Selamat Tinggal Semuanya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 June 2019

Pagi hari itu aku terbangun dari mimpiku yang hampir membunuhku secara perlahan, padahal itu adalah hari Minggu dimana hari yang seharusnya aku bangun siang. Aku bangun dan duduk sebentar di atas kasurku yang empuk, aku kembali berpikir “Apa yang terjadi semalam? Tidak biasanya aku bermimpi seperti Itu”. Aku beranjak dari kasurku dan bergegas ke kamar mandi, namun ketika aku berdiri dan mengambil handuk tiba tiba kepalaku begitu berat rasanya, pandanganku buyar, dan kakiku tidak kuat lagi untuk menapak. Aku pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, tapi ini benar benar beda rasanya.

Aku adalah anak Yatim, Ayahku pergi meninggalkan Ibuku semenjak Aku masih kecil, tentu ini sangat berpengaruh besar terhadap perekonomian keluargaku yang begitu serba pas pasan, Aku sangat ingin membantu Ibuku, tapi kurasa aku hanya menjadi beban untuknya. Bayangkan saja, pendapatan Ibuku tidak menyentuh UMR padahal ia sudah bekerja 8 Tahun, Ia mengurusku dari kecil hingga saat ini. Aku sangat bangga terhadapnya, aku sangat mecintainya meskipun terkadang aku membentaknya dengan kasar. Mungkin itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan.

Setelah mandi, aku berpakaian dan melanjutkan aktifitasku, namun kulihat Ibuku sedang termenung di kamar dan duduk di kasurnya, aku menghampirinya seraya bertanya “Ada apa Ibu?”, Ibuku menjawab “tidak ada apa-apa nak, kamu makan yah di meja udah ada sayur”, Aku menjawab “Aku baru mau makan kalo Ibu menjelaskan mengapa Wajah ibu kusut seperti itu”
Ibu menjawab “Mulai bulan depan, Ibu tidak bisa bekerja lagi nak, umur Ibu sudah mencapai batas ketentuannya”. Ohh ternyata itu alasan yang membuat Ibuku termenung di dalam kamarnya, aku pergi meninggalkan Ibu dan berkata “Tenang saja bu”

Aku makan di tempat makan sendirian tanpa seorang pahlawanku, aku mengambil sayur hijau yang ada di piring, aku angkat sayur itu dengan sendok besi, aku lihat sayur itu layu dan seperti sayur kemarin yang dipanaskan lagi. Aku pun memakannya dan mulai semangat untuk mulai bekerja apapun pekerjaan itu.

Aku pergi dari rumah tanpa pamitan terhadap Ibuku, aku berjalan di sepanjang jalan raya sembari mencari lowongan pekerjaan yang tersedia untuk sore sampai malam, Karena paginya aku harus sekolah seperti biasa. Namun, aku tidak dapat menemukan apapun, yang kudapat hanya keringat yang terus menetes di dahiku, serta rasa pegal yang mulai bersarang di kakiku. Aku melihat sebuah tempat yang dipenuhi oleh Galon-Galon air yang kosong, aku menghampiri tempat itu dan melihat poster yang berisikan tentang lowongan pekerjaan untuk orang yang bersedia bolak balik ambil gallon kosong dari rumah ke rumah dengan upah 1 hari sekitar Rp.50.000,-.

Aku masuk ke tempat itu dan mencari dimana pemilik tempat ini, sekitar 5 menitan aku berteriak teriak, orang itu muncul dengan tatapan ramah, badan tinggi, gemuk dan cukup tampan. Aku bertanya kepadanya “Maaf pak, apakah lowongan pekerjaan yang ada di poster Bapak masih berlaku?”, Bapak itu menjawab dengan ramah “Tentu, kami butuh orang yang mau antar jemput galon, karna di sini lagi kekurangan orang”, aku sangat senang mendengarnya, aku kembali bertanya “Apakah aku dapat bekerja di sini? tapi aku hanya bisa bekerja pada saat sore dan malam saja pak, Karena pagi sampai siang aku harus sekolah “Bapak itu hanya senyum dan berkata “Boleh saja yang penting kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat” Aku dengan tegas menyakinkan “Baik Pak, itu adalah prinsipku” Bapak itu kembali bersenyum dan berkata “Bagus, oiya nama saya Wahyudi, nama kamu siapa?”, “Carter pak”, jawabku dengan yakin.

Sebenarnya aku bisa saja bekerja sekarang, namun aku ingin memberi tahu kabar ini kepada Ibuku, Ibu pasti senang mendengarnya, setidaknya menghilangkan kesedihannya saat ini. Aku bergegas pulang, berlari dengan kencang di tengah keramaian orang orang di Ibu Kota ini, tapi disaat ku berlari, aku tersentak berhenti, aku merasakan kepalaku seperti tertembak peluru COLT M1911, aku benar benar merasa keanehan di dalam diriku ini, biasanya aku berlari kencang disaat Estafet Sekolah hanya kakiku yang pegal, tapi kali ini benar benar beda rasanya.

Aku mulai muak, aku pergi ke rumah sakit dan meminta dokter untuk Check Up sebenarnya apa yang terjadi di dalam diriku, apa hanya pusing biasa atau ada penyakit lainnya. Aku memasuki pintu lobby rumah sakit itu sambil memegang kepalaku yang begitu luar biasa sakitnya, aku berjalan di Lorong rumah sakit dan aku bertemu dengan Dokter yang biasa menanganiku ketika aku masih kanak-kanak, aku masih ingat Dokter itu, Dr. Hendra namanya.

Dr. Hendra mungkin kebingungan melihatku seperti Lebah meninggalkan sarangnya, ia bertanya “Carter? kamu kenapa kok terlihat seperti itu?” ia menghampiriku dan memegang kepalaku yang begitu hangat seperti rumah gubuk di gurun pasir ketika matahari berada di tepat atasnya. Aku menjawab dengan lesu “dok, tolong cek kepalaku ini atau tubuhku, mengapa akhir-akhir ini aku merasakan sakit kepala yang luar biasa dok” Dr. Hendra pun kebingungan dan tidak mengerti apa yang dilihatnya sekarang, ia pun mengambil perlaatan medisnya dan menyuruhku untuk berbaring di kasur, Ia mengecek detak jantungku dan mengambil sampel darahku. Setelah itu dia menganalisis penyakit apa yang sebenarnya ada di dalam tubuhku.

Dr. Hendra duduk terdiam di bangkunya, dan tangannya bergetar memegang Surat Diagnosa yang dipegangnya dengan kedua tangannya. Aku yang masih sempoyongan, bertanya “ada apa dok? aku sakit apa?” Ia berkata dengan pelan “Carter… kamu anak yang hebat, kamu bisa hidup dengan penyakit yang kapan saja bisa membunuhmu, kamu sekarang beranjak dewasa nak, kamu pasti akan merasakan sakit ini, mungkin kamu sangat terlalu muda untuk terserang penyakit ini, tumor itu sudah membuat area otak kamu tidak berfungsi dengan baik lagi, tapi inilah kenyataanya, kamu menderita Kanker otak stadium 3 yang hanya 15 persen untuk bisa disembuhkan walaupun tidak secara permanen”.

Cerpen Karangan: Vince De Venelli
Blog / Facebook: Vince De Venelli
Saya vince de venelli
Ig: @vincedevenelli

Cerpen Selamat Tinggal Semuanya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Cinta Satu Muara (Part 1)

Oleh:
Hujan mengguyur Semarang sore itu. Dua bidadari kecil asyik bercengkerama bersama sang Bunda di teras rumah. Dingin memang, tapi canda tawa menghangatkan suasana. Satu per satu perbincangan mengalir. Tentang

Aloha

Oleh:
Sinar matahari mulai menyeruak menembus tirai jendela kamar Diara. Ya, namanya Diara. Seorang ABG yang masih dalam proses pertumbuhan. Seperti remaja lainnya. Diara juga Ababil. Terkadang ia bisa nangis-nangis

Ku Ingin Terseyum di Ujung Hidupku

Oleh:
Kenalin aku kirana, aku mahasiswa disebuah universitas, aku mempunyai penyakit kanker menurud dokter aku takkan bisa hidup lama tapi aku tetap berjuang untuk hidup, walau harus menjalani kemo terapi

Padang Ilalang

Oleh:
Namaku Lissa, aku tinggal bersama nenekku di desa. Ayah dan ibuku bekerja di sebuah kota dan menetap di sana. Aku memiliki seorang adik laki-laki, namanya Maman. Aku sangat menyayanginya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Selamat Tinggal Semuanya (Part 1)”

  1. dinbel says:

    prat 2 nya mana ya, penasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *