Seribu Cintaku Untuk Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 22 May 2015

Surga memang berada di telapak kaki Ibu. Tetapi pernahkah terlintas sejenak dalam pikiran kalian, bahwa seorang Ayah juga punya peran yang sangat berharga dalam kehidupan kalian? Ya, memang benar jika Ayah bagaikan sebongkah berlian yang sangat cerah nan sulit didapat. Saya bisa mengatakan seperti itu, karena sesungguhnya hanya Ayah yang rela berkorban untuk menghidupiku, Ayah yang rela menguras keringat demi keluargaku, dan bahkan hanya Ayah yang rela banting tulang dari teriknya matahari hingga terbenamnya matahari tanpa mengeluh sedikitpun.

Mungkin kalian tidak pernah mengerti seberapa lelahnya ia berjuang melawan rintangan hidup dan mungkin kalian tidak pernah melihat tetesan keringat yang jatuh membasahinya tanda bahwa ia sangat letih. Ayah hanya ingin memperlihatkan senyuman dan hasil jerih payahnya kepada anak dan istrinya. Dan bahkan Ayah selalu berusaha untuk menutupi rasa lelahnya.

Begitu besarnya bukti Ayah mencintai keluarganya. Masih sajakah kalian ingin memaki-maki Ayahmu? Masih sajakah kalian ingin membenci Ayahmu? Dan masih sajakah kalian ingin menyia-nyiakan perjuangan Ayah untukmu? Sangat disesalkan jika kalian tidak bisa menentukan sikap. Dewasakanlah pikiranmu mulai saat ini.

Pada suatu hari, di pagi nan cerah, tampak sesosok keluarga bahagia nan harmonis sedang berkumpul di depan rumah. Sebut saja keluarga Pak Ngadi. Pak Ngadi selalu saja mengajarkan kepada anaknya, Irfan, bagaimana cara berbuat baik dan memperbanyak amal ibadah. Irfan adalah seorang anak yang sangat berbakti dan bahkan ia bisa dikategorikan dalam kategori anak yang sholeh. Hari-harinya selalu ia lewati dengan sholat, mengaji, sekolah, dan masih banyak lagi kegiatan yang ia tekuni.

“Yah, Irfan berangkat sekolah dulu ya.” sahut Irfan kepada Ayahnya.
“Iya nak, belajar yang rajin yah. Hati-hati.” jawab Ayahnya dengan lantang.

Sepulang sekolah, Irfan terlebih dahulu sholat di mushola dan langsung menuju TPQ untuk mengaji. Lagi-lagi ia selalu berpamitan kepada Ayahnya, baik berangkat maupun pulang dari kegiatan. Ayahnya memang sangat baik dan sangat sayang dengan Irfan, lain halnya dengan Ibunya. Ibunya seperti Ibu tiri yang selalu menyiksa anaknya. Irfan tak pernah dipedulikan, diberi kasih sayang, dan bahkan Irfan tak pernah mendapatkan surga Ibunya. Irfan selalu mendapatkan caci maki dari Ibunya. Makan pun, Irfan selalu diberi makan tahu dan tempe tiap harinya. Tetapi yang membuat saya bangga dengan Irfan, ia tak pernah mengeluh dengan apa yang telah diberikan Allah terhadapnya. Ia hanya mensyukuri semua nikmat yang telah dianugerahi. Walaupun beribu-ribu kali goresan dari Ibunya selalu jadi santapan tiap harinya, ia selalu bersikap lapang dada.

Pada suatu malam, Ayah Irfan tiba-tiba mengeluh kesakitan. Irfan pun langsung meminta tolong kepada tetangganya untuk mengantar Ayahnya ke rumah sakit terdekat. Dengan sangat panik, Irfan pun mengatakan “Yah, Ayah kenapa begini? Apa yang telah terjadi, sampai Ayah mengeluh kesakitan seperti ini?”
“Ayah tidak apa, Ayah hanya sedikit kesakitan di lambung. Mungkin hanya maag biasa.” jawab Ayahnya penuh dengan ketenangan.
“Ya sudah, Yah. Ayah harus cepat sembuh. Ayah harus tetap menjadi semangat Irfan.” support Irfan terhadap Ayahnya.
“Iya, Ayah pasti selalu jadi semangat Irfan. Irfan juga harus rajin belajar dan tetap berjuang meraih cita-cita ya. Jangan pernah Irfan berubah untuk menjadi sosok yang lebih buruk.” sahut Ayah.
Tak lama pun, Ayah Irfan langsung tak sadarkan diri. Pihak rumah sakit berusaha untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan profesional.

Tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang UGD Ayah Irfan. Dan dengan bergegas pun, Irfan langsung menanyakan kondisi Ayahnya saat ini.
“Sus, bagaimana keadaan Ayah saya?” tanya Irfan kepada salah satu suster di rumah sakit tersebut.
“Ayah kamu, terkena Asam Lambung.” jawab suster dengan ramah.
“Astaghfirullah. Kenapa Ayah bisa mengidap penyakit seperti itu? Setahuku, Ayah tak pernah mengeluh kesakitan dan bahkan Ayahku terlihat baik-baik saja, Sus.” ucap Irfan.
“Entahlah, kamu sabar saja ya, Dik. Teruslah berdoa yang terbaik untuk kesembuhan Ayahmu.” ujar suster berusaha menenangkan hati Irfan.
“Iya sus, terima kasih.” jawab Irfan.

Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Ayahnya sadar kembali. Tak perlu berbasa-basi lagi, Irfan dan Ibunya memasuki ruangan di mana Ayahnya dirawat. Di ruangan tersebut, keluarga mereka terlihat sangat harmonis. Dan bahkan mereka berbincang-bincang sangat lama sekali, tanpa mempedulikan waktu.

Lalu, tiba giliran orangtua saya untuk menjenguk Om saya itu. Di ruangan itu, suasana menjadi haru ketika melihat keadaan Om saya yang tergeletak dengan tubuh yang sangat kurus sekali dan perut yang semakin membesar. Saya begitu prihatin dengan keadaan Om saya itu. Begitu pun juga dengan Ibuku, adik dari Omku itu, terlihat meneteskan air mata saat berbincang-bincang dengan Om saya tersebut.

Setelah lama berbincang, keluargaku pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Dan kemudian berpamitan kepada Om saya tersebut serta tak lupa berpamitan dengan orang-orang yang ada di dalam rumah sakit Anwar Medika tersebut.
“Mas, cepat sembuh yah. Jangan terlalu banyak pikiran.” ujar Ibuku terhadap Om Ngadi.
“Amin. Terima kasih banyak, Dik, sudah menjengukku.” jawabnya.
“Iya Mas, sama-sama. Saya pamit pulang dulu ya.” ucap Ibuku.
“Ya, hati-hati di jalan.” kata Omku.

Sepulang dari rumah sakit, orangtuaku masih saja membicarakan hal dan topik yang sama. Mereka sama-sama merasa tak percaya dan tak kuasa melihat kenyataan yang ada. Sangat tidak mungkin dan mustahil rasanya, jika Om saya yang tampak sehat-sehat saja dan sama sekali tak punya riwayat keturunan seperti itu, bisa mempunyai penyakit yang tak pernah diduga-duga sebelumnya. Tetapi takdir berkata lain. Musibah itu harus terjadi dan harus menimpa Om saya itu.
“Kenapa Om kamu bisa menderita penyakit seperti itu? Kurang kah perhatian dari istrinya? Atau pola makan Om kamu yang tidak sehat dan tidak teratur?” Ibuku bertanya-tanya.
“Mungkin istrinya kurang perhatian sekaligus kurang peduli dalam hal menyediakan makanan yang sehat, Bu. Ibu tau sendiri kan bagaimana tingkah laku istrinya Om? Kepada anaknya saja seperti ibu tiri, bagaimana dengan suaminya sendiri? Pasti lebih parah daripada itu.” ujarku sedikit kesal.
“Husss, kamu tidak boleh berkata seperti itu.” Jawab Ibuku.
“Baiklah, Bu.” Kataku dengan tersenyum.

Setelah berbincang-bincang, kami memutuskan untuk beristirahat, karena mengingat hari sudah sangat gelap sekali. Tetapi tak lama kemudian, handphone Ibu saya berdering sangat keras. Dan membuat Ibuku langsung terbangun dari tidurnya lalu dengan cepat mengangkat telepon tersebut.
“Halo, ini siapa?” tanya Ibuku dengan sedikit panik.
“hu… huhu..” terdengar suara seseorang yang sedang menangis.
“Halo… Halo… Ada apa ini?” tanya Ibuku lagi.
“Kakakmu meninggal dunia…” sahutnya.
“Inalillahi wa inalillahi rojiun.” Jawab Ibuku tak kuasa menahan tangis.

Semua keluargaku panik dan tak pernah menyangka jika semua bisa terjadi secepat ini. Dengan sangat terburu-buru, keluargaku langsung bergegas menuju rumah sakit tersebut untuk melihat Om saya untuk yang terakhir kalinya.

Sesampai disana, saya melihat keluarga dari Om saya, terlihat begitu sedih dan sangat sulit untuk menerima semua ini dengan ikhlas. Begitupun juga dengan anak kesayangan Om saya, yang bernama Irfan. Ia juga terlihat begitu terpukul dengan kepergian Ayahnya.
“Yang sabar ya, Irfan. Aku yakin, pasti kamu bisa kuat dan tegar dalam menghadapi cobaan ini.” Ujarku terhadap Irfan.
“Iya, terima kasih banyak atas duka citanya. Tetapi dari hati yang paling dalam, sungguh aku sangat sulit untuk menerima semua ini. Aku rasa, baru saja aku berada di samping Ayahku dan berbicara banyak dengannya. Tetapi mengapa semua bisa terjadi secepat ini? Aku sungguh tak percaya kalau Ayah harus menghembuskan nafas terakhirnya. Jujur aku masih membutuhkan Ayahku. Aku masih sayang dengan Ayahku. Hanya beliau yang selalu ada di sampingku dan hanya beliau yang mampu membangkitkan semangatku kembali. Aku sangat tak kuasa untuk menghadapi kenyataan ini. Aku ingin Ayahku kembali…” jawab Irfan sambil meneteskan air mata.
“Iya, aku sangat tau apa yang kamu rasakan saat ini. Pasti kamu sangat terpukul dan sangat sedih dengan apa yang kamu alami saat ini. Tetapi cobalah untuk tegar dan ikhlas menerima, karena hanya itu yang membuat Ayahmu tenang di alam sana.” Kataku memberikan semangat.
“Baiklah, aku akan mencoba untuk tegar. Walaupun aku sangat tak kuasa menahan tangisku.” Ucap Irfan sambil menangis tersedu-sedu.

Dari kenyataan yang telah terjadi, saya berusaha untuk memetik suatu pelajaran di balik kesedihan yang telah dialami oleh Irfan. Mungkin semua terjadi secepat buah apel yang jatuh dari pohonnya. Tak pernah disangka dan tak pernah menyangka bahwa jatuhnya buah apel tersebut akibat gravitasi bumi. Ya, sama seperti kehidupan. Dengan silih bergantinya waktu, semua pasti kembali kepada Sang Pencipta. Tidak akan pernah ada yang bisa mengetahui kehendak Allah itu. Meskipun semua orang tak kuasa untuk menerimanya, tetapi sesungguhnya Allah lebih mengetahui rencana yang telah ia buat.

Inilah arti kehidupan. Semua mempunyai peran yang sama. Tidak hanya Ibu yang menjadi peran utama dalam kehidupan. Dan bahkan bukan sosok Ayah yang menjadi peran pendukung. Namun lebih pantasnya adalah Ayah dan Ibu yang menjadi peran utama dalam suatu skenario. Dan apabila salah satu pemeran utama tersebut tiba-tiba menghilang, suatu skenario tidak lagi mempunyai makna yang pasti. Sama seperti yang telah terjadi saat ini. Ketika kalian merasakan hanya mempunyai satu kaki, apa yang kalian rasakan? Pasti dalam pikiran kalian adalah sangat sulit untuk berjalan layaknya manusia normal. Inilah yang dirasakan oleh seorang anak yatim yang bernama Irfan. Ia berusaha untuk berjalan dengan satu kaki, meskipun ia tak punya satu kaki lagi untuk menjadikannya mampu berdiri tegak.

Bersyukurlah kalian yang masih mempunyai orangtua. Walau mereka sering memberi nasihat padamu, tetapi sesungguhnya ia sangat menyayangimu lebih dari yang kau tahu. Jadi, jangan pernah kalian sia-siakan dan jangan sesekali kalian mencoba untuk menyakiti hati mereka. Karena sesungguhnya kalian belum pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi tonggak dalam kehidupan kita, seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka, dan seseorang yang selalu berusaha untuk membuatmu bahagia. Begitu menyakitkan, bahkan lebih sakit daripada menyayat-nyayat tangan kita sendiri.

Saya dan keluarga hanya bisa membantu dan memberikan semangat untuk Irfan agar ia kembali berkobar seperti dulu lagi. Walaupun tidak banyak sedekah yang kita beri untuk anak yatim sepertinya, tetapi setidak-tidaknya kita masih mampu untuk menjelaskan arti hidup yang sebenarnya kepada Irfan. Ia tak boleh menyerah, tak boleh putus asa, dan tak boleh patah semangat dalam meraih cita-cita, seperti pesan terakhir yang disampaikan oleh Ayahnya pada waktu itu.

“Bu, kasihan yah Irfan. Dia kan masih butuh perhatian dari Ayahnya. Tetapi tak disangka, seseorang yang sangat menyayanginya malah pergi mendahuluinya.” ujarku kepada Ibuku.
“Ya, seperti itulah hidup. Maka dari itu kita harus pandai-pandai dalam bersikap. Karena tanpa disadari pun, terkadang sikap kita bisa melukai hati orang lain. Jangan kamu sia-siakan perjuangan Ayahmu yah. Ayahmu rela loh jatuh bangun hanya demi menghidupi keluarga kita. Bahkan banyak-banyaklah kamu bersyukur masih mempunyai seorang Ayah yang begitu kuat untuk memenuhi kebutuhan kita bersama ya. Meskipun tak banyak rejeki yang telah dihasilkan, namun sungguh, hanya kebersamaanlah yang jauh lebih berarti daripada sebatang emas.” Jawab Ibuku dengan tersenyum.
“Iya Bu, saya bersyukur mempunyai Ayah seperti Ayahku ini. Beliau memang pahlawan yang tidak ada duanya. Hehehe.” Gurauku dengan Ibu.
“Iya, Nak. Kamu benar sekali. Jagalah baik-baik amanah Ibu itu. Dan ingat satu lagi ya, Nak, kamu harus banyak-banyak membantu anak yatim seperti Irfan. Karena justru anak yatim yang seperti itu lah yang haus akan perhatian dan lapar akan kasih sayang orangtuanya. Bantulah ia untuk menjaga imannya agar ia tak goyah dalam bersikap ya.” ujar Ibuku.
“Baik, Bu. Saya akan membantu Irfan semampu dan sebisaku.” Jawabku dengan tersenyum lebar.

Setelah kejadian tersebut, keluargaku mulai pandai dalam membina kebersamaan. Masing-masing saling berusaha untuk memperkuat tali persaudaraan agar tak mudah putus walau dihempas ombak. Dan satu sama lain mencoba untuk saling bahu-membahu dalam membantu anak yatim seperti Irfan. Kita berusaha membantunya baik berupa materi maupun berupa dorongan, agar ia mampu kembali menjalani hidup seperti dahulu kala.

Cerpen Karangan: Tiara Dwi Fulandari
Blog: tiaradwifs.blogspot.com
Tiara Dwi Fulandari, 16 tahun, Surabaya

Cerpen Seribu Cintaku Untuk Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemuda dan Penjual Kacang

Oleh:
“Pak, beli kacangnya dong. 5 ribu”. Kata pemuda itu “Siap Mas, Saya pilihin yang masih panas buat Masnya. Jawab Si Penjual kacang sambil mengambil kacang yang masih hangat dari

Perfect Nancy

Oleh:
Aku tak pernah menganggap dunia itu adil. Mungkin ini pikiran yang paling jahat karena aku telah mengecewakan Tuhan (aku bukan atheis, lho!) tapi itu disebabkan oleh keadaan sekelilingku. Kalian

Satu Ginjal Satu Dunia

Oleh:
“Hei, Alex. Tetaplah hidup sampai aku kembali!” Itulah kata terakhir yang diucapkan Ray padaku sebelum ia berangkat menuju Singapura untuk mengejar cita-citanya, yaitu menjadi dokter. Dan saat itu aku

Keinginan dan Permintaan

Oleh:
“Kak… Aku ingin main bola!” rengek Rino, adikku. Aku menatapnya pilu, dulu ia sangat senang bermain bola. Sekarang, ia hanya dapat duduk di kursi rodanya. Kakinya lumpuh, dan ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Seribu Cintaku Untuk Ayah”

  1. almasanna says:

    Cerita ini sungguh mengharukam buat aq,karena dari kecil aq gak prnh merasakan kasih sayang seorang ayah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *