Sepeda Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 18 October 2016

Nurma merenung. Duduk di depan teras rumah sambil menatap tajam sepeda tua tak layak pakai yang masih tersimpan di garasi. Sepeda itu diletakkan bersama mobil mewahnya yang harganya mencapai ratusan juta rupiah itu. Namun bagi Nurma, sepeda tua itulah yang paling mahal. Paling istimewa. Benda tua itu menjadi saksi bisu kenangan-kenangannya bersama mbak Dewi, abah dan emaknya di masa kecilnya yang penuh perjuangan berat.

Kenangan-kenangan itu mulai terbayang dalam pikiran Nurma. Terlihat seperti nyata. Saat pertama kalinya abah membeli sepeda tua bekas yang dulunya milik pak RT itu untuk Nurma dan Mbak Dewi menimba ilmu. Bahagia rasanya. Setiap pagi-pagi buta, Nurma dan Mbak Dewi yang masih berseragam putih merah itu selalu berangkat sekolah bersama. Tak lupa mereka menenteng kresek besar berisi jeruk nipis yang dipetik emak mereka kemarin untuk dijual ke warung Budhe Warti. Berat sekali bagi tubuh mungil kedua kakak beradik itu. Sepeda itu menempuh jalan sepanjang 7 km setiap harinya menuju sekolah mereka. Jalanan panjang dan terjal pun mengiringi perjalanan mereka untuk sampai di tempat dimana mereka akan menyusun harapan. Belum lagi perut yang menahan lapar karena tak ada sarapan. Hanya dua botol air yang terselip di masing-masing tas kumal di punggung merekalah yang menjadi harapan mereka untuk meringankan perjuangan berat mereka itu. sepeda itu menjadi saksi bisu perjuangan mereka dalam menuntut ilmu.

Saat siang hari yang terik, sepeda itu mengantarkan emak berkeliling desa untuk menjajakan nasi pecelnya. Tak peduli matahari yang semakin terik itu, emak tak henti mengayuh pedal sepeda itu untuk mencari pembeli. Tak peduli seberat apa barang bawaan yang telah diatur rapi di boncengan belakang sepeda itu. Sore harinya, emak tak istirahat. Beliau yang kadang ditemani Mbak Dewi itu, harus mengajar ngaji jauh di kampung sebelah yang muridnya mulai menyusut. Emak takut, kalau menyuruh mereka belajar mengaji di rumah emak saja, jumlah mereka akan semakin menyusut karena harus menempuh jarak jauh dan akhirnya tak mau belajar mengaji lagi. Emak rela menempuh perjalanan jauh agar mereka tetap mau belajar ilmu agama walau dengan upah seikhlasnya dari para muridnya. Sungguh mulia hati wanita kebanggaan Nurma itu. Sekali lagi, sepeda tua itu menjadi saksi bisu perjuangan emak mengais rezeki dan perjuangannya pula dalam mengamalkan ilmu yang beliau miliki.

Satu kenangan ini tak akan pernah Nurma lupakan. Selalu terbayang dalam benak Nurma. Pagi hari di musim panen itu, Abah yang membonceng Mbak Dewi harus pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan dapur, dan terutama, peralatan-peralatan sekolah yang akan Nurma dan Mbak Dewi gunakan sekolah dua hari lagi setelah libur panjang tahun itu. Rasa bahagia menguasai hati dua kakak beradik itu di setiap musim panen tiba. Musim itu adalah musim yang menjadi keuntungan abah mereka sebagai buruh tani. Oleh karena itu, abah bisa membelikan peralatan sekolah baru untuk mereka. Nurma sangat menyukai musim itu.
Namun, kebahagiaan di musim panen tahun itu, hanya singgah sejenak. Dan pergi jauh begitu saja. Sebuah kabar yang tak pernah Nurma harapkan, datang di musim panen yang biasanya penuh kebahagiaan itu. Abah dan Mbak Dewi mengalami kecelakaan sepulang dari pasar. Dan di musim itu, menjadi musim perpisahan ia bersama dua orang tercintanya itu. Setelah kecelakaan itu, abah dan Mbak Dewi akhirnya meninggalkan Nurma dan emaknya untuk selamanya. Untuk pertama kalinya, Nurma tak suka dengan musim panen.

Pakdhe Sardi, datang ke rumah mengantarkan sepeda Rani yang dipakai abah dan Mbak Dewi saat kecelakaan. Penuh goresan. Badan sepedanya banyak yang bengkok. Dan sekali lagi, sepeda itu menjadi saksi bisu tragedi yang telah menimpa dua orang tercintanya.

Banyak sekali kenangan-kenangan yang tak terlupakan dari sepeda tua itu. Setelah abah dan Mbak Dewi tiada, emak Nurma biasa mengantar Rani ke sekolah dengan sepeda itu. Sepeda itu juga mengantarkan emak bekerja ke pabrik garam yang jauhnya sekitar 8 km dari rumah. Dan sepeda itu juga yang Nurma gunakan untuk mengantar emak ke rumah sakit karena sakit paru-paru yang di deritanya, sebelum akhirnya beliau juga meninggalkan Nurma untuk selamanya.

Nurma duduk termenung di teras depan rumah. Dia masih memakai pakaian yang berbalut jas coklat yang baru ia gunakan untuk mengajar di sebuah universitas di ibukota. Ia telah menjadi dosen. Tiba-tiba seseorang datang membuyarkan lamunannya.
“Nduk, apa nggak kamu jual aja sepeda itu, biar kamu nggak kepikiran terus sama masa lalumu?” ujar Budhe Warti. Semenjak emak Nurma meninggal ia tinggal bersama Budhe Warti dan Pakdhe Sardi yang anaknya telah berkeluarga dan tinggal di luar kota.
“Mboten Budhe. Semenjak rumah kami kebakaran, sepeda inilah satu-satunya peninggalan keluarga saya dan menjadi penawar rindu saya pada mereka. Jika saya menjual sepeda ini, itu artinya, saya juga menjual kenangan-kenangan tak terlupakan saya bersama keluarga saya yang amat saya sayangi. Saya tak ingin kenangan-kenangan itu hilang tanpa sisa begitu saja.”

Cerpen Karangan: Irdina Aminatuz Zuhriyah
Blog: irdinaaminatuz.blogspot

Cerpen Sepeda Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


For My Mother

Oleh:
“hoaamm… Allhamdulillahi akhyaana ba’ daana amaa tanaawailayhirusuull” ucapku saat bangun tidur, aku melirik kalender “huraayy… Dua hari lagi hari ibu…!” seruku melonjak-lonjak kegirangan “ulang tahunku, sih! Tiga hari lagi”

Kehidupan Yang Kedua

Oleh:
Kuterdiam dalam kegelapan, kuhidup dalam kesunyian dan kuberlari dalam angan, benda benda yang menempel di tubuhku taklagi dapat kurasakan. Kutapaki lorong panjang yang tiada ujung. Lelah rasanya menentukan langkah

Jingga Merona

Oleh:
Titik-titik hitam membentuk sebuah siluet. Beriring dengan tenggelamnya sang surya di ufuk barat. Lembayung senja mulai terukir indah di cakrawala. Melukiskan kenangan tiada tara. Ombak lautan berdeburan menghantam batu

Mawar Terakhir Dari Bunda

Oleh:
Dari kecil mawar tak pernah melihat sosok seorang ayah karena saat bundanya sedang mengandung sembilan bulan ayah dan bundanya berpisah dan ayahnya membawa anak pertamanya yaitu bernama melati dia

Arina Mana Sikana

Oleh:
“Ibu berwajah bulat, sama sepertimu Rin. Tapi kadang terlihat lonjong. Ah, mungkin wajah ibu sedikit oval dan sedikit lonjong. Akak tak pernah memperhatikan secara detail, tapi karena setiap hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *