Sepasang Liontin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 December 2017

Rabu pagi yang cerah, toko-toko di Jalan Cendrawasih mempersiapkan barang dagangan mereka. Pemilik toko bunga menyiapkan bunga-bunga segar untuk dijual, aroma kopi yang khas juga sudah mulai tercium dari kedai kopi yang baru saja buka. Suasana di Jalan Cendrawasih selalu memiliki daya tarik tersendiri, toko-toko kecil di sepanjang jalan memberikan suasana teduh di tengah hiruk pikuk kota Jakarta.

Pak Suganda mulai membuka toko kecil miliknya, toko barang antik warisan dari kedua orangtuanya ini hanyalah satu-satunya harapan hidupnya. Hidup Pak Suganda memang terlihat biasa-biasa saja, namun pria berusia 79 tahun menyimpan cerita kelam yang enggan ia ceritakan kepada seorang pun.

Pintu berderik pelan, Pak Suganda segera bangkit dari kursinya untuk menyambut orang yang memasuki tokonya. Senyum kecil yang tulus ia berikan, walaupun seringkali mereka hanya masuk untuk melihat-lihat. Pak Suganda tidak keberatan untuk menceritakan kisah-kisah singkat mengenai barang yang ia jual, karena baginya setiap barang punya cerita. Tidak jarang juga ia bercanda dengan anak muda yang hanya memasuki tokonya untuk berfoto, ia selalu melayani mereka dengan ramah.

“Permisi,” ujar seorang gadis sambil memasuki toko. Pak Suganda lekas bangkit untuk menyambut gadis itu. “Apa yang bisa saya bantu, Nak?” ujarnya sambil tersenyum. “Teman saya bilang di sini ada toko barang antik, apakah benar ini tempatnya?” jawab gadis itu. “Iya benar, saya Pak Suganda pemilik toko ini. Apa yang sedang kamu cari?” balas Pak Suganda. “Kenalkan pak nama saya Mentari. Saya mencari buku kumpulan puisi karya Diaz Steele, apakah Bapak menjualnya di sini?” balas gadis itu. “Buku itu yang kau cari rupanya, sebentar saya carikan.” ujar Pak Suganda sambil terkekeh pelan, “Kamu duduk dulu saja ya,” lanjut Pak Suganda.

Mentari mengamati toko barang antik itu, semua barangnya tertata dengan sangat rapi, membuatnya merasa berada di rumah tahun 1800an. Sofa tua tempatnya duduk pasti sudah berusia sangat tua, mungkin lebih tua dari dirinya. Sejak dulu Mentari memang menyukai puisi, terutama puisi karangan Diaz Steele, jagoan sastra tahun 70an dari Portugis itu berhasil membawanya mencintai puisi. Mentari mulai memperhatikan barang-barang yang dijual Pak Suganda, kaset-kaset jadul, piring dan gelas antik, dan beberapa pajangan yang disimpan di etalase kaca. Matanya tertuju pada sebuah liontin berbentuk angsa, diletakkan di sebuah kotak perhiasan tua.

“Nak, ini bukan yang kamu cari? Saya juga menemukan beberapa buku kumpulan puisi tahun 70an. Siapa tahu kamu menyukainya,” Pak Suganda menghampiri Mentari.

Mentari segera mengalihkan pandangannya ke tangan Pak Suganda, buku yang selama ini ia cari-cari akhirnya bisa ia temukan. “Wahh.. benar, Pak. Saya sudah lama mencari buku ini tapi tidak ketemu. Kemarin teman saya bilang ada toko barang antik di Jalan Cendrawasih, siapa tahu saja saya bisa menemukannya,” balas Mentari sambil menerima buku dari Pak Suganda.

Mentari melihat beberapa buku lain yang diberikan Pak Suganda, ia tertegun saat membuka buku kumpulan puisi karya Lucas Reese. “Pak, ini tanda tangan asli dari Lucas Reese?” tanya Mentari antusias. “Ya, tentu saja, Nak. Kamu penggemar puisi rupanya?” balas Pak Suganda. “Ya! Nenek saya yang memperkenalkan saya pada puisi, tapi yang membuat saya jatuh cinta padanya adalah puisi berjudul “Memories” karya Diaz Steele.” jawab Mentari. “Ooo, seperti itu. Besok datanglah ke sini lagi, saya carikan buku-buku kumpulan puisi lama.” ujar Pak Suganda. “Wahh, terima kasih banyak, Pak!” balas Mentari.

“Jadi ini semua berapa pak?” tanya Mentari. “Buat kamu 120.000 saja.” jawab Pak Suganda. “Ini, Pak.” jawab Mentari sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu dan dua puluh ribu. “Kalau liontin itu berapa harganya, Pak?” tanya Mentari sambil menunjuk Liontin berbentuk Angsa itu. “Yang berbentuk angsa ini?” balas Pak Suganda sambil mengambil liontin itu dari etalase. “Iya yang itu, Pak.” jawab Mentari. “Buat kamu ambil saja.” ujar Pak Suganda sambil memasukkan kotak perhiasannya ke plastik buku Mentari. “Lho, Pak? Jangan ini pasti mahal harganya.” balas Mentari menolak liontin itu. “Sudah terima saja, Nak. Anggap saja ini hadiah untukmu. Sudah puluhan tahun tidak ada yang tertarik dengan liontin ini. Mungkin memang sudah takdirnya untuk dimiliki olehmu.” balas Pak Suganda sambil mengantar Mentari ke pintu toko. “Baiklah, terima kasih, Pak.” jawab Mentari kebingungan.

Mentari meninggalkan toko barang antik milik Pak Suganda. Ia kebingungan ketika Pak Suganda memberikan liontin angsa yang dilihatnya di etalase. Liontin itu terlihat tua dan usang, namun ia merasa tertarik dan menyukai liontin itu. “Mungkin memang liontin ini ditakdirkan untukku,” pikir Mentari.

Sementara itu Pak Suganda tertegun, ia tak percaya apa yang baru saja ia lakukan. Ia baru saja memberikan liontin angsa itu ke seorang gadis bernama Mentari. Liontin yang ia pajang dengan harapan anaknya bisa mengenalinya dan bertemu kembali dengan Pak Suganda. Sudah lebih dari 40 tahun istri Pak Suganda membawa anak perempuan satu-satunya pergi meninggalkan Pak Suganda sendirian. Sudah selama itu juga Pak Suganda tidak pernah lelah untuk berharap untuk bertemu kembali dengan putri semata wayangnya. Hanya itulah harapan satu-satunya yang dimiliki oleh Pak Suganda untuk bertemu kembali dengan putri semata wayangnya. Air mata Pak Suganda menetes, ia merasa menyesal. Entah apa yang membuatnya memberikan liontin itu kepada Mentari. “Mungkin memang sudah takdirnya,” hanya kalimat itu yang bisa menghiburnya.

Mentari masuk ke kamarnya, ia meletakan plastik berisi barang yang baru saja ia beli di lantai. Mentari menghempaskan dirinya ke ranjang. Ia masih memikirkan kebaikan hati Pak Suganda yang memberikan liontin itu kepadanya. Mentari mengambil kotak perhiasan dari plastik dan membuka kotak itu. Diperhatikannya liontin berbentuk angsa, saat itu juga mama memasuki kamar mentari.

“Sudah kamu, Ri?” tanya Mama. “Sudah, Ma. Tadi aku dikasih ini.” ujar Mentari sambil menunjukkan liontin angsa. “Siapa yang memberikannya, Ri? Jangan menerima barang dari orang yang tidak dikenal. Besok kamu kembalikan ya.” Mama menasihati Mentari sambil memperhatikan liontin itu. “Dari Pak Suganda, Ma. Dia pemilik toko barang antik di Jalan Cendrawasih.” jawab Mentari. Mereka terdiam, bersama-sama memperhatikan liontin berbentuk angsa itu. Mentari tertegun, ia memperhatikan kalung yang menggantung di leher mamanya. Liontin angsa yang sama dengan liontin yang diberikan oleh Pak Suganda.

“Ma, itu liontinnya sama kaya yang Mama pakai ya?” tanya Mentari sambil menunjuk kalung mamanya. Mama terkejut sambil memperhatikan kalungnya, benar saja liontinnya sama persis. Mama mengingat perkataan mendiang nenek, kalung ini dibuat oleh Kakek dan ada sepasang. Nenek dulu pergi meninggalkan Kakek, Nenek berharap dengan kalung itu Mama bisa bertemu dengan Kakek. “Ri, besok kamu antar Mama ke toko barang antik itu ya.” ujar Mama singkat lalu meninggalkan kamar Mentari. “Memangnya ada apa Ma? Apakah ada hubungannya dengan liontin itu?” tanya Mentari. “Tidak, tidak ada apa-apa. Besok kamu antar Mama saja ya.” jawab Mama singkat.

Sikap Mama membuat Mentari lebih bingung, Liontin bergambar angsa itu diambil oleh Mama. “Sudahlah, lebih baik aku tidur saja. Hari ini sudah cukup membingungkan.” pikir Mentari, tidak lama kemudian ia tertidur.

“Mentari, ayo bangun. Antar Mama ke toko barang antik itu,” panggil Mama membangunkan Mentari. “Ma, ini masih jam 7 pagi, tokonya buka jam 8. Sebentar lagi ya, Ma.” jawab Mentari sambil melanjutkan tidurnya. “Kan lebih cepat sampai lebih baik, Ri. Ayo bangun, siap-siap dulu.” Mama kembali membangunkan Mentari. “Aduh, iya Ma, iya. Mentari bangun.” balas Mentari sambil merenggangkan tubuhnya.

“Tokonya sebelah mana, Ri?” tanya Mama tidak sabar. Mama dan Mentari menyusuri Jalan Cendrawasih mencari toko barang antik milik Pak Suganda. Aroma khas kopi bercampur dengan bunga segar ikut menyapa ramahnya pagi di Jalan Cendrawasih. “Itu agak di depan, Ma. Enggak jauh kok dari sini,” jawab Mentari. “Nah, itu Ma!” ujar Mentari sambil menunjuk toko milik Pak Suganda. Terlihat Pak Suganda sedang membereskan halaman tokonya dari daun-daun kering, namun pintu toko Pak Suganda tertutup.

“Selamat pagi Pak Suganda!” sapa Mentari. “Selamat pagi juga. Kamu gadis yang kemarin membeli buku kumpulan puisi kan? Siapa ya namamu? Maklum Bapak sudah tua, jadi mudah lupa.” balas Pak Suganda ramah sambil terkekeh pelan. “Mentari, Pak. Hari ini mama saya mau melihat-lihat toko Pak Suganda, boleh Pak?” balas Mentari. “Aduh sayang sekali, Nak. Toko saya hari ini tutup. Datanglah kembali hari Jumat.” jawab Pak Suganda.

Mama tiba-tiba saja memotong pembicaraan antara Pak Suganda dan Mentari. “Bukan begitu, Pak. Saya hanya mau tahu dari mana Bapak mendapatkan liontin ini?” Mama bertanya sambil menunjukkan liontin berbentuk angsa yang diberikan oleh Pak Suganda. Pak Suganda tertegun dengan pertanyaan Mama, ia terdiam. “Kalau itu yang mau ditanyakan, masuklah ke dalam.” jawab Pak Suganda singkat.

Pak Suganda membawa Mentari dan Mama masuk melalui pintu kecil yang terletak di samping toko, dan mempersilahkan mereka duduk. “Kalian mau minum apa?” tanya Pak Suganda. “Tidak usah repot-repot, Pak. Saya ke sini hanya mau bertanya dari mana Bapak mendapatkan liontin ini.” jawab Mama. “Liontin itu punya sejarah yang panjang,” balas Pak Suganda.

Pak Suganda memulai ceritanya, ”Liontin yang sama berikan kepada Mentari adalah milik saya sendiri. Saya memesan sepasang liontin itu sebagai mas kawin untuk pernikahan saya dan istri saya. Saya memilih bentuk angsa karena angsa adalah hewan yang menyimbolkan kesetiaan. Saat pasangannya meninggal, angsa bisa saja meninggal karena merasa kesepian. Saya berharap pernikahan saya dan istri saya bisa setia dan langgeng seperti angsa. Namun itu semua hanyalah harapan kosong saja, istri saya memilih untuk meninggalkan saya dan membawa putri semata wayang kami yang baru berusia 2 tahun saat ada krisis ekonomi. Saya memajang liontin itu di etalase dengan harapan putri saya bisa mengenalinya dan bertemu kembali dengan saya.”

Tidak terasa air mata Pak Suganda mengalir di kedua pipinya, Mama dan Mentari juga tak kuasa menahan tangis. “Pak, maaf saya tidak tahu liontin ini sungguh berharga untuk Bapak. Ini saya kembalikan.” ujar Mentari sambil mengembalikan liontin berbentuk angsa itu.

Secara tiba-tiba Mama memeluk Pak Suganda dan terisak, Pak Suganda terkejut dan membeku tanpa kata. “Pak, saya kangen sama Bapak.” ujar Mama kepada Pak Suganda sambil menangis. Mama melepaskan kalung yang selalu ia pakai, kalung pemberian Nenek sebelum Nenek meninggal dan memperlihatkan itu kepada Pak Suganda. Melihat hal itu Pak Suganda tertegun dan memeluk Mama dengan erat sambil berkata, “Ayu anak bapak, akhirnya bapak bisa bertemu kamu lagi, Nak. Bapak kangen sama kamu.” “Ayu juga kangen sama Bapak, maafkan Ibu ya Pak.” jawab Ibu sambil menangis.

Mentari baru menyadari bahwa Mama adalah putri Pak Suganda yang selama ini ia cari. Selama puluhan tahun tidak bertemu, liontin angsa itu membawa Mama kembali kepada Pak Suganda ayahnya. “Mungkin apa yang dikatakan Pak Suganda benar. Jika Pak Suganda tidak pernah memberikan liontin itu padaku, mungkin sampai sekarang Pak Suganda belum menemukan Mama putrinya yang hilang.” pikir Mentari. Mungkin memang benar, setiap benda punya ceritanya masing-masing.

Cerpen Karangan: Selica Giovani
Facebook: shortiespaghetti[-at-]gmai.com

Cerpen Sepasang Liontin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rhyme In Peace Ibu

Oleh:
Dia terbaring lemah tak berdaya di bilik kecil yang terbuat dari bambu. Dulu dia begitu kuat, tak ada satupun keluhannya tentang kahidupan. Namun kini perempuan separuh baya ini mengalami

Karena Mimpi

Oleh:
Menyeramkan. Malam ini mimpiku menyeramkan. Memang sekarang aku sedang berada di rumah sakit, papaku opname. Papa, cepat sembuh Pa. Aku bermimpi indah tapi setelahnya mengerikan. Aku takut. Karena terasa

Yang Terbaik Dari Ayah

Oleh:
“Ayah!” panggilku sambil berlari ke kamar Ayah. Ayah yang kaget beranjak keluar kamarnya. “Ada apa Albi?” tanya Ayah padaku. Sedetik kemudian aku menangis di pelukan Ayah. Ayah sudah mengerti

Sang Kakek Buyutku

Oleh:
Aku mempunyai seorang kakek buyut bernama Eni djuaeni. Ia dilahirkan di sebuah desa bernama desa pasawahan dan dilahirkan dari seorang ibu bernama Oma dan ayahnya bernama Etje. Sewaktu kecil

Perahu Bapak

Oleh:
BUNYI kecipak ombak yang menampar-nampar lambung perahu tidak pernah membangunkanku dari tidur siang sebelumnya. Namun kali ini lain. Suara itu lebih dekat, lebih keras, dan aku terusik untuk mencari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *