Selamat Jalan Adikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 September 2017

Gundukkan tanah ini adalah tempat peristirahatan terakhirnya, sosok rapuh yang selama ini menjagaku. Wajah tampannya masih terbayang-bayang di otakku, senyuman beserta lesungnya masih melekat di memori hidupku. Ya Tuhan, mengapa kau mengambilnya lebih cepat? Aku bahkan belum pernah membalas genggaman tangannya, senyum tulusnya, tatapan teduhnya.

Flashback
“Kak, Juna minta maaf. Juna nggak bermaksud buat mecahin kotak musik itu. Tadi, kakak datang dan itu mengejutkanku. Alhasil kotak musik itu terjatuh dari genggamanku.” ujar anak itu lirih, tangannya yang mengenggam pergelangan tangankuku tangkis. Alasan bodoh macam apa itu?
“Nggak sengaja? Kau pikir aku akan percaya begitu saja? Itu adalah hadiah dari mendiang ibuku! Apa kau tak puas merengut nyawanya dan sekarang apa lagi? Menghancurkan peninggalannya? Aku lebih senang kau tertidur dan tak pernah bangun daripada terus mengusik hidupku!” bentakku padanya.
Segera kutarik dia untuk keluar dari kamarku, lalu kubanting pintu kamarku dengan keras. Tidak peduli dia akan menangis atau mengadu pada ayah nanti malam. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang dan memilih tidur untuk meredakan emosiku. Tak butuh waktu lama, kini aku sudah terlelap ke dalam dunia mimpi.

“Kak Revan bangun! Ada banyak asap di sini, kita harus segera keluar, kak!” tangan seseorang menggoyang-goyangkan tubuhku. Kubuka mataku secara perlahan lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Ada apa ini? Mengapa banyak sekali asap di sini? Pandanganku tak sengaja bertemu dengan mata karamel orang itu. Dia tersenyum padaku, membuat lesung di keua pipinya terukir.
“Ada apa ini? Sudah kubilang berapa kali? Jangan pernah uhukk… uhukk… mengapa bisa banyak asap seperti ini?” sesekali aku terbatuk karena asap-asap sialan itu. Ayolah kawan, asmaku akan kambuh jika seperti ini. “Kebakaran! Rumah kita terbakar, kak. Ayo kita keluar!” jawabnya serius. Hei apakah dia melucu saat ini? Kebakaran? Apa itu benar?!

Aku bangkit dari posisiku tadi, benarkah rumahku terbakar? Apa yang harus kulakukan? Kutatap anak itu tajam, “Lanatai berapa yang terbakar?” tanyaku. Dengan gemetar kupegang kedua bahu kecilnya. “Lantai dasar, dan sepertinya akan melahap lantai tempat ini juga. Ayo kita keluar, kak!”. Apa katanya? Keluar? Dia bodoh, hah? Mau lewat mana keluarnya, sedangkan apinya berasal dari bawah.
“Kau bilang keluar? Tapi mau lewat mana, bodoh? Di bawah pasti sudah banyak api, kau ingin asmaku kambuh bila melewati asap-asap itu? Pikirlah!”. Kulihat tatapannya tertuju pada pintu balkon kamarku. Jangan bilang dia berencana mengajakku melompat dari atas sana? Hei, tulangku akan hancur bila seperti itu! Secara tiba-tiba dia menarik tanganku dan mengajakku berlari ke arah… dan betul saja tebakanku! “Apa otak bodohmu berpikiran untuk melompat dari sini?”, dia mengangguk mantap. Lalu, tanpa kumengerti dia mengambil helm kesayanganku dan memakaikannya padaku. Apa maksudnya? Aku semakin tidak mengerti dengan jalan pikirannya.
“Kita akan lompat dari sini, jangan pernah bergerak ketika sedang di udara, oke?” perintahnya padaku. Lalu, dia memelukku. Apa-apaan ini? Dia menarikku berjalan mundur, bisa kurasakan bagaimana rasanya melayang di udara. Tubuhnya berada di bawahku, kurasakan pelukannya yang sangat hangat dan menenangkan. Entah mengapa ada dorongan yang membuatku membalas pelukkan itu.

“Aku menyayangimu, kak,”, seperti itulah bisikannya yang terdengar sebelum mulutnya yang memuncratkan darah segar hingga mengenai wajahku. Kelopak mata miliknya sudah layu, seperti akan tertutup tapi dia enggan menutupnya. Dan benar saja, bola mata karamel itu sudah tak terlihat beriringan dengan air mataku yang menetes di wajahnya.
Aku baru saja tersadar apa maksud dari perlakuannya memakaikanku helm dan perintahnya agar aku tidak bergerak saat di udara. Dia mencoba menjaga bahkan menyelamatkanku dari kejadian ini. Kuletakkan kepalanya di pangkuanku, air mataku tak henti-hentinya menetes.

“Hei, bangunlah. Bangunlah bodoh. Aku akan memaafkanmu jika kau bangun. Ayolah bangun. Ya Tuhan, kumohon tarik kata-kataku tadi. Aku tak ingin dia tertidur seperti ini. Aku masih ingin bersamanya. Aku berjanji akan menjaga dan menyayanginya. Tolong kembalikanlah adikku.”

Kucium keningnya berkali-kali, tetesan air mulai membasahi bumi. Gerimis kecil itu berubah menjadi hujan yang teramat deras, kubawa tubuh itu dalam pelukanku. Seketika aku teringat dengan perkataannya dulu. “Aku akan senang apabila bisa bermandi hujan berdua dengan ka Revan.”. Ya Tuhan, apa saat ini kau sedang mengabulkan permintaan adikku? Jika iya, kabulkanlah perminaanku. Jagalah dia sebaikmu mungkin seperti dia menjagaku selama ini.

“Selamat jalan, adikku!”, perlahan pandanganku menggelap dan seperti saat ini benar-benar menggelap sempurna. Ya Tuhan, hadirkanlah adikku dalam mimpiku untuk kali ini saja aku ingin memanjakannya walau hanya dalam sebuah dunia ilusi.

Cerpen Karangan: Meta Adelia Safitri
Facebook: Meta Adelia

Cerpen Selamat Jalan Adikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Mas ku

Oleh:
Terdengar suara isak tangis malam itu, aku bergegas menuju kamar belakang, “klek” aku nyalakan lampu kamar untuk mengetahui lebih jelas yang terjadi, ku hampiri tubuh kecil berselimut sarung yang

Jalan Terbaik

Oleh:
Pagi ini tak seperti biasanya, terlihat di salah satu kompleks perumahan yang biasanya sepi, khusus pagi ini sangat ramai sekali orang di luar rumah. Oh… ternyata mereka sedang menyambut

Semenjak Ada Dia

Oleh:
Kalian masing-masing pasti mempunyai sahabat. Entah itu laki-laki atau perempuan, entah berapa banyaknya, satu atau dua, entah berapa jauh jarak umurnya dibandingkan kalian. Sahabat, satu kata yang bermakna bagi

Buat Mama

Oleh:
Akhirnya di rumah deh. Fani Imaya akhirnya bisa pulang ke rumah setelah hampir 3 minggu kegiatan di sekolah menahannya di Malang. Meskipun jarak Batu-Malang itu hanya satu jam perjalanan

Bunga Terakhir

Oleh:
Seikat bunga mawar, banyak orang berfikir tentang keindahan bukan tentang perjuangannya. Adakalanya benar, tetapi tidak dengan gadis yang bernama Melati. Namanya Melati, seorang gadis tanggung dan dewasa untuk seumuran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *