Semangat UN, Selamat Jalan Papa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 November 2015

“Ini pa, buat nanti di bus,” Aku memberikan 10 butir permen rasa mint untuk Papaku. Lalu langsung berlari melompat masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di kasur dengan malas sambil menonton film kartun Spongebob Squarepants kesukaanku. Papaku akan berangkat ke Surabaya bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Untuk Mamaku, aku dan kedua Adikku yang sekarang berada di Trenggalek.

Aku, Rizka Widyani Putri. Panggil saja Rizka. Si gadis remaja yang sekarang duduk di bangku kelas 3 di salah satu SMP negeri yang bisa dibilang cukup favorit di kawasannya. Bicara tentang kelas 3 pasti tidak lepas dari Ujian Nasional (UN) yang kebetulan semakin dekat karena saat ini aku sudah semester 2. Ujian oh ujian.. kegiatan yang sangat memusingkan bagiku. Apalagi jika jadwalnya matematika yang bisa dibilang bagaikan hantu di otakku. Aku harus pandai-pandai mengatur jadwal kegiatanku mulai dari jam ke nol, belajar kelompok, les sore, dan malamnya mesti belajar lagi.

Sudah tidak ada waktu lagi untuk memikirkan hal lain. Yang ada di pikiranku saat ini hanya belajar, pintar dan jadi bintang kelas. Obsesi yang tak pernah bisa diubah dari kelas 1 SD. Bahkan saking tak pedulinya, hingga aku tidak pernah menanyakan bagaimana kabar Papa di Surabaya yang tanpa terasa sudah 5 hari di sana. Suatu malam seperti biasa. Aku dan kedua Adikku belajar bersama di ruang tamu ditemani sang Mama dan Kakekku yang duduk di kursi bagaikan pengawas kami. Sesekali kami dimarahi jika kami ketahuan bercanda dan saling mengganggu satu sama lain. Aku melihat Mama sepertinya sedang gelisah sekali sambil memperhatikan handphone miliknya.

“Kenapa ma? Ada masalahkah?” tanyaku sedikit mengajak bercanda.
“Ini lo, mata kiri bawah Mama kok sering kedutan,” jawab Mama heran.
“Kamu akan menangis,” sahut Kakekku.
“Ya, Mama akan menangis bahagia melihatku nanti meraih nilai UN tertinggi dan menjadi bintang kelas,” celotehku dengan sombongnya.
“Bukan menangis bahagia, tapi akan ada musibah yang akan membuat tangis kesedihan pecah,” jawab Kakekku.
“Nggak ah, jangan sampai pak,” sahut Mamaku mencoba menenangkan dirinya.

Sejujurnya aku cukup penasaran dengan ucapan Kakekku tadi. Apa maksudnya akan ada musibah? Tangis kesedihan? Siapa yang akan menangis nanti? Dan apa yang akan ditangisi? Sangat penuh tanya di pikiranku hingga konsentrasi belajarku sedikit terganggu. Tapi aku mencoba cuek dan berpikir positif. Aku hanya berdoa semoga musibah itu tidak terjadi di keluargaku.

Satu minggu berlalu, try out pertama sudah ku lalui dan ternyata soal-soalnya cukup menakutkan. Hasilku jelek, begitupun dengan teman-temanku. Guruku memaklumi karena mungkin ini masih try out pertama dan kami semua masih gugup menghadapinya. Tetapi ini menjadi tantangan tersendiri bagiku. Mungkin ini masih pertama. Tapi nanti, lihat saja. Sepulang sekolah seperti biasa aku membantu Mamaku menjaga warung kecil-kecilannya di depan rumah. Sesekali kita berbincang-bincang membicarakan sesuatu. Tapi aku tak cukup berani untuk menceritakan kejadian di sekolah tadi. Aku tidak berani bilang bahwa nilaiku jelek. Karena nanti yang ada aku akan kena marah.

“Oh iya ma, bagaimana keadaan Papa? Baik-baik saja kan?” tanyaku.
“Papamu sakit di sana, Riz. Untuk sementara waktu tidak bisa bekerja dulu dan harus banyak istirahat,” jawab Mamaku dengan wajah agak murung.
“Oh,” jawabku biasa saja dan sedikit kecewa.

Papaku memang menderita komplikasi. Tetapi penyakit jantung koronernyalah yang setiap malam selalu membuat kami tidak tidur. Sesekali asam uratnya kambuh karena Papa tidak bisa mengendalikan pola makannya yang sembarangan itu. Ditambah lagi penyakit liver dan darah tingginya yang terkadang membuat beban pikirannya bertambah. Dan sekarang Papa ada di Surabaya, siapa yang akan merawat Papa? Apakah ada orang yang berkenan tidak tidur semalaman demi menjaga Papaku? Ah, tak perlu ku pikirkan, aku yakin Papa kuat dan akan baik-baik saja. Sekarang yang perlu aku pikirkan dengan serius adalah bagaimana caranya agar nilai UN-ku jadi yang paling tinggi di kelas. Hari demi hari berlalu, Papa tak kunjung pulang. Tak pernah sekalipun Papa pergi selama ini. Sudah hampir 2 minggu aku tidak melihat wajah Papa. Aku pun tidak ada inisiatif untuk menghubunginya. Karena pada dasarnya memang aku bukan anak yang pandai memulai topik pembicaraan, sekalipun kepada Papaku sendiri. Aku tetap memfokuskan pikiranku pada UN, UN, dan UN yang waktunya ternyata sudah semakin dekat.

Siang hari sepulang sekolah seperti biasa aku berangkat les di tempat bimbel yang letaknya cukup jauh dari rumah. Aku dan sahabatku Nadya, berangkat bersama naik sepeda roda dua milikku. Kami berdua memang sudah bersahabat sejak SD, tak heran jika kemana-mana kami selalu berdua. Sesampainya di sana seperti biasa penyakit malasku kambuh karena kebetulan jadwalnya adalah matematika, pelajaran yang paling menyebalkan bagiku. Aku duduk sambil menyangga daguku dengan malas. Semua temanku bersiap-siap memulai pelajaran. Mereka terlihat mengeluarkan buku dengan penuh semangat, sedangkan aku tidak sama sekali.

Jam menunjukkan pukul 12.15, aku masih bermalas-malasan. Semua temanku belajar sedangkan aku malah enak-enakan tiduran di meja. Aku memang malas sekali jika berhadapan dengan pelajaran itu. Tetapi tiba-tiba aku merasakan perasaan yang aneh. Mendadak aku merasakan perasaan yang sangat sedih sekali dan tanpa terasa meneteskan air mata. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Perasaan apa ini? Perasaan ini seperti menyuruhku untuk cepat-cepat pulang. Tetapi tak ku hiraukan. Sepulang dari tempat les aku tak langsung pulang. Aku mampir ke rumah Nadya untuk menceritakan perasaanku tadi. Dia menyuruhku untuk tenang dan tetap berpikir positif. Aku mengiyakan sarannya itu. Lalu tiba-tiba handphone di tasku berdering. Ternyata Mama menelponku dan menyuruhku untuk cepat pulang. Tak lama kemudian aku berpamitan pada Nadya dan langsung pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, aku melihat wajah Mama begitu panik dan matanya berkaca-kaca sambil memegang handphone di tangannya yang berulang kali digunakannya untuk menelepon seseorang. Siapa yang diteleponnya itu? Kelihatannya penting sekali. Ada apa ini? Seketika aku ikut panik melihat Mamaku seperti itu.
“Ada apa ma? Kok aku disuruh pulang?” tanyaku dengan wajah sedikit kesal.
“Ini lo Tantemu kok telepon Mama sambil nangis,” jawabnya panik.
“Loh ada apa? Coba Mama telepon lagi aja,” Balasku.

Kemudian Mamaku menelepon Tanteku kembali. Dan kebetulan suaranya di Loudspeaker. Jadi aku bisa mendengarnya secara langsung.
“Halo, Er.. ada apa?” tanya Mamaku.
“Mas Wid, Mbak,” jawab Tanteku sambil menangis.
“Kenapa Mas Wid, Er?” tanya Mamaku dengan wajah yang sangat panik.
“Mas Wid sudah tidak bisa diajak komunikasi lagi,” Jawab tanteku panik
“Maksudmu apa Er? Mas Wid itu pasti lagi tidur. Sudah! jangan diganggu,” balas Mamaku lebih panik.
“Mas Wid meninggal Mbak,” jelas Tanteku agak histeris.

Mendengar kata-kata itu, seketika handphone yang tadinya ada di tangan Mama jatuh ke lantai. Mamaku seperti manusia yang tak punya daya. Mama panik dan menangis. Begitupun aku, sepertinya itu adalah hal yang sangat mustahil bagiku. Tidak pernah aku melihat Mamaku menangis seperti ini. Menangis seperti anak kecil yang tak mampu berbuat apapun. Aku langsung memeluk Adik laki-lakiku dan menjelaskan apa yang terjadi. Adikku tampak tak mengerti dan terus bertanya-tanya.
“Mbak, Mama kenapa sih?” tanya Adikku dengan polos.
“Mama ditinggal Papa dek, Papa udah pergi untuk selamanya. Kita harus jaga Mama, kita gak boleh nakal-nakal lagi,” jelasku sambil menahan air mata.

Aku menyerah! tak kuat lagi aku menahan air yang sudah memaksa bergiliran ke luar dari mataku ini. Akhirnya tumpah sudah tangisan di rumah ini. Kata-kata Kakek terbukti sudah. Firasat Mama terjadi juga. Sekarang aku mengerti apa maksud Kakek yang dikatakan waktu itu. Tangis kesedihan telah pecah di rumah ini. Tangisan akan kehilangan sesosok laki-laki yang sangat berarti. Sosok suami, Papa, chef, guru, motivator, tukang servis, sekaligus komedian di rumah ini telah menghilang. Telah pergi untuk selamanya dan tak akan kembali lagi. Kami pun bersiap-siap berangkat ke Surabaya dengan membawa perasaan haru, rindu, dan rasa percaya tak percaya.

Perjalanan di bus ini mengingatkan rekamanku pada memori-memori indah yang telah aku dan Papa lewati. Kejadian-kejadian yang spontan membuat aku tertawa olehnya. Perbuatannya yang terkadang konyol membuatku semakin berat untuk melepas kepergiannya. Kami pernah pergi jalan-jalan berdua naik bus. Bermain tebak-tebakan meskipun aku selalu kalah. Bercerita apa saja, bahkan tak jarang kami bernyanyi dan tertawa bersama di bus dengan PD-nya tanpa menghiraukan apa kata orang. Sampai akhirnya aku lelah dan tertidur pulas di pangkuannya. Sungguh itu semua adalah momen-momen indah yang paling ku rindukan. Tapi kenapa Papa setega ini? Meninggalkanku di hari penting menjelang UN-ku.

Waktu begitu cepat berlalu. Akhirnya kami sampai di rumah itu. Rumah masa kecil yang penuh dengan kenangan mulai dari Papa kecil sampai aku saat ini. Rasanya tak kuat tubuh ini untuk berdiri menegakkan kaki yang bergetar, menahan tengisan yang deras melihat pagar oranye yang terselip bendera palang merah di selanya. Semua mata tertuju pada keluargaku. Makin berat hati ini ketika mendadak Mama pingsan dan digotong orang banyak. Ya Tuhan… mengapa seberat ini cobaan yang Engkau berikan?

Kami masuk ke rumah itu. Dan di ruang tamu terlentang jelas jenazah lelaki yang paling ku cintai. Tubuhnya yang gendut itu kini dibalut kain putih seluruhnya dan terlentang rapi di atas keranda. Tak berani aku mendekat. Aku takut sendiri. Dalam hati sebenarnya ingin sekali aku melihat, memeluk, dan mencium Papa untuk yang terakhir kalinya. Tapi aku benar-benar tak berani melakukannya. Hanya tangisan dan teriakan penyesalan yang bisa aku luapkan. Berat rasanya anak seusiaku ditinggal pergi oleh sosok seorang Papa. Kasih sayang dan nasihat bijaknya masih menjadi kebutuhan primerku. Begitupun seseorang yang bisa dan biasa ku panggil “Papa,” tempat aku bersandar di saat aku menangis sekaligus tempat aku mengadu jika aku dijahili teman-temanku.

Tuhan.. sambut Papaku dengan baik. Mungkin aku harus lebih bisa merelakan Papa pergi walau berat. Sempat terlintas di pikiranku untuk putus sekolah setelah ini. Karena aku tak bisa membayangkan bagaimana UN-ku nanti tanpa dukungan dan motivasi dari Papa. Dan siapa pula yang akan membiayai sekolah lanjutanku nanti. Tetapi perasaanku sedikit tenang berkat semangat yang diberikan keluargaku. Ditambah lagi sosok Papa yang seakan-akan menyemangatiku lewat setiap bunga tidur malamku yang membuat aku semakin yakin untuk bertarung melawan kesulitan soal-soal UN nanti. Aku janji akan berjuang setelah ini, demi Papa!!

Setelah beberapa hari, Ujian Nasional telah usai. Aku tidak tahu bagaimana hasilku nanti apakah bagus atau malah sebaliknya. Karena saat itu aku masih diselimuti kabut duka kehilangan Papa. Pikiranku tak fokus. Sampai akhirnya saat yang dinanti pun tiba. Pengumuman hasil UN akan segera diumumkan. Dan betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa nilaiku lah yang tertinggi di kelas. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT. Mulutku terasa terbungkam tak bisa bicara apapun. Betapa bangganya Mamaku mengetahuinya. Sempat mendadak sedih ketika aku ingat alm. Papa. Tapi aku yakin Papa pasti sangat bahagia jika tahu hasil UN-ku kali ini meskipun aku tak bisa melihat wajah kebahagiaan Papa lagi. Kenyataannya aku hanya bisa membayangkannya saja.

Suatu hari aku merenung sendiri di dalam kamar. Memandangi sekeliling kamar yang terlihat asing setelah ditinggal pergi. Tetapi masih meninggalkan aroma khas yang gampang dikenali. Tiba-tiba aku terhenyak, menyadari ada beberapa ketidaksesuaian pada diriku. Beberapa itu membuatku ingin merubah semuanya. Sifat malas, apatis, egosentris, dan ketidakpekaanku pada suatu hal apapun membuatku sadar bahwa itu semua tak akan bisa membangunkanku jika dipertahankan. Tak selamanya aku menjadi gadis kecil yang ditimang dan dimanja. Aku sudah dewasa. Dituntut beranjak bangun untuk menggapai asa. Mewujudkan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Dengan tanganku sendiri aku akan mewujudkannya.

Tuhan.. bantu aku. Jadikanlah aku gadis dewasa kebanggaan Mama, Papa. Berikan aku petunjuk untuk menjadi gadis pertama yang bisa diandalkan. Aku sadar saat ini keluargaku tak lengkap lagi bagai burung bersayap satu. Maka dari itu izinkan aku menjadi pelengkapnya. Menjadi sayap yang tak tergantikan. Menjadi penyeimbang hidup nantinya. Agar aku bisa menerbangkan derajat keluargaku setinggi-tingginya. Dan kebahagiaan merekalah yang menjadi tujuanku untuk bertahan.

Cerpen Karangan: Rizka Widd

Cerpen Semangat UN, Selamat Jalan Papa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pahlawan Wanita Sejatiku

Oleh:
Betapa hatiku takkan pilu Telah gugur pahlawanku Betapa hatiku takkan sedih Hamba ditinggal sendiri Siapakah kini plipur lara Nan setia dan perwira Siapakah kini pahlawan hati Pembela bangsa sejati

Inikah Keluarga?

Oleh:
Kupandang langit yang lengkap dengan bulan dan bintang. Aku bertanya pada sendiri, “Ikatan mana yang paling berharga? Apakah itu keluarga atau apa?”. Diriku kembali diam, melanjutkan perjalanan pulang. Kubuka

Sebuah Elegi

Oleh:
Seseorang melambaikan tangan ke arahku sambil setengah meneriakkan namaku. Aku menoleh dan melihatnya duduk santai di bawah pohon mangga, tepatnya di atas sebuah kursi kecil setengah jadi. Aku menyebutnya

Rumah Tak Bertuan

Oleh:
Ada yang berbeda kali ini Pak solihun membawa serta anaknya. Menyisir jalan kampung yang sangat sunyi. Ini masih subuh, matahari pasti belum bangun. Jalan remang-remang itu masih menyisakan suara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *