Senyuman Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Senyuman selalu menyimpan makna berarti. Kebahagiaan, keramahan, bahkan kesedihan. Semua bisa disimbolkan dalam bentuk senyuman. Senyuman juga menyimpan banyak luka. Jika kamu tak punya apa-apa lagi untuk hidup, bahkan untuk bermimpi pun enggan, setidaknya masih ada senyum yang masih memberimu harapan. Dialah si pertanda kekuatan yang akan membuatmu lebih memaknai arti kehidupan. Janganlah menghilangkan senyummu saat putus asa. Biarlah Tuhan yang jadi penentu takdirmu, akan jatuh atau bertahan. Setidaknya, kau masih bisa berharap dengan terus tersenyum seperti sekarang. Dan aku, terus mengingat kalimat itu agar aku terus bertahan.

Aku menghempaskan diriku menahan sakit pada perut bagian bawahku. Seperti ada yang menusuk-nusuk. Aku menahan jeritan dengan menggigit bibir bawahku. Seseorang membuka pintu kamarku. Aku berusaha menahannya agar tidak membuat khawatir. “Qyra?” Mama menatapku cemas, dia langsung melesat masuk sambil membongkar laci mejaku untuk mengambil obat-obatan yang selama ini ku konsumsi. Dengan separuh kekuatan, aku berusaha tersenyum.
“Rara nggak apa-apa, kok, Ma.”
“Rara harus rajin minum obat. Biar nggak terlalu sakit perutnya. Mama akan usahain biar bisa cepat menemukan pendonor ginjal buat Rara.”

Aku tersenyum, sekali lagi aku membuat Mama khawatir. Sungguh, aku tidak suka menderita penyakit ini. Gagal ginjal yang ku derita dua tahun terakhir, otomatis membuat Mama harus bolak-balik rumah sakit untuk mengantarku cuci darah tiap minggunya. Aku tidak suka sakit, karena membuat Mama khawatir, aku juga tidak suka tatapan kasihan orang-orang. Aku tersenyum hanya untuk mencoba terlihat kuat. Aku melangkah menuju kelasku, sudah tiga hari aku tidak masuk. Aku menemukan sahabat-sahabatku di sana. Vira, Anna, Nola, dan Ilvie. Mereka serempak mendekatiku.

“Qyra? Kami khawatir kamu lama nggak masuk. Kamu sakit apa, sih?” Nola bertanya lebih dulu.
“Aku nggak apa-apa, kok. Selama ada kalian aku pasti baik-baik aja.” Aku tersenyum.
“Iya, sih. Tapi kami tetap khawatir. Kamu sering banget soalnya nggak masuk.” Valen menatapku cemas.
“Qyra, pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus bilang sama kita. Kita kan sahabat.” Anna merangkul bahuku.
“Iya teman-teman, yang penting kita udah kumpul lagi kan.”
“Karena kita udah bareng lagi, yuk makan rame-rame ke kantin.” Ajak Ilvie.

Kami semua tertawa. Dengan gembira kami melangkah ke kantin. Mereka belum tahu penyakitku. Lebih baik seperti ini, daripada mereka memperlakukanku seperti orang-orang yang menatapku kasihan. Seminggu kemudian, aku harus cuci darah untuk ke sekian kalinya. Aku berbaring dengan lemas. Sangat sakit rasanya membiarkan jarum-jarum asing masuk ke tubuhku. Mama masuk ke kamarku dengan wajah sedih.

“Maaf sayang, Mama belum menemukan donor ginjal buat kamu.” Kata Mama sambil menangis menggenggam tanganku.
Aku tersenyum, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk menguatkan diriku. “Nggak apa-apa, Ma. Rara masih kuat, kok.” Beberapa hari berlalu, aku merasakan perutku semakin sakit. Tetapi aku harus bertahan karena aku harus ke sekolah. Satu hal yang pasti aku tidak mau membuat orang lain khawatir. Seperti biasa aku disambut teman-temanku. Sejenak aku melupakan rasa sakitku. Ini jauh lebih membahagiakan untuk sisa-sisa terakhir dalam hidupku. Aku sudah merasakan waktuku hampir habis.

“Teman-teman, makasih sudah mau jadi temanku, ya. Kalian adalah hal terindah yang ada di hidupku.” Kataku seraya memeluk mereka. “Kenapa Ra? Kok kamu kayak mau pergi gitu?” tanya Anna khawatir. Aku tersenyum, mendadak rasa sakit itu kembali merongrongku. Aku terjatuh menahan sakit, Ilvie menangkap tanganku. Aku memandang mereka yang tengah menatapku khawatir. Tatapan yang paling ku benci.
“Ra kamu kenapa?” Nola menggenggam tanganku.
“Aku, aku..” Tatapanku semakin nanar. Sakitku semakin tidak tertahankan. Hingga semuanya terlihat menguning, kabur, dan tiba-tiba menjadi gelap.

Aku membuka mataku. Dinding putih dan tatapan khawatir menyambutku seketika. Aku tidak mau waktuku berakhir dengan melihat kesedihan orang-orang yang ku sayangi.
“Qyra? Kamu sudah bangun sayang?” suara Mama yang pertama ku dengar.
“Ra, kok kamu nggak bilang tentang penyakit kamu?” Vira tepat di sampingku bertanya.
“Karena aku nggak mau membuat kalian khawatir.”
“Tapi kan kami sahabat kamu, kita kan janji akan selalu terbuka dengan semua hal.” Ilvie menggenggam tanganku.
Aku tersenyum seraya menggeleng, rasa sakit masih berdenyut di perutku. Membuatku meringis menahannya.

“Ada yang sakit, Ra?” tanya Anna. “Nggak, waktuku mungkin nggak lama lagi. Jadi aku ingin menjalani sisa waktu terakhirku bersama orang-orang yang ku sayangi.”
Mereka semua menatapku terkejut. “Rara nggak boleh ngomong gitu sayang. Mama akan usahain mencari donor ginjal buat Rara, Rara harus kuat.” Mama menangis menatapku.
“Iya, Ra. Kita janji harus tetap bareng, kamu nggak boleh pergi ke mana-mana.” Teman-temanku ikut menangis.
Aku tersenyum. “Tolong jangan menangis. Aku nggak mau pergi dengan meninggalkan kesedihan. Tolong tersenyum untukku, biar aku tidak melihat kesedihan saat aku pergi.”
Mereka menatapku, Vira yang lebih dulu tersenyum. Di susul yang lain.

“Ra, apa pun yang terjadi, kamu adalah sahabat terbaik kita. Kita semua sayang sama kamu.” Valen memelukku.
“Rara anak Mama, Mama rela ngelakuin apa pun buat kesembuhan Rara. Tapi kalau Rara udah mau pergi Mama ikhlas.”
Aku tersenyum dan air mataku menitik. “Ma, Rara bahagia bisa punya Mama terbaik kayak Mama. Rara sangat sayang sama Mama.” Aku menoleh menatap teman-temanku. “Kalian, kalian sahabat terbaikku. Makasih sudah membuat banyak hal indah dalam hidupku. Maaf, karena aku nggak bilang apa-apa soal penyakitku. Tapi..”

Aku terhenti karena melihat seseorang yang berdiri di ujung kakiku. Dia memiliki sayap di punggungnya. Dan wajahnya.. aku tidak bisa melihat wajahnya. Tetapi dia mengangguk ke arahku. Apakah ini sudah waktunya? “Aku ingin kalian selalu mengingatku, tersenyum mengingat namaku, biar aku bisa tersenyum di atas sana. Aku sayang sama kalian, terima kasih untuk waktu terindah yang ku lewati bersama kalian. Terima kasih, terima kasih..” Aku merasakan tubuhku meringan, beban tubuhku terasa ditarik. Tapi aku masih mampu tersenyum. Aku melihat wajah orang-orang terkasihku, mengingat senyuman mereka. Sakit yang ku rasakan berangsur hilang, bersamaan dengan beratnya kelopak mataku dan akhirnya menutup untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Noor Hidayah
Facebook: Noor Hidayah

Cerpen Senyuman Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Baru Sahabatku

Oleh:
Selamat pagi dunia, aku sangat bahagia karena ini pertama masuk sekolah SMA setelah libur panjang semester 1, semuanya tampak sama, kecuali salah satu dari seorang murid yang duduk di

Aelan

Oleh:
Aura bahagia dan berseri-seri nampak memancar dari wajah seorang gadis kecil. Dengan seragam putih-merah, dia melangkah pasti sambil mengayun-ayunkan tangannya. Dalam hatinya bertaburan kegembiraan sebab baru kali ini dan

Kapan Cahaya Nyata Itu Datang, Bu

Oleh:
Pernahkah kalian merasa seperti gila? Ya mungkin kalian belum dan aku sudah. Aku merasa diriku sudah gila, aku tertekan karena keadaanku yang seperti ini. Aku seperti hidup di dua

Cinta Tulus Shelly Untuk Rashky

Oleh:
Ketulusan cinta kadang membuat hati yang mudah terluka menjadi sekeras baja. Meski disakiti berulang kali, namun cinta itu selalu tumbuh berkembang menjadi kasih sayang. Pengorbanan demi pengorbanan dilakukan untuk

Wanita Hebat

Oleh:
Langit cerah menyambut semua yang ada di sini. Udara pagi menyapa lapangan yang penuh dengan lautan manusia. Rumput bergoyang seirama dengan angin yang berhembus. Warna putih bercampur hijau mendominasi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *