Seruling Di Senin Petang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 23 February 2016

Sore ini nampak begitu sendu. Angin bertiup sepoi-sepoi. Pohon-pohon dengan riang memainkan daunnya, menghasilkan satu-dua bunyi desis ramah di telinga. Saat ini senin petang. Ada kebiasaan unik nan aneh di desa kami, di mana setiap hari senin sore pasti hujan. Hampir bisa dibilang selalu hujan. Bila dihitung mundur, paling hanya saat desa mengadakan pesta rakyat suatu senin kala itu, tiada hujan karena memang sudah dipawang sebelumnya.

Aku duduk di pinggiran sungai bersama piaraanku, Molly. Molly adalah seekor anak anjing berwarna cokelat, ku dapat dari paman yang bekerja di kota. Aku memang punya kebiasaan unik setiap senin sore. Di tanganku saat ini sudah tergenggam sebuah seruling kayu yang bisa disebut tua, namun masih sangat autentik. Seruling ini peninggalan Kakek, tepat sebelum kakek wafat, beliau memberikannya padaku. Aku terbiasa memainkannya di pinggiran sungai seperti ini, sembari menatap rintik-rintik hujan yang membasahi tanah desa kami. Memang, kebiasaan ini cukup mengobati rinduku pada Kakek. Dulu, kakek pernah berkata, “Sekar, seruling ini kelak akan sangat berguna bagi banyak orang,” ujar Kakek. Jujur, saat itu otakku serasa harus bekerja lebih keras untuk mencerna ucapan Kakek. Dalam hati aku bertanya-tanya.

Untuk kesekian kalinya, keyakinan kami akan kebiasaan senin sore tidak meleset. Sore ini hujan kembali mengguyur, sembari berteduh di bawah pohon rindang, ku tiup serulingku perlahan, menghasilkan senandung-senandung nada yang harmonis dan damai didengar. Ritual yang ku lakukan ini tak memakan banyak waktu, tepat saat hujan mulai reda, aku dan Molly bergegas pulang. Aku berjalan setengah berlari, sambil melindungi serulingku dari tetes hujan. Aku tahu ini berlebihan namun, sungguh aku lebih menyayangi seruling ini ketimbang diriku sendiri. Serulingku punya kotaknya tersendiri. Kotak yang juga sudah uzur dimakan waktu, namun masih sangat berfungsi. Sesampainya di rumah, ku masukkan serulingku ke kotak berwarna biru donker yang memanjang, lalu ku letakkan rapi di bawah meja belajarku. Entah mengapa, hari seninku selalu terasa lebih indah berkat seruling ‘ajaibku’.

Hingga satu minggu sudah berlalu, bertemu kembali dengan hari senin. Sepulang sekolah, aku memutuskan untuk tidur siang sebentar sebelum sorenya bermain seruling di pinggir sungai. Tetapi ternyata aku bangun kesiangan. Pukul 5 sore aku baru beranjak dari kasur, padahal seharusnya pukul 5 aku sudah duduk santai di pinggir sungai. Melihat gerimis yang mulai menitik, aku langsung berlari, bermaksud menyambar serulingku. Namun seperti ada kaki menahanku, membuatku mematung seketika. Serulingku tidak ada. Ya, lenyap. Seruling yang masih lekat di ingatanku, ku simpan rapi dalam kotak yang kemudian ku taruh di bawah meja sekarang tidak ada. Panik, aku langsung mencari Ibu. Ibu memang tahu kebiasaanku bermain seruling ini, anehnya mengapa beliau tidak membangunkanku mengingat ini sudah pukul 5?

Waktu nampak tak ingin berkompromi denganku. Bahkan hujan di luar rumah pun semakin kompak datangnya. Aku menemukan Ibu, baru saja memasukki rumah terlihat baru pergi dari suatu tempat. Curiga dibuatnya aku pun bertanya segera, “Ibu, lihat seruling Sekar, nggak?” tanyaku. Ibu yang bahkan belum menutup pintu sempurna sehabis masuk pun menatap sedikit heran. Namu, tatapan herannya berganti seketika menjadi tatapan kaget. “Loh, Ibu sumbangkan ke panti asuhan tadi,” ucap Ibu ditambah kedua alisnya yang menaut. Perkataan Ibu bak halilintar yang menyambarku habis-habisan. Lidahku kelu, kakiku terasa lemas, bahkan aku langsung mencari tempat duduk seketika. Bayangkan saja, seruling peninggalan Kakek yang ku jaga amat seperti ku jaga diriku sendiri, saat ini raib sudah oleh Ibuku sendiri. Aku sungguh marah.

“Su-sumbang?” tanyaku lagi memastikan. Suaraku parau, menahan tangis yang sudah di pelupuk mata.
Tanpa menunggu penjelasan Ibu lebih lanjut aku balas berkata, “Apa Ibu tidak tahu seruling itu amat berharga bagiku?” kataku agak bergetar. Tangisku akhirnya pecah, sempat ku lihat Ibu hampir membuka mulutnya, hendak berkata sesuatu namun aku langsung berkata, “Itu peninggalan Kakek untukku, Bu,” keluhku sambil menutup wajah. Entahlah aku tak bisa bayangkan apa jadinya hari seninku tanpa seruling itu.

Hujan di luar semakin deras, seakan mengikuti suasana hatiku yang juga bersedih. Aku masih menunggu penjelasan Ibu. Ibu lalu mengambil tempat di sampingku, merangkulku lembut dan berkata, “Sekar, biar Ibu jelaskan. Ibu tahu seruling itu adalah bagian dari senin soremu, bahkan hari-harimu. Ibu pun paham itu adalah pemberian Kakek. Tapi, apa kau ingat pesan Kakek soal seruling tersebut yang akan menjadi bermanfaat bagi banyak orang? Nah, Kakek telah meninggalkan surat untuk Ibu. Isi surat itu ialah pada hari yang ditentukan Kakek, yakni hari ini, Ibu harus menyumbangkan seruling itu kepada panti asuhan tak jauh dari desa kita ini, Sekar. Maksud Kakek memberinya padamu sejenak ialah agar kamu tahu seruling kesayangan Kakekmu bersuara emas dan sempat menjadi bagian hidupmu,” jelas Ibu sabar. Perlahan-lahan aku mulai membuka mataku, menghapus air mataku. Masih perlu waktu untuk menerima semua ini.

“Sungguh Kakek menuliskan demikian?” tanyaku sambil masih mengatur napas.
“Iya, Sayang. Ini adalah pesan Kakekmu,” tanggap Ibu.
“Jika demikian, mulai sekarang Sekar akan merasa kesepian dan jauh dari Kakek, dong,” kataku sedih. Mendengar itu, Ibu seperti teringat sesuatu.
“Ah iya, Sekar tak perlu sedih dan merasa rindu pada Kakek. Sebagai gantinya, Kakek meninggalkan sepot mawar untuk Sekar. Kata Kakek, Sekar harus merawatnya sepenuh hati, sampai tumbuh besar dan berbunga lebat. Sehingga setiap Sekar menyiramnya, memupuknya, atau bahkan hanya sekedar memandangnya, Sekar teringat akan Kakek. Bagaimana, Sayang?” ucap Ibu melegakan.

Ku tatap sepot mungil mawar yang bahkan kuncupnya belum mekar sesenti. Begitu anggun dengan warna merah muda yang bergradasi menjadi putih. Cantik sekali. Perlahan-lahan aku mulai tersenyum. Senin sore tetap hujan seperti biasa, hanya yang berbeda kebiasaanku kali ini. Sudah ku relakan seruling itu berada di tangan yang lebih membutuhkan, sesuai mandat Kakek. Sekarang aku sibuk dengan mawarku. Tiap hari tingginya nampak bertambah, bunganya menjadi banyak, dan harumnya pun semerbak. Sungguh, terima kasih Kakek.

Cerpen Karangan: Amara Puspa
Facebook: Agatha Diora Amara

Cerpen Seruling Di Senin Petang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Hidup Gue

Oleh:
Andra memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang terletak di sebuah desa kecil di daerah Bogor rumah yang cukup besar dibandingkan rumah lainnya, malam ini waktu menunjukkan pukul 10.00

Sesal

Oleh:
Hari mulai petang, Fera baru pulang dari latihan pramuka. Penat sangat terlihat dengan hanya sekali pandang. Sendinya bagai tak mampu menahan bobot tubuhnya. Namun, entah kekuatan apa yang menggerakkan

Need More Chance

Oleh:
Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik.

Sepupuku Bukan Musuhku

Oleh:
Sewaktu itu, sepupuku punya sahabat dan aku tau mereka buat perjanjian di persahabatan mereka. Dan beberapa hari yang lalu, aku dan sepupuku sempat berkelahi dan aku sempat meminta maaf

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *