Selamat Tinggal, Dunia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 July 2017

Dulunya bunda seorang pemabuk. Bahkan, ia masih suka mabuk sampai sekarang.

Namaku Arnaisa Cahya, tepatnya Naisa. Bunda tidak menikahi ayah karena cinta, tetapi karena bunda telah dihamili ayah sebelum nikah. Bunda pun tak melarang karena terlalu mabuk untuk menyadari bahwa akan diperk*sa. Jadilah aku lahir, dan supaya kalian tahu… Aku mempunyai penyakit HIV. Ya, ini diturunkan oleh ayahku. Aku harus meninggalkan hidup ini beberapa minggu kemudian. Seringkali aku menangis beberapa malam.

“Bunda, Naisa ke luar dulu ya?” Kataku, bunda menatapku, “Jangan nak, nanti HIV-nya menular.”
“Yah! Begini aku boleh ke mana saja! Kalau saja bunda bukan pemabuk! Jadinya, bunda nikahi ayah yang mengidap HIV! Aku benci hidup ini!” Seruku keras. Terlihat wajah menyesal bunda di wajahnya. Sama sekali tak membuatku ingin meminta maaf.
“Naisa, maaf.” Kata bunda lembut
“Terserah. Bunda mau maaf mau apa, penyakit Nai gak bakal hilang. Nai bakal meninggal nanti.” Aku menaiki tangga menuju kamarku. Rumah ini warisan kakek dan nenekku.

Aku masih kesal. Mengapa bunda harus menikahi pria berpenyakit? Aaah! Kalau saja bunda bukan pemabuk, aku pasti mengakhiri hidupku saat tua. Bukan saat masa remajaku di umur 16!

“Naisa?” Panggil bunda. Aku mengunci kamarku.
“Tidak, Nai gak mau bicara sama bunda atau ayah!” Seruku.
Aku mengambil gadgetku di dompet yang selalu kusimpan di lemari. Memasang headphone, memutar lagu, lalu bermain game.

Malam pun datang, ayah pulang. Aku masih bermain game. Entah kenapa, game ini terasa sangat seru! Tiba-tiba, dadaku sesak, napasku tak beraturan. “Mungkin ini saatnya.” Aku melepaskan headphoneku dan mematikan game. Memang kata dokter, aku akan meninggal lambat-lambatnya beberapa minggu. Tetapi, waktu aku meninggal tak dapat diprediksi dengan baik. Kata dokter tak selalu benar, Yang Maha Pencipta lah yang menentukan.

“Selamat tinggal, dunia.” Aku menutup mataku. Aku merasakan hatiku sudah tak berdetak. Kini hidupku benar benar berakhir. Benar benar berakhir karena orangtua itu.

Ayah mendobrak pintu, melihat tubuhku kaku dan pucat. Bunda berdiri di sana melihatku. Menyesal atas apa yang telah ia lakukan.

Selamat Tinggal, Dunia.

Cerpen Karangan: Pearl Nafeesa
Facebook: Pearl Nafeesa

Cerpen Selamat Tinggal, Dunia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Namaku Anugrah

Oleh:
Keluarga, hal yang tak ternilai harganya. Satu kata berjuta makna di dalamnya. Bahkan emas, permata, berlian kalah berharga denganya. Ayah… Ibu.. 2 tokoh penting dalam keluarga layaknya sang surya.

Hujan dan Kebencian

Oleh:
Hari ini, ayah pergi pagi-pagi sekali. Entah apa yang akan dibuatnya di petakan sawah milik orang yang ia garap. Apakah ia akan mencangkul tanah yang tandus karena kemarau sepanjang

Rembulan di Kolong Langit

Oleh:
Gadis muda itu menatap dinding penyangga rel kereta antara stasiun Juanda dan stasiun Mangga Besar. Dinding yang bergambarkan anak-anak yang sedang belajar. Sederet kalimat tertulis di atasnya. ‘Dengan membaca

Maafkan Aku Bu

Oleh:
“bu, aku pergi dulu!” kata Melli sembari pergi menuju teras rumahnya. “nak, jangan sampai malam-malam ya!” perintah Ibu Melli. “bu, suka-suka aku dong mau pulang malam atau pagi! Badan-badan

Selembut Kain Sutra

Oleh:
Busana bermotifkan batik indah nan glamor adalah busana ciri khas yang dirancang oleh Septi. Tangannya yang lemah gemulai dalam membatik dan mewarnai batik dengan canting ia celupkan ke dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *