Selepas Kau Pergi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 10 March 2018

Ayah… seandainya ayah di sini. Seandainya ayah tak pernah pergi. Seandainya aku bisa kembali ke masa-masa saat ayah masih ada bersamaku, menemaniku.

“Hihihi…”
Aku ingat, saat kecil, berlari-lari riang, tertawa bahagia di bawah kilau mentari. Aku berseri melihat hamparan bunga yang elok semerbak mewangi di depan mata. Ayah bersamaku, tersenyum ketika aku liar mengejar sepasang kupu-kupu cantik. Yang di saat kemudian aku terjatuh, ayah akan datang segera menghampiriku, mengusap, meniup lembut lukaku berkata, “Putri kecil ayah tak apa! Ayah di sini.” Dan aku pun tertawa geli mendengarnya.

Ayah, betapa aku sangat mencintaimu. Dengan semua kasih sayang yang ayah berikan, aku sangat bahagia tak merasakan kekurangan sekalipun tumbuh tanpa belaian tangan seorang ibu. Ayah tak pernah sedetik pun membiarkan sesuatu bernama kesedihan mendera detik-detik masa kecilku. Ayah selalu ada di sisiku mengatakan aku tidak apa-apa, “Putri kecil ayah tak apa! Ayah di sini.”
Selalu, aku berseri kembali setelahnya.

Tapi ayah… ayah tahu jika sekarang harus kukatakan aku jadi sedikit membenci ayah. Ayah pergi. Kau pergi dan membawa segala kebahagian, segala cinta dalam hidupku bersamamu. Kau pergi meninggalkanku seorang diri… tak pernah kembali. Bahkan aku tidak diberi kesempatan untuk mengenang masa-masa indah dulu, terkecuali peristiwa mengerikan itu kembali berputar menyeruak di dalam otakku.

“Uhukk… uhukkk… Ayah!!!”
Api, api dan api. Semua penjuru di sekelilingku terlalap api, mengurung tubuh kecilku yang terbatuk-batuk merasakan sesak sekaligus panas dan pedih. Aku berteriak sekeras sebisa pita suara ini kukeluarkan, hingga bulir demi bulir air mata mulai berjatuhan. Aku takut, aku sangat takut. Satu hal yang terlintas di benakku hanya ayah.
Ayah… ayah di mana?

Dan saat asap hitam tebal mulai membubung menguasai ruang, perlahan bisa kudengar dan samar kulihat sosok ayah menerjang api. Kelebatnya membuatku tenang. Ayah datang menyelamatkanku. Ia langsung memelukku, memastikanku baik-baik saja dan kemudian membawa tubuhku dalam dekapannya. Sekali lagi, ayah siap menerjang kobaran api untuk selekas mungkin membawaku keluar dari amukan si jago merah.

Namun di detik-detik yang berlalu kemudian adalah moment yang tidak pernah bisa kulupakan seumur hidup. Moment yang menggores dalam di hatiku. Bagaimana puing-puing bangunan perlahan bergerak jatuh menubruk lantai, dan bagaimana salah satu puingnya jatuh menghujam menghantam telak tubuh ayah. Aku berteriak histeris, aku memanggil-manggil ayah. Tapi ayah malah mengatakan kata itu. Ayah mengatakan aku tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja dan bahwa ayah akan selalu di sini, di sisiku, menemaniku. Tapi itu tidak benar, semua itu tidak benar. Aku tidaklah baik-baik saja dan ayah tak lagi di sisiku, menemaniku. Ayah berkata bohong. Dan meskipun kemudian aku dan ayah bisa keluar dari kobaran api, tetap saja pada akhirnya yang ada hanyalah aku dan sesosok tubuh pria tua tanpa nyawa. Tak ada Ayah. Kau pergi meninggalkanku. Dan aku benci itu.

‘Jeleggarrr!!!’
Gelegar petir membuatku menengadah memandang langit. Mendung! Awan hitam bergelayut menyiratkan hari akan diguyur hujan. Aku menatap tak peduli. Begitu pun dengan angin yang berhembus kencang hingga menerbangkan topiku. Aku tak peduli. Sebab sesuatu di dalam diriku, sesuatu yang jauh di dalam lubuk sana, lebih kacau balau dibandingkan sabtu sore dengan cuaca buruk ini.

Aku meraung-raung, berteriak dalam diam. Apa? Apa yang salah?! Aku hanya ingin mengenang ayah dalam memory indah saat kebersamaan kami. Hanya itu! Terlebih kini aku duduk di bangku taman kesukaanku dan ayah. Kenapa kejadian buruk itu juga selalu terngiang terputar ulang di pikiranku. Memaksaku mengingat semuanya, membuatku merasakan sakit yang perih tak tertahankan. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku juga tidak bisa memaafkanmu ayah. Percayalah, aku tidak menginginkan ini, tapi aku semakin membencimu. Atas kenangan buruk kenangan buruk 10 tahun silam, juga atas semua kesedihan dan rasa sakit yang datang setelahnya, aku menyalahkanmu, ayah…

Cerpen Karangan: Rita Nularo
Facebook: /rinularo.rinularo

Cerpen Selepas Kau Pergi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Andri Sayang Papa (Part 1)

Oleh:
“huft, capenya.” keluh Andri sambil duduk pelan. “kamu habis dari mana aja Ndri? Jam segini baru pulang! Akhir-akhir ini kamu pulangnya malem terus, kamu tuh anak cewek, ndak baik

It’s You?

Oleh:
“Contoh Kak Harry! Dia anak rajin dan selalu jadi juara kelas! Kamu? Nilai nggak pernah jauh dari D-E-F. Mau jadi apa sih kamu?” Olokan mama kembali terngiang dalam benakku.

Senja di Imajinasiku

Oleh:
Hari sudah mulai malam. “Aku pasti bakal telat karena ekskul ini” gumamku. Tapi aku hanya berjalan santai ke stasiun sambil melihat keadaan kota ini. Jam sudah menunjukkan pukul 5.30

Sepuluh Tahun yang Lalu

Oleh:
“Huh…” Aku bersandar di bawah pohon rindang nan sejuk. Dengan buku dan pensil yang kugenggam, aku memejamkan mata. Memikirkan tentang hal-hal yang akan kutulis di dalam buku itu. Aku

Kado Buat Mama

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota di komplek yang mayoritas pemilik rumahnya adalah kalangan pengusaha. Aku tinggal bersama mama dan seorang pembantu karena Papaku kembali ke Amerika setelah papa dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *