Selembut Kain Sutra

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 September 2017

Busana bermotifkan batik indah nan glamor adalah busana ciri khas yang dirancang oleh Septi. Tangannya yang lemah gemulai dalam membatik dan mewarnai batik dengan canting ia celupkan ke dalam lilin panas. Tak hanya membatik Septi juga pandai dalam menari. Biasanya setiap malam bulan purnama Septi selalu mendapat panggilan dalam kerjaannya sebagai penari ramayana di candi Prambanan. Lekukan tubuh yang lemah gemulai membuat para pemuda desa banyak yang menaruh hati padanya.

Pagi hari…
Sebelum fajar menyingsing, Septi bangun untuk menyiapkan sarapan Ibunya. Septi setiap pagi harus bangun untuk memasak. Karena Ibunya menderita penyakit lumpuh dan stroke maka upaya yang dilakukan Septi adalah membuat batik dan menjadi seorang penari agar semua kebutuhan dapat tercukupi. Sudah sejak lama Septi menjadi seorang pembatik di kampungnya sampai-sampai usia Septi pun berusia 30 tahun. Tak baik jika umur anaknya semakin dewasa, Ibunya mengkhawatirkan usia Septi yang semakin hari kian bertambah namun Septi sampai saat ini juga belum menikah. Parasnya yang cantik, tubuhnya yang langsing dan tinggi semampai membuat pemuda desa seberang bernama Genta Maharaja menaruh hati padanya.

Saat di pasar…
Matahari yang panas membendung hingga pucuk ubun-ubun membuat Septi menjadi lelah. Jalan dari rumah menuju pasar yang ditempuhnya berjarak 200 m. Saat tiba di pasar, Septi pun dengan sigap membeli sayur mayur serta memilah sayuran yang masih segar.

Saat Septi beranjak pulang tidak sengaja keranjang sayuran Septi pun terjatuh, tiba-tiba dari arah belakang Genta membantu Septi untuk membereskan belanjaanya. “Terima kasih, atas bantuannya”. Sapa Septi dengan suara lembutnya. Tatapan bola mata yang berbinar seakan-akan membuat Genta menjadi lebih berani untuk mengenalnya lebih dalam.

Pagi-pagi buta…
Hembusan angin dan seruan suara azan pun berkumandang tepat pukul 04.30 jeritan tangisan membendung hati Septi, tetesan air mata terus mengucur di pelupuk matanya. Ibu kandung Septi rupanya telah menghembuskan napas terakhirnya. Awalnya sang Ibu hanya meminta septi untuk membacakan sebuah cerita yang berjudul “Pengorbanan Anak Untuk Ibu”. Tapi perlahan-lahan kelopak mata ibunya menutup, sambil menutup mata sang ibu berkata “Septi kamu adalah anak Ibu yang baik, sebenarnya Ibu bukanlah Ibu kandungmu, tetapi Ibu kandungmu menitipkan dirimu pada Ibu dan ambillah kain sutra ini.” Saat itu Ibu yang sedang berbaring memberikan kain sutra itu pada Septi. Tiba-tiba sang Ibu menghembuskan napas terakhirnya.

Septi mencium kain sutra itu degan penuh kehangatan dan memasukkan kenangan memori masa kecilnya dahulu. Bagi Septi ibu angkat ataupun Ibu kandung tidak menjadikannya sebuah masalah besar dalam hidup. Kasih sayang Ibulah yang memberikan pengajaran tentang kehidupan. Lembutnya kain sutra selembut kasih sayang, cinta, kepedulian bahkan pengorbanan. Dan 7 tahun setelah kematian ibunya Septi pun meniti kehidupan baru bersama Genta dan kedua putri kecilnya dengan kebahagiaan.

Cerpen Karangan: Florantina Krisdayanti
Facebook: Florantinakrisda

Cerpen Selembut Kain Sutra merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kebahagiaanku Telah Sirna

Oleh:
Setiap kali aku melihat keluarga yang rukun dan harmonis, pasti ada yang menyelinap di dalam hatiku. Ada rasa iri. Karena keluargaku tak seperti keluarga mereka. Setiap aku mendengar teman-temanku

Matahari di Timur

Oleh:
Matahari baru muncul di timur, tetapi Ana telah berjalan bersama ibunya ke sekolah sambil ngobrol. Tak terasa telah sampai di gerbang sekolah dan terlihat Pak Ngadiman yang lagi membetulkan

Bintang Kecil (Part 2)

Oleh:
Ia melihat polisi keluar masuk dari dalam rumah Reyhan. Ada seseorang keluar dari rumah Reyhan dengan tangan diborgol dan didampingi polisi di sampingnya. Tirsya terkejut melihat sosok kedua yang

Geometri

Oleh:
“Yang jelas, geometri itu bentuk!” Ujar salah satu temanku ketika aku bertanya pada mereka. “Bukan. Geometri itu permainan. Geometry dash!” Ujar temanku yang lain. Ah, entahlah. Aku tak tahu.

Pelangi Sesudah Hujan

Oleh:
Hujan… Memang tak terlalu deras, tapi sudah cukup untuk membuat seragam ku basah setidaknya aku sendirian, aku menyukai hujan tapi bukan karena aku menyukai basahnya aku hanya menyukai airnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *