Si Asing

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 October 2013

Hari ini tidak ada yang menarik sama saja seperti hari-hari yang lalu, selalu membosankan!! itu mulai dirasakan Acha panggilan akrabnya setelah 3 tahun yang lalu dirinya dibawa oleh ayahnya pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Ya setelah ayah dan ibunya bercerai Acha mulai diasuh oleh ayahnya sedangkan ibunya pindah keluar negeri dan sampai sekarang belum ada kabarnya.

Kini gadis itu telah masuk SMA, tapi tidak ada yang berubah darinya selalu saja menutup diri dan tidak pernah mau bergaul, hanya ada satu sahabat baiknya yang bernama Okta. Acha dan Okta telah berteman sejak kepindahan Acha ke Yogyakarta ketika umur mereka baru menginjak 15 tahun. Okta tidak pernah ingin tau tentang masalah apa yang membuat sahabatnya itu bertingkah seperti itu dirinya hanya tau jika orang tua Acha bercerai dan kini Acha hanya tinggal berdua dengan ayahnya setelah kematian kakek nya 1 tahun yang lalu.

Malam menunjukan pukul 9 namun entah apa yang dicarinya ketika ia menarik alas tidurnya, dan berusaha mengintip ke bawah kasur, tapi belum lagi ia mengambi barangnya itu, ayahnya pulang dengan hanya menyapa dan selalu bertanya.
“Apa kau sudah makan nak.” Pertanyaan membosankan tapi selalu ditunggu oleh nya ketika jam sudah menunjukan pukul 9 malam.
“Kalau kau sudah makan, tidurlah sekarang, karena besok pagi-pagi sekali ayah akan pergi lagi dan ayah harap kau selalu menyiapkan jam speaker mu, supaya kau tidak telat ke sekoah.” Itu pertanyaan membosankan kedua yang selalu dia tanyakan setelah ia bertanya” Apa kau sudah makan nak?”
Sayangnya Acha tidak pernah bertanya apa-apa lagi karena ia tidak pernah tau akan bertanya apa ke ayah nya itu, ya! mereka adalah ayah dan anak namun hubungan mereka terkesan tidak ada komunikasi sama sekali.

Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 wib, Acha mulai memacu kencang sepedanya itu, ia takut terlambat ke sekolah karena jika ia terlambat lagi maka kali ini ia akan disuruh pulang.
“Acha.. waah untung hari ini kamu tidak terlambat, kalo terlambat waah gak jamin deh kamu bakal bisa ikut ulangan hari ini.”
“Heeh tapi kan kenyataannya aku gak terlambat ta.”
“Kan.. mulai deh ngeluarin kata-kata basi yang realistis itu.”
“Jadi aku harus jawab apa?”
“Jawab apa aja.. tapi disertai ekspresi bahagia bukan datar kayak gini.”
“Gak mau!”
Acha barlalu meninggalkan teman karibnya, yang dari tadi telah harap-harap cemas melihat nasibnya di pintu gerbang sekolah.

Gadis remaja itu duduk terpaku di kamar tidurnya, entah apa yang ia pikirkan yang jelas ia bukan sedang menghayal. Ia turun dari tempat tidurnya dan berusaha menggapai secarik kertas yang sama sekali belum pernah ia baca 3 tahun yang lalu, jika ia mengingat-ingat itu adalah secarik kertas yang ibunya berikan untuk nya ketika ia akan hendak pindah ke Yogyakarta, karena rasa kecewa mendalam pada rumah tangga orang tuanya itu, ia membuang semua benda milik ibunya seperti baju, tas, sepatu, foto ibunya dan secarik kertas dari ibunya yang belum pernah ia baca ke bawah tempat tidur.
Perlahan rasa penasaran akan isi surat itu mulai menghantuinya selama 3 tahunan ini, ia ingin melupakan ibunya tapi ia takut menjadi anak durhaka.

Perlahan-lahan ia mulai membersihkan secarik kertas itu dari debu tebal yang menempel dan sedikit-demi sedikit ia mulai membuka lipatan kertas itu matanya tidak berkedip ketika membaca tulisan tangan yang berisi:

“Untuk Acha anak ibu tersayang, jangan pernah merasa kecewa ke ibu dan ayah ya dan jangan pernah malu untuk bergaul walau ayah dan ibu tidak bersama-sama lagi tapi acha tetap anak ibu, Acha sebelum Acha pergi ke Yogyakarta, Ibu ingin menyampaikan sesuatu, datang lah ke rumah kita dulu, makan masakan ibu dulu, Ibu tunggu kamu sebelum kamu berangkat besok”

Dirinya terpaku membisu ia tidak tau akan berbicara apa.. air matanya menetes deras dari kelopak matanya, ternyata ibunya ingin bertemu dengan nya tapi ia tidak datang, ia mulai menghayal apakah 3 tahun yang lalu itu ibunya lebih menderita akan ketidakdatangannya, mungkin saja ibunya pindah keluar negeri karena merasa telah diasingkan oleh anaknya sendiri, padahal ia sama sekali tidak pernah tau akan isi surat itu..

Cerpen Karangan: Nurahmi
Facebook: Amii Ditya

Cerpen Si Asing merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salah Sangka

Oleh:
“Waalaikumsallam.” Lalu aku memasuki mobil. Pak Budi sopir pribadi keluargaku sudah berada di dalam mobil. Pak Budi menghidupkan mobil dan segera berangkat. Aku memasuki ruang kelasku dengan terburu buru.

Rajutan Kasih Dari Ibu

Oleh:
Pagi ini aku berangkat dengan rasa sedikit kesal. Bukan marah, hanya rasa yang mengganjal di hatiku. “Hati-hati berangkatnya, Ndah” pesan ibuku yang kujawab dengan deheman. Aku tau yang kulakukan

Biarkan Aku dan Jalanku

Oleh:
Waktu kelahiran putri ke dua kak Kiya dari pernikahan kedua kak Kiya. Fahimalah yang ada di sisi kak Kiya. Karena yang saat itu ada di rumah hanya Fahima dan

Sayangi Aku Ibu

Oleh:
Hari kelulusan sekolah waktunya telah tiba dengan suasana yang bercampur suka dan duka. Hari terakhir mereka berkumpul bersama dan akan membawa kenangan masing-masing. “Selamat ya” Ucap Sella kepada Yusuf.

Adikku Yang “Istimewa” (Part III)

Oleh:
WHEN IPUNG FALLIN’ LOVE Ipung dan cinta, hmm….rumit dan complicated, aku tak tahu harus mulai dari mana kawan. Antara ipung dan cinta, terlalu banyak ironi, kejutan-kejutan, dan…..aib. mari kuceritakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *