Sepatu Untuk Nisa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Di jalan setapak sepagi ini sudah ada suara anak sekolah yang berangkat ke sekolah dia adalah Arif dan Anisa dua kakak beradik yang sangat akur. Arif begitu menyayangi adiknya begitu pun Nisa yang sangat menyayangi kakaknya. Di jalan menuju ke sekolah mereka sedang bercanda gurau. Tiba-tiba Nisa terjatuh dan Arif pun membantu adiknya untuk berdiri.

“Kamu tidak apa-apa Dik?” Kata Arif dengan sangat cemas.
Nisa pun menjawabnya, “Tidak apa-apa Kak,”
Mereka pun melanjutkan perjalanannya. Dan Arif memperhatikan cara berjalan Nisa yang seperti orang kesakitan. Kemudian Arif menghampiri adiknya.
“Nisa kaki kamu kenapa?” Nisa pun menjawab dengan agak ragu.
“Ah tidak Kak aku tidak apa-apa,”

Arif langsung melihat kaki adiknya ternyata kaki Anisa tidak apa-apa hanya saja sepatu Nisa sudah tidak layak dipakai. Alas sepatu Nisa sudah hampir terbuka makanya jalannya agak lain dari yang biasanya. Arif langsung memeluk adiknya dengan mata yang berkaca-kaca karena kasihan melihat adiknya. Nisa tidak mau mengatakan kepada kakaknya dan juga ayahnya. Karena tidak mau merepotkan kakak dan ayahnya. Nisa dan Arif memang hanya tinggal bersama ayahnya yang seorang kuli bangunan. Dan ibunya telah meninggal dunia. Tiba-tiba Arif membuka sepatunya dan memberikannya kepada adiknya.

“Nisa kamu pakai sepatu Kakak yah, Biar Kakak tidak pakai sepatu ke sekolah,” Nisa menolak untuk mengambil sepatu dari kakaknya. “Jangan Kak, aku pakai ini saja, lagian aku tidak cocok dengan sepatu Kakak.” Arif terus memaksa Nisa untuk memakai sepatunya. Nisa pun memakai sepatu kakaknya yang agak kegedean. Dan Arif terus menenteng sepatu adiknya yang rusak dengan harapan semoga sepatu adiknya dapat diperbaiki dan dipakai lagi.

Di perjalanan Nisa melihat sepatu di depan pagar rumah orang kaya dan menyuruh kakaknya untuk mengambil dan memakai sepatu itu ke sekolah. Namun Arif menolak untuk mengambil sepatu tersebut. Dengan alasan kita tidak boleh mengambil yang bukan milik kita karena, itu seperti dengan pencuri. Nisa pun menundukkan kepalanya lalu melanjutkan perjalanan ke sekolah. Di sekolah Arif masuk kelas dan menunggu gurunya datang. Arif meletakkan sepatu Nisa yang sudah rusak di sampingnya. Gurunya pun datang. Dan mempertanyakan Arif yang tidak memakai sepatu. Dan dia hanya tersenyum sambil berkata, “Tadi sepatu saya rusak saat menuju sekolah Bu.”

Malam hari mereka menunggu ayahnya datang dengan harapan membawa makan untuk mereka. Sembari menunggu ayahnya seperti biasa mereka selalu bercerita tentang kejadian yang mereka alami. Nisa bercerita kepada kakaknya tentang kejadian yang dialami saat di sekolah. Tadi Nisa ditertawakan teman-teman waktu di sekolah. Mereka menertawai Nisa karena sepatu Nisa yang kegedean. Arif hanya memberikan semangat untuk adiknya agar tetap bersabar. “Kak jangan tanya Ayah Kak. Aku kasihan melihat Ayah yang bekerja keras untuk kita. Nisa tidak mau membebani Ayah,” Tiba-tiba ada suara dari luar pintu. Mereka pun langsung berlarian menyambut ayahnya yang pulang dari bekerja. “Ayah kotor sekali. Ayah mandi dulu terus salat kami akan menunggu Ayah,” Ayahnya pun pergi membersikan badan dan salat.

Mereka makan bersama-sama dengan wajah yang sangat bahagia. Setelah mereka makan. Mereka bercerita-cerita dulu sampai-sampai ayah dan Nisa terlelap. Arif memakaikan selimut kepada mereka dan Arif pun mengambil sepatu Nisa dan berusaha untuk memperbaikinya. Alhasil sepatu Nisa setidaknya masih bisa digunakan. Arif merasa sangat senang dan akhirnya ia bisa merebahkan tubuhnya dan beristirahat bersama ayah dan adiknya. Saat adzan subuh dikumandangkan ayah membangunkan anak-anaknya untuk mengambil air wudu dan mereka pun salat bersama.

Saat setelah salat Arif memeluk ayahnya dari belakang sembari mengatakan, “Aku sayang Ayah,” ayah pun membalik badan dan mencium Arif dan mengatakan. “Kamu harus jadi anak yang mulia dan belajar yang lebih rajin Nak, agar kamu dapat membanggakan Ayah dan Ayah akan lebih bangga lagi kalau salat anak-anak Ayah dijaga,”

Sepulang sekolah Arif menyuruh adiknya langsung pulang dan Arif sudah bersikukuh ingin mencari pekerjaan agar dapat membelikan sepatu untuk adiknya. Arif pun mencari uang dengan berjualan Koran. Setiap hari setiap pulang sekolah Arif selalu berjualan Koran dan mengumpulkan barang bekas. Dan jerih payah Arif pun tidak sia-sia bisa mengumpulkan uang untuk membeli sepatu. Dan Arif membelikan sepatu untuk Nisa setelah peneriman rapor. Nisa dan Arif memberitahukan kepada ayahnya agar menghadiri undangan untuk ke sekolahnya dalam rangka penerimaan rapor. Ayah Arif dan Nisa pun tiba di sekolah dengan pakaian yang sangat biasa dibandingkan dengan orangtua yang lainnya. Ketika itu kepala sekolah mengumumkan siswa berprestasi di sekolahnya, Arif dan Nisa adalah anak berprestasi.

Ayah Arif dan Nisa dipersilahkan untuk menerima hadiah dan diberi kesempatan untuk menyampaikan sepatah kata. Ayahnya pun maju ke depan dan menyampaikan rasa bahagianya kalau dia bangga dengan anak-anaknya. Anak yang tak pernah malu dengan keadaannya dan tak pernah melupakan salatnya. Sesampainya di rumah ayah memberikan sepatu buat Nisa karena ayahnya tahu kalau sepatu Nisa sudah rusak. Ia setiap hari sepulang kerja selalu mendengarkan cerita Arif dan Nisa sebelum masuk ke rumah. Ayahnya pun berkata, “Arif uang yang kau kumpulkan untuk Adikmu bisa kamu belikan sesuatu yang lain karena Nisa sudah Ayah belikan sepatu.” Mereka pun tersenyum bahagia.

Cerpen Karangan: Wiwik Cahyani
Facebook: Wiwik Cahyani

Cerpen Sepatu Untuk Nisa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Keegoisanku

Oleh:
“Aku hanya ingin berdiri saja disini, jangan ganggu aku!.” Kalimat itu aku berikan untuk Kak Gee yang setengah jam yang lalu mengajakku beranjak pergi dari tempat ini, tempat yang

Cinta 18 Hari (Part 2)

Oleh:
Aku tersadar di sebuah tempat luas yang gelap, apakah ini akhir hidupku? Oh, tidak… Aku masih merasakan usapan lembut seseorng di rambutku, aku juga merasa ada sesuatu terdapat di

Tas Lara

Oleh:
Aku menatap Kak Kirana dengan tatapan iri, Kak Kirana baru saja pulang dari belanja dengan mama dan memamerkan tas barunya. Ih.. mama nggak adil kenapa hanya Kak Kirana yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *