Seribu Malaikat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 February 2016

Nisman terperangah. Entah kenapa matanya langsung berair, tak pernah-pernah dia menangis begitu mudah selama ini. Kebahagiaan dalam hatinya membuat dia beku. Saat kesadarannya sudah kembali disalaminya Bu Bidan dengan sepenuh hati, begitu bersemangatnya sampai Nisman terbungkuk-bungkuk. Ayu ikut menangis. Jari lentiknya berulang kali menghapus air mata yang tak berhenti-berhenti ke luar. Dia mengelus punggung Nisman yang berguncang karena juga menangis. Dia sama sekali tak menyangka, akhirnya doanya dan suaminya dikabulkan setelah delapan tahun menikah.

Setelah penyakit kista yang dideritanya empat tahun yang lalu mereka hanya bertawakal. Jika ada yang bertanya kapan punya anak mereka akan menjawab nanti jika Allah sudah berkenan. Dalam hati mereka bertanya, kapan mereka diberi kepercayaan? Apakah kista itu adalah petunjuk bahwa Allah tak mempercayai mereka untuk membesarkan anak? Nisman tak menyerah. Hingga malam dia masih menunggu penumpang dengan motor bebeknya, tak lelah-lelah. Dia menabung supaya dua bulan sekali dia bisa membawa Ayu untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan. Setelah uang itu habis dia akan menabung lagi untuk dihabiskan lagi di dua bulan berikutnya. Di senja saat Nisma pulang dari mengojek Ayu menghampirinya yang tengah melepas lelah di kursi plastik di ruang tamu yang sekaligus ruang tv mereka.

“Mas, kita bisa ke bidan gak Mas?” Nisman melirik istrinya. Wajah Ayu memang sedikit pucat, “Bisa Yu, nanti malem kita ke bidan ya,” Ayu mengangguk sambil memegang perutnya, “Perutku kayak kena badai Mas,”
Nisman tertawa geli, “Kamu kayaknya masuk angin ini. Angin puting beliung,”

Ayu memukul paha Nisman yang duduk di atasnya lalu ikut tertawa. Kemudian dia berjalan menuju dapur dan kembali membawa secangkir kopi hitam untuk suaminya. Hari ini dia lupa menyiapkan kopi, perutnya benar-benar bermasalah hingga satu harian dia hanya bisa berbaring menahan mual. Di klinik sederhana itu Nisman dan Ayu duduk menunggu antrean. Wajah Ayu semakin pucat, Nisman semakin khawatir pula. Apa kistanya ada lagi? Tidak, dua bulan sekali Ayu dikontrol dokter, dokter bilang Ayu aman dari kista.

“Yu, perutmu sakit banget ya?”
Ayu menggeleng, “Bukan sakit Mas, tapi mual banget. Jangan-jangan Ayu punya maag,”
“Masuk angin aja kali ini Yu,” Ujar Nisman sambil memijit bahu Ayu yang dibalas oleh anggukkan kecil dari istrinya.

Nisman memejamkan matanya. Dia tidak sanggup kalau melihat Ayu yang menangis sendirian di tengah malam karena penyakitnya empat tahun lalu itu. Ayu terlihat tenang namun dia tahu jika di kamar mandi Ayu selalu menangis, hingga hari ini. Nisman selalu berupaya agar Ayu selalu makan-makanan yang baik. Nisman mengangguk pasti, istrinya hanya masuk angin. Mereka akhirnya dipanggil oleh perawat. Masuk dan bertemu dengan bidan yang memang sudah mereka kenal. Jantung Nisman berdebar-debar, masa lalu membuatnya kembali memikirkan yang tidak-tidak. Ibu Bidan duduk di bangku dan melihat raut wajah ketar-ketir Nisman yang duduk di seberang mejanya. Ibu Bidan tersenyum, dia pun tahu bagaimana Nisman berusaha untuk istrinya.

“Iman, si Ayu hamil,” satu kalimat dari Ibu bidan sanggup membuat dua orang di hadapannya seperti tersengat lebah. Ayu menutup mulutnya, air mata mengalir begitu saja. Nisman masih membeku, perlahan dia melihat Ayu yang sudah menangis, Ayu mengangguk. Nisman langsung berdiri kemudian menyalami Ibu Bidan dengan semangat, mengucapkan terima kasih berkali-kali. “Ini masih hamil muda Man, jadi dijaga baik-baik ya!” Nisman hanya mengangguk, isakan membuatnya kesulitan berbicara.

Ibu Bidan menyuruh Ayu membawa suaminya keluar. Ayu memapah suaminya ke luar dari ruang pemeriksaan. Mereka berdua terus menangis di sepanjang jalan. Beberapa tetangga mereka bertanya kenapa menangis, kemudian ikut mengucapkan hamdallah ketika tahu. Beberapa juga ikut menangis. Malam itu adalah salah satu malam paling membahagiakan. Seribu malaikat terbang di ruang pemeriksaan di klinik kampung. Mengibaskan sayapnya dengan perlahan. Menguapkan jutaan keping kebahagiaan.

Ayu terkejut saat sedang menyiapkan makanan untuk sahur. Mulas yang dirasakannya begitu hebat. Dia terduduk di lantai dapur sambil memegang perut besarnya, tak sanggup menyahut Nisman yang memanggilnya dari ruang tamu. “Astagafirullah Yu!” Teriak Nisman saat melihat Ayu yang sudah berkeringat jagung karena menahan sakit. Refleks Nisman mengeluarkan saputangan lalu memilinnya. Dia masukkan saputangan itu ke mulut Ayu, supaya istrinya tak menggigit lidah atau bibirnya. Dengan cekatan dia menggendong Ayu, membawanya ke klinik. Matahari semakin naik. Puasa tanpa sahur tak membuat Nisman lemas untuk hari ini. Ayu memandangi suaminya. Tangan Nisman gemetar sejak tadi. Kontraksi Ayu semakin sering, wajah pucat Nisman juga semakin sering tampak. Ayu bahagia, dia benar-benar merasa dicintai.

“Mas, nanti anaknya mau dikasih nama apa?” Nisman mengelap kening Ayu yang kembali berkeringat jagung, mulas yang diderita istrinya makin cepat.
“Nanti ajalah masalah nama Yu, gampang itu. Yang penting anaknya ke luar dulu,”
“Ya bentar lagi juga bakalan ke luar Mas. Bu Bidan aja udah siap-siap,”

Nisman memandang Ibu Bidan yang tengah menyiapkan beberapa gunting. Kakinya langsung terasa lemas. “Mas mending gak usah nemenin Ayu, takutnya malah Mas yang pingsan,”
Nisman ingin membantah tapi Ayu sudah menunjukkan wajah tak ingin ditemani. Dengan gontai Nisman berjalan ke luar dari ruangan bersalin itu. Matanya langsung bertemu dengan teman karibnya yang sesama pengojek, Ari.

“Tenang Man, pas istriku melahirkan aku juga diusir keluar,” ujar Ari sambil menunjuk kursi di sebelahnya. Dengan gontai Nisman melangkah ke arah tempat duduk kemudian duduk sambil mengacak-acak rambutnya.
“Nanti malem kamu udah jadi bapak Man, gak seneng kamu?”
“Seneng ndasmu. Istriku mules-mules kok aku seneng?”

Ari tertawa, “Serahin aja semua ke Allah Man, kamu panik-panik kayak begini juga ndak ada gunanya,” Ari menepuk punggung Nisman. “Ini baru pertama kali, jadi kamu masih kayak gini. Pas udah yang kedua, ketiga pasti ndak akan sepanik ini Man,”
“Sekarepmulah Ri,” jawab Nisman yang dibalas tawa Ari yang kemudian menepuk-nepuk pundak Nisman.

Tiga jam entah kenapa terasa lambat hari ini. Nisman tak bisa lagi duduk. Suara sekecil apapun bisa membuat jantung Nisman naik. Ketika pintu ruang bersalin itu terbuka, jantungnya berdebar benar-benar kuat. Ibu Bidan tersenyum menenangkan. Anaknya laki-laki, sehat wal afiat. Istri dan anaknya sekarang tengah dibersihkan. Nisman tersungkur. Satu dari seribu malaikat rela mendatangi rumah kecilnya dan bersedia untuk tetap tinggal. Membahagiakannya dan Ayu. Air mata mengalir deras di pipi Nisman. Ari menyuruhnya bangkit dan memeluknya. Dua laki-laki berkawan itu dibolehkan untuk masuk. Kaki Nisman gemetar melihat bayi yang matanya masih tertutup itu menguap beberapa kali dalam ranjang kecil. Ayu tersenyum melihat Nisman yang begitu terperangah melihat anaknya. Ari menepuk pundak Nisman.

“Jangan dilihatin terus Man, diazanin sana!”

Nisman melirik Ayu. Dia takut menggendong bayi yang baru ke luar dari rahim itu. Ayu melirik perawat klinik. Perawat itu dengan cekatan menggendong bayi lelaki itu dan mendekatkan ke arah Nisman. Mata Nisman kembali berkaca-kaca melihat anaknya. Alunan azan mengalun lirih dari klinik itu. Seorang ayah mengazani anaknya sambil sedikit tersedu, pertanda malaikat itu diterima dengan hati riang dan penuh rasa syukur.

The End

Cerpen Karangan: Nebula Salnia
Blog: nebulasalnia.wordpress.com
Halo! Saya Nebula Salnia. Kalian bisa kunjungi blog aku, https://nebulasalnia.wordpress.com untuk baca cerpen-cerpen aku yang lain! Terima kasih dan semoga kalian suka sama karya yang ala kadarnya ini.

Cerpen Seribu Malaikat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Impian

Oleh:
Kampung bahagia, tempat Ryan melewati hari-hari bersama ibu dan adiknya. Hidup tanpa kehadiran seorang ayah tak membuatnya kehilangan semangat, meskipun dalam kondisi ekonomi yang kurang memadai. Ryan yang masih

Merindukanmu

Oleh:
Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah.

Seragam Baru Untuk Adik

Oleh:
Bagi seorang kakak, terhadap seorang adik tugasnya adalah menjadi panutan dan bisa menjaganya. Namun tidak bagi Dina, setelah berbagai macam masalah dan orangtuanya meninggal akibat kecelakaan, Dina harus bisa

Adik

Oleh:
Namanya Axl Dean, aku sering memarahinya karena hal yang sepele maupun tak sepele. Hari ini, aku pergi ke pameran. Pameran hari ini dalam rangka ulang tahun provinsi. Yang biasa

Menggandeng Tanganmu, Aura

Oleh:
Sebuah kado yang terletak dikedua telapak tanganku. Dia Aura telah menunggu pagi sepesialnya hari ini dia berada di taman kota. Diseberang jalan sana aku melihat ia sangat gembira dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *