?” Dengan nada cepat dudi bertanya
“Dari tadi aku juga sudah mencari ibu sama ayah dud, tapi mereka belum juga pulang” Aku menjawab dengan kesal
“Loh, memangnya kamu tidak tahu ki?” Dudi bertanya heran
“memangnya kenapa dud?” aku pun tambah heran
“itu ki.. hmm.. itu..” dudi kebingungan
“iya itu apa dud?” aku sedikit membentak dudi dengan penuh tanda tanya
“Hmm.. ayahmu hanyut di sungai dari tadi pagi ki, dan sekarang belum ditemukan”

Lemas rasanya tubuh ini saat kata kata itu terdengar, rasa tidak percaya semakin membelenggu dalam ingatan, tak ada sepatah kata yang mampu keluar saat pertama kali ku dengar kabar itu. Aku hanya menangis sambil terus menerus memanggil nama Ayah.. Ayah.. dan Ayah.

Aku pun kembali berlari kencang tanpa menghiraukan apa yang aku hadapi saat itu. Saat sesampainya aku mendekati jalan ke arah sungai, di penghujung jalan terlihat kerumunan orang yang sedang terlihat sedih dan menepi ke sungai dengan terlihat sibuknya kesana kemari. Entah apa yang harus aku lakukan, yang aku tau, aku ingin bertemu ayah dan ingin cepat cepat memeluknya. Aku pun kembali berlari lebih mendekati banyaknya kerumunan itu. Dan terlihat jelas disana ibu menangis keras, meronta memanggil ayah yang memang saat itu hanyut terbawa arus sungai saat sedang mencari ikan untuk lauk pauk makan siang yang seharusnya aku nikmati bersama dengan mereka siang ini.

Rasa hati ini tak karuan, aku menangis deras dalam dekapan ibu sambil berteriak memanggil ayah. Ibu yang sedang menangis lemas pun hanya menatap aku dengan matanya yang sayu dan memerah. Sebagian orang memeluk aku erat dan mengupahi aku agar tetap bersabar dan mengikhlaskan kepergian ayahku.

Hingga malam tiba pun aku masih berdiri di tepi sungai dengan ibu. Belum ada tanda tanda ditemukannya ayah dalam derasnya air sungai yang saat itu semakin meluap. Semakin banyaknya orang yang melihat keadaan sungai, semakin tak terbendung air mata ku untuk merelakan kepergian ayah. Tak lama kemudian sekitar pukul 8 malam ada seseorang yang berteriak keras di seberang sungai, dan mereka bilang..

“Heeiii.. Heiii.. mayatnya disini.. cepat kesiniii!!”
“Itu yang terdengar di kupingku di balik gemuruhnya air sungai”

Semua orang sontak menghampiri teriakan orang itu, aku pun mengikuti ibu yang berjalan lemas tak bertenaga. Dan.. benar, di sana ayah terbujur kaku tanpa sehelai pakaian yang menempel ditubuhnya, sebagian badannya membiru dan membengkak akibat banyaknya air yang masuk ke dalam tubuhnya. Semakin tak kuasa aku melihatnya, tanpa sadar aku menangis dan memeluk jasad ayah yang saat itu sudah tak bernyawa.

“Ini kisah nyata yang saat ini, di Hari Ayah kemarin dan untuk selamanya aku sangat merindukan kehadiran seorang Ayah. Kini usiaku sudah sangat dewasa, dan kejadian itu aku alami puluhan tahun yang lalu. Namun aku tak akan melupakan kejadian pilu itu sampai aku menjemputmu yah”

I MISS U Dad

Cerpen Karangan: Ryan Mpizz
Facebook: Ryan Konflik
Ryan Firmansyah

Cerpen Selamat Hari Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangga Nada Berjalan

Oleh:
Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya. “Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan

Menelusuri jejak sang pencerah

Oleh:
Penguasa siang nampak terbakar oleh kobaran api dan menyemburkan cahaya panas yang menghujam ke permukaan bumi, suara desingan mesin-mesin robot jalanan menambah kepenatan saat itu, deru kereta api terdengar

My Beloved Brother

Oleh:
Aku terlahir di dusun pegunungan yang jauh dari Kota. Hawa di sini begitu dingin, jika hari berganti malam rasa dingin itu seperti menusuk tulang kecilku. Aku memiliki seorang Adik

I Love Mom and Dad

Oleh:
Aku terus berjalan tanpa hentinya, walaupun sekarang hujan lebat aku tak perduli. Ini belum seberapa oleh apa yang di lakukan Mama untukku. Mama telah banyak berkorbaan demi aku. Tapi

Langit Pagi Kota Jogjakarta

Oleh:
Piringan hitam mengalunkan nada nada memori lagu tradisional, berbagai macam alat musik mengalunkan melodi keharmonisannya. Ku intip dari balik korden lusuh dan usang, seorang tua menatap langit pukul 10

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *