Selamat Tinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 March 2017

Namaku Dita Novelina Prasityani, biasa dipanggil Dita. Aku tinggal di Jakarta, sekarang aku duduk di bangku SMA Citra Pahlawan Kristen kelas 11G.
Aku adalah bintang sekolah di SMA ini, selain aku ada juga Serina Srianta kelas 12A dan Megatri Ayusandra kelas 10D. Semua siswa-siswi di SMA ini mencari kami bertiga untuk menanyakan itulah inilah.

Aku sedang duduk sambil berchatan sama Indryani Frenda di Obrolan BBM.
Indry: Dit, gue denger.. Anak laki laki kelas 12B lagi nyari lo buat mau dipedekatein..
Dita: Masa?, gak mungkin lah.. Mereka kan udah ada bintang seantar kelas si kak Serin..
Indry: Loh gak percaya.. Lo itu kan Famousnya SMA CPK, sama si mereka itu juga sih..
Dita: Udahan dulu yah, mamaku lagi mau ngajak aku pergi Check-Up.

Setelah selesail chatingan. Aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke Check-Up Kesehatanku, memang belakangan ini aku sering pusing, merasa sakit di perut bawah bagian kanan dan kiri, pinggangku sakit dan Kakiku tak mampu berdiri tegap
Setelah diperiksa dan di CT-Scan. Dokter memberikan surat hasilnya pada sebuah amplop, wajah dokter yang tadinya ceria Tiba-tiba jadi muram.
Aku dan ibuku segera pulang, di perjalanan Aku merasa cemas. Jika penyakit ini parah.
Ternyata aku mengidap penyakit Batu Ginjal.

2 bulan kemudian
Sikap ayah dan ibu Tiba-tiba berubah. Yang dulunya menyayangiku, perhatian padaku Tiba-tiba berubah. Kini mereka sering memarahiku memukulku, aku tidak tahu harus gimana.
Aku melihat ibu dan ayah sedang cemas. Aku kira cemas pada penyakitku, ternyata pada kakakku yang sakit Kanker hati.

Bulan telah berganti, penyakitku semakin parah. Aku ditemani oleh sahabatku Indryani Frenda ke check up.
Kata dokter, penyakitku tidak diatasi dan sudah mencapai gagal ginjal. Aku hanya bisa bertahan hidup hanya dengan mencuci darahku. Tapi dari mana biayanya, dan tak ada keluargaku yang selalu menopangku untul bertahan pada penyakit ini, Aku pasrah…

Suatu hari aku melihat ibu sedang merawat kakakku yang sedang sakit itu. Aku memberanikan diri untuk meminta keadilan padaku.
“Ibu.. Kenapa aku gak pernah dirawat.. Aku dibuang, dikucilkan dari keluarga ini..” aduku mulai meneteskan air mata.
“Siapa suruh kamu mau lahir di dunia ini.. Kalau gak ada yang ngurus..” ujar ibu enteng.
“Ibu.. Sekarang penyakitku sudah parah.. Gagal ginjal. Dan aku setiap satu minggu harus mencuci darah. 2 kali.” ucapku sambil menghapus air mataku.
“Yah sudah.. Pergi sana cari duit.. Buat biayain…” ucap ibu. “Ibu memang gak suka punya anak kayak aku.. Ok. Kalau ibu ngomong dati awal pasti, sekarang aku udah hidup bahagia dengan ayah kandungku dan adik di surga sana.. Dan kenapa adikku meninggal.. Itu karena ibu gak peduli sama adik.. Ibu cuma peduli sama kakak tiri aku dan ayah tiri.. Ibu gak suka lihat mereka menderita dan ibu suka lihat kita menderita.. Itu ibu.. Itu ibu..” potongku sambil berteriak.
“Memang aku suka membuat masalah.. Tapi seengaknya ibu ngurus aku..” tangisku.
Satu kepalan tangan melayang pada kepalaku. Itu adalah tangan Ibu yang memukulku. Seketika aku mulai pusing dan badanku jatuh merayap di lantai.
Aku tak kuat untuk menerima pukulan ini. Aku masih setengah sadar.

Aku mendengar suara tangis adikku, suara tangis ayah kandungku. Tapi.. Di mana ibu dan ayah tiriku?
Seingatku adik dan ayah udah meninggal. Tiba-tiba mataku terbuka kulihat di sekelilingku ternyata aku masih ada di bumi. Aku berada di RS.
Dokter datang dan sambil berkata.
“Dita.. Ibumu menyuruhmu untuk berobat sendiri karena ia tidak mau mengurismu lagi.” ucap dokter. “Oh yah.. Aku ingin memberi tahu, kakak tirimu juga dirawat di rumah sakit ini tapi di ruang eksklusif. Ayah dan ibumu sedang mencari pendonor hati untuk kakakmu karena dia tidak akan bertahan lama lagi..” ucap dokter.
“Dok.. Tolong periksa hati saya apa masih berfungsi? Jika berfungsi saya mau mendonor hatig saya.” kataku. “Hmhmm.. Yah baik”.

Setelah diperiksa, ternyata berfungsi. Aku pun siap untuk memberi hatiku untuk kakakku. Dan esok adalah hari dimana akan dilalulan operasinya. Sebelum itu, aku menulis surat untuk ibu, ayah tiri dan kakak tiriku. Jika nyawaku berakhir di meja operasi. Surat itu kulipat dan kumasukan ke dalam amplop yang pernah diberikan ibu untukku yaitu amplop berbentuk hati yang berarti ‘cinta dan kasih sayang ibu hanya untuk aku’.

Aku lalu menjenguk kakak tiriku yang berada di ruang eksklusif.
‘Tok..tok..’
Aku masuk, didapatinya ibu yang sedang menjaga kakak sendirian.
“Eh kamu… Aku bawah kabar bahagia nih.. Kalo besok Vanya akan operasi.. Untung ada orang yang baik hati yang mau mendonorkan hatinya untuk vanya.” ucap ibu sambil tertawa.
“Yah tuhan.. Jika ibu tahu kalo aku yang mendonor hati itu, apakah dia akan menyayangiku memperhatikanku.

Aku segera kembali ke ruanganku. Di sana ada indry yang menungguku.
“Indry.. Besok hari terakhir kita bertemu kan?” tanyaku dengan mata berkaca kaca.
“Yah.. Sahabatku, aku tidak mau ditinggalkan olehmu.. Aku minta maaf jika ada salah.. Tapi kumohon..” ujar indry sambil menangis.
“Ini.. Antarkan surat ini pada keluargaku setelah aku meninggal pada hari ke tiga supaya mereka gak nyesel udah ngelahirin aku..” ujarku.

Setelah sehabis operasi. Ibu melihat indry sedang menangis di lorong ruang operasi.
“Indry.. Kenapa?, oh yah.. Sahabatmu itu loh.. Lagi di ruang 3. Lagi terbaring sakit” ujar ibu.
“Gak kok.. Tante tiga hari lagi aku mau ke rumah tante mau ngasih tahu sesuatu..” ucap indry lalu berlari pulang.

Setelah tiga hari.
Indry datang ke rumahku.
“Selamat pagi.. Tante.. Ini surat dari dita 4 hari lalu..” ujar indry yang sedang menangis.
“Hm.. Mana? Memangnya dia ke mana?” tanya ibu.

Di dalam surat tertulis:

Untuk ibu, ayah dan kakak.

Maaf… Aku gak bisa jadi anak dan adik yang baik buat keluarga ini..
Maaf… Aku telah merepotkan engkau oleh penyakit ini..
Maaf…
Aku telah marah pada kalian.
Maaf..
Maaf..
Kuharap hatiku masih berguna buat kakak.
Semoga keluargaku sehat..
Selamat tinggal ibu,
Selamat tinggal ayah,
Selamat tinggal kakak.
Kini.. Kalian tidak perlu repot-repot mengurusku..
Karena aku telah tiada..
Maaf karena aku sering menganggu kalian.

Si pengacau

Dita

Selesai

Cerpen Karangan: Solvin Angelitha C Riwu
Facebook: Solvin Riwu
Nama lengkap: Solvin Angelitha Cheril Riwu
TTL: Kupang, 27 September 2004
Agama: Kristen Protestan
Hobby: Melukis dan menulis
Cita-cita: Perawat
Nama Ayah-Ibu;
Weo Meidison Riwu- Imelda Vinantin Djani
Nama Saudara;
Putry Gracedinsia Riwu
Pendidikan sekarang: SMP kelas 7D
Idola: Maudy Ayunda dan Pevita Pearce

Cerpen Selamat Tinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tarian Hujan

Oleh:
Setiap kali hujan datang, aku sering kali menyambutnya dengan cara menadahkan wajahku, membiarkan setiap bagian dari mukaku dihujani air dari langit, lalu aku tersenyum usai mukaku dibelai halus oleh

Trouble of Sisters (Part 1)

Oleh:
Rambut hitam terurainya, hidung mancung bak putri bangsawan, kulitnya yang putih seputih salju, dan kaki jenjangnya yang bagaikan gadis remaja 17 tahun. Dia adalah Emely, penyanyi cilik profesional yang

Untuk Ibu

Oleh:
Dalam gudang yang sempit. Diana, seorang gadis yang tengah meringkuk di sudut ruangan. Dia menangis sesegukan kala mengigat peristiwa itu, dia pun tidak mempedulikan sekitarnya yang dipenuhi binatang kecil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Tinggal”

  1. rahmayani says:

    Cerpennya bagus…
    kok sampai surat itu aja, knapa ngk dbuat bagaimana reaksi mamanya dita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *