Senandung Aulia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 29 September 2015

Mungkin melihat setetes embun pagi adalah hal yang biasa bagi kalian, tetapi, hal itu adalah impian bagiku. Coba kau tebak, mengapa aku memimpikan hal itu? Ya, aku anak tuna netra. Aku tak tahu mengapa aku terlahir buta. Gelap setiap harinya. Tetapi aku sangat bersyukur masih ada orang-orang yang sangat mencintaiku, mereka adalah Bunda, Ayah dan Nenek. Aku tak pernah bisa melihat wajah mereka, aku hanya bisa merasakan kasih sayang yang mereka berikan.

Pernah suatu ketika, saat aku hampir masuk SD, aku pergi ke taman bermain bersama Nenek. Nenek menaikkanku ke sebuah ayunan. Nenek meninggalkanku sebentar untuk membeli air minum, aku tetap asyik bermain ayunan sendiri. Tetapi, tiba-tiba ada seorang anak yang mendorongku dari belakang. Entah kenapa dia melakukan hal itu. Aku terjatuh, aku mencoba untuk mencari Nenek, dan aku mendengar anak yang mendorongku tertawa terbahak-bahak. Aku menangis. Aku mendengar Nenek memanggil namaku. Aku mencoba mencari arah datangnya suara. Tiba-tiba, seseorang memelukku, itu Nenek. “Maafkan Nenek,” kata Nenek.

Aku takut hal itu terjadi saat aku masuk bangku Sekolah Dasar. Aku berbeda dengan teman-teman.
“Tidak Ayah, aku tidak mau sekolah. Aku takut dan trauma dengan kejadian di Taman Bermain! Aku tidak mau sekolah!!!” teriakku.
“Tidak, sayang. Kau harus sekolah, agar kau tidak bo..”
“Biarkanlah aku bodoh!” aku menuju kamar tidurku. Aku menangis sekeras-kerasnya. Aku tidak peduli Bunda mengetuk pintu kamarku.

Biarkanlah saja, aku memang bodoh. Aku tak berbakat. Ayah dan Bunda sangat berbakat dalam bidang musik. Sedangkan aku, menyentuh alat musik pun jarang. Padahal di rumahku ada piano klasik dan sering dimainkan Bunda. Aku benar-benar tidak tertarik dengan musik.
“Senandung, buka pintunya, sayang” ucap Bunda lembut.
“Ada apa Bunda?” tanyaku ketus.
“Kamu sekolah ya, Sayang. Ayah akan mendatangkan guru ke rumah. Jadi, kamu belajar sendiri, tidak akan ada teman yang mengejekmu. Oke, kamu mau sekolah, ya” bujuk Bunda.
“Aku mau! Kapan aku bisa sekolah?” tanyaku antusias.
“Besok pun bisa. Ayo, Bunda bantu mempersiapkan buku-bukumu!”

Akhirnya aku pun sekolah di rumah. Sampai sekarang, aku sudah kelas 5 SD. Dan sampai sekarang juga, aku belum tertarik pada musik. Aku tak pernah suka memankan piano klasik. Aku lebih suka membaca buku, tentu saja buku dengan huruf braille. Tetapi, hari Minggu ini, aku mendengar permainan piano yang sangat indah. Bisa ku tebak itu adalah Bunda. Aku berjalan pelan-pelan ke ruang keluarga, di mana Bunda memainkan piano. Baru kali ini aku tertarik dengan musik.

“Senandung? Tumben kamu ke sini…” ucap Bunda.
“Iya Bunda, aku ingin mendengarkan permainan piano Bunda lagi”
“Oh, kamu rupanya mulai tertarik dengan musik, ya. Kamu belajar bermain piano saja,” tawar Bunda lalu menghentikan permainan pianonya.
“Tidak, Bunda. Aku ini tidak bisa melihat, jadi tidak mungkin aku bisa memainkan piano ini”
“Tentu saja kamu bisa, Senandung. Meskipun kamu tidak bisa melihat, tetapi tentu kamu bisa mendengar dan merasakan, kan? Ayo coba.”
“Tidak Bunda. Aku tidak bisa,” bantahku.
“Sekarang supaya kamu percaya, tutuplah kedua mata Bunda dengan tanganmu. Bunda akan memainkan piano ini dengan mata tertutup!”
“Oke.” Aku menutup kedua mata Bunda. Perlahan aku mendengar suara piano yang indah.
“Apa Bunda benar-benar memainkannya? Atau ini hanyalah rekaman?” tanyaku pada Bunda.
“Tentu saja bukan rekaman, Senandung. Ayo, coba kamu memainkan piano ini, rasakan dan dengarkan suara tuts-tuts piano yang indah ini,” ucap Bunda mempersilakan aku duduk.

Aku mulai memainkan piano. Bunda mengajariku dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Walaupun aku baru belajar sebentar, Bunda sudah menyuruhku memainkan sebuah lagu. Aku mencoba memainkan lagu yang sering sekali Bunda nyanyikan, Kasih Ibu. Aku mencoba merasakan setiap tuts-tuts yang ku tekan. Meskipun ada yang salah, tetapi ternyata aku hampir bisa memainkan lagu itu dengan sempurna.
“Senandung? Kamu hebat, Nak. Berarti sebenarnya bakat musik sudah ada dalam dirimu, tetapi kamu pesimis. Sekarang, kamu bisa, Senandung. Kamu bisa,” puji Bunda lalu memelukku.
“Senandung? Itukah kamu yang memainkannya?” ucap Ayah. Aku tak tahu kapan Ayah datang.
“Senandung… Bolehkah Nenek meminta kamu memainkan lagu itu sekali lagi?” ucap Nenek.

Aku memainkan lagu itu dengan piano. Lagi-lagi ada yang salah. Saat aku selesai memainkannya, semua bertepuk tangan. Aku senang, aku senang sekali. Ternyata gadis buta sepertiku bisa bermain piano. Sejak saat itu, aku sering sekali bermain piano. Bunda sering melatihku setiap hari Minggu. Aku terus berlatih dan berlatih bersama Bunda, padahal saat itu Bunda sedang hamil. Artinya, aku akan punya adik.
“Senandung, Ayah punya berita bagus untuk kamu. Bulan depan, ada Kompetisi Musik di Mall dekat Ayah bekerja. Kamu mau ikut, ya?” bujuk Ayah.
“Apa anak buta boleh ikut?” tanyaku ragu-ragu.
“Tentu saja, Sayang. Ini untuk umum kok.” ucap Ayah.
“Baiklah, aku mau ikut!” ucapku bersemangat.
“Bunda pasti melatihmu lebih giat, Senandung” ucap Bunda tiba-tiba.
Sejak saat itu aku lebih giat berlatih dengan Bunda. Aku heran dengan Bunda, Bunda selalu bersemangat melatihku walaupun Bunda sedang mengandung 8 bulan. Itu berarti, sebentar lagi aku punya Adik.

Hari Perlombaan.
Masih dini hari. Aku bangun karena tiba-tiba aku mimpi buruk. Perlahan aku ke luar kamar, lalu mengetuk kamar Ayah dan Bunda. Tidak ada suara.
“Ayah… Bunda…” panggilku.
“Senandung, kok kamu sudah bangun” terdengar suara Nenek.
“Iya, Nek. Tiba-tiba aku mimpi buruk… Aku takut… Nek, di mana Ayah dan Bunda?” tanyaku.
“Ayah dan Bundamu di rumah sakit. Tadi, Bundamu teriak-teriak karena perutnya sakit. Sekarang, kamu tidur sama Nenek, ya. Besok pagi kamu kompetisi musik, kan? Ayo, kamu harus cukup tidur,” ajak Nenek.

Aku pun tidur di kamar Nenek, dan paginya, aku berangkat ke Rumah Sakit bersama Nenek. Kompetisi Musik dimulai jam 9 pagi, dan aku ke Rumah Sakit dulu sekarang.
“Senandung, ayo ke ruang bersalin, Bunda sudah melahirkan. Kamu punya Adik kembar, Senandung. Perempuan dan Laki-laki” ucap Ayah.
“Wah, asyik… Aku punya adik kembar…”
Aku duduk di kursi dekat Bunda terbaring. Di sampingku duduk Ayah dan Nenek.
“Bunda, nanti aku tidak berangkat Kompetisi Musik, aku mau menemani Bunda,” ucapku. Sungguh, perasaanku tidak enak.
“Tidak, Senandung. Kau harus ikut Kompetisi itu. Harus!” ucap Bunda.
“Nenek akan mengantarmu, Sayang.” ucap Nenek.

Jam setengah 9, aku berangkat ke Mall diadakannya Kompetisi Musik dengan diantar Nenek. Aku menunggu di belakang panggung sambil didandani Nenek. Sampai akhirnya namaku dipanggil pembawa acara. Nenek menggandeng tanganku naik ke atas panggung. Aku duduk di bangku depan piano. Aku menarik napas panjang, memusatkan seluruh konsentrasiku pada piano ini. Tuts tuts piano mulai ku tekan. Musik mengalun dengan lembut. Lagu hampir selesai, aku sama sekali belum melakukan kesalahan. Dan, lagu pun selesai. Aku tidak melakukan kesalahan sama sekali. Aku mendengar tepukan tangan riuh, riuh sekali. Nenek menggandeng tanganku, aku turun dari panggung. Kemudian peserta lain maju.

“Nek, perasaanku sungguh tidak enak. Ayo kita ke Rumah Sakit.”
“Tetapi ini belum pengumuman pemenang. Kita tunggu saja,”
“Tidak, Nek. Sekarang ayo ke Rumah Sakit! Sekarang, Nek!” bujukku.
Aku dan nenek pun segera menyetop taksi lalu menuju Rumah Sakit.

“Ayah, aku ingin bertemu Bunda…” kataku pada Ayah setelah sampai di rumah sakit. Tetapi, yang ku dengar bukanlah jawaban Ayah, tetapi tangisan Ayah. “Ayah? Kok Ayah menangis?”
“Bunda… Bunda… Bunda meninggal, Senandung…” tangis Ayah sambil memelukku.
“Bunda kenapa, Ayah? Kenapa Bunda?” tangisku keras.

Ayah menjelaskan semua. Setelah aku berangkat ke Mall, Bunda mengalami pendarahan hebat dan tidak bisa ditolong nyawanya. Tuhan, kenapa harus Bunda? Kenapa bukan aku saja? Kenapa? Kini, tinggal Ayah, Nenek dan kedua adikku yang diberi nama Nada dan Irama yang menyayangiku.
“Senandung, Bunda akan mendonorkan kedua matanya untukmu, Sayang.” ucap ayah.

Aku membuka mataku. Samar-samar, terlihat seorang lelaki. Inikah ayah? Dan di sampingnya ada seorang Ibu-Ibu paruh baya yang rambutnya sudah beruban. Apa dia Nenek?
“Ayah? Nenek?” panggilku.
“Senandung, kamu bisa melihat, sayang?”
Aku jadi teringat Bunda. “Ayah, aku ingin ke makam Bunda…”
“Besok pagi, Nenek akan mengantarmu, Senandung, Ayah harus menjaga kedua adikmu, Nada dan Irama” ucap Nenek.

Esok paginya, aku pergi ke makam Bunda. Ini kenyataan yang pahit. Aku belum pernah melihat wajah Bunda, kini yang ku lihat adalah makamnya. Aku menaburkan bunga di atas makam Bunda.
“Senandung, ayo pulang, langit mendung sebentar lagi hujan.” ucap Nenek.
Aku pun pulang. Sampai di rumah, ada tukang pos. Katanya, aku Juara 1 pada Kompetisi Musik saat itu. Pak Pos mengirim sebuah piala yang besar, piagam, dan uang senilai 1 juta. Ini piala pertamaku.

Enam tahun kemudian.
Aku sudah berumur 17 tahun. Aku membuka-buka lagi album foto yang memuat foto-fotoku saat aku menjuarai berbagai Kompetisi Musik. Termasuk saat Kompetisi Musik 6 tahun yang lalu. Banyak surat kabar, majalah, TV, membicarakan tentang “Senandung Aulia”, aku. Kini keluargaku benar-benar keluarga musik. Bahkan adikku, Nada dan Irama yang masih 6 tahun pun sudah suka dengan musik.

Bunda, semoga engkau mengetahui semua ini. Nada, kini namanya kerap sekali dibicarakan, baik di Televisi, Surat Kabar, atau Majalah karena permainan Biolanya yang sangat indah meski umurnya baru 6 tahun. Irama, sama seperti Nada. Sedang hangat dibicarakan di Negeri ini karena dia sangat pandai bermain Drum.

Tuhan, aku, Senandung Aulia, aku ingin sekali bertemu Bunda. Aku ingin Bunda mengetahui semua ini. Bunda, aku bisa. Aku bisa, Bunda. Semua karena bimbingan, dukungan dan doamu, Bunda. Semua karena dukungan keluargaku, Keluarga Musik.

Cerpen Karangan: Lintang Kusuma Ratri
Blog: www.duniaku-aneh.blogspot.com

Cerpen Senandung Aulia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Nisa Mengatakan Bisa

Oleh:
Cempreng Dan Cuek itulah karakter utama dari seorang Nisa.. Siswa yang mempunyai Cita-cita Yang tinggi Ingin menjadi sastrawan Yang sukses.. Namun Keinginan Itu Haruslah ia pendam Karena Takut ditertawai

Senyum Terindah Darimu

Oleh:
Senyum itu, bukan sekedar ku menggapai bintang. Bukan sebatas ku berpijak dalam awan. Juga bukan hanya hiasan saat ku lihat hujan. Walau sekilas pelangi, tapi sangat berharga bagiku tuk

Sesal Selalu Datang Terlambat

Oleh:
“Haha… Kejar aku ibu… Aduuuh…” aku tersandung. TIIN… TIIN… Tiba tiba mobil berkecepatan tinggi datang dari kejauhan. “Lily pergi”, ibu mendorongku ke trotoar. Dan… “Aaaaa…” Ibu tertabrak oleh mobil

Ilalang dan Rumah Laba Laba

Oleh:
Kehidupan yang keras seolah menjadi tantangan dalam hidup Rina dan kakaknya Rani. Tinggal di tengah hutan dan jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kehidupan masyarakat. Kehidupannya hanya bergantung dari

Potret Hitam (Part 1)

Oleh:
Di ujung jalan aku melihat seorang anak kecil yang sedang membawa sekeranjang kue dengan wajah berbahagia. Entah apa alasannya yang pasti banyak alasan yang bisa melukiskan senyum manis anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Senandung Aulia”

  1. ummu says:

    bagus banget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *