Sepucuk Surat Dari Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 April 2016

Rumah mewah yang dihuni satu orang lelaki tua bersama dua orang anak wanitanya, terlihat seperti istana di antara gubuk-gubuk tua. Di sebelahnya terdapat toko bangunan yang besar yang jaraknya hanya delapan rumah dari rumahku: rumah yang hanya berdinding dan berlantaikan kayu, sama seperti kebanyakan rumah di kampungku. Bagiku ini semua sudah lebih dari cukup. Seseorang lelaki tegar yang penuh akan kasih sayang, membuatku selalu merasa cukup dengan apa yang aku miliki saat ini. Dia adalah ayahku, anak dari si pemilik rumah mewah yang dihuni lelaki tua bersama dua orang putrinya tersebut.

Sawah adalah tempat di mana aku dan ayahku berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup kami. Aku dengan senang hati membantu ayah di sawah. Membajak sawah, menanam padi, serta menuai padi adalah kegiatan rutinku sepulang sekolah. Ayah pernah menyuruhku untuk fokus belajar saja, tidak usah membantunya di sawah. Kakek yang merupakan salah satu orang terkaya di kampung, juga menyuruhku untuk melakukan hal yang sama. Juara kelas adalah satu-satunya alasanku tetap bisa membantu ayah di sawah. Aku sama seperti kebanyakan anak remaja pada umumnya. Handphone, komputer, ataupun laptop adalah salah satu impian kecilku sejak dulu. Mimpiku pernah hampir terwujud.

Siang hari jum’at. Setelah salat jum’at, aku dan ayah pulang terlebih dahulu untuk berganti baju, baru kami melanjutkan pekerjaan kami di sawah. Ketika akan berangkat ke sawah, kakek datang menemui kami, membawa tas hitam seperti koper yang terbuat dari kain, namun ukurannya lebih kecil. Kakek memberitahu ayah, bahwa yang dibawanya adalah laptop, hadiah untukku. Ingin rasanya meluapkan kebahagiaan ini dengan berteriak kencang atau dengan melompat kegirangan. Namun sebelum meluapkan kebahagiaanku, aku langsung segera tersadar, bahwa tidaklah mungkin aku bisa memilikinya. Ayah selalu menolak pemberian-pemberian dari kakek, dengan alasan bahwa apa yang ayah dan aku miliki sudah lebih dari cukup.

Ayah mengetahui bahwa bukan hanya kakek yang kecewa akibat penolakannya, tapi aku pun juga kecewa, bahkan tanpa sengaja air mata ini sering menetes ke luar dengan sendirinya. Penolakan yang ayah lakukan memang sering mengecewakanku, namun aku bertekad, “Apa pun yang aku miliki saat ini, asalkan ayah selalu berada di sampingku itu sudah lebih dari cukup,” ayah mampu menghapus setiap kesedihan di hatiku, termasuk ketika ditinggal wanita yang telah melahirkan, membesarkan, dan merawatku dari kecil. Sejak lima tahun yang lalu aku ditinggal oleh ibu, tepatnya saat usiaku enam tahun.

Rumah kakek yang mewah. Aku tetap jarang bermain ke rumahnya, sekalipun ayah tidak pernah melarangku. Aku hanya meniru ayah. Tidak pernah ku lihat ayah sendirian pergi mengunjungi rumah kakek, kecuali jika bersamaku, itu pun pada waktu-waktu tertentu saja. Sebenarnya tidak ada hal buruk yang terjadi antara ayah dan kakek. Perlakuan ayah kepada kakek masih seperti kebanyakan anak lainnya, yang selalu menghormati orangtuanya. Hubungan ayah dan kakek terlihat buruk hanya karena kakek tinggal di rumah mewah, sementara ayah tinggal di rumah sederhana, serta sikap ayah yang tidak mau menerima barang atau benda yang diberikan oleh kakek, hanya itu saja.

Sampai sekarang aku tidak tahu alasan sebenarnya, kenapa ayah selalu menolak menerima apa pun pemberian dari kakek. Setiap diberi sesuatu oleh kakek, ayah selalu menolaknya dengan halus. Aku pun juga selalu mengembalikkan pemberian-pemberian kakek sama seperti ayah. Apa pun yang diberikan kakek untukku, aku selalu menanyakannya kepada ayah, dan ayah selalu menyuruhku untuk mengembalikkannya kepada kakek. Hal yang sama terjadi lagi, handphone layar sentuh yang sangat canggih, lengkap dengan kotaknya yang baru saja diberikan oleh kakek, harus segera aku kembalikan. Mataku memerah, air mata perlahan ke luar dari sela-sela mataku. Ku tenangkan diriku dengan cara mengenang semua kebaikan ayah.

“Aku sayang Ayah,” segera ku hapus air mataku, dan bergegas menuju rumah kakek. Lelaki tua itu memandangi ikan-ikan peliharaannya. Ia tersenyum ketika menyadari kehadiranku. Ku raih tangan kanannya dan ku arahkan ke arah keningku. “Assalamualaikum Kakek,” suaraku lembut menyapa kakek.
“Waalaikum sallam,” kakek mengusap-usap rambutku dengan tangan kirinya.
“Rijal disuruh ayah ngembalikkan hp yang Kakek kasih,” air mata kembali mengalir dari sela-sela mataku, ketika akan menyerahkan salah satu mimpi kecilku. Ku arahkan kepalaku ke dada kakek. Ku peluk erat tubuh kakek dan kakek pun membalas pelukanku. Suaraku terisak-isak di dalam pelukan kakek.

“Sudah Jal. Ayahmu memang begitu orangnya, Kakek udah tahu Ayahmu itu kayak gimana. Jangan marah sama Ayahmu ya,”
“Enggak, Kek. Rijal sayang Ayah Kek. Hu..uu…u,”
“Sudah… Sudah, kalau Rijal sayang Ayah, Rijal jangan nangis lagi yah. Nanti kalau Ayah tahu Rijal nangis, pasti Ayah Rijal sedih,” kakek berusaha menenangkanku dengan mengusap-usap rambutku dan menghapus air mataku dengan bajunya.

“Ayah Rijal nggak mau nerima pemberian Kakek, bukan karena dia nggak sayang sama Rijal atau gara-gara dia benci sama Kakek. Ayahmu itu dulu pernah sakit hati sama Tante-tantemu. Pokoknya adalah yang dilakuin sama Tante-tantemu sampe Ayahmu sakit hati, kamu gak perlu tahu itu apa. Yang jelas kamu suka kan hp dari Kakek?”
“Iya Kek, tapi Rijal sayang Ayah Kek. Rijal nggak mau bikin Ayah marah,”
“Iya iya, kakek tahu Rijal sayang Ayah. Hp-nya kamu bawa aja. Ini Kakek ada surat untuk Ayahmu, jangan dibuka ya!” kakek mengeluarkan sebuah amplop kecil dari dalam saku kanannya. “Sudah sana Jal. Hapus air matanya, bawa hp-nya sama suratnya! Suratnya jangan lupa kasih ke Ayah ya. Ingat jangan dibaca!”
Di sepanjang perjalanan, aku selalu bertanya-tanya, “Apa sebenarnya yang dilakukan Tante-tanteku kepada Ayah? Sehingga Ayah nggak mau menerima pemberian dari Kakek? Sama apa isi surat ini?”

“Loh hpnya kok belum dipulangin Jal?” pertanyaan ayah memberitahuku, bahwa aku telah sampai.
“Kata Kakek hpnya disuruh bawa aja Yah. Ini Rijal disuruh ngasih surat ini untuk Ayah,” ku serahkan amplop berisi surat pemberian kakek.

Ayah beranjak dari pekerjaannya di dalam sawah. Ia usap-usap kedua sisi tangannya dengan celana dan bajunya. Ia ambil amplop dariku menggunakan tangan kanannya. Jantungku berdegup kencang dibuatnya. Awalnya wajahnya biasa-biasa saja, setelah membuka amplop yang berisikan surat dari kakek, senyuman kecil mulai terpancar dari wajahnya. “Jal, simpanlah hp itu di rumah. Hp itu milik kamu.” Katanya sambil tersenyum menatapku.

Cerpen Karangan: Nanda Satria Maulana
Blog: inspirasiremajaislam@blogspot.com

Cerpen Sepucuk Surat Dari Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seindah Pelangi

Oleh:
Nana adalah anak tuna netra. Ia tidak bisa melihat apapun di dalam hidupnya. Warna-warni hidupnya hanya hitam, kelam. Dulu, sebenarnya Nana belum tuna netra. Semenjak kecelakaan, mata Nana menjadi

Tak Ada Gunanya

Oleh:
Alunan suara gitar terdengar di seluruh ruang yang aku duduki berdua -gitar. Papah masih belum pulang. Padahal mentari tinggal menunggu menit untuk mengatakan, “Sampai jumpa lagi esok hari.” sejenakku

Hijrah (Part 1)

Oleh:
Seorang pemuda keluar dari pintu dapur rumahnya, wajahnya masih tampak kusam, matanya baru separuh terbuka, dan sepertinya ia masih ingin melanjutkan tidurnya. Suasana diluar rumah masih gelap dan dinginnya

Jangan Cepat Mengambil Kesimpulan

Oleh:
Kata kebanyakan orang malam minggu adalah malamnya untuk para muda-mudi. Terbukti yang terjadi di kota bandung saat ini. Hiruk pikuk keramaian kota pun sudah menjadi ketenaran tersendiri setiap malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sepucuk Surat Dari Kakek”

  1. Rhomy says:

    Kurang menarik ceritanya, ending nya gak surprised

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *