Senyum Terakhir Kalinya Dari Bunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 15 September 2013

Hai teman, namaku Ririn Diratna, panggilanku Ririn. Aku adalah anak tunggal. Ayah dan bundaku telah lama cerai. Aku di ambil hak asuh oleh bunda. Bagiku, bunda dan ayah sama-sama baik, namun karena hak asuhnya ada di tangan bunda, maka aku harus ikut bunda. Aku memiliki 1 sahabat, namanya Dirra Tuzafirah, panggilannya Zafira. Aku sering memaggilnya Ira atau Zafira.

Pagi ini, aku bangun lebih cepat dari biasanya. Pagi ini, aku bangun pukul 05.30. Selesai mandi, aku menyiapkan makanan dan menyiapkan kebutuhan sekolah, lalu segera membangunkan bunda. “Nda, nda, bangun bunda.” Aku membangunkan bunda. “Eh Ririn sudah bangun.” Ujar bunda. Aku hanya tersenyum. Lalu aku menunggu bunda mandi. Lalu kami sarapan. Setelah itu, aku pamit untuk ke sekolah, sebelumnya pergi menjemput Ira. Bunda mengizinkan. Lalu kuambil sepedaku dan segera ke rumah Ira. Aku membunyikan bel sepeda. Lalu tampak sok-sok gadis yaitu Ira. Dia terlihat buru-buru. “Hai.” sapanya padaku. Aku hanya tersenyum. Di kelas, aku memang pendiam. Hal itu kulakukan semenjak ayah dan bunda cerai. Kami pun pergi ke sekolah bersama.

Di kelas…
“Masih kosong, Ra.” kataku pada Ira.
“Iya, Rin. Mending kita ke rumah pohon aja yuk.” Ajak Ira. Aku hanya mengangguk. Aku dan Ira telah bersahabat semenjak kami TK. Oh iya, kelebihan Ira yaitu, ia bisa mengerti perasaanku, juga sebaliknya. Kembali ke cerita. Setelah itu, kami berdua berjalan menuju rumah pohon yang berada di pertengahan antara tempat wudhu dan masjid. Aku bercurhat dengan Ira. Dialognya seperti di bawah ini.
“Ra..” panggilku
“Ya Rin” jawabnya terlihat senang karena jarang-jarang aku mau bicara.
“Aku sedih deh, kenapa sih ayah dan bunda cerai. Padahal aku gak mau mereka berpisah. Hiks..” Aku menangis.
“Rin, Kamu tuh harus sabar. Setiap orang punya masalah termasuk aku dan kamu. Jangan pasrah gitu dong Rin” Kata Ira menghiburku.
“Tapi Ra, aku gak sanggup nerimanya. Lusa nanti, bunda mau keluar negri. Nanti aku sama siapa Ra. Aku harus jaga rumah, mana nanti aku harus membersihkan rumah sebelum bunda pulang. Itu semua adalah sesuatu yang sangat berat. Hiks.. aku gak sanggup ngejalanin hidup ini Ra. Kamu harus ngerti gimana hidup aku Ra. Aku nanti akan menjadi gembel jika bunda gak pulang-pulang, mana aku harus cari pekerjaan lagi hiks..” kataku panjang. Ira tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia iba melihatku. Sedetik kemudian, Chairel datang menuju rumah pohon. Dia melihatku dengan penuh tanya “Napa loe” tanya Chairel yang tomboi itu. “Bukan urusan kamu, Chai” jawab Ira. Mereka pun berdebat. “SUDAAAH IRA CHAIREL KALIAN JANGAN BERDEBAAT DI DEPANKU AKU MAU TURUN AJA” kataku berteriak. Mereka berdua tampak terkejut karena selama ini aku tidak pernah berteriak. Saat aku berdiri, Chairel menolakku hingga aku terjatuh dari rumah pohon.

Aku membuka mata. Aku melihat sekeliling atap. Tak ada apa-apa. Hanya di sudut ruangan ada tulisan RS Bahagia. Aku sekarang berada di rumkit. Di samping kulihat bunda tersenyum padaku. “Bunda, mana Ira?” tanyaku. “Ira gak dateng.” jawab bunda ketus. “Bunda kenapa?” Tanyaku. “Ririn, bunda capek nungguin kamu, eh malah kamu panggil Ira bukan bunda, anak macam apa kamu?” tanya bunda emosi “Maaf bunda..” Aku tertunduk. “Sudahlah, bunda mau pergi ke luar negeri. Bye bye Ririn” ucap bunda dengan tatapan sinisnya.

2 Tahun Kemudian.
“Ririnnnn…” panggil sosok wanita.
“Bundaaaaa…” aku memeluk bundaku.
“Ah, jangan peluk peluk, sekarang kamu bunda suruh cuci baju bunda. Ngerti?” perintah bunda
“Tapikan bunda bisa cuci sediri, soalnya, sebentar lagi aku mau UN untuk naik ke SMA.” Ujarku.
“Kamu udah berani melawan bunda hah?” Bunda memukulku. Aww, sakit sekali. Bunda memukulku di pinggang dan menamparku. Sungguh menyakitkan. Selama ini, ayah maupun bunda tidak pernah memukulku sesakit ini. Karena itu, aku pun lari dari rumah. Aku menyebrang tanpa lihat kiri dan kanan. Saat aku menyebrang, draam, aku di tabrak oleh truk yag mengangkat batu gunung. Saat itu pula, kondisiku sangat kritis. Aku merasakan banyak darah yang mengalir dan banyak orang yang membawaku ke rumkit terdekat. Lalu ku dengar suara ayah dan bunda berdebat sambil menangis. Aku teringat senyum bunda terakhir kalinya saat aku terjatuh dari rumah pohon. Kini aku melihat namaku yaitu Almh. Ririn Diratna dan Ira, bunda, ayah dan temanku lainnya menangis. Maafkan aku karena aku meninggalkan kalian. Tapi ini semua sudah menjadi takdir bagi aku, dan aku pun telah pulang ke Rahmatullah.

SELESAI

Cerpen Karangan: Riva Fitrya
Facebook: Riva Fitrya
Hai semuanya, namaku Riva Fitrya. Aku adalah murid dari sekolah MIN LAMBHUK. Aku mempunyai 2 orang sahabat bernama Dita Zafira dan Syaza Maziyyatul Azra. Aku juga pernahmenulis cerpen berjudul Dari Musuh Jadi Teman, Perjuangan Lala, dan Misteri Arwah Tari. Menurutku Misteri Arwah Tari cerpennya kurang bagus. Oh iya, cerpeku diatas bagus ngak? kalau bagus Alhamdulillah, kalau gak bagus Wasyukulillah. Sudah dulu ya teman, maaf kalau cerpennya gak bagus ^_^ . Sudah dulu ya teman.

Cerpen Senyum Terakhir Kalinya Dari Bunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


AL

Oleh:
KRIIIING KRIIIIIING KRIIINGGGG Suara jam weker berbunyi dengan nyaring sangat mengganggu tidur pemuda manis bernama Alvin Putra Diangga. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi dengan malas, lalu turun untuk

Untuk Yang Terakhir

Oleh:
Matahari mulai terbenam dari ufuk barat, pelahan-lahan malam pun datang. Udara dingin terasa mulai menusuk. Entah mengapa udara malam ini sangat digin sekali, tiba-tiba rintik air hujan pun turun.

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

Cerita Kenangan

Oleh:
Marta nama gadis itu. Ia berasal dari sebuah kampung di pedalaman di kabupaten Ngada. Ia adalah seorang anak perempuan semata wayang yang terlahir di dalam sebuah keluarga yang sederhana.

Tuhan, Aku Ingin Hidup Lebih Lama Lagi

Oleh:
Nama gue Henny. Gue punya seorang temen, namanya nina. Dia punya penyakit leukimia, harapan buat dia hidup tipis banget. Kata dokter sih sisa waktu dia cuman tinggal 1 bulan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

8 responses to “Senyum Terakhir Kalinya Dari Bunda”

  1. KAPTEN ZAHRA says:

    D: DAPUK! :v lol :v kasian

  2. Riva Fitrya says:

    Thaks Kapten Zahra, udah mau mampir plus komen. 🙂

  3. katty says:

    Wow, cerpenya bagus dan sedih. Trus berkarya ya Riva Fitrya.

  4. Riva says:

    Makasih Katty sudah mau mampir di cerpenku.

  5. salma insani says:

    sedihhh cerpen nya
    lain kalibuat cerpen yang happy ending dong
    sekadar saran aja sihh
    tapi topdech cerpennyaaaaa
    di tunggu yaaa karya karya kamu di cerpenmu 🙂 😉

  6. Riva Fitrya says:

    thanks sarannya ya, Salma…=)

  7. fidella amabel says:

    Cerpennya bagus & sedih terus berkarya Riva Fitrya bikin cerpen yang banyak yaaa aku tunggu

  8. Salma Suhailah Rajwa says:

    Namaku juga salma, koq!!!!

    Riva Fitrya Salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *