Sepuluh Tahun yang Lalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 September 2014

“Huh…” Aku bersandar di bawah pohon rindang nan sejuk. Dengan buku dan pensil yang kugenggam, aku memejamkan mata. Memikirkan tentang hal-hal yang akan kutulis di dalam buku itu. Aku membuka mata. Memperhatikan langit sore yang indah, melihat awan yang bersahabat dan melihat gerak-gerik burung-burung yang berterbangan. Aku tersenyum. Lalu menuliskan semuanya di dalam buku.

Ini sudah menjadi kebiasaanku. Setiap sore aku selalu pergi ke tempat itu. Tempat dimana aku melepas lelah. Ya, di tempat ini, di bawah pohon yang rindang ini tempatku melepas lelah. Pohon yang telah kuanggap sebagai sahabatku sendiri, saat aku menulis ‘Best friend’ di batang pohon itu. Terdengar sangat konyol, tapi inilah kenyataannya.

Aku memperhatikan buku yang ku genggam. Memperhatikan setiap halaman dengan fokus agar tak ada yang terlewatkan. Aku tahu, setiap halaman hanya penuh dengan bacaan yang sama. Tak ada yang berbeda, kecuali di halaman terakhir buku itu.

Tak terduga olehku, air mataku jatuh dengan tiba-tiba saat membuka halaman terakhir buku itu. Di dalamnya terdapat sebuah foto wanita paruh baya bersama seorang anak perempuan dengan rambut berkepang dua. Di samping foto juga terdapat sebuah kalimat, ‘aku sayang bunda’. Aku ingat. Aku yang menulis kalimat ini saat berusia tujuh tahun. Air mataku terus berjatuhan, kali ini lebih deras, mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu, atau lebih tepatnya, saat aku berusia tujuh tahun.

*Back ten years ago…
Waktu itu, kami sekeluarga -Aku, bunda dan ayah- sedang bersiap-siap untuk pergi berlibur ke rumah nenek. Kami sangat senang, terutama aku. Aku dan bunda bernyanyi riang di setiap perjalanan. Kami berdua berfoto bersama menggunakan kamera milikku. Kamera yang ayah berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku kemarin. Kami yang sedang asyik berfoto-foto, akhirnya tidak memperhatikan ayah yang sedang mengendarai mobil. Ayah sedikit lalai, matanya mengantuk karena semalaman tak bisa tidur. Aku tersadar untuk membangunkan ayah saat sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah kami.

“Ayah! Bangun! Bangun ayah! Ayahhhh!!!” Teriakku panik. Begitu juga bunda. Ayah terbangun namun, naas…! Semua yang kuusahankan sia-sia. Mobil itu menabrak mobil kami.

“Bunda!!” Aku memeluk bunda, namun bunda menolakku. Aku terhindar dari serpihan-serpihan kaca mobil. Namun tidak untuk bunda. Kaca-kaca mobil menancap di bagian kepala, mata, serta lengan bunda. Ya, aku menyaksikan kejadian itu. Menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Ayah berhasil keluar dari mobil dan menyelamatkanku.

“Ayah… Bagaimana dengan bunda?” Tanyaku saat ayah membawaku lari.
“Jangan difikirkan dulu, sayang… Lukamu parah…” Jawab ayah sambil membendung air matanya.
“Tapi, ayah?”
“Sudahlah, Ra…” Ayah meneteskan air matanya perlahan. Luka di kepalaku semakin sakit. Aku pun tak sadarkan diri karena kepalaku terasa benar-benar sakit. Dan aku tak ingat apa-apa lagi. Saat kubuka mata, aku sudah berada di rumah sakit.*

Air mataku semakin deras bagaikan banjir, mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Aku kembali menatap foto itu. Wanita paruh baya yang mengenakan hijab putih itu adalah bunda. Dan seorang anak perempuan berkepang dua di sampingnya adalah aku. Ya, itu foto kami saat di mobil, sepuluh tahun yang lalu.

Kututup buku berwarna coklat yang sudah setengah jam menemaniku di sini. Aku kembali memperhatikan langit sore. Menunggu sang mentari hilang dari pandanganku, dan menanti bulan untuk menggantikannya. Aku menguap beberapa saat. Mataku terasa berat. Hangat. Tubuhku begitu hangat. Aku merasa dipeluk seseorang. Pelukan seperti sepuluh tahun yang lalu. Seperti… Saat… Saat aku memeluk… Bunda…

Sepuluh Tahun yang Lalu…

— TAMAT —
Happy reading ^_^

Cerpen Karangan: Hannisa Tsabitah Aura

Cerpen Sepuluh Tahun yang Lalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berpisah Untuk Bertemu

Oleh:
“Syell gue pinjam duit dong Syell,” “Emang lo butuh berapa?” ucap Syella. “Nggak banyak banyak sih cuma buat ongkos pulang aja,” jawab Icha. “Kalau boleh tahu lo gak dikasih

Inlah Hidupku

Oleh:
“Inaaa bangun lagi, cuci bajunya setelah itu ke pasar” seru ibu. Jeritan ibu pagi ini sungguh menggelegar. Seperti petir menyambar diriku. Tapi tunggu, apakah ini?. Ya, ini adalah perlakuan

10 November (Part 2)

Oleh:
“Aku membenci hal itu karena saat aku merayakan ulang tahunku pertama kali pada umur 14 tahun, di hari itu aku…” aku menghentikannya sejenak dan menahan air mataku agar tidak

Surat Kecil Buat Tuhan

Oleh:
“Klik” aku mematikan lagu yang sedari tadi menusuk kuping ku. Air mataku tak berhenti jatuh.. mataku bengkak dan rasanya aku ingin mati. “Took… toook… tooook,” yuni ayo makan dulu

Watashi O Yurushite

Oleh:
“Yuka!” teriak Pinchi memanggilku. Aku tidak menoleh, aku masih kesal karenanya, kemarin masa ia mengebutkan sepedanya, padahal hujan baru saja reda, jalanan yang becek membuat menciprat ke aku. Aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *