Sepasang Bola Keajaiban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 May 2013

Seutas cahaya menembus bingkai kayu jendela memasuki ruangan berhiaskan wallpaper dengan background ungu yang memenuhi dinding ruangan bak kamar sang permaisuri, tampak lampu hias yang masih menyala, sofa putih menambah akrab suasana kamar, selimut halus bertema kartun Manga menutupi sebagian tubuh gadis, berkaoskan piama elegan dengan rambut terurai panjang.

Alarm yang tak bersahabat telah merengek menandakan mentari siap menuntun langkah baru, gadis berpiama elegan bersiap menuju hari-harinya yang selalu membuatnya bosan, hidup tanpa ada perhatian kedua orang tuanya yang lebih mementingkan sebuah urusan perkerjaan. Telah 2 minggu, sepasang insan sibuk meninggalkan anaknya, hanya tinggal dengan seorang pembantu yang baru saja di rekrut sekitar satu bulan yang lalu.

Teringat satu bulan yang lalu di mana si tua compang-camping, tak terurus, mempunyai goresan di pipi kanannya, terluntang lantung di jalanan ibukota dengan membawa tas biru yang tak seberapa besar, hingga akhirnya sorot lampu mobil menghampar pandanganya yang hampir saja membuatnya celaka. Sepatu high heels merah yang pertama terlihat dari mobil mewah tersebut menghampirinya dengan keadaan cemas yang kontras dengan penampilanya. Dengan gemetar dan ketakutan si tua itu menjawab tertatih-tatih, bingung, dan malu, membuat wanita ber high heels menjadi penasaran. Melihat miris si tua itu tak tega rasanya, dengan besar hati diajaknya ke istana mewah. Keistimewaan tersendiri yang membuatnya menjadi lebih berarti di dunia walaupun hanya sebagai pembantu rumah tangga. Bi Dijah ya itulah sebutan si tua parubaya yang kini tinggal di istana kolongmerat tersebut.

Di meja makan telah tersedia nasi goreng dengan omelet garing kesukaan si Mila, susu kental manis yang biasa disiapkan serta buah apel sebagai pelengkap sarapan telah hidang. Gadis remaja berpakaian putih abu-abu menuruni tangga putar dari lantai dua, bersiap menuju ruang makan. Dilahapnya makanan yang telah disiapkan, tanpa terima kasih dan salam kepada pembantunya ia bergegas memanggil Pak Budit sopirnya agar cepat berangkat. Ya itulah kebiasaan setiap pagi yang dialami Bi Dijah selama bekerja hampir satu bulan itu.

Kring…..kring…. kring…..
Pak satpam hampir saja menutup pintu gerbang sekolah, segeralah Mila bergegas masuk kelas. Huft… untung saja masih belum telat. Di dudukinya bangku nomer dua dari depan pojok, seketika masuk Bu Evy menerangkan hukum Wurzt Kimia, dan papan tulis yang putih bersih menjadi penuh dengan goresan indah rumus yang terpampang.

Mentari terik tepat di atas kepala menambah riwuh kemacetan ibukota, tak terasa senja menaungi daratan, seketika pula mentari telah lelah singgah di peraduanya. Mobil silver mewah beradu di jalanan ibukota mengantarkan sang tuan putri kembali ke istana. Segera Bi Dijah lari terbirit-birit membuka pagar rumah setelah terdengar bunyi klakson kereta kencana. Turun seorang putri dengan wajah culas membawa tas selempang warna ungu. Berjalan menuju pintu utama, dilihatnya mobil mercedes hitam milik kedua orang tuanya yang telah hadir kembali di garasi depan. Senang dalam batin namun sesak di hati setiap bertemu dengan kedua orang yang sangat ia rindukan telah hadir dalam pelukan. Belum puas menikmati kehangatan, mereka berdua bergegas kembali melaksanakan ilham sekitar 2 minggu ke depan di Singapura. Sesak di hati Mila belum sempat terobati kini mulai kambuh kembali.

Makan malam siap hidang di atas meja makan klassik yang telah di tata rapi, seharusnya malam yang indah itu dia habiskan dengan kedua orangtuanya, namun kini dia hanya sendiri ditemani seorang pembantu.
Pyar….pyar….
Terdengar bunyi menggeram dari dapur belakang, Mila yang sedang menikmati kesendirian makan malamnya melihat Bi Dijah membereskan pecahan piring koleksi bundanya yang telah menjadi butiran sampah yang siap di buang. Betapa marahnya Mila saat itu, hingga Bi Dijah meneteskan air mata tak kuasa mendengar cacian dan makian dari sang majikan.

Malam yang kelam menyimpan sejuta kisah lalu mencurahkanya ke elok fajar, seperti biasa dan setiap harinya, seragam putih abu-abu yang seharusnya siap di atas meja pakaian belum nampak. Terdengar suara gedoran pintu keras di kamar belakang dekat teras, rupanya si tua masih belum bersiap menjalankan tugasnya.

Seragam putih abu-abu yang lusut kini menjadi rapi dan siap pakai, diantarkanya ke Mila segera. Mila melepas kaos yang dia pakai dan menggantinya dengan seragam yang baru saja disetrika. Bi Dijah seketika kaget dan teringat oleh seseorang yang mempunyai tanda lahir persis dengan Mila di bawah pundak sebelah kanan yang ukuranya tak lebih besar dari permen kiss.

Beranjak 17 tahun yang lalu, seorang ibu menimang-nimang anaknya…
“Timang- timang anakku sayang”
Begitu cinta dan sayangnya sang ibu, pagi siang malam ia curahkan hari-harinya bersama putri kecil yang sangat lucu dan menggemaskan itu, tapi kini sang putri tak ada di sampingnya lagi, tak menemaninya di saat kesepian dan rindu akan belaian kasih sayang. Sepi sunyi sendiri… ya itulah sekarang yang diraskan bi Dijah setelah lama tak berjumpa dengan putrinya, mungkin jika ia masih ada akan sebaya dengan putri sang majikan.

Malam yang dingin merasuk jiwa yang hampa membuat si tua parubaya merindukan sesosok putri kecilnya dulu yang selalu ia timang jika ia kedinginan, lagu bersamanya membuat hati merindu pada tangisan dan tawa yang selalu menghiasi hari-harinya. Badanya yang kini lebih kurus, penyakit lama yang selalu menderanya menjadi beban tersendiri. Dilihatnya foto usang, balita mungil tertawa ceria didekapan wanita dengan senyum indah menghiasi foto lama itu. Tak tertahan rindu yang selalu menggema dalam hati, ingin sekali memeluk putri kecilnya itu, tapi apalah daya. Tetesan air mata tak terhitung membasahi pipi tak henti-hentinya..

Terdengar suara klakson dari depan berderu kencang, tak sopan rasanya bertamu pada larut malam seperti itu. Turun beberapa teman Mila dari mobil pajero yang di parkir tepat di depan garasi. Dari bilik dapur Bi Dijah mengintip sambil menghitung berapa jumlah teman Mila yang akan dibuatkanya minuman. Delapan cangkir teh hangat siap hidang menemani dinginya malam. Dengan daster kumal dan wajah sayu, Bi Dijah keluar ke ruang tamu untuk menyuguhkan minuman hangat. Seketika teman-teman Mila memandang jijik si tua parubaya itu. Lalu diusirnya Bi Dijah dari rumah itu.

Dengan berat hati si tua parubaya itu meninggalkan istana kolongmerat, berjalan menelusuri kegelapan malam yang sunyi dan hampa. Hingga menemukan mushola, walau nampak kecil dari luar, di dalamnya mengisahkan suasana yang damai. Bi Dijah memutuskan tinggal sementara di mushola yang sederhana itu.

Lampu hias warna-warni mengiringi malam yang sendu dengan didampingi lagu maroon 5, secangkir anggur menemani malam sang tuan putri yang tak lagi sendiri. Lengkingan tawa menghiasi kedelapan remaja. Berhura-hura di sebuah diskotik ternama di Jakarta. Lupa akan sang dewi malam sampai berganti fajar shubuh. Mobil pajero putih melaju kencang di jalanan ibukota. Menerobos lampu merah, meyalip sisi kiri, ugal-ugalan tak terkontrol arah. Hingga akhirnya menabrak pohon tua di jalanan sepi. Kedelapan remaja beradu nyawa. Mila yang duduk di bagian depan mendapat benturan yang sangat keras di sekitar kepala.

Tidur selama 4 hari tak sadarkan diri, bau obat bius merasuk hidung. Didengarnya suara isak tangis sang wanita di dekatnya.
Dalam batinya “Di mana ini.. kenapa gelap, kenapa tak ada warna dan cahaya, kenapa di perban mataku, kenapa aku… kenapa aku tak bisa melihat siapapun di sini, gelap gelap gelap….”

Terdengar suara dokter bicara kepada si wanita yang sedang menangis itu, si Mila di suruh duduk. Perlahan-lahan perban yang ada di mata di buka, namun setelah di buka hanya gelap yang ia lihat. Sedikit cahaya merasuki bola mata, sedikit demi sedikit, hingga semuanya terang, terlihat cahaya utuh. Seseorang berkemeja putih, seorang wanita yang tepat berdiri di depanya, lalu disampingnya itu ya itu ayah Mila, lalu di depanya itu sang ibunda. Mereka hadir kembali ke pelukan sang anak yang rindu akan dekapan kasih sayang.

Kini usia Mila tepat 17 tahun, gadis kecil telah berubah menjadi seorang remaja jelita. Kesepakatan awal Keluarga Bagaskara untuk membuka semua kebenaran yang telah di simpan rapi sejak 17 tahun yang lalu. Ya Mila sekarang bukan anak kecil lagi, mentalnya telah siap menerima kebenaran walaupun itu pahit. Kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung dari kedua insan tersebut, membuat syok bagaikan tamparan keras baginya.

Berkisah di sebuah Panti Asuhan Srikasih, bayi mungil tanpa dosa merengek kehausan. Sepasang suami istri nan harmonis terpikat olehnya. Sang bayi malang tersebut telah menjadi ratu kecil dan menjadi bagian dari keluarga besar Bagaskara. Mila Bagaskara itulah nama bayi mungil yang kini telah menjadi remaja belia.

Pati, Jawa tengah. Mila pagi itu di antar oleh sopir pribadinya menuju panti asuhan yang dulu pernah menjadi masa lalunya. Ditanyanya petugas yang ada di sana, terdengar langkah kaki berdecak membawa sebuah kotak usang berisikan foto-foto lama. Foto kenangan seorang wanita dengan bayi mungil didekapanya.

Nglegok, Blitar, Jawa Timur 14 Mei 1996, tulisan yang tertera di balik foto usang menandakan kejadian indah yang pernah terjadi waktu itu. Di tengah perjalanan menuju tempat, mercedez silver yang ditumpangi bersama sopir pribadinya mogok di tengah jalan. Membuat Mila segera mengambil keputusan, akhirnya ia memilih untuk naik kereta menuju Surabaya lalu naik bis ke Blitar sendirian.

Dilihatnya foto-foto manis itu, dalam batinya “apakah ini ibuku, di mana dia sekarang?”. Ia melihat seorang bayi di gendong oleh seorang wanita yang backgroundya adalah Candi Penataran. Ia berfikir sejenak “apakah dia sekarang masih tinggal di Blitar, apakah rumahnya tak jauh dari background foto ini?”. Sejuta penasaran masih hinggap di hati Mila.

Sampai akhirnya ia telah tiba di terminal Blitar. Dengan membawa tas selempang merah yang tak seberapa besar dan box kecil ditanganya, Mila meyusuri jalanan terminal seperti orang kebingungan. Seseorang mencurigakan datang menghampirinya, ia ingin menjambret tas yang di bawa Mila. Belum sempat mengambil tas, box yang ada di tangan Mila jatuh lalu berserakanlah isinya. Si Preman itu mengambil salah satu foto yang ada di bawah, seperti mengenali orang itu, ia segera bertanya kepada Mila, mengapa ia mempunyai foto ini. Setelah Mila bercerita panjang lebar terhadapnya ia yang semula ingin mencelakakan Mila kini berubah baik dan ingin mengantarkanya ke tempat tujuan. Ya itulah si Darman yang biasa di panggil Cak Dar, ia adalah salah satu bagian dari masa lau Mila. Ia adalah paman Mila yang telah sekian lama mencari keponakanya yang hilang.

Di sebuah gubuk lusuh di pedalaman Desa Nglegok, Blitar. Sang paman dan keponakanya masuk ke dalam gubuk yang tak layak tempat itu. Beralaskan tanah, beratapkan jerami, berdinding bilik bambu yang telah usang, menandakan gubuk itu telah lama tak ditempati.
Dari depan terdengar suara orang bernyanyi…
“Timang-timang anakku sayang”
Seseorang berambut uban menghadap membelakangi Mila dan sang paman. Ia duduk sambil memegang selendang batik dan bernyayi. Seakan kenangan masa lalu masih menyisahkan secuil harapan. Lagu yang didendangkanya perlahan-lahan menjadi lirih digantikan isak tangisan.

Mila yang berjalan mendekat masih tak percaya, ia berjalan, berjalan lalu… alangkah kagetnya ia. Wanita yang telah dikenalnya satu bulan lalu kini ada di depanya. Ya ia adalah Bi Dijah pembantu yang selalu ia marahi, yang selalu ia bentak, bahkan ia usir mentah-mentah di tengah dinginya malam.

Deru tangis tak terbendung dari ibu dan anak yang telah bertemu kembali. Namun… Mila dalam batin “Mengapa sekarang Bi Dijah tak bisa melihatku, mengapa ia tak mengenali wajahku?”.

Pada malam itu, malam ketika Mila mengalami kecelakaan. Bi Dijah segera ke rumah sakit. Mila pada waktu itu divonis buta oleh dokter, membuat Bi Dijah bertekad untuk mendonorkan sepasang matanya untuk sang majikan. Dia tahu bahwa hari itu adalah hari yang sulit bagi putri kecilnya. Ia merelakan dan mengorbankan apa saja yang ia miliki untuk buah hatinya, apa saja yang membuatnya bahagia walau derita baginya.

Semalam setelah itu pihak rumah sakit menghubungi LSM untuk mengembalikan si tua parubaya itu kembali ke asalnya yaitu Bliar, Jawa Timur. Betapa merasa bersalahnya Mila terhadap Bi Dijah yang selalu di anggap remeh, sambil mengutarakan kata maaf tak henti-hentinya. Di dekapnya erat-erat sang ibunda yang tak bisa lagi melihat. Sang paman yang melihat peristiwa elok itu, ikut terharu.

Berawal dari kisah 17 tahun yang lalu, hujan deras angin kencang menderu sebuah gubuk berbilikkan bambu. Seorang ibu mendekap bayinya yang sedang menangis kedinginan. Masuklah seorang pria mabuk berat ke dalam rumah beralaskan tanah, sambil mengancam sang wanita. Direbutnya bayi yang ada pada gendonganya, saling berebut sampai si bayi mungil itu menangis lebih keras.

Bayi itu ingin di jual untuk menebus utang judi si bapak. Histeris dan miris sang ibu, tak rela baginya. Sang bapak mengambil pisau di dapur lalu mengancam si ibu agar menyerahkan anaknya. Namun sang ibu tetap pada pendirianya, pisau itu mendarat pada pipi kananya menyisahkan luka gores. Lalu berhasil sang bapak membawa bayi itu lepas dari dekapan sang ibu. Pisau yang tadi di bawa oleh si pria itu menjadi bumerang baginya. Wanita itu segera mengambil pisau yang telah tergeletak di tanah, lalu menusuk bagian belakang sang suami.

Terbaringlah dia di atas tanah. Wanita itu bersama bayinya segera meninggalkan kampung halaman menuju tempat saudara di Pati, Jawa Tengah. Namun apalah daya, si ibu harus masuk ke jeruji besi mempertanggung jawabkan perbuatanya selama 17 tahun. Si bayi mungil itu di tinggal bersama adik sang ibu. Pada sore hari diajaknya jalan ke luar sambil membeli susu untuk si bayi. Rupanya malapetaka tak bersahabat, sebuah truk melaju kencang menabrak tubuh kecil sang wanita itu hingga tewas di tempat kejadian.
“oekk oekkk.. oekk..”
Sang bayi menangis sendiri di sebuah tempat tidur mungil Panti Asuhan Srikasih. Datang sepasang insan harmonis namun kurang bahagia karena belum adanya tangisan tawa dewi kecil menemani hari-hari mereka, melihat menggemaskanya sang bayi itu, mereka memutuskan untuk mengadopsinya.

END

Cerpen Karangan: Rully Prameisti Audhina
Facebook: Rully Prameisti Audhina
SMA NEGERI 2 SURABAYA/ X5

Cerpen Sepasang Bola Keajaiban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Dan Harapanku

Oleh:
Langit terlihat begitu sendu, matahari terlihat bersembunyi di balik awan tebal, hujan seakan ingin menyapa tapi angin menolaknya. Ketika harapan tidak sesuai dengan keinginan? Mungkin hati akan merasa sakit,

Goresan Tinta Cinta Untuk Mama

Oleh:
Dalam coretan tinta, yang kutuliskan di atas kertas putih ini, aku menuliskannya dengan perasaan cinta yang senantiasa menjelma di dalam hari-hariku. Coretan tinta ini, berisikan tentang sebuah perasaan cinta

Harapan Seorang Anak

Oleh:
Aku adalah seorang anak remaja yang biasa-biasa saja, tidak terlalu cerdas, dan juga angkuh. Aku di keluarga yang sederhana, sehari-hari hidupku ku habiskan untuk belajar dan juga untuk bermain

3 sekawan (Part 2)

Oleh:
“Liu?” panggilku mengawali pembicaraan. “iya, Gus?” tanya Liu heran. “emm.. aku ke toilet dulu, kebelet.” pamit Naya meninggalkan kami berdua. Di situ aku tambah grogi karena duduk berdua dengan

Bersama Mendengarkan Dunia

Oleh:
Pada zaman dahulu kala ada seorang Ibu yang tak normal alias ia tak bisa mendengar -tuli. Ia ditinggalkan suaminya ketika ia sedang mengandung 3 bulan dan ia ditinggalkan oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *