Senyuman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Langkah kakiku terhenti di depan sebuah kalender samping kamarku. Aku melihat ke dalam kalender tersebut dengan tatapan tajam. Mataku tertuju ke salah satu tanggal di kalender tersebut. Aku berusaha mengingat sesuatu.
“Sungguh tidak terasa,” gumamku.
Entah apa yang ada di pikiranku. Pikiranku membawaku ke sebuah tempat. Ya, itu gudang rumahku. Aku berhenti di depannya. Tanganku merayap ke dalam sebuah lemari hendak mencari sesuatu yang ada di pikiranku.
“Dapat” ujarku saat menyentuh sebuah benda biru seperti buku.

Album foto begitu orang-orang biasa menyebutnya. Dengan segera kubawa album foto tersebut ke luar rumah.
Cuaca yang indah dan beberapa alunan cuit burung gereja membuat damai keadaan sekitar rumahku. Mataku tertuju ke sebuah ayunan. Ayunan yang dibuatkan ayahku khusus untukku. Aku duduk di atasnya mencoba menggerak-gerakkannya agar ada udara dapat mendinginkan badanku yang sebenarnya sudah dingin.

Aku membuka album tesebut di depannya tertulis “22 desember 2011” yang berarti tanggal album itu dibuat. Helai demi helai halaman album foto kubuka. Album tersebut adalah album yang diambil di sebuah ambulan. Tiba-tiba tanganku terhenti ketika melihat seorang wanita dengan lekukan di bibirnya. Lekukan yang sangat manis. Lekukan yang kurindukan.

“Dirga, bangun waktunya sekolah.” Sebuah suara berusaha mengajakku keluar dari perjalananku berkelana di dunia mimpi.
Aku mencoba membuka mataku yang terasa berat. Samar-samar aku melihat seorang wanita yang tinggi, bermata coklat, dan berambut lurus sedang mengelus pipiku
“Selamat pagi Dirga.” Wanita itu menyapaku dengan senyuman manis di bibirnya.
“Selamat pagi mama,” aku membalas lembut sapaannya.
Mama begitu aku memanggilnya, seseorang yang dikaruniakan Tuhan kepadaku sejak aku lahir ke dunia sampai saat ini. Seseorang wanita yang akan selalu menjagaku.

Aku segera mengucap syukur kepada Tuhan yang masih memberiku nafas kehidupan. Selesai berdoa dengan cepat aku menuju ke kamar mandi. Tumpahan air membuat bising kamar mandiku saat itu.

Cukup lama aku mandi saat itu. Aku segera turun ke tempat mama menyediakan makanan yang sehat dan bergizi kepadaku.
“Bagaimana kakinya, Dirga?” tanya mama tiba-tiba dari arah meja makan.
Aku melirik kearah perban di lutut kananku. Perban yang menutupi luka akibat aku terjatuh semalam. Sekaligus perban yang membuatku lama mandi di hari itu.
“Sudah baikan kok ma.”
Aku melihat ke arah meja, mama telah menyediakan dua buah roti yang dilapisi selai kacang kesukaanku dan segelas susu. Dengan cepat aku merampasnya dari atas piring dan mengoyaknya menggunakan gigi taringku.

“Nih” mama menyodorkan kertas amplop kepadaku yang di belakang amplop tertulis nama lengkapku Dirgantara Columbus.
Aku sudah bisa menebak surat tersebut untuk apa, pasti ibu akan menyuruhku memberikan kepada wali kelasku. Biasanya di surat itu mama bertanya tentang keadaanku di sekolah. Dalam seminggu setidaknya dia mengirim satu surat kepada guruku.

Mama tergolong orang yang sibuk, dia biasanya pulang kerja sekitar jam 7 malam yang menyebabkan dia tidak bisa mengontrol Dirga. Sejak kecil Dirga sudah dirawat oleh Bibi Estida. Bibi Estida adalah seorang babysitter. Tapi karena dia tidak memiliki keluarga maka ibu mengontraknya untuk bekerja dengan ibu selama hidupnya.

Waktu menunjukkan pukul 06.30. Waktu yang tepat untuk segera melaksanakan kewajiban sehari-hari dikarenakan keadaan Kota Medan yang macet ketika pukul tujuh.
Aku dan ibu segera menuju ke mobil hitam ibu yang terparkir di garasi. Rumah pasti akan sangat sepi. Hanya Bibi Estida yang akan berada di rumah, sedangkan ayah sedang menunaikan tugasnya sebagai seorang kepala keluarga. Pekerjaan mengemudikan pesawat membuatnya tidak dapat bersama keluarga setiap hari.
Mama segera memacu mobilnya ke sekolahku.

Hanya perlu 30 menit kami sudah sampai di sekolahku. SD Damai Bangsa begitu nama sekolahku.
“Jangan main sepeda dulu ya Dirga” pesan mama.
Aku teringat kejadian semalam akibat berkejar-kejaran menggunakan sepeda membuat lutut sebelah kananku harus merasakan sakit seperti ini.
Aku hanya mengangguk kepada ibu dan mencium tangannya yang lembut. Dengan segera aku menuju ke kelasku. Kelas 5A. Kelas yang sangat kucintai
Kelas yang sangat indah menurutku dengan cat dinding berwarna biru yang aku sukai. Kelas yang sangat harum karena pengharum ruangan di sekeliling kelas.
Hari itu kami tidak belajar karena besok kami akan segera mengambil rapor kami. Hanya sedikit arahan dari wali kelas kepada kami selama satu hari tersebut

“Kring kring,” bel sekolah berbunyi menandakan waktunya para murid untuk beristirahat. Seperti biasa aku bersama temanku menuju ke parkiran sepeda. Kali ini tidak ada teman yang menemaniku. Mataku tertuju kepada sepeda berwarna biru. Sepeda sahabatku Oscar. Aku menaikinya tanpa permisi dulu kepada yang punya.

Sekolahku yang lebar memungkinkan kami muridnya untuk berkeliling sekolah menggunakan sepeda sewaktu istirahat. Guru-guruku tidak mungkin marah kepada kami. Kata mereka itu adalah hal yang bermutu daripada kami hanya menghabiskan waktu di depan gadget kami masing-masing.
Aku melupakan nasihat ibu, dengan cepat aku bersepeda melintasi kelas-kelas milik siswa SD Damai Bangsa.
“Bruk,” aku menabrak pohon di dekat kelas 6 B.
“Makanya jangan nakal” Suara yang tak asing terdengar di telingaku.
Aku menatap dirinya badannya yang hanya berbeda tinggi sekitar 4 cm denganku. Asti nama gadis itu. Di tangannya terdapat sebuah bungkusan rapi yang cantik menurutku.
Asti menginstruksikan ke teman-temannya agar membantunya mengangakatku ke ruangan UKS. Asti adalah dokter remaja di UKS itu. Dengan lembut dia mengobati lutut kiriku yang juga luka akibat kecelakaan kecil tadi. Sekarang kedua kakiku harus menderita kesakitan akibat ulah nakalku yang tidak mendengar nasihat mama.
Asti menelepon ibuku. Kata Asti lebih baik aku pulang karena hari ini memang tidak belajar jadi lebih baik aku istirahat di rumah.

“Asti itu kotak apa?” tanyaku kepada Asti selagi menunggu mama menjemputku.
“Kotak apa ya?” Asti menggodaku.
“Jawab dong.” Aku memelas kepada Asti.
“Masa kamu lupa hari ini hari ibu tau.” Asti berteriak sedikit kencang di telingaku.
“O, iya” Aku menepuk jidatku.
Selain hari ini adalah hari ibu. Mamaku juga lahir pada hari ini 35 tahun yang lalu. Aku belum menyiapkan satupun kado kepada ibuku. Tiba-tiba aku teringat ayah mengatakan dirinya akan pulang hari ini.
“Sebuah momen yang pas.” Gumamku.

Tak berapa lama mama menjemputku. Waktu masih menunjukkan pukul 12 siang
Aku bingung kenapa mama yang menjemputku bukannya dia bisa menyuruh Bibi Estida menjemputku. Aku naik ke dalam mobil dengan sedikit pincang. Wajah ibu kelihatan sangat lelah walaupun begitu dia tetap tersenyum.
“Selamat siang, ma” sapaku kepada mama.
“Selamat siang juga Dirga.” Mama mengelus rambut hitamku sambil mengeluarkan senyuman manisnya.
“Ma, papa hari ini pulang kan?” tanyaku
“Hmm mama kurang tahu Dirga” balasnya singkat.
Tak berapa lama kami tiba di rumah. Ibu langsung melemparkan badannya ke tempat tidur.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore biasanya ayah kalau sudah berjanji pulang dia akan pulang sekitar jam itu. Tapi kali ini ayah belum pulang juga. Aku cukup khawatir.
Tiba-tiba kulihat seorang pria mengetuk pintu rumahku.
“Ayah” teriakku.
Pria itu tersenyum kepada. Dia adalah ayahku. Wajahnya sangat mirip denganku.
“Dirga, papa gak bisa lama-lama masih mau kerja lagi” ujarnya
“Bukannya hari ini hari ultah ibu, pa.” Kataku.
Dia hanya tersenyum kepadaku lalu memberikan sebuah surat kepadaku.
“Sampaikan ke ibu” ujarnya.
Dengan cepat ia menuju ke mobil birunya dan berlalu pergi.

Aku mengintip surat tersebut di dalmnya tertulis ‘SURAT CERAI’ entah apa artinya aku hanya tersenyum melihatnya. Aku teringat beberapa tahun lalu papa juga memberikan surat ke ibu surat yang berisitiket liburan ke Amerika.
Dengan senyum aku menyampaikan kepada ibu. Ibu juga menerimannya dengan senang.
“Dari ayah bu” ujarku.
Ibu hanya tersenyum menanggapinya. Ibu membuka amplop tersebut dengan perlahan. Seketika senyum di bibir ibu menghilang. Ibu memegangi kepalanya lalu pingsan.
Aku segera memanggil Bibi Estida. Dengan cepat Bibi menelepon ambulan. Aku menatap ke arah ibu dengan cemas, dokter di dalam ambulan berusaha menyelamatkan nyawa ibuku.

Tiba-tiba ibu siuman. Badannya sangat lemas tapi masih saja ia berusaha menyampaikan senyuman indahnya. Badannya semakin dingin. Aku hanya melihat ke arah dan dokter tak mampu menatap ibuku.
“Maaf ibumu meninggal nak” ujar dokter itu kepadaku.
Aku hanya terdiam mencoba mengingat apa yang terjadi. Senyuman itu ternyata senyuman terakhir ibu kepadaku.

Sekarang aku hanya memegangi surat tersebut. 5 tahun sudah berlalu. Aku sudah paham apa itu cerai. Ternyata ayah minta cerai kepada ibu dan meminta hak asuh diriku dipegang oleh ayahku.
Ingin rasanya aku segera lompat dari lantai dua rumahku agar aku bisa bersama dengan ibuku di surga. Tapi aku rasa itu tidak mungkin ada sebuah hal yang menghalangiku. Senyuman ibu, senyuman yang selalu membekas di hatiku. Senyuman yang melarangku untuk melakukan hal bodoh.
Andai aku mengerti isi surat itu tidak akan kuberikan kepada ibu. Yang ada sekarang hanya penyesalan. Tapi senyum ibu tetap ada bersamaku. Senyuman yang menghangatkanku.
“Selamat Hari Ibu, ma” Hanya kata tersebut yang dapat kukatakan saat itu.

Cerpen Karangan: Kevin J D Pakpahan
Facebook: kevin jeremy dirgantara pakpahan
Cerpen ini aku ikutkan dalam lomba cerpen di sekolah dan mendapatkan juara 1
IG: kevin_pakpahan.24

Cerpen Senyuman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lembah Hijau

Oleh:
“di sebuah lembah kecil yang jauh dari jangkauan manusia, hiduplah sekelompok peri peri yang sangat cantik dan baik. Tugas peri-peri itu beragam, dari yang menjaga keseimbangan ekosistem bumi, menjaga

You’re The Only Pride Sister!

Oleh:
“Putriii!!” suara mama memanggil. “Ya ma sebentar”. Putri segera turun ke bawah untuk menemui mama, papa, serta kakaknya di meja makan. “Hari ini apa menunya Ma?” ujar Kakaknya Gigih.

Sepeninggal Ayah

Oleh:
Budi hanya bisa tertunduk dan membisu menatap jazat ayahnya. Hatinya diselimuti rasa sedih dan duka yang mendalam. Mulai hari ini dia tak akan pernah lagi melihat otot-otot kekar ayahnya

Petaka Tahun Baru

Oleh:
Malam pergantian tahun ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya. Sorak sorak kemenangan melampaui batas akhir hidup seorang penjual kerupuk di desa Jingga. Tak jauh dari kisahku, Maharani. Aku seorang

Semburat Senyum

Oleh:
Di pagi hari yang cerah, aku bangun dari tidur malamku. Aku bangun dan menghela nafas berat. Hari ini sebenarnya adalah hari spesial, namun aku hendak melupakannya. Hari dimana aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *