Selamat Tinggal Mama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 January 2017

“Mama, ayo bermain!” ajakku pada mama yang sedang mencuci baju. “Tidak sekarang nak, mama lagi kerja, nanti ya nak!” ucap mama yang dari tadi tak memperhatikanku.
“Yah mama, ayo main!” ucapku. Mama tetap tidak menyahut ajakanku, maka kutarik tangannya menuju ke taman. “Kamu kenapa nak?! mama lagi kerja mainnya nanti aja!” bentak mama.
“Nggak, pokoknya kita main, kalau nggak mau, besok Ran nggak mau sekolah aja!!!” kesalku.
“Ya udah kita main, tapi 10 menit aja ya!!” ucap mama.
“Yeee, aku sayang mama” ucapku sembari memeluk mama. Setelah itu aku kembali ke kamarku.

Di Kamarku
“Huh, enaknya main sama mama” ucapku sembari membaringkan tubuhku ke kasur.
“Sayang, ayo makan” teriak mama dari dapur.
“Iya, maaa” ucapku sembari berjalan ke dapur.

Di Dapur
“Waaah, apa makanannya hari ini ma? kok kelihatannya enak banget” ucapku sembari mengintip kompornya. “Hari ini mama masak Gnochi Kentang kesukaan kamu lo” ucap mama diiringi senyuman. “Yeeeee, aku sayang banget mama” ucapku sembari memeluk mama. “Makan yuk! bawain ini Gnochinya ke ruang makan” ucap mama sambil memberikan piring Gnochinya. “Oke, siap bos!” ucapku sambil memberi hormat.

Di Ruang Makan
“Waaah, ni Gnochi emang enak banget, buatan mama juara satuuu” ucapku sembari mengacungkan jempol. “Huuh, kenyanggg” ucapku sembari mengusap-usap perutku. “Nonton tv dulu ahh, yuk ma” ucapku menarik tangan mama.

Di Ruang Tv
“Nonton kartun aja ma, nggak enak nonton kayak ginian” rengekku pada mama. “Jangan, ini bagus, berita” ucap mama.
“Dilaporkan, sekolah sd birawangsati sedang diadakan lomba membaca Al-Quran, jika ingin ikut, harap mendaftar dan mengajak orangtuanya pergi, dan tidak boleh diwakilkan, terima kasih dan sampai jumpa” ucap wartawan di tv itu. “Mah, aku boleh ikut nggak?” tanyaku pada mama. “Nggak bisa sayang, mama ada kerjaan di kantor” ucap mama “Ah mama, ayo dong” rengekku lagi. “Ya udah besok kamu boleh ikut” ucap mama

Di kamarku
“Tidur ahhh, biar besok nggak telat” ucap Ran.

Keesokan harinya
“Sayang bangun, udah jam tujuh pagi!” seru mama. “Iya, maa” ucapku bangun menuju kamar mandi. Setelah mandi menuju ke ruang makan untuk makan dan berpamitan dengan mama untuk pergi ke sekolah.

Di sekolah
“Halo Shinichi, Conan, Ayumi, Genta, Ai, Sonoko, dan Mitsuhiko” sapaku pada mereka. “Hai juga Ran” balas mereka. “Jadi nggak kamu ikut lomba Al-Quran?” Tanya Ai. “Jadi dong, ibuku rela bolos kerja demi aku, baik kan?” ucapku pada mereka.
“Ya, sungguh baik ibumu” ucap Mitsuhiko. “Ke kelas yuk!” ajak genta. “Yuk!” jawabku dan semua.

Di Kelas
Ibu guru masuk kelas dengan perasaan murung. “Assalamualaikum bu” ucap kami sekelas. “Waalaikum salam” ucap ibu guru memelas. “Ada apa bu” tanyaku. “Mamamu Ran, mamamu” jawabnya.
“Ada apa dengan mamaku bu?” tanyaku balik
“Mamamu meninggal Ran Hiks… hiks…”
“Kenapa tak ada yang memberitahuku!!”
“Kami semua takut jika kami memberitahukannya, kamu akan sangat sedih dan tidak berangkat sekolah”
“Kalian tega!!!” ucapku sambil berlari ke luar kelas tak tahu arah.

Setelah Mamaku meninggal hidupku bagaikan sendiri dalam hutan dan menjadi anak yatim piatu. Ayahku, telah meninggal sejak 2 tahun sebelum aku lahir. Sekarang, hidupku tinggal di panti asuhan. Bersama anak-anak yatim piatu lainnya.

Terima kasih jika sudah mau membaca cerpenku ini bye bye “hiks… hiks… hiks… hiks… hiks…”

Cerpen Karangan: Sabila Salwa Putri Wahyuhadi
Facebook: Salsabila Eva Putri

Cerpen Selamat Tinggal Mama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Egoisnya Negeri Ini

Oleh:
Aku kembali menatap langit, gelap dan pekat. Aku tidak menghitung seberapa lama aku telah berada di sini, rasanya waktu tak beranjak. Hanya saja luka ini terlalu sakit untuk disimpan

Sebatas Kabut

Oleh:
Brakk! Pyaar! “Aku tidak mau tau…!” Dengan dada mendidih telah aku empaskan semua yang ada di dekatku. Amarahku terus memuncak hingga tidak bisa kukendalikan lagi. Meja kayu di ruang

Different Faith

Oleh:
“Pokoknya ibu enggak mau tau, kamu putusin hubungan dengan lelaki itu atau kamu bakal kehilangan ibu” “Bu! Apa-paan sih? Aku cinta sama Rio bu! Ibu nggak bisa ngehalangin Desi

Penguasa Hulu Sungai

Oleh:
Aku tertunduk tak kuasa menahan tangisku di atas pusaranya. Sungguh, aku merasa sangat bersalah. Akibat aku yang memaksanya, ia jadi merenggut ajalnya di tengah sungai maut itu. Padahal, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Tinggal Mama”

  1. Dinbel says:

    Hmmmmmms, jadi sedih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *