Seluas Langit, Seluas Bukit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 December 2012

Bu Ida , Seorang ibu yang begitu menyayangi anaknya. Tapi apa? Kebaikannya dibalas dengan rasa pahit yang begitu dalam. Hingga datang dua malaikat dalam hidupnya. Dua malaikat itu pun menjadi pelengkap kehidupan Bu Ida dan anaknya.

“Kamu Tidak kuliah ?” Tanya bu Ida yang membangunkan Bayu. “Ah . ., ibu. Aku masih ngantuk, Bu. Aku mau tidur dulu” Jawab Bayu dengan nada menggerutu. “Kamu ini bagaimana. Tidak seharusnya kamu bermalas-malasan. Biaya kuliah itu mahal, nak. Tidak semua orang bisa kuliah seperti kamu” Kata Bu Ida menasihati. ”Ah . . . ibu cerewet. Iya.., aku bangun” Kata Bayu dengan nada kesal. Ia terlihat tidak semangat untuk berangkat kuliah.

Setelah siap, Bayu pun menuju meja makan. “Bayu makan di kampus saja, Bu.” Kata Bayu. “Ibu sudah siapkan sarapannya, Bay. Ibu bela-belain bangun pagi” Ibu Ida menyembunyikan kekecewaannya. Tapi, aku rasa seorang anak seharusnya bisa melihat sikap ibu atas perilaku yang dilakukannya.

***

“Bayu, kamu hari ini jangan keluar malam, ya ?” Bu Ida menasihati anaknya. ”Kenapa, bu?” Tanya Bayu. “Temani Ibu berobat, ya. Hari ini badan Ibu sakit semua” Kata Bu Ida. “ Ah.., Ibu kayak anak kecil saja. Bayu nanti mau ngeband sama Alex” Jawabnya dengan santai. “Jadi, kamu memilih ngeband dari pada mengantar ibu berobat?” Kata Bu Ida dengan nada kecewa. “Bayu keluar ada manfaatnya, Bu. Nanti kalau band Bayu terkenal. Ibu juga akan terkenal dan kaya” Kata Bayu. “Tapi Bayu . . . . .” Kata-kata Bu Ida langsung di tangkis oleh Bayu. “Sudahlah, Bu. Minta antarkan tetangga sebelah saja. Nanti Ibu kasih imbalan. Sudah, Bu. Bayu berangkat dulu.” Bayu langsung meninggalkan Ibunya di ruang makan. Hanya sekotak pizza dihadapannya. Dengan terluka dan menahan rasa sakit. Ibu Ida hanya menangis melihat tingkah laku anaknya. Tak pernah ia bayangkan anak semata wayangnya bertabiat kasar dan melukai hatinya.

***

“Ha . . ha. . ha . . ., puas banget tadi.” Bayu tertawa karena merasa puas. “Mainnya kurang lama,Bay. Harusnya lima jam atau sepuluh jam” Kata Alex. “Sekalian nginap aja Lex, kalau lima sampai sepuluh jam..,” Tambah Bayu. “Soalnya seru, Bay” Alek menepuk punggung Bayu. “Ya sudah. Sampai ketemu besok. Aku sudah ngantuk. Aku pulang dulu,ya.” Bayu menaiki sepeda motornya. “Oke. Sampai ketemu besok. Hati-hati..!” Alex melambaikan tangannya. Bayu pun melaju dengan kencang menaiki sepeda motornya.

Sesampainya di rumah, Bayu melihat ibunya tertidur di kursi ruang tamu. “Kenapa ibu tidur disini ?” Tanya Bayu. “Ibu menunggu kamu. Ibu khawatir sama kamu. Jam dua juga belum pulang-pulang.” Kata Bu Ida dengan mata sayup karena kelelahan. “Bu . ., Bayu sudah besar. Bayu ini sudah bisa jaga diri. Ibu tidak usah khawatir.” Bayu menggurui ibunya. “ Ibu khawatir, karena Ibu sayang sama kamu,Bay. Kamu tidak kasihan sama Ibu, Nak ? Ibu ini janda , punya anak satu tapi tidak pernah di rumah” Kata Bu Ida. “Ah.., Bayu ngantuk. Mau tidur. Bayu bosan selalu bertengkar sama Ibu. Ibu itu terlalu cerewet.” Kata Bayu kepada ibunya.

‘Anak ku, kenapa kamu seperti ini. Ya Allah apa salahku? Selama ini aku sudah mendidiknya dengan baik. Semoga engkau memberi anakku hidayah Ya Allah.’ Bu Ida pun tak kuasa menahan kesedihannya , hingga air mata menetes membasahi pipinya.

***

Kicau burung di pagi hari semakin terdengar. Sengatan sang surya pun mulai memanasi jendela kamar Bayu. Ia pun kaget bukan kepalang. “Aduh . ., jam berapa ini. Kok, Ibu tidak membangunkanku.” Gerutu Bayu, saat ia bangun dari tidurnya. Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk berangkat kuliah dengan tergesa-gesa.

“Ibu sengaja, ya. Tidak membangunkan Bayu?!” Kata Bayu, sambil menali sepatunya di kursi meja makan. “Astaga..!, kamu ini bilang apa Bayu. Iya maaf, Nak. Ibu telat bangun. Badan ibu sakit semua.” Bu Ida menjelaskannya. “Ah .., Ibu makanya jangan nunggu Bayu. Jadinya kesiangan, kan? Bayu juga sudah hampir telat ini. Hari ini Bayu pulang malam…,” Kata Bayu, yang kemudian meminum segelas susu. “Lho.., kok pulang malam ? ” Tanya Bu Ida. “Ada tugas , Kalau pulangnya terlalu malam, nanti Bayu mau tidur di rumah teman. Nanti Bayu sms. Dan Ibu tidak usah menunggu Bayu.” Bayu pun langsung meninggalkan Ibunya.

***

Detik, menit, dan jam pun telah berlalu. Sunyi senyap dalam dingin malam, Bayu juga tak kunjung pulang. Dengan mata yang lelah, badan yang lemas. Bu Ida setia menunggu anaknya. Hanya selembar selimut pemberian suaminya, yang bisa menahan rasa dingin yang semakin malam semakin merayap hingga menusuk tulang.

“Bayu kemana sih? katanya mau sms, tak ada sms juga. Nomornya juga tidak aktif. Ya Allah, ampunilah hambamu ini. Kemudian terdengar suara orang dari luar sambil mengetuk pintu. “Bayu . . , Bayu.” Teriak orang itu. “Siapa, ya ?” tanya Bu Ida, yang kemudian membuka pintunya. “Ini Alex, Bu. Bayu nya ada, Bu?” Tanya Alex. “Sudah seminggu Bayu tidak pulang. Ibu pikir kamu tahu dimana Bayu.” Kata Bu Ida dengan nada terkejut. Tiba-tiba Bu Ida pingsan, wajahnya sangat pucat. Alek pun langsung membawa Bu Ida ke rumah sakit.

“Ibu Ida sakit apa, Dok ?” Tanya Alex. “Ibu Ida hanya kecapekan.” Terang Dokter yang memeriksa Bu Ida. “Oh . . , syukurlah” Alek lega mendengarnya. ”Sebaiknya, jangan membiarkan beliau beraktivitas terlalu berat. Beliau perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya.” Saran dari Dokter.

***

Bayu terlihat kaget saat melihat Alex ada di kamar ibunya. “Ngapain kamu sama Ibuku ?” Tanya Bayu. “Aku baru saja membawa Ibu kamu ke dokter. Beliau sedang sakit.” Kata Alex menjelaskan. “Ibu memang begitu. Semakin tua , semakin manja.” Bayu justru memperlihatkan sikap acuh. “Ibu kamu sedang sakit Bayu. Kamu malah pergi meninggalkannya.” Kata Alex. “Sudahlah, kamu ini orang lain. kamu bukan anaknya. Kamu jangan sok perhatian sama ibuku.” Jawab Bayu. “Aku sekarang baru tahu. Ternyata, kamu bersikap kasar terhadap Ibumu.” Kata Alex dengan menatap sinis terhadap Bayu.

“Sebaiknya kamu pulang saja, Lex! Kamu tidak berhak atas keluargaku.” Mendengar perkataan Bayu, Alex pun bergegas pergi. “Alex pamit pulang dulu, Bu.” Alex mencium tangan Bu Ida. Kemudian Alek menarik selimut agar menutupi badan Bu Ida. Seketika kehangatan merayap dalam tubuhnya. Hatinya terenyuh dengan sikap Alex. Ingin rasanya Bayu bersikap demikian terhadapnya. Air mata pun mengalir dari kedua sudut matanya. Hatinya berkata seolah-olah tak ingin Anak itu pergi meninggalkannya.

***

Terasa sesak dada bu Ida, melihat sosok Bayu yang jauh dari harapannya. Dia bermimpi, suatu saat nanti Bayu dapat berubah seperti Alex. Seorang yang pelembut dan penyayang. Pagi-pagi Bayu sudah pergi meninggalkannya sendiri di rumah. Ibu Ida hanya bisa menangis meratapi kondisinya.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka. Bu Ida terkejut saat melihat Alex yang datang dari balik pintu itu. “Ini.., Alex bawakan bubur untuk Ibu. Ibu makan, ya!“ Alex meletakkan bubur yang ia bawa di atas meja. Ia menyiapkan sendok untuk menyuapi Bu Ida. Bu Ida hanya bisa menatap dengan perasaan haru. Ia usap air mata yang perlaha-lahan keluat dari kedua matanya. Ia tak ingin alex mengetahui kesedihannya.

”Bagaimana keadaan, Bu Ida ?” Tanya Alex sambil menyuapi Bu Ida. “Alhamdulillah, sudah lebih baik.” Jawab Bu Ida. “Bayu sangat beruntung mempunyai Ibu yang sangat menyayanginya. Alex dari kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Setahu Alex, Ibu Alex adalah ayah. Orang yang bekerja untuk Alex. Dan orang yang merawat Alex.” Kata Alex yang masih menyuapi Bu Ida. “Itu artinya, Nak Alex adalah anak yang beruntung mempunyai Ayah yang bisa menjadi Ibu sekaligus Ayah.” Kata Bu Ida, yang diikuti senyuman.

“Tapi, Ayah tidak pernah bisa menjadi Ibu Untuk Alex, Bu. Kasih sayang Ibu tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kasih sayang Ayah. Kelembutan, kesabaran, keluwesan dan kasih sayangnya tidak bisa kita dapatkan dari seorang ayah. Sedangkan seorang ibu, ia bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anaknya. Ia mempunyai semangat kerja keras, dan kekuatan layaknya kekuatan lelaki. Dan semua itu tidak terlepas dari rasa semangat akan cinta dan kasih sayang terhadap anaknya. Ibu adalah orang yang hebat” Alek memuji Bu Ida. Hatinya sangat tersentuh akan kebaikannya. Dia begitu menghormati orang tua. ‘Andaikan saja Bayu tahu, betapa aku sangat mencintainya.’ Kata Bu Ida dalam hati.

***

“Maafkan Bayu, Bu.” Bayu menangis dan memeluk erat tubuh ibunya. Bu Ida terlihat terkejut melihat sikap anaknya yang berubah. Alex dan ayahnya hanya bisa menyaksikannya. “Bayu baru sadar. Bayu sering menyakiti hati Ibu. Kasih sayang Ibu seluas langit, kasih sayang Bayu hanya seluas bukit.” Kata Bayu yang masih diikuti tangisan. Dengan perasaan yang bahagia sekaligus haru, Bu Ida pun menerima permintaan maaf dari anaknya. “Iya Bayu, Ibu maafkan kamu” Bu Ida memeluk Bayu dan mengecup kepalanya.

“Bagaimana dengan tawaran Alex kemarin, Bu?” Tanya Alex. Bu Ida pun terkejut dengan pertanyaan Alex. Ayah Alex – Pak Hendra – hanya bisa menundukkan kepalanya. ‘Akankah jalinan asmara yang telah lama akan kembali dirajut oleh kami berdua?’ Tanya Bu Ida dalam hati. Bayu hanya memperlihatkan raut wajah yang bingung. ‘Apa sebenarnya yang Alex tawarkan pada Ibu, hingga Ibu merasa kebingungan untuk menjawabnya.’ Tanya Bayu dalam hati.

“Alex harap, Ibu mau menerima tawaran Alex, Bu” Alek mendekati Bu Ida, dan memegang kedua tangannya. Memohon agar Bu Ida berkenan menikah dengan ayahnya. Bayu hanya kebingungan dengan apa yang Alex lakukan. “Apa sebenarnya yang terjadi, Bu?” tanya Bayu. ‘Ya, Allah.., melalui Alex, akankah engkau persatukan kami kembali. Cinta yang dulu sempat tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua kami’ sekelebat perasaan dimasa lalu pun muncul kembali.

“Bagaimana Bayu? Apakah kamu akan menerima tawaran Alex?” Tanya Bu Ida pada Bayu. “Memangnya, apa yang Alex tawarkan pada Ibu?” Tanya Bayu. “Aku meminta Ibu kamu untuk menikah dengan ayahku, Bay. Aku ingin kita hidup dalam satu atap. Aku ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, yang tak pernah aku dapatkan sejak kecil. Kamu begitu beruntung, Bay. Ibumu bisa menjadi ayah sekaligus ibu.” Kata-kata Alex membuat Bayu terenyuh.

“Betapa bodohnya aku, Lex. Tidak pernah mau merasakan kasih sayang ibuku yang begitu luas. Sedangkan kamu, kamu bisa merasakannya. Padahal kamu tidak pernah mendapatkan kasih sayang itu.” Entah kenapa, Bayu begitu bijak mengatakannya. Berbeda dengan biasanya. “Bayu mohon, Bu. Terimalah tawaran Dari Alex” Kata Bayu memohon. “Maafkan aku, Farida. Jika keinginan anakku terlalu menyudutkanmu. Aku tidak pernah memaksamu untuk mau menerimaku. Aku berharap, jika kamu memang tidak bisa. Kamu bisa menjelaskan secara baik kepada Alex. Karena aku tidak sanggup untuk menjelaskannya. Karena aku tidak bisa memenuhi keinginannya.” Kata Pak Hendra.

‘Apakah benar itu? kamu juga berharap kepadaku. Sebagaimana Alex mengharapkanku’ Ada perasaan senang dalam hatinya. “Baiklah.., Ibu akan menerima tawaran Alex” Kata Bu Ida.

Ya Allah, aku tidak menduga bahwasanya engkau telah mempersatukan kami kembali melalui putra-putra kami. Kebahagian kami terasa lengkap. Cinta itu kembali lagi dalam kehidupan ini. Hanya kami berdua yang tahu. Bahwa cinta itu sudah ada sejak kami muda dulu. Berkat mereka cinta itu datang dan menjadi Cinta baru.

Selesai

Cerpen Karangan: Leo Setiawan
Facebook: leosetiawan93[-at-]gmail.com
Bekerja di PT Adhiguna Karya Jaya , Surabaya

Cerpen Seluas Langit, Seluas Bukit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Cerita Malam

Oleh:
Di langit nan kelam menyembul sebuah sabit sang bulan dalam setengah badannya. Teguh terdiam seakan menantikan takdir sang penguasanya. Tak tampak awan berjalan beriring mengawalnya, hanya sendiri dalam sunyi

Helena oh Helena

Oleh:
Deras hujan yang turun, melayangkan lamunan seorang gadis yang tengah duduk menghadap jendela. Entah kemana arah pandangannya, entah kemana matanya menatap, dia terus membuka matanya dan terdiam. Gadis itu

Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

Dilema di Pertengahan Malam

Oleh:
Malam ini untuk kesekian kalinya aku terbangun dari sebuah mimpi buruk yang hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagaikan sebuah melodrama bersambung yang menunggu kepastian akhir cerita. Tentu saja yang

Arti Sebuah Keluarga

Oleh:
Hembusan angin malam kini tengah menusuk tubuhku. Kutarik koper berwarna merah muda dengan berjalan. Kala itu jalanan sepi dan tidak terlalu banyak kendaraan. Kakiku melangkah ke arah zebra cross.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *