Seribu Luka Dan Pengajaran Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 June 2017

Suara tepuk tangan terdengar dari penjuru ruangan, ramai berkecamuk dalam keributan suara. Seorang gadis perempuan pun turun dari atas panggung, yang dilihat oleh sepasang jutaan mata memandang. Dialah Reina, seorang wanita 21 tahun yang berhasil mengubah dunia dengan hal yang indah yang dia cipta.

Reina Briliana, sebuah nama yang tak asing lagi tedengar di kalangan remaja, ia berhasil membuat anak remaja masa kini terbebas dari hal negatif, hingga senja ikut hadir dalam hidupnya. Senja yang dulu sempat hilang, kini tumbuh dengan menjadikan dirinya sesosok orang yang bemanfaat. Reina bisa seperti ini adalah karena seribu luka dalam hidupnya. Luka yang kini bisa membuatnya menjadi manusia seutuhnya. Hingga sekarang ia berhasil menjadi Reina yang sukses. Dan ini berawal dari 7 tahun silam, yaitu ketika Reina Berusia 14 tahun, ketka itu…

Di rumah kecil sedehana, dengan nuansa menakutkan.
“Uang!! Uang dan uang!!! Selalu itu yang membuatmu marah!!” Teriak seorang lelaki berparuh baya.
“Lalu apa kalau bukan itu pah? Hah?! Apa?!! Aku lelah… Aku cape! Lebih baik kita pisah sampai di sini..” Balas mamah Reina, dengan nada yang tak kalah tinggi.
Reina berada dalam balutan sepi, didengarnya suara kegaduhan dalam balik pintu kamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bayangkan, kini kedua orang yang ia sayangi dalam hidupnya harus berpisah sampai di sini. Reina termangu ketika seorang lelaki berparuh baya itu mulai melangkahkan kakinya..
Reina tak bisa mencegah sayap dan kekuatannya itu, Reina hanya bisa menjerit tak bisa keluar dari ruang kecilnya. Reina menangis. Reina mulai kembali terluka, kini lukanya tak bisa tersembuhkan, seribu luka yang makin menganga ketika dia lihat sesosok laki-laki itu mulai hilang dari pandangannya, di balik jendela kamar Reina berlirih. “Ayah.. Reina mohon, jangan tinggalin Reina di sini sendri.. Kau guru terbaiku dalam kehidupan. Perkataanmu membuat dinding besar yang terpatri, ayah sayang sekali lagi jangan pergi.. Aku mohonnn…” Jerit batinnya dalam hati.

Tetapi Orangtua itu pergi, laki-laki itu kini meninggalkannya. Itulah kisah seribu luka Reina. Semenjak kejadian itu Reina seakan tumbuh menjadi Reina yang mandiri. Badai, ujian, dihalau olehnya. Tak masalah ujian seberat apapun yang Tuhan berikan, namun Reina tetap Reina. Seorang gadis yang mempunyai kekuatan besar.

Pernah Sesekali di usia 21 tahun ini, ketika ia mulai mengeluh dan menyerah, ia ingat ketika kelas 3 SD, Reina kecil dan Ayahnya pegi bersama melihat senja dan magic orange, mereka memandangi pemandangan yang manakjubkan. Burung-burung terbang kesana kemari tiada henti, matahari bulat bersinar pun akan kembali pada peraduan. Reina kecil dan Ayahnya menatap senja yang indah dengan mata binar mereka, ayah Reina memandangi Reina kecil yang sangat terlihat cantik. Putri kecilnya itu sangat mirip dengannya, wajahnya bening, matanya bulat pekat, senyumannya manis, dan meneduhkan bila di pandang.
Ayahnya pun merangkul dan memeluk putri kecil kebanggaannya.
Lalu ayah mualai berkata. “Reina?” Tanya ayah dengan masih merangkul putrinya, namun matanya masih lurus melihat peraduan senja dikala sore itu.
Reina kecil dengan polos dan kepala yang menegadah tersenyum mulai menjawab, “Iya yah? Ada apa?” Jawabnya lembut.
“Kamu tau Reina sayang, hidup ini sederhana, kamu hanya perlu membuatnya istimewa dengan sentuhan tangan ajaibmu.”
Reina kecil hanya mengangguk tanda mengerti. Ayahnya hampir ratusan kali mengatakan itu padanya. Namun Reina tak pernah bosan mendengarnya, karena ia mengerti ia tak harus seperti ayahnya yang karena kesederhanaannya harus membuat ibunya marah dan kecewa setiap harinya.
“Oh iya, Reina tahu itu senja?” Selang beberapa menit Ayah Reina bertanya lagi. Sembari menunjuk pada langit ajaib itu.
“Iya tahu, emang kenapa?” Tanya Reina yang sangat berantusias. Karena kali ini, pasti Ayahnya akan memberikan pengajaran yang berbeda.Dan ternyata benar!
“Indah bukan?” Tanya Ayah kembali.
“Iya! Indah sekali yah, magic banget..” Jawab Reina kecil polos dengan gembira.
Ayahnya hanya tersenyum menatap Reina.
“Tapi hanya sesaat..” Ujar Reina tiba-tiba, menundukan kepala dengan rasa penuh kecewa.
Ayah menarik nafas, dan mulai berkata.. “Nah Rei. Sebenarnya begitulah kehidupan. Hidup ini indah sayang, tapi ini sesaat. Semuanya akan sirna dan musnah, karena tak ada yang abadi.”
Reina kecil mulai menangis, ia tumpahkan air mata yang mengalir di mata manisnya.
“Ayah.. Kalau senja sama seperti hidup. Dan itu hanya sesaat, mengapa ada kehidupan Yah? Dan itu tandanya, Reina engga bisa bareng Ayah selamanya, Ayah bakalan ninggalin Reina sendiri? Ah! itu enggak adil buat Reina..” Ujar Reina yang mulai menangis kembali.
“Sssutt.. Rei kamu jangan menangis sayang. Senja itu akan datang lagi.”
“Benarkah?” Tanya Reina bahagia.
“Iya! Kalau kamu bisa jadi orang yang bermanfaat di bumi ini, dan Ayah bakalan ada di sampingmu. Yaitu di sini, di hatimu.” Jawab laki-laki dewasa itu dengan menaruh tangannya pada hati putri kecilnya.
Reina kecil tersenyum bahagia, Binaran mata indahnya kini penuh harap.
“Reina sayang tetap jadi putri kecil kebanggaan Ayah.. Suatu saat nanti, kamu harus bisa terbang. Rei, terbanglah dan kepakan sayapmu dengan keimanan. Telusuri dan jajaki bumi ini dengan ketaqwaan. Batasi dunia dengan dinding keikhlasanmu. Dekati Allah dengan menyandarkan lukamu pada-Nya..” Ujar Ayah Reina yang mulai menitihkan air matanya. Reina kecil tetap asyik menyaksikan semburat sore itu. Sesekali ia mengangguk, dan berkata.
“Yaaa, Rei janji yah. Suatu saat nanti Reina akan jadi orang besar dan hebat. Rei akan kepakan sayap Reina seperti burung di senja itu.. Dan Allah lah yang akan jadi pelindung Rei” Ucap Reina dengan berkecamuk amat senang.

Setiap Ayah berkata, Reina selalu mendengarkannya baik-baik, itu pengajaran dari ayahnya, Ayah Reina memang benar-benar hebat! Ia tak pernah berhenti mengajarkan pengajaran tentang kehidupan pada putri kebanggaanya. Pengajaran yang berharga, pengajaran yang takkan pernah bisa ia lupakan hingga ia sukses, hingga ia berhasil dan hingga sekarang..
“Ayah.. Kau di mana? Kapan kita akan melihat senja ini lagi?.” Ujar Reina yang menyandarkan kepalanya di tembok. Dilihanya senja yang sempurna hari ini.

“Ayah.. Kini Rei telah menepati janji Rei. Kini diusia 21 tahun Rei bisa membuat senja. Menjadi orang yang bermanfaat dengan warna orange yang Ayah ajarkan. Ayah.. Rei belum sempat mengucapkan terimakasih. Karena pengajaran Ayah, Rei bisa seperti ini. Rei tahu, walau senja ada. Namun luka ini belum sembuh, dan Rei tahu. Reina harus sandarkan luka ini pada Allah.. Terimakasih Ayah.. Terimakasih, kau akan tetap ada di hati ini. Pengajaranmu takan penah kulupakan. Dari seribu luka yang kumiliki..”

Cerpen Karangan: Angga Laena Siti Patimah
Facebook: Angga Laena Siti Patimah
Angga laena siti patimah namanya. Panggil saja laena. Siswi kelas XI Jurusan Busana di Smkn 2 baleendah. Lahir di Bandung, 13 juli 2000. Salah satu cita-citanya adalah bermanfaat bagi banyak orang.

Cerpen Seribu Luka Dan Pengajaran Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Puisi Untuk Bunda

Oleh:
Nama ku sesil, aku ber umur 6 tahun sekarang aku sekolah kelas 1, kata ayah sejak aku lahir Bunda ku udah meninggal, aku sama sekali ga pernah liat wajah

Akhirnya Semua Tahu Tentang Ku

Oleh:
Namaku Fafa. Aku di sekolah hanya temanku yang tahu tentang fisik bentukku yang kelihatan aneh daripada yang lain, ini adalah rahasiaku. Ghea temanku, dia yang ngerti bentuk tubuhku. Aku

Kebahagiaan Untuk Ibu

Oleh:
Aku melihat kesedihan yang mendalam dari matanya. Matanya yang dulu semangat kini seakan rapuh, bagaikan pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Aku merasa kasihan kepada ibu karena semenjak ayah

Satu Ginjal Satu Dunia

Oleh:
“Hei, Alex. Tetaplah hidup sampai aku kembali!” Itulah kata terakhir yang diucapkan Ray padaku sebelum ia berangkat menuju Singapura untuk mengejar cita-citanya, yaitu menjadi dokter. Dan saat itu aku

Martini

Oleh:
Ada seorang wanita tua dan miskin terbaring lemah di rumahnya yang jelek. Tatapan matanya kosong hanya ada bulir-bulir air mata penyesalan yang jatuh dari kedua matanya. Wanita ini hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *