Sesal Selalu Datang Terlambat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 October 2017

“Haha… Kejar aku ibu… Aduuuh…” aku tersandung.
TIIN… TIIN…
Tiba tiba mobil berkecepatan tinggi datang dari kejauhan.
“Lily pergi”, ibu mendorongku ke trotoar. Dan…
“Aaaaa…” Ibu tertabrak oleh mobil yang melaju kencang tadi. Mobil itu pergi kabur seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Darah segar mengucur dari kepala ibu.

“Tolooong…” teriakku khas anak batita. Lalu orang-orang pun berdatangan dan membawa ibuku ke rumah sakit terdekat. Sayang, nyawa ibu tak terselamatkan.

6 bulan kemudian
Hari ini ulangtahunku. Aku merayakan ulangtahunku dengan ayah. Namun bagiku kurang lengkap tanpa ibu. Aku rindu ibu.

4 tahun kemudian
Aku tlah melupakan kejadian tentang ibu. Saatnya aku masuk SD. Aku suka sekali pergi sekolah diantar jemput oleh ayah menggunakan mobil panther hitam milik ayah.

Sekarang aku telah beranjak remaja. Usiaku sekarang 13 tahun. Saat masih kecil aku suka naik mobil panther hitam ayah, namun sekarang tidak. Aku malu dengan teman-temanku yang sudah mempunyai mobil bagus. Aku lebih mememilih jalan kaki daripada naik mobil panther ayah. Aku sering minta hal-hal yang ayah bilang tidak bisa ia berikan. Seperti hp, laptop, baju baru, dll.

Sekarang aku telah lulus SMA. Aku semakin berani melawan ayah. Hingga suatu hari…
“Yah… bisa nggak belikan aku HP baru. HP lamaku rusak”, pintaku.
“Ayah kan, sudah bilang ayah nggak punya uang. Ayah masih menabung untuk biaya kuliahmu.” tolak ayahku dengan halus.
“Kenapa sih, ayah nggak bisa ngertiin aku. Aku benci ayah” Bentakku lalu menuju kamar dan membanting pintu kamar dengan keras.
“Lily… Jangan marah nak…” ucap ayah. Seketika air mata ayah jatuh membasahi pipi. “Apa ini sudah saatnya…?” Ayah pun pergi dari rumah.

3 jam kemudian
“Ayah mana ya? Ah… paling nanti muncul juga.” aku pun pergi menonton tv. Tiba-tiba…
“Selamat siang pemirsa. Hari ini telah ditemukan seorang bapak yang telah bunuh diri di jembatan tol. Ia memakai baju kaos biru polos dan celana hitam pendek. Bagi yang merasa keluarganya harap melapor pada polisi” demikian berita yang ada di tv.
DEG…
“Jangan-jangan itu ayah. Aku harus ke sana” aku pun bergegas ke lokasi yang dimaksud.

“siang pak. Saya ingin melihat jasad yang tadi boleh? Saya ingin memastikan itu ayah saya atau bukan. Karena tadi ayah saya pergi dan tidak kembali.” pintaku
“Boleh, silakan” jawab pak polisi.
Aku pun perlahan membuka kain penutup jasad tersebut.
Deg…
“Ayaaaah…” teriakku saat melihat jasad tersebut adalah ayahku sendiri.

“Permisi nak. Apakah jasad tersebut keluarga anda?” tanya pak polisi.
“Iya pak. Ini ayah saya” jawabku sambil menahan tangis.

Ayahku dimakamkan. Kata pak polisi ini murni bunuh diri.

Tok.. tok.. tok
“siapa ya?” tanyaku sambil membuka pintu.
“Saya di sini ingin memberikan harta warisan pak Budiono. Apakah anda yang bernama Lily Sekar Putri?”
“Ya.” jawabku singkat.
“saya ingin mbak menandatangani ini. Harta warisan pak budiono berupa cek bernilai 1 milyar dan sebuah ruma di kawasan ***. Dan ini sebuah surat dari pak budiono.” jelas mbak itu.

Aku pun menandatangani surat itu. Dan mbak itu pergi. Aku pun membaca surat tersebut.
Deg…

Lily.. Ayah terpaksa bunuh diri agar semua harta ayah di notaris bisa diberikan padamu, nak. Tolong ya pakai uang itu seperlunya. Ayah hanya ingin kamu bahagia. Salam Dari ayah.
Aku pun menagis. “Apa yang telah kulakukkan? Aku tidak butuh semua ini ayah. Aku hanya butuh ayah.” Batinku. Baiklah aku akan menjadi Lily yang seperti ayah harapkan. Aku hanya bisa menyesal. Sesal selalu datang terlambat.

Cerpen Karangan: Patrice Vani Hosana
Nama: Patrice Vani Hosana
Facebook: Patrice Vani
Halo ini cerpen buatanku yg pertama. Maaf jika ada yg kurang.

Cerpen Sesal Selalu Datang Terlambat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gili Trawangan Sangat “Awesome”

Oleh:
Tepat 1 minggu setelah hari raya kemarin kami sekeluarga berencana untuk menikmati hari raya ketupat dengan Travelling memutari pulau Lombok. Sekitar pukul 07.00 Wita kami berangkat dari rumah nenekku

Growing Pains

Oleh:
Cinta tak pernah mengenal kata lelah, tak pernah ada keingin untuk mendapatkan imbalan karena cinta tak pernah mengenal kata pamrih. Cinta sangat hangat saat kita mampu meresakan betapa lembut

You’re Mom

Oleh:
Amerika, 6 November 2012 Sunyi, senyap dalam kegundahan, kesepian dan kemuraman layaknya malam yang tak bertabur bintang. Tanpa terhias sang putri bulan menggantung di atas awan, seperti malam yang

Pelangi Setelah Hujan

Oleh:
“Non, Mas Randy sudah menunggu di bawah.” teriak mbok Siti dari luar kamarku. Hmm, cukup cantik. Batinku sambil melirik kaca di sebelahku. Ku segerakan turun ke lantai bawah. Randy

Pengganti Papa

Oleh:
“Pa, kenapa papa ninggalin Ariqa secepat ini Pa? Ariqa sayang banget sama papa” Aku hanya bisa menangis sambil memandang makam papaku. Kini aku hanya tinggal bersama mamaku yang sedari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *