Selamat Jalan Adikku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 May 2013

Alfi berjalan menuju kamarnya, yang berada tepat di samping kamarku. Tak ada yang aneh dari kamar anak yang berusia 9 tahun itu, tapi tiba-tiba perasaanku jadi tak enak. Karena perasaanku itu, aku bergegas ke kamar adik yang usianya cuma beda selisih 2 tahun dariku. Hatiku terhenyah, saat membuka pintu kamar dan melihat Alfi tergeletak tak sadarkan diri.
“masyaallah, Alfi…” Kataku terkejut.
Lalu Aku keluar memanggil Bunda.
“Bunda… Ayah… coba lihat kemari… Alfi pingsan lagi Bunda…!” Teriakkku. Dan sambil menepuk-nepuk pipinya Alfi.

Tak berapa lama datanglah Bunda bersama Ayahku.
“ya Allah, Alfii…” Kata Bunda yang terkejut dan histeris.
“Bunda baiknya kita bawa saja Alfi ke rumah sakit” Kata Ayahku dengan muka bingung dan histeris, sambil mengendong Alfi menuju mobil.
“Raka, buka pintu mobil!” perintah Ayah.
“baik Yah.” Jawabku sambil membuka pintu mobil.
Lalu Ayah menghidupakan mesin mobil dan langsung tancap gas. Di jalan, Bunda memeriksa jantungnya Alfi. Tak berapa lama kami tiba di rumah sakit. Sambil menggendong Alfi, Ayah memasuki rumah sakit dengan cepat.
“Sus, tolong anak Saya… cepat!” Kata Ayah yang tak sabar.
“ya Pak sebentar.” Jawab Suster itu.
“Res… bawa pasien itu ke ruang UGD, cepatan… Aku nelpon Dokter Fuadi dulu!” Perintah Suster itu.
Aku pun hanya diam, bisu, tak bicara sedikt pun, melihat keadaan adikku itu. Lalu Alfi di antar ke dalam ruang UGD, Kami berniat masuk menemani Alfi. Tapi kami di larang masuk oleh petugas UGD itu. Kami pun hanya duduk menunggu dan berdoa di luar, berharap Alfi cepat sembuh dan bisa berkumpul dengan kami.

2 malam sudah Alfi di rawat. Aku dan Ayah duduk menunggui Alfi (yang saat itu lagi tidur nyenyak) di kursi. Lalu tiba-tiba dokter yang menangani Alfi datang dan langsung memanggil Ayah dan membawanya berbicara. Dengan muka puncat sedih, Ayah berbicara denganku.
“Raka, Ayah ingin menyampaikan sesuatu kepadamu, bahwa…” Kata pria yang berkacamata tersebut dengan nada sedih dan cemas.
“bahwa apa Yah…?” Jawabku dengan penuh tanda Tanya.
“bahwa Alfi, umurnya tak berapa lama lagi” Kata Ayah dengan sedihnya yang mengambang.
“apa?” Kataku dengan nada terkejut plus bercampur sedih.
“kamu harus lebih menyayangi dan menjaganya dengan baik, buat sisa hidupnya penuh kebahagian!” Pesan Ayah sambil meletakkan tangannya di bahuku.
“baik Yah, Raka berjanji akan menjaga dan membuat hidup Alfi dengan penuh akan kebahagian.” Sahutku dengan nada kesedihan yang tersisa.
“Ayah mohon kepadamu jaga rahasia ini jangan sampai Alfi tau, kasihan Dia nak.” Kata Ayah dengan nada memohon denganku.

Setelah 1 minggu di rawat, akhirnya Alfi diperbolehkan pulang oleh Dokter. Aku pun menyambutnya dengan gembira, langsung saja Aku membawa Alfi ke ruang keluarga untuk bermain playstasion.
“Raka, Alfi itu kan baru saja sembuh. Biar Dia istarahat dulu!” Kata Ayah.
“biar Yah, lagi pula Alfi kangen sama playstasion.” Sahut Alfi.
“kalau begitu, ayo main…” Kataku
“ayo…” Kata Alfi.
Lalu kami duduk bersama berdua.
“Alfi mau main apa?” Kataku.
“GTA aja Bang!” Jawab Alfi
“oke…” Kataku dengan gembira, lalu membuka playstasion.
Setelah itu kami bermain. Di tengah asyiknya bermain, tiba-tiba Alfi bertanya padaku dengan pertanyaan yang membuatku iba.
“Bang Raka, sayang nggak sama Alfi?” Tanya Alfi yang matanya tetap memandang televisi.
“ya jelas dong, Alfi kan adik Abang satu-satunya. Abang janji akan jaga Alfi selalu, tak seperti sebelum-sebelumnya.” Jawabku.
Kami pun melanjutkan bermain playstasion

Di tengah permainan kadang-kadang kami tertawa bersama karena salah satu dari kami mati atau tertangkap polisi. Setelah puas bermain, kami pun kelelahan.
“Raka, Alfi… waktunya makan!” Panggil Bunda kepada kami.
“ya Bunda…” Kataku dan Alfi.
“kita makan dulu Bang!” Kata Alfi.
“kamu dulu yang makan, Abang mau beresin playstasion dulu, nanti Abang nyusul.” Kataku sambil beres-beresin playstasion.
Setelah itu, Aku pun makan bersama keluarga yang anggotanya cuma 4 orang; Ayah, Bunda, Aku, dan Alfi. Makan pun selesai, Bunda menyuruh kami berdua menggosok gigi.
“Alfi, Raka… cepat gosok gigi kalian, setelah itu cuci tangan dan kaki. Raka belajar sedangkan Alfi, kamu istirahat aja dulu, nanti kecapean, biar Abang saja yang belajar!’
“ya Bunda.” Kata Alfi.
Lalu Alfi berjalan menuju kamarnya.
“yah… Bunda, Raka juga capek. Nanti aja ya belajarnya, besok kan pulangnya sebentar aja.” Kataku ngeluh.
“Raka, Kamu kan sudah kelas 6, sebentar lagi kamu ujian. Nanti kalau hasil ujian Raka jelek bagaimana?, Raka juga kan yang malu sama teman-teman Raka, nanti nggak masuk SMP favorit lho. Ini baru jam 9, belajar 1 jam saja. Setelah itu Raka boleh tidur.” Kata Bunda dengan lembut.
“ya deh, Raka belajar. Tapi ada syarat lho!” Kataku.
“apaa…?” Kata Bunda.
“Besok pulang sekolah ke time zone ya!” Kataku memohon.
“nanti Bunda tanyakan dulu ke Ayahmu, sibuk nggak.” Jawab Bunda.
“yesss…” Kataku dengan hati yang gembira.
Setelah itu Aku masuk ke kamar, lalu belajar. Di tengah belajar, Aku dibayangi oleh rasa ngantuk, tak berapa lama Aku tertidur di meja belajar, dengan lampu belajar nyala plus laptop hidup tak dimatikan.

Tak terasa matahari telah menampilkan batang hidungnya, tetapi malu. Jam di dinding masih pukul 06.00 pagi, tiba-tiba Alfi yang memakai celana renang membangunkanku.
“Bang bangun sudah pagi!” Kata Alfi sambil memaksa.
“iya… iya… Abang bangun.” Jawabku sambil mengucek-ngucek mata.
“Bang, kita di suruh mandi di kolam renang aja, kata Ayah.” Kata Alfi.
“bentar Abang beresin kamar dulu. Alfi tunggu di situ dulu!” Kataku.
“yap…” Sahut Alfi.
Lalu setelah beresin kamar, Aku bergegas mengambil celana renang di dalam lemari, setelah itu langsung membuka baju tidurku dan menggantinya dengan celana renang.
“Fi… Abang sudah selesai, ayo…!” Kataku.
“ayo cepat…” Sahutnya.
Lalu Aku berjalan menuju ke kolam renang, yang letaknya di halaman belakang.

Di sana Ayah sudah berenag dahulu. Tak tunggu-tunggu, Aku langsung loncat salto di air seperti perenang propesional. Sedangkan Alfi ikutan juga. Di dalam kolam renang, kami berenang sekaligus bermain air. Setelah puas berenang plus bermain, kami pun bersiap-siap untuk sekolah, sedangkan Ayah ke Kantor. Aku pun bergegas ke kamar untuk mandi (bersihin badan walau sudah mandi di kolam renang), setelah itu Aku ganti baju, siapkan jadwal hari ini, ambil HandPhone. Lalu Aku sarapan pagi bersama keluarga. Di tengah makan bersama keluarga, Aku membicarakan rencana untuk ke TimeZone.
“Bunda… jadi nggak ke Timezonenya?” Tanyaku.
“Tanya tuh sama Ayahmu.” Jawab Bunda.
“Yah, pulang sekolah Raka dan Alfi ke TimeZone ya?” Tanyaku kepada Ayah.
“boleh aja, nanti setelah pulang sekolah kita ke sana ya.” Kata Ayah.
“Hore…” Teriak Aku dan Alfi dengan gembira.

Setelah sarapan, Aku, Alfi, dan Ayah berangkat menuju sekolah.
“Bunda… Raka berangkat dulu ya.” Kataku sambil mencium tangan Bunda.
“Bunda… Alfi berangkat dulu ya.” Kata Alfi sambil mencium tangan Bunda lalu berjalan menuju mobil.
Lalu kami berangkat. Tak berapa lama, sampailah kami di SD Kartika Internasional Jakarta. Setelah sampai, kami turun dari mobil, lalu kami bersalaman dengan Ayah.
“Raka, jaga adikmu dengan baik ya!” Kata Ayah.
“oke… akan Raka ingat selalu pesan Ayah.” Jawabku.
“kalau gitu, Ayah beri lagi ni tambahan uang saku untuk kalian.” Kata Ayah sambil mengeluarkan uang Rp. 10.000 @ 2.
“makasih Yah.” Kataku dan Alfi bersama-sama.

Setelah itu Aku dan Alfi bergegas masuk ke dalam sekolah.
“Abang antar ke kelasmu ya?” Tanyaku kepada Alfi.
“Boleh aja.” Jawabnya dengan polos.
Aku pun dan langsung mengantarkan Alfi ke kelasnya. Lalu kami berjalan menuju kelas Alfi yang berada di lantai atas. Ternyata saat di depan kelasku yang juga di lantai atas, kami di hadang anak sok jagoan berdiri seperti ada yang di hadang oleh mereka. Ternyata mereka menghadang Alfi, dapat di lihat mereka menunjuk ke arah kami. Aku pun sontak menuju mereka. Tiba-tiba Alfi menahanku.
“Bang… jangan, nggak usah diladenin.” Kata Alfi dengan muka yang cemas.
“meraka itu mau nyakitin kamu, biar Abang aja yang menghajar mereka.” Kataku.
Lalu Aku menghampiri mereka, saat ingin berjalan. Tio keluar dengan teman-temanku yang lain.
“mau nyakitit adikku lagi ya?” Kataku sambil menepuk pundaknya.
“nggak Kak, ampun…” Kata mereka, lalu pergi berlari ketakutan.
‘thanks ya, teman-teman. Kalian bantuin Aku.” Kataku.
“sama-sama Ka, kita kan satu-kesatuan. Jadi nggak usah berterima kasih gitu, Biasa aja lagi.” Kata Tio.
Setelah kejadian itu, Aku langsumg mengantarkan Alfi ke Kelasnya.
“Alfi, kalau tu anak-anak ganguin kamu. Bilang sama Abang, biar nanti Abang hajar.” Kataku.
“Oke…” Sahutnya.

Jam telah menunjukkan pukul 13.30, berarti waktunya pulang. Aku dan Alfi pun keluar menunggu jemputan Ayah. Tak barapa lama menunggu, akhirnya Ayah bersama Bunda menjemput kami berdua.
“Alfi, Raka…cepat masuk.” Kata Bunda kepada kami berdua.
“oke…” Jawab kami berdua, lalu membuka pintu mobil lalu masuk.
“Bunda ikutan juga ya? Tanya Alfi Kepada Bunda.
“ya jelas dong, kan Ayah dan Bunda mau jalan-jalan juga…” Jawab Bunda.
“oh iya, Bunda lupa. Nih pakai baju kalian dan ni sekalian sendalnya.” Sambil memberi pakaian dan sendal kepada aku dan Alfi.
“terima kasih Bunda.” Jawab kami berdua.

Tak berapa lama. Sampailah kami di Timezone. Lalu kami masuk dan langsung bermain. Sedangkan Ayah dan Bunda makan mesra di café.
“Kalau sudah selesai mainnya telpon Ayah ya!” Pesan Ayah kepada kami lalu memberiku uang 50 ribu.
“Raka gunakan uang ini untuk bermain kalian berdua ya!” Kata Ayah.
“okee… deh.” Kataku.
Saat kami bermain dengan gembira, tiba-tiba Ayah dan Bunda datang memanggil Aku dan Alfi.
“Raka, Alfi… ayo kita pulang!” Teriak Bunda kepada Kami berdua.
“iya…” Jawabku.
“Fi, pulang yuk.” Kataku kepada Alfi.
“oke…” Jawab Alfi.
Setelah itu kami pulang dan sampai di Rumah kami istirahat.

3 Tahun kemudian.
Tak terasa 3 Tahun sudah. saat itu Aku telah Kelas 3 SMP, sedangkan Alfi masih Kelas 1 SMP dan sekolah kami pun sama.
Hari demi hari kulewati bersama Alfi dengan kegembiraan yang berkenan dihatinya. Teakhir, Ayah dan Bunda mengajak kami ke Kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Di sana Ia merasakan keistemewaan, dalam sisa hidupnya itu.

Hari itu, Aku berniat mengajak Alfi bermain sepak bola dengan teman-teman kami di Komplek. Kami pun bermain sepak bola dengan gembira, demikian pula dengan Alfi. Dengan bermain dengan senang. Tapi, hari itu perasaanku tak enak seperti perasaanku 3 Tahun lalu, saat Aku menemui Alfi pingsan tak sadarkan diri, tapi hari itu perasaanku sangat kuat. Tiba-tiba, Alfi pingsan dan jatuh. Aku pun berhenti bermain bola dan menghampiri Alfi. Hatiku terhempas dan wajahku pucat basi mengetahui Alfi tak bernapas dan jantungnya tak berdetak.
“Alfi… Alfi… bangun…bangun Fi… jangan tinggalkan Bang Raka sendirian, Alfi bangun…!” Kataku dengan hati yang kacau, sedih, dan tertekan berat.

Lalu aku mengambil Hand Phone dari sakuku dan menelpon ambulans. Setelah itu Aku menyuruh Rama, teman Alfi untuk memanggil Orang Tuaku di rumah. Tak berapa lama datanglah ambulans bersamaan dengan datangnya Ayah dan Bunda.

Setelah sampai di Rumah Sakit, Alfi langsung di bawa ke ruang UGD (Unit Gawat Darurat). Aku, Ayah, dan Bunda menunggu keadaan Alfi di ruang tunggu, dengan wajah harap-harap cemas. Tak berapa lama, kemudian keluarlah Dokter dengan muka menyisakan kekecewaan besar.
“maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. Tapi anak Bapak, tidak bisa di Tolong lagi.” Kata Dokter dengan raut muka yang muram.
“tak mungkin…Yah, tak mungkin anak kita meninggal Yah… tak mungkin ini terjadi.” Kata Bunda menangis histeris.
“ini sudah kehendak Allah SWT, jadi kita ikhlaskan saja kepergian Alfi.” Kata Ayah yang juga sedih sambil merangkul Aku dan Bunda.
Di dalam hatiku, tak mungkin Adik kesayangku itu meninggal dunia.

1 Tahun kemudian.
1 tahun sudah Alfi meninggalkan dunia ini. Hari itu Aku, Bunda, dan Ayah berencana, ingin mengkunjungi makamnya Alfi. Lalu berangkatlah kami. Dengan pakaian serba hitam, setelah sampai di makamnya, Aku, Ayah, dan Bunda langsung memanjatkan doa untuk Alfi. Setelah itu, Aku menaburkan menaburkan bunga sambil di dalam hati Aku berucap “FAREWELL ALFI”.

Cerpen Karangan: Royan M Sengajie
Blog: http://royananakbanjar.blogspot.com
Facebook: Royan M Sengajie

Nama: Royan M Sengajie Hanifah Shahab
Panggilan: Royan
Tempat / tanggal lahir: Banjarmasin, 14 Nopember 1994
Sekolah: SMK Negeri 3 Banjarmasin
Facebook: Royan M Sengajie
Twitter: @royan_scout98
Blog: http://royananakbanjar.blogspot.com/

Cerpen Selamat Jalan Adikku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tamparan Seorang Ayah

Oleh:
Darno ia lelaki tua yang menghabiskan masa-masa tuanya di meja perjudian dengan tak menghiraukan anak istrinya yang kelaparan di rumah akibat perbuatannya. “Ayah darimana? kok baru pulang?” Tanya ibu.

Siapa Do?

Oleh:
Sinar matahari membuatku terbangun dari tidurku, rupanya seseorang telah membuka jendela dan membiarkan matahari dan udara pagi masuk ke kamarku. Aku pun bergegas pergi ke meja makan, seperti dugaanku

Pinta Dibalik Penyesalan

Oleh:
Saat aku masih kecil, mama adalah pujaan hatiku. Ke mana-mana sama mama, main sama mama, makan sama mama, tidur pun sama mama. Mama itu malaikatku. Mama sangat peduli padaku.

Dia Yang Tak Kukenal

Oleh:
Aku meletakkan sepatuku di rak khusus alas kaki yang terbuat dari kaca. Aku memasuki rumah sederhana yang terletak di sebelah selatan Surabaya. Hari ini, Aku pulang sangat terlambat. Biasanya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *