Shooting Stars

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 2 August 2014

Merindu di tengah kegelisahan adalah hal yang paling menyakitkan. Terlebih bagiku -Ai. Aku rindu dengan masa-masaku dahulu. Masa ketika aku dapat tersenyum dan tertawa menghabiskan hari-hari bahagia bersama ibu dan orang-orang tersayang. Kini dunia sudah terbalik, senyuman itu telah berganti dengan kesedihan, canda tawa telah berganti dengan air mata, dan hari-hari bahagia telah berganti dengan mimpi buruk.

Aku tak pernah henti merapalkan do’a agar semuanya kembali seperti sedia kala. Aku ingin sekali bertemu ibu, sarapan bersama ibu, tidur bersama ibu, dan berdo’a bersama ibu. Mengapa semua kerinduan ini begitu memilukan?
Aku juga sayang sekali pada ayah, bagiku ayah adalah pria tangguh dengan tubuh berlapis baja, ayah memiliki energy yang tiada habisnya untuk bekerja, ayah adalah pria bertanggungjawab dan berhati besar, Aku mencintai ayah bagaimanapun ayah.

Tapi, ketika saat itu tiba, Aku hampir tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Sewaktu pulang sekolah, aku mendapati ibu tengah terisak di sudut kamarnya sambil memeluk lutut. Nafasnya naik turun saking hebatnya tangisan ibu. Hati ku begetar, apa yang terjadi pada ibu?

Aku ingin sekali mendekatinya sambil memeluknya untuk memberikan ketenangan, tapi niat itu kuurungkan karena aku tak sanggup melakukannya. Aku malah berdiri saja di ambang pintu sambil melihat ibu terisak, pipinya basah oleh air mata, bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan agar ibu berhenti menangis?

Ku kuatkan tekad ku untuk mendekati ibu, sambil pelan-pelan berkata, “bu… ibu… ibu mengapa menangis seperti itu? adakah orang yang mengganggu ibu lagi?” aku tak kuasa menahan tangisku sendiri.
Setelah tepat di sebelah ibu, aku pun terduduk, dan memeluk ibu. Tapi rupanya, ibu tidak senang dengan perlakuanku, ibu lalu memberontak dan mendorongku lumayan keras sampai aku tersungkur di dekat lemari. Disitu, tangisku mulai pecah.
“ibu… mengapa ibu melakukan ini padaku bu?”
“pergi kamu! siapa kamu? saya tidak senang kamu ada di rumahku!”
“bu, tapi aku ini anak ibu, aku berhak tinggal disini, mengapa ibu selalu melarangku tinggal disini?” bibirku bergetar mengucapkan kata-kata itu.
“kau penghacur hidupku! kau selalu melayang-layang di pikiranku, membuat aku pusing dan tak tahan! aku ingin kau enyah dari hidupku!” kata ibu, sambil berdiri mengambil gunting di meja riasnya.
“jika itu yang ibu mau, lakukanlah bu! aku tidak takut mati!
“benarkah? bagus kalau begitu!” katanya sambil menyeringai.
Lalu, ditariknya rambut panjangku, dan diguntingnya secara kasar. Aku tak kuasa menahan tangis, mengapa ibu tega melakukan ini padaku?

Saat kejadian ini berlangsung, ayah pulang dari kantor dan langsung menuju kamar ibu, dia betul-betul kaget melihat kejadian ini. dengan tegas ia berkata, “MARISA! apa yang kamu lakukan pada anakmu sendiri?”
Ibu tidak menghiraukan pertanyaan ayah, ia tetap asik memotong rambutku, seolah aku ini boneka yang tak bisa merasakan sakit. Ayah berlari dan berusaha memisahkan aku dan ibu serta berusaha melepaskan gunting yang dicengkeram oleh ibu.
Ibu memberontak sekuat tenaga, sampai ayah pun hampir kewalahan. Aku melihat dengan miris kejadian itu, kejadian bagaimana ayah mengambil borgol yang tergelatak di kasur lalu diletakannya borgol itu di tangan kanan ibu, dan yang satunya di salah satu tiang yang ada di ranjang.

Kejadian itu selalu terjadi jika penyakit ibu kambuh. Aku dan ayah tidak tega sebenarnya melihat ibu seperti itu, tapi apa boleh buat? setiap hari aku dan ayah selalu dihantui rasa takut jika ibu kalap, jika ibu sedang kalap, dia selalu berusaha untuk membunuh aku dan ayah.

Ayah lalu berdiri dan menghampiriku, membantuku berdiri dan memeluk tubuhku erat. Aku terisiak di dada ayah yang bidang. Dan sepertinya, ayah pun demikian, mungkin, rasa sakit yang ayah rasakan saat ini melebihi diriku.

Ayah, bisakah kita hentikan semua ini?

Aku kesal pada keputusan akhir dari ayah mengenai ibu. Ayah positif memindahkan ibu ke Rumah Sakit Jiwa. Ayah beralasan, ia khawatir dengan keadaanku jika ayah sedang bekerja atau tidak ada di rumah, karena tidak menutup kemungkinan, hal yang lebih buruk dari kemarin akan terjadi padaku lagi atau bahkan ayah sekalipun. Aku pun memahami keputusan ayah, dan mengerti akan perasaan ayah saat ini.
Pasti, betapa sulitnya berpisah dengan orang tercinta, orang yang sudah menjadi bagian hidup selama setengah dari hidupnya, orang yang selalu menghabiskan waktu bersama setiap hari.

Aku tak kuasa melihat ibu dibawa oleh 2 orang suster ke sebuah kamar barunya. ingin rasanya, sebelum ibu benar-benar pergi dari rumah, aku memeluk dan mencium tangan halusnya, tapi rasanya sulit sekali. hatiku terlanjur sakit dan teriris. Ibu, bisakah ibu merasakan betapa degup jantungku ini berdebar hebat saat mengingat kejadian itu bu?

Ada sepenggal cerita yang hampir tak ku ceritakan. Aku mempunyai saudara kembar, namun itu dulu. Saudara kembarku bernama Elang, aku biasa memanggilnya Kak El. Sayang, kini dia sudah berada di tempat yang damai dan abadi. Ya, Kak El ku sudah meninggal.

Saat itu, kami sedang mengikuti camping dari sekolah. Ada sebuah acara malam yang mengharuskan kami masuk ke hutan. Aku takut setengah mati saat itu. Masalahnya, aku belum pernah masuk kehutan malam-malam begini. Untungnya, aku dan Kak El satu regu, Kak El berbisik di telingaku, “aku akan jaga kamu, gak perlu takut”. Aku pun tenang mendengarnya.

Namun, belum sepuluh menit perjalanan, kakiku sudah membuat ulah, aku menginjak tanah yang licin dan menurun. Membuat kakiku terperosok kesana. Aku berteriak minta tolong disertai tangisan hebat. Tepat sekali, Kak El datang dan mengulurkan tangannya untuk menolongku. Aku pun tersenyum menatap wajah Kak El yang menawan dan penuh ketulusan. Ku terima uluran tangannya. Dan ketika aku sudah berhasil sampai di atas, hal yang tidak ku inginkan terjadi. Kak El kehilangan keseimbangan, dan tubuhnya tersungkur ke dalam lembah yang dalam itu. Tubuhnya terguling-guling hebat sampai ke dasar. Dan kepalanya membentur batu besar.
Reflex aku berteriak memanggil nama Kak El. Ingin sekali aku turun dan membantunya seperti dia membantuku. Tapi teman-teman yang lain melarangku. Dengan alasan, sudah ada petugas yang akan datang. Memang benar, tak lama para petugas datang, lalu turun dan membawa tubuh Kak El yang kepalanya bercucuran darah. Kak El langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Aku pun tak lupa memberitahu ibu dan ayah.
Tapi, sebelum ibu dan ayah sampai di rumah sakit. Kabar buruk sudah terdengar oleh telingaku. Kak El meninggal. Aku tak kuasa menahan tangis dan sakit. Apakah akulah penyebab kematiannya?

Sejak saat itu, ibu tak pernah berhenti menyalahiku. Sampai-sampai ibu depresi dan gila. Tidakkah ibu berpikir, bahwa aku pun sama terpukulnya? Kini, rasa sakit itu bertambah, ketika aku harus mengantarkan ibu ke tempat yang sama sekali tidak aku dan ayah inginkan. Mungkin juga Kak El.

Ibu, aku sayang ibu, janganlah menangis karenaku atau benci terhadapku. Aku cinta ibu betapapun ibu. Aku ingin ibu berada di sisiku, duduk di sampingku, melihat ke langit malam dan menunggu bintang jatuh. Lalu membuat suatu keinginan. IBU, satu-satunya keinginanku saat ini adalah menggantikan posisi Kak El. Agar aku tak merasakan betapa menyedihkannya jadi diriku saat ini.

Cerpen Karangan: Dita Merdekawati
Blog: http://ditamerdeka.blogspot.com/

Cerpen Shooting Stars merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senandung Milyaran Semut

Oleh:
Bukan warna-warna kelabu yang mungkin menghadirkan diri dan solah-olah memberitahu bahwa hari-hari sendu akan datang. Sebagai pembanding yang nyata ada sebingkai senyum pelangi yang melebar simetris searah mentari di

Sahabat Sejatiku

Oleh:
Aku angel. Umurku 11 tahun. Aku mempunyai sahabat yaitu Cylla. Dia adalah sahabat terbaikku. Tapi suatu hari. Aku merasa ada yang aneh dengan Cylla. Dia sering mimisan dan pingsan

Sahabatku, Selamat Jalan

Oleh:
Inilah kisahku, perjalanan hidupku. Bersama sahabat yang selalu aku sayangi, dan dia sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Kami bersahabat dari kecil. Keluargaku telah kenal baik dengan keluarganya. Dulu,

Hobi Bunda

Oleh:
“Naya…!” Seru bunda melengking, mulai nih, baru saja melangkahkan satu kaki ke dalam kamar, huh… selalu saja, ngatur ngatur!, gerutu Naya dalam hati. “Iya bundaku yang cantik… ada apa?”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Shooting Stars”

  1. Vidia Y. says:

    keren banget.. lanjut berkarya ya kak Dita..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *