Sepucuk Surat Dari Ibu Dan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 12 August 2015

Perpindahan rumah akhirnya tiba. Aku pun mulai mengemas barang-barang yang mungkin kuanggap penting. Kembali kutatap rumah yang penuh kenangan, mulai dari aku bayi, dewasa, hingga kepergian Ibu dan Ayah yang hampir ku abaikan.

Memang aku ini terkenal anak yang selalu melawan kedua orangtuaku. Saat Ayah dan Ibuku masih berada di dunia, hampir setiap hari aku melawan kedua orangtuaku. Semenjak kepergian kedua orangtuaku, aku merasa tenang karena tak ada lagi yang selalu membuat rumah ini kacau balau.

Ku ambil kardus berwarna biru. Kubongkar isinya hingga sepucuk surat jatuh di pangkuanku. Ku ambil surat itu dan mulai ku baca. Ternyata isi surat itu adalah.

Dari: Ayah dan Ibu
Untuk: Novi putri ku tercinta.

“Novi putriku.. mungkin Ibu hanya bisa meminta maaf pada melalui surat ini. Maafkan Ayah dan Ibu jika Ibu selalu membuatmu kesal dan marah saat Ibu melakukan hal yang tak ingin Ibu lakukan. Novi putriku, maafkan Ibu jika Ibu sering mengompol di kasur karena mungkin terkadang Ibu tak kuat berjalan menuju kamar mandi dan saat itu pula kamu marah pada Ibu. Tetapi apa kamu ingat nak sewaktu kamu mengompol di kasur kamu sembunyi di kolong tempat tidur dengan wajah malu dan takut jika Ibu memarahimu.

Maaf jika Ibu selalu memecahkan piring mungkin mata Ibu sudah rabun. Tapi ingatkah kamu ketika kamu memecahkan vas bunga kesayangan Ibu lalu kamu menangis ketakutan? Maaf jika Ibu sering memintamu mengulangi ucapanmu karena mungkin telinga Ibu sering tak mendengar. Tapi ingatkah kamu saat kamu melirik balon dan kamu berulang kali menyebut balon berulangkali sampai kamu mendapatkannya? Dan maaf bila Ayah sering melepaskan burung kesayanganmu saat hendak Ayah bersihkan?

Novi putriku mungkin hanya ucapan ini yang bisa Ayah dan Ibu berikan.
Salam sayang dari kami Novi putriku tersayang.”

Air mata mengalir deras di pipiku. Terasa sangat banyak kesalahan yang dulu aku lakukan. Kini aku telah selesai bersiap-siap. Kulangkahkan kakiku menuju ke luar rumah untuk menemui taksi yang sedari tadi menunggu. Terasa berat bila kumeninggalkan rumah yang penuh kenangan manis dan pahit. Namun ketegaran harus kupegang teguh masa depanku kini telah menunggu.

Selesai

Cerpen Karangan: Belinda Dwi Sukma Putri
Facebook: Belsa Putriie

Cerpen Sepucuk Surat Dari Ibu Dan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesal Yang Terlambat

Oleh:
Di tempat yang tak asing aku akan kembali menginjakkan kaki. Beberapa hari lagi aku kan menemui wanita yang pernah kubuat terluka. Wanita yang tak pernah kutemui selama empat tahun

Ratapan Anak di Luar Nikah

Oleh:
Sehabis pulang kerja Marni tampak sangat berang karena lantai kamar mandi rumah kontrakannya sangat becek malah kamar mandi itu banjir air baknya luber sampai setengah lantai kamar mandi itu

Lebaran Terakhir

Oleh:
Bulan ramadhan akan segera menghilang dan berganti dengan lebaran. Aku tak tau apa yang bisa aku berikan untuk orang yang paling aku sayang seumur hidupku. Yaitu ayah. Ya, ayahlah

Kado Terakhir Untuk Mama

Oleh:
Namaku Devina Aurelia Widjaja, biasa dipanggil Devi. Aku kelas VII. Aku mempunyai seorang Mama, ia menderita kanker paru-paru. Suatu hari aku bertanya kepada mamaku, “Ma, mama ultahnya kapan?”. “Lusa,

Cukup Disadari

Oleh:
Kak Zain harus pergi, sekarang! Ya, untuk sebulan ke depan. Dia saudara kandungku satu-satunya. Lalu, aku bercerita pada siapa? Kak Zain Permana Pratama, masih SMA kelas 2 di SMAN

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *