She Is, Who Left Behind (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 31 January 2016

Sudah beberapa halaman dari buku catatan milik Kakaknya yang sudah Chenxiao baca. Tidak seperti dugaan Chenxiao sebelumnya, karena buku peninggalan Kakaknya itu, ternyata bukan buku harian. Tidak setiap hari di setiap tahun tercatat di buku itu. Chenxiao mulai paham. Kakaknya hanya menulis di hari-hari di mana ia ingin menulis. Mencatat sesuatu yang baginya istimewa. Chenxiao tersenyum. Ia teringat, Kakaknya selalu sembunyi-sembunyi setiap kali menulis, dan belum pernah satu kali pun mengizinkannya untuk melihat. Ia selalu penasaran setiap kali mendapati Kakaknya menulis, tetapi tidak pernah bisa memaksakan keinginannya ketika Kakaknya berkata tidak. Ia memilih untuk mengalah dan menyingkirkan rasa penasarannya jauh-jauh.

Hingga di hari terakhir ia berbincang dengan Hangeng, Kakaknya -Chenxiao semakin menyadari ikatan mereka sudah begitu erat. Mungkin karena sejak kecil mereka hidup bersama, sementara orangtua mereka lebih sering berada di tempat yang jauh. Mungkin juga karena ikatan darah di antara mereka telah mengental. Dan ketika Hangeng meninggal, Chenxiao merasa seperti kehilangan separuh jiwanya. Kakaknya tidak pernah memperlihatkan kesedihannya selama ini. Tidak juga mengeluhkan rasa sakit yang ditanggungnya. Mungkin jika hari itu, Hangeng tidak pingsan di hadapannya, Chenxiao tidak akan pernah tahu jika ternyata Kakaknya sakit parah. Mengingat hal itu, air mata Chenxiao kembali mengalir. “Kenapa, Kak?” ucapnya. “Kenapa?”

Baru saja Chenxiao hendak membuka lembar berikutnya, pintu kamarnya ada yang mengetuk. Tidak punya pilihan lain, Chenxiao beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu kamarnya. “Paman Feng?”
“Waktunya makan siang, Tuan Muda.”
“Aku tidak lapar.”
“Jangan begitu, Tuan Muda,” ujar Feng mengingatkan.
“Tapi aku sedang membaca buku.”
“Anda bisa melanjutkannya nanti,” sahut Feng segera.
Chenxiao terdiam.

“Sekarang sayalah yang bertugas untuk merawat anda,” kata Feng.
“Aku bukan anak-anak lagi, Paman Feng,” sergah Chenxiao.
“Kalau benar begitu, seharusnya anda lebih bisa memilah mana yang lebih penting.”
“Makan itu penting?” potong Chenxiao. “Tentu saja penting,” jawab Feng. “anda jangan melupakan bagaimana sikap Tuan Muda Geng di setiap jam makan.” Seketika Chenxiao teringatkan. Wajah Kakaknya yang tersenyum gembira terbayang jelas. Ia ingat, bagaimana Kakaknya telah mengajarinya untuk menghargai makanan, terutama orang yang telah membuatnya. “Tuan Muda Chen?”
“Baik,” kata Chenxiao kemudian. “aku akan makan sekarang.”
Feng tersenyum.

-Tulisan Terakhir dan Selembar Foto 14 September 2012.
Akhirnya, kemarin Chenxiao tidak serta merta membaca setiap halaman buku catatan peninggalan Kakaknya. Tulisan-tulisan sang Kakak membawa kenangan tersendiri setiap kali dibaca. Chenxiao bisa membayangkan setiap kejadian yang dibekukan dalam tulisan oleh sang Kakak. Di setiap goresan seperti mengandung magis.

“Xiao er, cepat bangun!” Chenxiao menggeliat. “Masih terlalu pagi, Kak,” sahutnya.
“Bukannya hari ini upacara kelulusanmu?” Chenxiao tersentak bangun dari tempat tidurnya. “Ah! Aku lupa!” seru Chenxiao panik. “kenapa tidak membangunkan aku lebih awal, Kak?”
“Tenangkan dirimu,” ujar sang Kakak tetap kalem. “lebih baik kau segera mandi.”
“Setelanku, Kak,” kata Chenxiao. “aku lupa meminta tolong ke Paman Feng untuk menyetrikanya.”
Kakaknya tersenyum. “Kau lihat itu,” ujarnya seraya menunjukkan sesuatu. Chenxiao terbelalak. Setelannya sudah tergantung rapi di sebelah lemari pakaiannya.
“Sebaiknya kau segera mandi,” lanjut sang Kakak. “berangkat pukul tujuh, ku kira belum terlambat.”

Chenxiao tersenyum lega dan bergegas masuk ke kamar mandi. Kenangan akan kejadian tiga tahun lalu itu kembali terlintas di benak Chenxiao. Itu terjadi tepat di hari kelulusannya dari universitas. Sampai hari itu pun, sang Kakak masih “mengurus” segala keperluannya. Perhatian Chenxiao kembali ke buku peninggalan Kakaknya, yang tergeletak di atas meja di sebelah laptopnya. Ia kemudian meraih buku tersebut dan membuka halamannya secara acak. Tiba-tiba sebuah halaman terbuka, dan selembar foto terjatuh dari dalamnya. Chenxiao pun segera memungut foto tersebut. Ternyata foto seorang gadis -seorang gadis?

Chenxiao mengamati foto tersebut dan bertanya-tanya, siapa gerangan gadis di dalam foto tersebut? Mungkinkah gadis di dalam foto adalah kekasih Kakaknya. Tapi, selama ini, Kakaknya tidak pernah menceritakan kalau dirinya menyukai seseorang, apalagi punya hubungan spesial dengan seorang gadis. Chenxiao kembali mengamati foto tersebut, dan menyadari kalau gadis di dalam foto memang manis. Chenxiao lalu membalik foto tersebut dan melihat ada tulisan di baliknya. Ia mengenali huruf-huruf di tulisan tersebut sebagai tulisan Kakaknya.

“Aku suka sekali melihatnya belajar. Gadis manis yang sudah membuatku jatuh hati. Chen Yanxi 2002.” Membaca tulisan tersebut, Chenxiao tersenyum. Tapi ada kesedihan yang dirasakannya. Ia kemudian menyadari, mungkinkah karena selalu mementingkan urusannya, sang Kakak tidak punya waktu untuk diri sendiri? Dan cerita mengenai gadis di dalam foto itu hanya dijadikan sang Kakak sebagai kenangan. Namun kemudian, Chenxiao berpaling pada tulisan di halaman buku yang tadi terbuka secara tidak sengaja.

Menjelang musim gugur, 15 Agustus 2012.
“Hari ini aku kembali hanya bisa berdiam diri di ranjang rumah sakit. Rasanya membosankan sekali. Dan yang paling tidak aku sukai, adalah melihat wajah sendu adikku setiap kali ia datang mengunjungiku. Akhirnya adikku tahu bahwa aku sakit. Benarkah aku akan segera mati? Sesungguhnya aku berharap, akan diberi kesempatan untuk hidup sampai bulan depan. Paling tidak sampai aku bisa memenuhi perjanjian sepuluh tahunku dengannya. Tuhan, semoga Engkau bersedia mengabulkan harapanku yang satu ini.”

Chenxiao terpaku pada satu kalimat setelah membaca tulisan tersebut. Apa itu ‘perjanjian sepuluh tahun’? ia sungguh penasaran. Jadi, selama ini sang Kakak mempunyai hubungan istimewa dengan seseorang. Dengan seorang gadis bernama Chen Yanxi. Chenxiao memutar otak. Catatan tersebut dibuat pada tanggal 15 Agustus, pertemuan yang dijanjikan itu terjadi sebulan kemudian. Berarti pertemuan itu terjadi pada 15 September -besok adalah hari yang dijanjikan. Tapi kemudian Chenxiao merasa sedih. Jika gadis ini -Chen Yanxi datang nanti, maka ia hanya akan menunggu seseorang yang tidak akan pernah datang.

-Yang Datang Dari Jauh- 15 September 2012
Beberapa hari yang lalu, Chenxiao sudah mencari-cari informasi dari beberapa teman SMA Kakaknya. Semuanya tahu mengenai kedekatan Kakaknya dengan Chen Yanxi, yang ternyata juga diketahui oleh semua teman sekelas Kakaknya di tahun ketiga SMA. Satu tempat yang dulu menjadi favorit murid SMA tempat Kakaknya bersekolah adalah sebuah kafe kecil yang terletak hanya dua blok dari bangunan SMA tersebut.

Chenxiao menemukan kafe yang dicarinya. Tetapi karena tidak tahu, kapan tepatnya waktu perjanjian yang Kakaknya buat, ia sudah berada di kafe sejak tempat itu dibuka pada jam sembilan pagi. Dan sekarang sudah waktunya makan siang, tapi sosok yang ditunggunya belum kelihatan. Chenxiao menjadi sedikit cemas. Jangan-jangan, Chen Yanxi sudah datang sedari tadi, dan ia tidak mengenalinya. Dalam rentang waktu sepuluh tahun, seseorang pasti akan mengalami perubahan.

Meski begitu, Chenxiao tidak mengalihkan pandangannya dari pintu masuk. Kemudian, pintu kafe terbuka dan seorang pengunjung masuk. Seorang perempuan dengan penampilan sederhana masuk. Rambutnya tergerai sepanjang bahu. Ketika perempuan itu menengadahkan wajahnya, Chenxiao terbelalak. Perempuan yang baru saja datang itu adalah Chen Yanxi. Tidak salah lagi. Chen Yanxi sempat memandang berkeliling seperti sedang mencari-cari sebelum kemudian ia duduk. Akhirnya Chenxiao bangkit dari kursinya dan mendekati Chen Yanxi.

“Nona Chen Yanxi?” tanya Chenxiao memberanikan diri. Chen Yanxi menengadah, menatap Chenxiao beberapa saat sebelum akhirnya ia menyahut, “Benar, apakah kita saling kenal?”
Chenxiao tersenyum. “Tidak, sebelumnya. Tapi, ku kira kau pasti mengenal Lin Hangeng,” ujarnya. Mata Chen Yanxi berbinar mendengar nama yang Chenxiao sebut barusan. “Tentu saja,” katanya. “aku datang ke sini juga karena ada janji dengan Hangeng.. jangan bilang dia tidak bisa datang.”

“Sayang sekali tapi sepertinya memang begitu.” Chen Yanxi mengerucutkan bibirnya. Tampak kecewa. Bagaimana tidak? Pikir Chenxiao. Setelah sepuluh tahun menunggu, malah tidak dapat bertemu. “Tapi kenapa Hangeng tidak memberiku kabar apa-apa?” gumam Chen Yanxi. “Aku datang mewakili Lin Hangeng,” kata Chenxiao kemudian. “kalau kau bersedia, aku bisa mengantarmu ke tempatnya.”
“Sungguh? Kau bisa melakukannya?” Chenxiao mengangguk. Chen Yanxi kemudian bangkit dari tempat duduknya. “Kalau begitu, tunggu apa lagi?” ujarnya dan menarik lengan Chenxiao.

Di perjalanan, Chenxiao beberapa kali mengajak Chen Yanxi mengobrol.
“Sedari tadi di kafe, aku penasaran,” ujar Chen Yanxi. “Soal apa, Nona?” tanya Chenxiao.
“Soal siapa sebenarnya kamu,” jawab Chen Yanxi. Chenxiao tersenyum. “Namaku Lin Chenxiao,” jawabnya.
“Lin Chenxiao -kau Xiao er, ya?” Chenxiao terkejut, mengetahui Chen Yanxi mengetahui nama panggilannya.

“Kamu tahu aku?” Chen Yanxi mengangguk dalam senyuman.
“Hangeng selalu menceritakan tentang kamu.”
“Begitu?”
“Dia selalu berwajah cerah setiap kali bercerita mengenai adik laki-lakinya.” ujar Chen Yanxi. “kadang, itu membuatku cemburu.”
“Kenapa?”
“Kenapa tepatnya.. aku tidak tahu.”
Sekilas Chenxiao melirik kepada gadis yang duduk di sebelahnya itu. Ia begitu cantik dengan senyumannya. Ia jadi merasa bersalah tidak menceritakan mengenai kebenaran akan Hangeng.

“Kau melamunkan apa, Xiao er?”
“Bukan apa-apa.”
“Kau kan sedang menyetir, jadi fokuslah.”
“Baik, Nona.”
“Bisakah kau berhenti memanggilku Nona?”
“Lalu, aku harus memanggilmu Kakak, begitu?”
“Aku memang lebih tua darimu,” sahut Chen Yanxi. “tapi, kau cukup memanggilku Yanxi.”

“Asal kau berhenti memanggilku Xiao er.”
“Lalu harus bagaimana aku memanggilmu Xiao Lin (Lin kecil)?”
“Cukup panggil aku Chenxiao saja.” Chenxiao cepat-cepat memberi jawaban.
“Kau panggil aku Yanxi, aku akan memanggilmu Chenxiao.”
“Baiklah.”
“Deal?”
“Deal.”

Tiba di tempat tujuan setelah dua puluh menit, Chenxiao langsung mengajak Yanxi meninggalkan tempat parkir.
“Aku memang sudah lama tidak pulang ke Beijing, tapi aku masih ingat kalau tempat ini adalah pemakaman,” kata Yanxi. Chenxiao memilih diam. Yanxi menarik lengan Chenxiao kemudian. “Kamu mau mengerjaiku ya, dengan mengajakku ke tempat ini?” protesnya.
“Kau mau bertemu Kakak Geng atau tidak?” tanya Chenxiao. “Tentu saja.”
“Kalau begitu, ikuti saja aku.”
“Benarkah Hangeng ada di tempat ini?”
Chenxiao memilih tetap diam.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dee Anne
Facebook: https://www.facebook.com/dee.anne.5

Cerpen She Is, Who Left Behind (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Tinta Merah

Oleh:
Surat itu masih terdiam membisu tanpa kata keluar darinya, tergolek lemas diam di atas meja, tanpa ada yang mau menyentuhnya, Aku pun enggan memegangnya apalagi membacanya. Aku benci dia.

Aku Tak Punya Tangan

Oleh:
16 tahun berlalu aku hidup tanpa ada sepasang tangan tapi itu semua tidak apa-apa yang penting aku dapat hidup bahagia bersama kedua orangtuaku. Kejadian itu berlangsung ketika aku masih

Surat Untuk Ayah dan Bunda

Oleh:
Malam ini, Kakakku melamun di pojok rumah, ku lihat-lihat sambil ku selidiki masalah yang membuat Kakakku melamun. Saat ini pukul 20.00 Kakak masih saja melamun, waktu berjalan dan terus

Sampul Hitam Cinta

Oleh:
Sore yang sejuk dengan angin semilir dan sisa-sisa sinar mentari yang terpantul dari beningnya air sungai memancar lembut lewat ventilasi jendelaku dan pintu yang sedikit terkuak. Burung pun pulang

Rinai Hujan

Oleh:
“Hujaaan… Gigi kelinci!” teriak gadis jelita di sampingku. Saat kami di dermaga dan ada tetesan gerimis. “Iya… Rinai, hujan,” sahutku. “Ayo pulang!” ajakku. “Tidak mau, aku mau di sini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *