Sepercik Darah di Dasi Merah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 May 2017

Kulingkari sebuah angka berwarna merah di sebuah kalender yang tertempel pada dinding. Sebuah hari yang sudah lama kunantikan, akhirnya akan terjadi. Sepertinya aku sudah tak sabar menantikan hari dimana ayahku akan pulang ke rumah, dengan membawa berjuta cerita manis dari negeri sakura tersebut. Ayahku sudah 5 tahun bekerja di Jepang sebagai pengusaha di sebuah perusahaan ternama. Beliau pulang ke rumah setiap 1 tahun sekali yaitu pada ulang tahun ibuku. Ayahku adalah orang yang paling berharga dalam hidupku, beliau selalu menemaniku di manapun kapanpun aku berada. Nyatanya aku adalah anak yang sangat manja dan penakut. Namun sejak ayahku bekerja di sana, aku menjadi mandiri dan tegar menghadapi masalah.

“Yuki, berikan makanan ini untuk ibumu nak” pinta nenekku dari dapur
“Iya nek” jawabku tegas. Aku bergegas ke dapur dan mengambil makanan untuk ibuku yang berada di kamarnya
“Ibu, ini kubawakan sepotong roti dan jagung manis kesukaan ibu, makan ya bu” pintaku
“Mana ayahmu Yuki? Mana lelaki yang katanya akan membahagiakan kita itu? Mana?” Ibuku memang menjadi stress mungkin karena memikirkan ayahku yang tak kunjung pulang. Maka dari itu aku sangat menantikan kehadiran ayahku, untuk berkumpul bersama-sama seperti dahulu lagi walaupun hanya beberapa jam.

Hari berganti hari, dan akhirnya waktu yang kunantikan pun terjadi. Ayahku akan pulang hari ini. Entah mengapa membayangkannya saja aku sudah sangat senang dan bahagia. Satu hari bersama ayah adalah sesuatu yang tak akan pernah kulupakan selama hidupku.
“Assalamualaikum” terdengar suara salam dari luar rumah
“Waalaikumsalam” kujawab salam darinya. Mataku terbelalak ketika melihat seorang pria menggandeng tangan seorang wanita berparas cantik, bermata sipit dan berkulit putih mulus tersebut.
“Yuki, ini ayah nak” sapa pria itu sembari menampakkan senyumnya
“A..a..ayah?” tanyaku tidak percaya
“Iya ini ayahmu yuki, apa boleh ayah masuk?”
“I..iya.. silakan” jawabku terbata bata

Di ruang tamu, suasana hening seketika. Aku bingung mau bicara apa, aku juga bingung apa yang terjadi dengan ayah di sana.
“Yuki, perkenalkan dia adalah tantte Elsa. Sebenarnya…” kata ayah gugup
“Iya, sebenarnya apa yah?” tanyaku penasaran
“Sebenarnya tante Elsa ini akan menjadi ibu ke duamu Yuki, apa kamu menyutujuinya nak?” mendengar perkataan dari ayah, aku sangat tidak percaya. Perasaanku campur aduk dan keringatku di kepalaku menetes tanpa henti. Tiba-tiba ibu keluar dari kamarnya dan terlihat kaget melihat kejadian tersebut.
“Siapa wanita itu? Mengapa kau akan menjadikan dia sebagai ibu ke dua untuk Yuki? Kenapa?!” tanya ibuku sambil meneteskan air mata. Aku sangat iba melihatnya.
“… Plakk!!!” tamparan ibuku tepat berada di pipi ayah
Aku terkejut saat ibu melakukanya. Ibu terlihat sangat marah dan tidak bisa menahan emosinya, aku mencoba menghentikannya tapi ibu malah memukulnya hingga hidung ayah berdarah
Aku menghentikan ibu, dan akhirnya ibu berhenti melanjutkan emosinya lagi. Dasi dan kemeja ayah terkena darah, namun ayah masih tetap meminta maaf.

“Ayah, jika itu kemauan ayah, silakan lakukan. Kami baik-baik saja kok tanpa ayah” ucapku meyakinkanya walaupun sebenernya aku tidak ingin mengatakannya.
“Tapi nak..”
“Sini akan kucucikan kemeja dan dasi ayah yang terkena darah. Sebagai tanda kehormatan terakhirku pada ayah” pinta ku
“Baiklah Yuki, ayah akan selalu mengunjungi kalian sebisa mungkin. Dan tolong simpan dasi ayah ya, sebagai salah satu kenangan dari ayah untukmu, maafkan ayah dan terimakasih untuk segalanya”

Dan akhirnya hari yang kuanggap spesial itu berubah menjadi hari yang tidak ingin kuingat kembali selamanya. Kami mencoba merelakan ayah. Semua kenangan yang kita lakukan akan menjadi cerita indah di hidupku. Terimakasih ayah.

Cerpen Karangan: Alya Nurul Firdaus
Facebook: Fir Da
Gadis berumur 14 tahun yang sangat suka bermimpi dan sangat menyukai sesuatu yang berbau anime dan jejepangan ^^

Cerpen Sepercik Darah di Dasi Merah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kakak Sayangi Aku

Oleh:
Suara dentingan sendok makan mewarnai suasana pagi ini, menjelang berangkat ke sekolah aku telah terbiasa selalu sarapan. “Ibu, aku berangkat.” Itu suara kak Indra membuatku harus cepat-cepat menyelesaikan sarapanku.

Mereka Juga Manusia

Oleh:
“Orang gila… Orang gila..” Panggilan-panggilan sejenis itu sudah tidak asing lagi terdengar di telinga Kak Omas, orang gila kampung kami. Bahkan, ia sudah tak marah lagi bila anak-anak kampung

Gili Trawangan Sangat “Awesome”

Oleh:
Tepat 1 minggu setelah hari raya kemarin kami sekeluarga berencana untuk menikmati hari raya ketupat dengan Travelling memutari pulau Lombok. Sekitar pukul 07.00 Wita kami berangkat dari rumah nenekku

Perjalanan Hidupku

Oleh:
Namaku Syakila, aku lahir dan dibesarkan di kota yang tak pernah sepi Jakarta namanya. Hari-hariku selalu indah, ditambah orangtuaku yang selalu menyayangiku dengan sepenuh hatinya dan mereka tak pernah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *