Seminggu Bersama Ibu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Saya bernama sidiq kayana, sebuah nama yang bersumber dari dua bahasa yang berbeda yang memiliki makna yang berbeda juga, sidiq diambil dari bahasa arab yang artinya benar, sedangkan kayana diambil dari bahasa jawa yang artinya dermawan mungkin dari kedua kata dalam namaku itu terdapat doa dari ibu dan ayahku yang menginginkan anaknya memiliki sifat seperti itu. Dan aku sendiri adalah anak kedua dari pasangan suami istri yang sangat bahagia.

Semenjak SMP aku sudah tidak tinggal bersama kedua orangtua, walaupun berat namun harus tetap kujalani, karena ini keinginan dari orang yang istimewa dalam hidupku, karena alasan pendidikanku juga akhirnya orangtuaku memintaku untuk tinggal dan menetap di rumah nenekku, yang jaraknya kurang lebih 4 jam perjalanan menggunakan motor. Perjalanan yang sangat melelahkan memang. Semasa smp aku tinggal bersama nenekku satu tahun. Karena ada masalah keluarga yang mungkin mengharuskan aku dan kakakku tinggal berdua di rumahku sendiri. mungkin semua itu keputusan yang terbaik untuk keluargaku.

Hampir 2 tahun perjalanan hijrahku di desa orang, aku pun merasa semakin runyam dalam setiap pola pikirku. Perasaan yang kurang mendapatkan perhatian, perasaan yang kurang mendapatkan kasih sayang, semua itu menjadi titik kontroversial dalam hidupku, walupun aku sadari dalam satu minggu setidaknya 2 atau 3 kali orangtuaku selalu menelponku, memberikan perhatian, wejengan dan bertukar pengalaman terhadapku. Termasuk ibuku yang mungkin di dalam hati kecilnya ibuku tak mau berpisah denganku, aku pun sama seperti itu. Namun mungkin dari perspektif orangtuaku yang lebih mengutamakan pendidikan dari pada segalanya yang membuatku dan kedua orangtuaku harus berpisah. Meskipun aku tinggal dengan kakak perempuanku bukan berati segala bentuk kasih sayang yang aku harapkan aku dapatkan, namun aku memahami semua itu karena, wajar saja aku dan kakakku cuma terpaut 1 tahun 8 bulan masih sama-sama anak kecil yang mungkin tidak ada titik dewasa di diri kami.

Sampai akhirnya aku lulus SMP dan kakakku lulus SMA. Dan pada akhirnya kakakku dipertemukan dengan jodohnya, usia yang sangat belia memang untuk ukuran menikah, namun hal ini menjadi wajar karena dia perempuan, kehidupanku mulai menjadi sepi setelah kakakku tinggal bersama suaminya dan aku pun secara otomatis tinggal sendirian di rumahku.

Dari banyaknya sekolah menengah atas aku lebih memilih Madrasah Aliyah sebagai lembaga pendidikanku, bukan tanpa sebab aku memilihnya tapi ada beberapa alasan, selain lagi-lagi itu adalah pilihan orangtuaku. Tapi di sisi lain itu menjadi hal yang baik juga buat pendidikanku, karena pendidikan ini tidak hanya menjanjikan kesuksesan duniaku akan tetapi akhiratku juga.

Aku menjalani pendidikanku luar biasa liku-likunya mulai yang terperangkap dari pergaulan teman, merok*k, membolos hingga aku jarang sekali masuk sekolah di awal-awal aku masuk MA, tapi itu tidak berlangsung lama, setelah aku menginjak di kelas dua aku menyadari betapa pentingnya suatu pendidikan. Aku menjalani dengan mulai aktif di kelas, sampai-sampai hal yang tidak terbesit sedikitpun di benakku aku mulai inginkan, sebagai contoh aku ingin sekali mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Sampai suatu ketika aku memberanikan diri untuk meminta secara terang-terangan dengan kedua orangtuaku. Awalnya memang berat bahkan sepat ada penolakan dari ayahku, hal ini menjadi wajar dan aku pun bisa memaklumi karena alasan biaya yang menyebabkan itu semua. Namun naluri seorang ibu yang mungkin merasa tidak akan pernah tega dengan keinginan positif dari anaknya. Hingga dengan bujukan ibuku ayahku luluh juga. Mungkin ini yang dinamakan alur proposal dalam keluarga sebelum ke posisi puncak harus berusaha di posisi menengah dulu.

Sampai-sampai suatu ketika aku pun terlibat perbincangan dengan ibuku “kalau kuliah mau kuliah mengambil jurusan apa le (sebuatan sayang untuk anak laki-laki jawa)?” tanyanya padaku, “ngambil jurusan sejarah mak” jawabku, “kenapa di sejarah?” tanyanya padaku “karena sejarah itu selain aku suka, sejarah itu unik” jelasku pada beliau, Unik, unik bagaimana maksudnya?” tanyanya padaku “iya mak, sejarah ibarat pengalaman, dan pengalaman adalah guru terbaik dari segala ilmu, dan sejarah itu unik karena sejarah tak akan terjadi berulang-ulang, tapi cukup satu peristiwa saja yang kita perlu ingat” jelasku kembali. “Oh begitu, ya sudah makanya belajar yang rajin, jangan malas-malasan, dan kejarlah cita-citamu itu” pesannya padaku, “baik mak”, jawabku.

Sampai suatu pagi dengan senyum cerah di wajahku aku mulai mengemasi barang-barangku karena hari ini libuaran pertengahan semester, dan aku ingin mengunjungi kedua orangtuaku, terutama ibuku, yang selama ini menjadi tempat curhat terbaik bagiku. Aku ingin menceritakan semuanya pengalamanku selama belajar di MA. Aku mulai berberes di rumahku, maklum saja mungkin hampir setengah bulan aku akan meninggalkan rumahku ini. Sampai akhirnya suara berbunyi. “kring, kring, kring” bunyi suara hpku. aku pun bergegas mengangkatnya “oh dari ibuku” gumamku dalam hati.

“Asalamualaikum mak” sapaku dalam telepon “walikumsalam” jawabnya dalam telepon “ada apa mak?” tanyaku “udah berangkat?” tanyanya kembali “belum mak” jawabku, “buruan berangkat ya” suruhnya padaku “iya mak, beres-beres rumah dulu ya” jawabku “ya sudah, hati-hati nanti di jalannya” pesanya padaku, “baik mak” jawabku. aku pun melanjutkan beres-beres rumahku. Kini tinggal mencuci piring tapi “kring, kring, kring”, bunyi hpku aku melihat telepon dari ibuku lagi, sambil mengangkat telepon.

“iya mak, ada apa lagi?”, tanyaku “udah mau berangkat?” tanyanya balik padaku, “belum mak” jawabku singkat, “cepat berangkat ya” saranaya padaku, “iya mak, lagi cuci piring ini lo” jawabku, “ow ya sudah, nanti hati-hati di jalannya” pesanya kembali padaku. telepon pun aku matikan aku melanjutkan cuci piringku sampai selesai, teryata halaman rumahku belum aku bersihkan aku pun melanjutkan menyapu halaman rumahku, sempai-sampai “kring, kring, kring”, “aku lihat ibuku lagi yang menelepon” sambil bergumam dan mengangkat telepon.

“ada apa mak?” ada apa lagi mak?” tanyaku yang mulai agak sedikit kesal, “udah mau berangkat belum le (sapaan sayang untuk anak laki-laki orang jawa)?” tanyanya kepadaku, “belum mak, emang kenapa sih mak kok tanya seperti itu terus” grerutuku “ya tidak ada apa-apa, “udah berangkat ya cepetan” suruhnyanya padaku, “iya mak” jawabku singkat “hati-hati di jalan” pesanya kembali. “Iya mak” jawabku kembali. Dari kesemua itu mulailah aku merasakan hal yang ganjil dari telepon ibu yang ketiga ini dan mulai merasa heran tumben ibuku seperti itu, aku pun segera berkemas dan meninggalkan aktivitas menyapuku untuk segera pulang.

Di perjalanan aku selalu teringat dengan telepon dari ibuku yang diulang-ulang, tapi aku mulai menghibur diri, “mungkin ibu terlalu kangen denganku maklum aku anak laki-laki satu-satunya, hehe” gumam dalam hatiku. Aku melaju dengan kencangnya maklum usia remaja. Semangat itu timbul dari tantangan. Sampai hampir beberapa kali aku mau mengalami kecelakaan, tapi seolah itu menjadi kejadian yang sangat menantang dalam hidupku. Sampai tidak tersasa yang normalnya 4 jam baru sampai kini cuma 3 jam sudah sampainya di rumahku.

Sesampainya di rumah aku pun menjumpai ibu dan nenekku, dan langsung membereskan barang yang aku bawa maklum mau ditinggal lama makanya banyak juga barang-barang yang aku bawa ke kampung kelahiranku. Setelah itu aku langsung menuju meja makan yang memang sudah tak mampu aku tahan rasa laparnya, aku makan sambil menonton tv, namun hari ini ada yang aneh dengan ibuku, ibuku seolah berbeda di mataku, dia diam seribu bahasa dengan tatapan matanya terlihat kosong, beberapa kali aku makan sambil memandang wajahnya, aku panggil “mak”, beliau hanya tersenyum sambil mengagguk. Aku menjadi semaki bingung, padahal biasanya beliau selalu bertanya tentang keadaan, kondisiku, pengalamanku di sekolah namun seolah hari ini ada gembok pengunci di mulutnya. Tapi hal itu aku hirukan dengan penglihatanku yang tertuju di tv yang masih meyala, sampai suatu ketika ayahku datang. Beliau langsung menuju tv dan mematikan tombol power tvku, “jangan nonton tv dulu”, ujarnya padaku, “emang kenapa pak?” tanyaku, “emakmu tadi barusan kesurupan dan menyebabkan warga sekitar berdatangan”, jelasnya padaku, seolah tak percaya aku pun menatap ibuku kembali, terlihat ibuku hanya tersenyum menatapku. Tapi setelah aku pikir-pikir ada benarnya juga, memang ada yang beda dengan ibuku.
Akhirnya aku pun duduk di samping ibuku aku pun menanyakan beberapa hal, sertaku bercerita beberapa hal, namun seolah tak ada jawaban atau balasan kata selain “iya” atau “tidak” yang membuat bingung diriku.

Tak terasa waktu telah berlalu, keesokan harinya tepatnya hari senin. Aku bangun tidur dan berharap ibuku sudah siuman dan bisa normal kembali. Aku melihat ibuku berjalan mengambil air wudhu di sumur dengan perasaan senang aku pun mengikutinya berwudhu, seolah tampak tidak ada yang salah dengan gerakanya. Tapi lagi-lagi dia menatapku hanya tersenyum tanpa ucapan sepatah katapun, dan pergi berlalu meninggalkanku. Aku pun bergegas berwudhu kalau-kalau ibuku mau solat berjamah bersamaku. Namun sesampainya di ruangan solat aku merasa sudah tertinggal ternyata ibuku sudah memulai shalatnya, “ya sudah aku terpaksa menunggu shalatnya selesai” gumamku dalam hati, dan mulai memperhatikan gerakan shalat ibu.

Namun aku merasa aneh gerakan shalat subuh yang hakiatnya cuma dua kali kenapa menjadi tiga kali, aku peringatkan dengan ucapan Subahanallah, namun ibu tetap melanjutkan hingga empat kali dan beliau berdiri lagi untuk yang kelima kali. Dari situ aku langsung memanggil ayahku, dan ayahku pun menyadarkan ibuku untuk mengulangi solat subuhnya. Ibuku pun melakukanya kembali namun anehnya hal yang sama dilakukan ibu kembali. Sampai aku pun tak kuasa aku peluk ibuku sambil menangis “sudah mak, sudah” ucapku padanya aku pun mengajak ibuku untuk duduk di kursi depan rumah dan meminta ayah untuk menjaganya, dan aku pun sholat setelah itu ayahku memanggilku.
“Emakmu biar bapak yang menjaga, kamu masak dan cuci piring ya” ujarnya padaku, “baik pak” jawabku. Sambil memasak aku pun mulai bingung dengan tingkah laku ibuku. “Sebetulnya ada apa?”, dalam hatiku aku pun selalu berdoa semoga ibuku bisa dalam keadaan normal kembali.

Sudah tidak terasa fajar telah terbit di ufuk timur dan tak terasa pula urusan dapurku telah usai, kini aku pergi ke ruang tamu tempat ayah dan ibuku duduk, “Pak, itu masakannya sudah matang” jelasku, “oh iya. Ya udah kamu makan dulu sana nanti setelah selesai ambilkan makan buat ibumu ya” pesanya padaku. “Iya pak” jawabku singkat.

Selesainya aku makan aku pun mengambilkan makanan buat ibuku, dan pergi ke ruang tamu, sampainya di sana, “makan ya mak” pintaku pada ibuku, ibuku hanya menganggu dan senyum tanda ia setuju, aku pun menyaupainya, dan dihari ini ibu hanya memakan empat sendok makan dan aku menawarkan kembali, ibuku sudah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak terasa fajar sudah menyingsing petanda waktu telah berlalu. Ayahku pun berpesan padaku untuk menjaga ibuku, karena beliau ada urusan dengan pekerjaanya di kebun. Selang beberapa jam nenekku datang, “bagaimana keadaan emak mu?, sudah baikan” tanyanya padaku, “belum mbah” jawabku singkat, sambil tetap di sampaing ibuku, aku pun mengobrol panjang lebar dengan nenekku sampai suatu ketika aku memandangi ibuku yang hanya memandang satu arah menuju jendela, “aku heran ada apa mak?” tanyaku padanya, ibuku hanya diam dan terus memandangi arah jendela itu, aku pun bertanya sekali lagi “ada apa mak?, mak mak” tanyaku kembali padanya, nenekku lalu menyarankanku untuk membawa ibu ke kamarnya sesampainya di kamar ibuku mulai kejang-kejang aku mulai bingung aku pun memanggil ayahku di kebun yang memang tidak terlalu jauh dari rumahku.

Segera mugkin ayahku datang dan bersamaan denganku menuju kamar orangtuaku, di sana aku kaget setengah mati, nenekku pun menangis karena tampak darah yang keluar dari mulut ibu, “ya Allah, ibu kenapa?”, dalam hatiku bertanya-tanya. Setelah ayahku memeriksanya ternyata lidah ibu lecet karena kuatnya kejangan ibu aku pun disuruh ayahku untuk mengambil kain, “cepat ganjal mulut mamakmu biar tidak berbenturan dengan giginya” suruhnya padaku, “baik pak” jawabku, namun selang berapa menit kejang ibu mulai hilang, dan aku pun diminta ayahku untuk pergi ke rumah orang pintar, dan sesampainya di sana aku bercerita tentang kejadian tadi, dan sebelum pulang aku dibawakan satu botol air putih dan berpesan untuk membasuhkan di mukanya, sesampainya di rumah ibuku kejang ibu sudah hilang dan aku pun mengikuti saran orang pintar tadi.

Cerpen Karangan: Muid Sidik
Blog: Karyaopinimuid.blogspot.com

Cerpen Seminggu Bersama Ibu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jorna Yaa Jorna

Oleh:
Hingga detik ini, aku masih saja tetap bungkam tentang kejadian malam itu. Kejadian yang sungguh membuat aku mampu tersorot ke radius masa lalu yang usang, masa yang harus aku

Sahabat Kecilku

Oleh:
Ini adalah hari pertama bagiku menginjakkan kaki di sebuah tempat masa kecilku dahulu. Yaitu tepatnya Kota Pekanbaru. Berbagai memori dan kenangan indah telah ku lalui bersama seseorang yang aku

Surat Kristal

Oleh:
Ini adalah ceritaku, Bintang, yang pada akhirnya harus meninggalkan sebuah surat untuk seseorang yang tak pernah menyadari bahwa cinta itu selalu sangat dekat, walaupun terkadang jalannya adalah jalan yang

Selamat Jalan Piah

Oleh:
Hari ini tepat satu tahun setelah itu, aku tidak bisa lagi bertemu dengannya. Seorang teman yang baik, ceria, lucu, dan apa adanya. Ya. Dialah Alfiyah, sahabatku. Yang biasa kupanggil

Hikmah di Balik Musibah

Oleh:
Sabtu, 20 Juli 2013 seperti biasanya aku bangun pagi karena akan berangkat bekerja. Tapi hari itu lain dari biasanya, aku lebih bersemangat untuk bangun pagi. Rasanya ingin cepat-cepat sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *