Setumpuk Mutiara Kasih (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 25 April 2013

Setiap aku bilang cinta, yang paling sering teringat hanya satu. Cintaku padaNya. Mungkin selama ini aku hanya berpacu pada dunia, yang hanya memberiku kebahagian sesaat, yang membuat aku jenuh sendiri dan merasakan hatiku dengan penuh hiruk pikuk.

Gelap yang mencurigaiku tuk berbuat curang, sekarang sudah menertawai. Bahkan disetiap berbuat kebaikan, ia seperti mengejek secara perlahan. Mentalku teruji dalam kemenangan yang kalah. Karna berada dalam bahagia yang sering mengadu pada tangis. Terkadang aku sadar, hal ini terjadi karna ulahku yang melupakan sujud sekian lama. Tidak pernah mampu mengetuk pintu hatiku tuk berubah dari kemurkaan. Bahkan bidadari hati kecilku dikoyak-koyak habis oleh nafsu dunia, dan setan berdiri di samping kiri dan kanan, merayu dan mencumbu dengan bisikan yang terasa menawan.

Dalam detik-detik yang berlalu, Aku tuangkan seribu duka dalam kemewahan, aku campakkan dunia-dunia pentingku dalam cinta yang tulus dari keluarga, sahabat, bahkan semua orang yang awal nya percaya dengan sikapku teduh tapi mencairkan kesabaran banyak orang. Disini aku berkata sendiri “bukankah aku seorang wanita yang hidup butuh keluarga, teman, tetangga dan rekan-rekan seperjuangan, yang sudah memeberikan aku nilai positif, hingga aku menjadi seperti ini?”

Dulu aku hanya gadis miskin yang tingga di penggiran sawah. Tinggal di gubuk dengan tangga kayu lapuk yang hampir roboh. Ibu hanya sebagai ibu rumah tangga yang setia pada suami, dan merawat kami dengan penuh cinta kasih. Ibu sering memanggil dengan teriakan keras, yang membuat tubuhku cepat berdiri.

“Gen, Geni… kesini! Coba liat air pada tungku itu sudah mendidih, cepat angkat!

“ya buk! aku masih dibelakang bilas baju, sebentar aku datang”

“cepat!

Tubuh itu terperanjat begitu saja mendengar penuturan ibu dari jauh. Aku tak sangggup mengundur-undur waktu tuk melaksanakan perintahnya. Setelah beberapa menit aku dapat menyelesaikan pekerjaan itu, menyalinnya sampai ke tiga ember penyimpanan air. Karna periuk pemasak air sangatlah besar. Kalau keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan satu orang anak, air itu akan habis setelah 3 bulan lamanya. Tapi lain dengan keluargaku. Keluarga yang amat besar. Bersaudara saja ada 13 orang, ditambah dengan orang tua dan nenek kami terhitung 15 orang. Inilah yang aku rebuskan air setiap 2 minggu sekali.

Pada saat itu, semua pekerjaan enjoy saja kulakukan. karena dari kecil aku tidak pernah dimanjakan. Sebagai anak sulung aku harus tahu masak, cuci baju, bersihkan rumah, dan semua perkerjaan yang dilakukan wanita aku yang jalankan. Lagian ibuku tak mungkin juga banyak bergerak, karena adikku yang berjejeran sama besar.

“Okky jangan main kesana nak, nanti jatuh. Gen, bawa adikku keatas rumah, biar Kenji ibu susui dulu”

“iya bu… sebentar, aku sedang menanak nasi, api ditungku belum hidup”

“Ayo cepat nak, nanti adikmu jatuh lagi dari tangga kayu yang lapuk itu”

“iya bu….”

“Nasi yang kutanak kubiarkan saja terjerang di tungku, karna takut juga adikku kenapa-napa. Lagian, hanya aku yang bisa mengasuh adik. Sedangkan Sizir Adik yang satu tahun dibawahku lagi bekerja memetik jagung. Karna tak mungkin pula kami yang ke 13nya akan minta uang jajan terus pada Papa. Kami hanya memanggil ringkas dengan “Apa”.

Hanya satu yang kukecewakan. Aku berhenti sekolah setelah tamat di SD. Ayahku tak sanggup menyekolahkanku. sedangkan ibu selalu menjadi ibu rumah tangga yang baik. Sebenarnya ibu mau-mau saja ikut membantu Apa sebagai sedekah seorang istri pada suami tercinta. Tapi mesti bagaimana, ibu setiap tahun selalu melahirkan anak. Zaman itu orang selalu berkata “banyak anak, banyak rezeki” Karna memang setiap anak yang lahir ke atas dunia, selalu punya rezeki yang akan diberikan Allah. Termasuk aku dan 12 adikku. Terbukti kami masih dapat makan, walupun kadang ada offnya. tapi itu tak masalah, begitu juga pada adik-adikku. mereka tenang saja jikala dalam satu hari itu tidak ada makan. paling rezeki diluar sana, ada–ada saja yang dapat mereka lakukan untuk mendapatkan uang.

Disini, aku merasa tak nyaman. Tentu hidup tanpa sekolah. Namun saat itu aku tak biarkan sekolah akan berlanjut tanpa ada aku. Saat itu aku putuskan bekerja di Pabrik kue “Bersaudara” yang memuat ramai insan yang sangat butuh duit. Bahkan anak seusiaku. Padahal seusia dini ini, belum pantas rasanya menyentuh pekerjaan itu, tapi karena pertolonganNya semua bisa saja dilakukan.

Uang gajiku lumayan banyak. Cukup untuk biaya lanjutan sekolah ku ke SMP. aku pulang dengan bangganya, membawa uang berlembar-lembar yang tidak kuambil selama setahun bekerja. Karena majikan ku itu juga sangat baik. Ia sangat mendukung usahaku tuk bersekolah.

“Gen, ibu salut pada semangatmu tuk sekolah, ibu yakin kamu akan tumbuh sebagai yang sukses dalam menggapai cita, kamu tak peduli bekerja hingga malam menjemputmu tuk pulang ke rumah, bahkan prestasi belajarmu juga tetap bagus. Tapi sayang sekali ibu tidak mendapatkan anak yang cara berfikir nya sepertimu.”

“ya, terimakasih buk, tapi tak baik pula ibu bilang seperti itu tentang Dodi anak ibu” Dia juga masih kecil, dan sudah terbiasa manja dari kecil, manalah mungkin sama dengan anak hina seperti aku.”

“anak hina?, o.. tidak anakku, bagiku kau anak paling mulia yang pernah kutemui. Kamu masih kecil, sudah bisa berusaha sendiri, semua perkerjaan rumah juga kamu kerjakan sendiri, dan hal itu tidak akan bisa dilakukan kecuali bagi anak yang luar biasa sepertimu”

“Jangan terlalu memujiku bu, aku kurang suka dengan pujian, lagian bagiku hinaan dengan pujian itu sama saja” Aku sering dihina akan menjadi semangat bagiku tuk sukses, tapi dengan pujian hanya akan membuatku besar telinga, tapi akan memberiku jalan tuk membuka hatiku lebih semangat.

“Mmmm itulah yang ibu salutkan padamu. Rasanya kata-kata seperti itu hanya bisa diucapkan oleh orang dewasa”

“Ah, ibu ada-ada saja, aku ini sudah sering diterpa gelombang buk, Allah itu sudah mengujiku dengan cara ini. Lagian buat apa aku hidup susah kalo bukan mengambil pengalaman untuk hidup. Bagiku dunia ini tetap indah buk, tetap bahagia!.

Sambil bersalaman dengan mencium tangan ibu majikan yang halus itu, aku berjalan perlahan ke jalan raya menuju rumahku.

“MasyaAllah… beruntunglah seorang ibu yang memiliki anak sepertimu Gen!, Sekarang cepat kejar cita-citamu, mendaftar di sekolah terdekat ya!”

“ya aku pulang dulu, terimakasih gajinya buk…!

“ya sama-sama.

Dikejauhan aku masih memutar balikkan badanku kearah ibu Fatimah majikanku. Ia masih kelihatan memperhatikannku dari jauh.

Sesampainya di rumah, aku langsung bergegas mencari ibuku. Nafasku terasa ngos-ngosan, dan tenggorokan juga kekeringan karna berlari dari tempat aku bekerja.

“asslammu’alaikum, buk aku pulang…!

“walaikumsalam, masuklah Nak..!

Aku mendekat kesisi ibu dan mengeluarkan uang yang sudah penuh di dalam saku celanaku.

“ibu, lihat… tabunganku untuk sekolahku sudah banyak”

Ketika aku senang-senangnya memperlihatkan uang itu, aku mendengarkan suara tangisan adikku Sizir menagis.

“kenapa dengan Sizir bu?

“itu, adikku itu kan juga mau lulus sekolah, tadi ia minta sama Apa untuk dilanjutkan ke SMP. Tapi kita kan tahu Apa tak mungkin punya uang untuk itu, ada buat makan aja kita aja kita udah syukur kan nak. Ibu juga harus bagaimana, tidak bisa membantu Apa untuk mencari nafkah. Tapi Apa mu juga selalu melarang, karna takut tanggung jawab ibu merawat adikmu yang masih kecil terlalaikan.

“o jadi karena itu ya buk”

Mendengar ucapan ibu, pipiku tak sengaja sudah degelimangi air mata. aku langsung mendekat pada adikku yang sedang menangis tersedu-sedu, di sudut rumah ujung sana, di pinggir pintu belakang yang terbuat dari bambu. adikku menggulung kedua kakinya kedalam pelukan tubuhnya yang kurus.

“O jadi adik Uni mau nyambung sekolah juga ni, Uni sedang Sirzi bisa berfikir seperti Uni. Kita adalah anak Ibu dan Apa yang semangat untuk hidup, kalau ngak sekolah mau jadi apa kitanya ya ngak dek?

“sekarang adik kakak mandi dulu, tu tengok badannya sudah dihinggapi bulu jagung, kakak janji, Uni akan kasih tabungan Uni ini buat sekolah adik. Tapi adik harus janji akan rajin dan ceria selalu, jangan nangis seperti ini. Uni paling ngak suka liat laki-laki menangis. Apakah adik pernah melihat kakak menangis?

“yang bener ni Uni mau ngasih uang itu buat sekolah adik?

“Iya benar”

“Tapi adik tidak mau begitu saja mengambil uang Uni yang sudah dikumpulin setahun lamanya.”

“adik masih sayang ma Uni?

“Pasti sayanglah Uni.”

“Ingin liat Uni bahagia”

“Ya pasti juga lah Ni.”

“kalo begitu besok adik langsung mendaftar ke SMP yang adik favoritkan ya?

“iya Uni, tapi… Uni kan juga sangat mau sekolah,”

“itu jangan adik pikirkan dulu, kalau ada rezeki Uni pasti bisa sekolah. Percayalah Allah itu sayang ma kita Dik”

“ya benar Ni, adik beruntung sekali kita bisa akur seperti ini. Inilah yang memberdakan kita dari yang lain, walau hidup susah, kita ke 13 bersaudara selalu akur!

“tosssss!

BERSAMBUNG…

Edisi 1, 23 April 2013

Cerpen Karangan: Fitriana Delvis
Facebook: dua.zindri[-at-]yahoo.com

Cerpen Setumpuk Mutiara Kasih (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kue Buat Mama

Oleh:
“yaaannn…” teriak seorang wanita berusia 25 tahun yang sedang mencari anaknya di sekitar halaman rumah “oh ternyata kamu di sini sayang… ayo ikut mama!! Kamu itu udah waktunya tidur”

My Little Brother

Oleh:
Sang surya telah kembali tenggelam di Ufuk Timur, rembulan mulai menampakkan diri di balik awan senja. “Makan malam nenek sihir,” teriak Adik kesayanganku dari luar kamar. Cihhh .. mengganggu,

Perjuangan Seorang Adik

Oleh:
TAK TAK TAK, Suara langkah kaki terdengar di atas jembatan kayu penghubung antara sebuah desa dengan desa yang lain. Seorang anak laki-laki yang masih berusia 15 tahun baru saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *