Senja Untuk Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

Aku Dita, usia ku 12 tahun, aku lupa kejadian terakhir yang menyebabkan saat ini aku harus dirawat di Rumah Sakit, ayah ku bilang aku kemarin pingsan dan sempat mimisan sebelumnya, saat ini ayahku sedang berbicara dengan dokter di ruangan, dokter Senja namanya. Hampir 2 jam, ayah masuk ke kamar ku dengan badan sedikit lemas. Aku melihat raut wajah dan mata ayah yang agak sembab. Ayah menatap ku dan langsung menatapku lalu memelukku.
“Ayah kenapa?”
Ayah tidak menjawab dan masih memelukku. Selang beberapa menit ayah melepaskan pelukanku.
“Apa yang kamu inginkan Dita? Bilang sama Ayah sekarang, Ayah akan penuhi semua keinginan Dita”
“Aku tidak ingin apa-apa Yah, Ayah kenapa?”
“Ayah baik-baik saja Nak, Ayah hanya khawatir dengan kondisimu. Apa ada yang sakit? Mana yang sakit Nak?”
Aku menggelengkan kepala, terlihat jelas kebingungan Ayah saat ini membuatku berpikir ada yang tidak beres.

Saat Ayah pergi sebentar untuk beli minuman, aku diam-diam pergi ke ruangan dokter Senja. Aku masuk ke ruangan nya dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dokter Senja tidak mau berbicara, ini membuatku semakin yakin bahwa ada yang disembunyikan.
“Dok, tolong katakan pada Dita apa yang sebenarnya terjadi. Dita mohon Dok, karena selama ini Dita takut kalau Dita akan sakit seperti Bunda, 2 tahun lalu Bunda Dita meninggal karena penyakit kanker, Dita tidak mau sakit seperti Bunda, Dita tidak mau meninggalkan Ayah, Dita sayang Ayah dan Dita ingin menemani Ayah sampai Ayah tua nanti. Tolong jawab jujur Dok, Dita janji tidak akan marah dan Dita juga janji tidak akan bilang ke Ayah kalau Dokter yang bilang semuanya ke Dita”
Dokter senja menangis, dia bangkit dari kursinya dan memelukku.
“Maafin saya Dita, saya hanya melakukan semampu yang bisa saya lakukan, kamu harus kuat Dita, buktikan bahwa kamu bisa sembuh. Ketakutan yang kamu rasakan saat ini kenyataan. Kamu hampir sama sakit seperti Bunda Tiara. Maafkan saya, untuk kedua kalinya saya tidak bisa berbuat apa-apa”
Dokter Dita menangis, aku semakin terkejut, 2 tahun lalu Bunda ku Bunda Tiara meninggal dan Dokter Senja juga yang menjadi dokter menangani Bunda ku. Ya, ketakutan ku selama ini terjadi juga, aku sakit seperti Bunda. Dan pastinya aku akan meninggal dengan sakit dan cara yang sama seperti Bunda. Aku bahkan tidak bisa hidup lama lagi. Ketika aku tanya ke Dokter Senja, beliau hanya menjawab umur manusia bukan dokter yang menentukan, tapi Tuhan karena dokter sendiri pun juga manusia yang tidak tahu kapan kematiannya sendiri terjadi.

Aku keluar dengan badan yang lemas. Aku tidak kembali ke kamar ku tapi aku duduk di taman Rumah Sakit. Aku masih merenungi tentang yang terjadi semua ini. Beberapa menit kemudian, Ayah menghampiri ku dengan nafas tak beraturan, Ayah memelukku. Aku kembali menangis dan di pelukan Ayah aku merasa sedikit tenang.
“Ayah, bisakah kita ke makam Bunda?”
“Dita kamu harus istirahat Nak, kapan-kapan saja ya ke makam nya Bunda”
“Bukankah Ayah tadi bilang janji akan menuruti semua keinginannya Dita?”

2 jam kemudian, aku dan Ayah ke Makam Bunda. Aku memeluk dan menangis di atas makam. Aku mengingat semua perjuangan Bunda dan Ayah saat Bunda sebelum pergi. Aku merasa sebentar lagi aku akan bernasib sama dengan Bunda.
“Ayah, mungkin Dita akan merepotkan Ayah di akhir-akhir waktu nanti, Ayah akan capek mengurusi keperluan dan pengobatan Dita. Dita akan bernasib seperti Bunda kan Yah?”
“Dita kamu bicara apa Nak? Kamu tidak akan seperti Bunda. Ayah akan berjuang semampunya Ayah, untuk kesembuhan kamu, sama seperti Ayah berjuang saat Bunda mu sakit dulu. Ayah tidak akan membiarkan kamu pergi. Tidak Nak, Ayah janji”

2 bulan sudah aku mengalami sakit ini. Dokter Senja selalu setia merawatku. Bahkan selalu menyemangati ku. Aku sedikit tertarik dengan nya untuk menjadikan beliau sebagai istri Ayah. Karena beliau masih single dan begitu baik, aku ingin beliau menikah dengan Ayah. Sorenya, aku mengajak Ayah untuk pergi ke sebuah pantai, aku ingin melihat air pantai dan ombaknya menjelang matahari terbenam. Ayah mengantarkan aku. Dan ini adalah saat yang bagus buat ku untuk membicarakan tentang pernikahan ayah dan Dokter Senja.
“Ayah, senja nya cantik ya?”
“Iya Dita, senja nya cantik kayak kamu”
“Bukan senja matahari Ayah, tapi Dokter Senja. Dita ingin Ayah dan Dokter Senja menikah. Ayah sebentar lagi Dita pergi, kalau Dita boleh minta sama Tuhan, Dita ingin saat Dita pergi nanti Ayah dan Dokter Senja sudah menikah, sehingga Dita tidak sedih harus meninggalkan Ayah sendiri disini”
“Dita kamu ini bicara apa Nak? Sudah jangan berbicara seperti itu, Ayah hanya mencintai kamu dan Bunda. Tidak ada yang lain. Kamu mengerti kan maksud Ayah?”
“Ayah juga jangan lupa, bahwa Ayah sudah berjanji untuk menuruti semua keinginan Dita. Permintaan Dita cuma satu saja Yah, Dita ingin Ayah menikah dengan Dokter karena keinginan yang pertama Dita sudah mustahil untuk terjadi. Keinginan Dita yang pertama adalah Dita ingin sembuh dan menemai Ayah sampai selamanya, tapi itu tidak mungkin jadi sekarang keinginan Dita hanya satu. Tolong Ayah kabulkan permintaan Dita. Dita sayang ayah dan Dita mau Ayah menikah dengan Dokter Senja”
Aku sudah tidak kuat lagi merasakan sakitnya kepalaku. Aku kembali pingsan. Ayah segera membawa ku ke Rumah Sakit. Dan sampai disana, kondisi ku memburuk. Ayah terus berdoa dan terus berdoa. Ayah masuk ke kamar ku sambil menggenggam tangan ku. Ayah mencium kening ku dan berkata Ayah berusaha untuk mengabulkan keinginan ku.

Perlahan kondisi sedikit membaik. Aku tersadar dan melihat Ayah sedang teridur sambil menggenggam tangan ku. Aku membangunkan Ayah. Ayah bicara bahwa Ayah akan mencoba bicara dengan Dokter Senja tapi dengan syarat, aku harus terus berjuang melawan sakitku. Aku mengangguk dengan senang. Esoknya Ayah berbicara dengan Dokter Senja di depan ku. Dokter Senja terkejut dan bilang tidak mungkin pernikahan itu terjadi, aku kembali drop, dan kondisi ku sangat menurun. Ayah meminta Dokter Senja untuk menerima permintaan ku.

5 hari kemudian, kondisiku semakin memburuk, Dokter Senja datang menemui ku dengan membawa kedua orangtuanya, Ya, beliau dan orangtuanya menyetujui pernikahan itu. Pernikahan dilakukan dan aku sangat bahagia. Sekilas aku melihat bayangan Bunda hadir lalu melambaikan tangannya padaku, karena pernikahanku sudah terjadi aku bisa pergi dengan tenang, karena tugasku yang terakhir sudah selesai, memberikan SENJA untuk AYAH.

Cerpen Karangan: Anis M
Facebook: Niez Nder Nder

Cerpen Senja Untuk Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rantai Kenangan

Oleh:
Suara riak lumpur yang menyatu dengan langkah kaki kian menjauh, dalam rintik hujan terdengar suara beberapa orang di sekitarku saling berbisik. Pandanganku hanya tertuju kepada gundukan tanah merah yang

Dari Musuh Jadi Teman

Oleh:
Hai, namaku Weri, aku punya sahabat bernama Ayu. Kami telah menginjak bangku 6 SD. Kami juga bersahabat selama 6 tahun lamanya. Aku kembali menatap lapangan hijau. Ketika Ayu masih

Akhirnya

Oleh:
Halo namaku sintia ramdhani khairrunnisa bisa dipanggil nisa, aku siswa kelas 6 di sd negeri melati 2. Entah kenapa saat aku menanyakan ayah, ibu selalu menjawab “Ayah lagi cari

Tertulis Kisah Cinta di Batu Nisan

Oleh:
Kehadiranya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.. Andai tidak terjadi kejadian seperti itu apakah aku akan mengetahuinya (aku tidak tahu) — Sudah lama aku seperti ini, aku tidak mampu untuk memulai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *