Selamat Tinggal

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Aku tak pernah iri kepada mereka yang kaya, cantik, atau terkenal. Aku hanya iri pada mereka yang dikelilingi orang yang mencintai mereka. Bukan aku yang hanya bisa merasakan kepahitan, pengkhianatan atau kesendirian. Aku bosan harus berpura-pura bahagia. Atau berpura-pura seolah aku baik-baik saja.

Tak pernah aku merasakan kasih sayang dari orang di sekelilingku, bahkan sahabat yang aku percaya berkhianat padaku, memanfaatkan kekayaanku yang bahkan aku tak menginginkannya, memfitnahku, Atau menjatuhkan harga diriku dengan membuka aibku di mading sekolah.

Aku tak pernah menginginkan uang yang selalu ayah kirimkan, yang aku mau hanya ayah yang membelai rambutku dan berkata “anakku aku sangat menyayangimu”, memelukku saat aku ketakutan. Atau menghiburku jika aku bersedih.

Kau tahu takdir tuhan, kata mereka takdir tuhan sangatlah indah. Aku percaya itu, mungkin tuhan ingin aku lebih sabar agar aku bahagia. Atau agar aku bebas dari kehidupan suram ini.

Kulihat foto masa kecilku yang terpanjang indah di bangku belajar di pojok kamarku. keluarga yang bahagia, pikirku. Ayah menggendongku dengan penuh kasih sayang dan ibu yang menggenggam tangan ayah dengan erat. Bisa kulihat wajah mereka yang bahagia. Tapi kebahagian itu sirna begitu saja. Ibu meninggalkan kami, menyisahkan ayah yang mulai tak menyayangiku, tak peduli akan hadirku. baginya uang adalah kebahagianku, tanpa tahu aku sangat merindukan pelukan ayah yang mungkin terakhir kali kurasakan saat foto itu diambil. Atau setelah ibu ditabrak lari saat keluar dari studio foto. Walau dia tak pernah berkata, tapi tatapan matanya seakan mengisaratkan aku penyebab kematian ibu. Tatapannya seolah berkata jika aku tak memaksa berfoto maka insiden itu takkan terjadi. Ayah mungkin terlalu naif untuk mengakui itu sudah jalan takdir.

Untuk sekali lagi, aku bersyukur kepada tuhan. Aku bahagia. Ini kebebasanku. Kita bahagia orang lain menderita. Tentu kau tahu jawabannya.

Kupandang tubuh kakuku yang terbujur di ranjang rumah sakit. Bisa kulihat ayah menangisiku, pikirku, ini sudah terlambat ayah, aku sudah pulang. Tak ada yang tahu selain tuhan, dokter Angga, malaikat dan setan di kamarku bahwa aku menderita tumor otak. Aku tak memberi tahu ayah, karena aku tahu ayah takkan peduli.

Dokter Angga memberikan kertas berwarna biru yang kuyakini berisi curahan hatiku untuk ayah. Ayah membuka kertas itu saat dokter Angga keluar ruang mayat. Aku tahu ia membacanya dalam hati.

Ayah aku sangat menyayangimu.

Mungkin saat ayah membaca ini aku sudah menyatuh dengan tanah. Atau, jika ayah beruntung aku masih terbujur di ranjang rumah sakit. Maafkan aku ayah jika aku tak memberi tahu tentang tumor otakku. Hanya saja, ayah seakan tak peduli pada hidupku. Bahkan dulu saat aku terbaring di rumah sakit karena DBD ayah tak menjengukku, jadi untuk apa aku memberi tahu ayah. Aku bahkan berkata ke dokter Angga untuk selalu ke makamku saat aku sudah mati. Aku tak yakin ayah bisa ke makamku dengan kesibukan ayah yang sangat padat. Ayah, aku ingin sekali kau membelai rambutku sambil mengucapkan bila kau menyayangiku, aku ingin sekali kau memelukku, menyayangiku dengan kasih sayangmu bukan uangmu. Semoga bahagia ayah. Selamat tinggal. Jika tuhan mengamini kita akan bertemu di surga nanti.
Icha-mu

Bisa kulihat air mata ayah yang menetes membentuk bulatan kecil di atas kertas lusuh yang ayah baca. Sejenak ayah mengusap rambutnya yang tetap hitam walau usianya yang mulai tua. Lantas ia memeluk tubuh pucatku, menciumi keningku. Menangis dan berkata ia sangat menyesali perbuatannya. Untuk pertama kalinya kulihat ayah menangis. Dan ku tak mampu menghapus tetes tangis yang kian deras tersebut.

“Bangunlah chacha sayang, ayah sangat menyayangimu. Anakku aku sangat menyayangimu”

Ayah menggoyangkan tubuhku dengan kalut. Aku tersenyum sejenak ke arah ayah walau aku tahu ayah tak melihatnya, aku juga tersenyum untuk ayah yang memanggil nama masa kecilku. Lalu aku berjalan ke ujung ruangan yang bercahaya. Aku berkata “selamat tinggal ayah bukan sampai jumpa lagi seperti yang aku katakan saat aku ingin pergi, atau saat kau ingin pergi” sekarang aku percaya takdir tuhan. Tuhan membebaskanku dari kehidupan suramku.

Cerpen Karangan: Sheilah Aktar Naina
Facebook: Na Naina

Cerpen Selamat Tinggal merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Benih Apel

Oleh:
Menatap senja di dinginnya malam, menatap lurus pada gemerlap bintang serta benderang bulan. Ibuku telah lama tiada, kini hanyalah bingkaian memori tentangnya yang terus menemaniku. Namaku, Geraldine Scott. Scott

My Brother

Oleh:
Siang itu kami akan berlibur ke rumah nenek mengendarai mobil. Saat itu aku senang, tapi dibalik kesenangan aku merasakan akan terjadi sesuatu yang mengerikan yang akan menimpa kami. “Yah

Detik Terakhir Bersamamu

Oleh:
Ku bangun dari tempat tidurku, ku buka jendela kamarku, dan ku hirup udara segar. Aku pun bergegas mandi, setelah beberapa menit aku langsung ke luar dari rumah dengan memakai

Bendera Kuning

Oleh:
“Risya.. uhuk uhuk.” “Iya bu.” “Tolong ambilkan obat di laci ya, Nak. Uhuk uhuk!” Risya segera berlari kecil ke arah laci, untuk mengambil obat Ibu. Risya kebingungan, obat Ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Tinggal”

  1. Ade Em says:

    Kalo boleh cerita ini bakal saya jadiin film .
    Bales ya…

    GG Production

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *