Si Hitaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 July 2016

Sunyi senyap ditemani dendangan melodi jangkrik seakan-akan mengisi kegelapan hatiku. Di sebuah kegelapan gubuk dengan berjuta kemalangan di dalamnya kisahku bermula. Tempat aku dan keluarga kecilku bertahta dan mengarungi hiruk pikuk skenario Tuhan. Skenario yang aku dan mereka mainkan sejak jasad bersimpuh di bumi ini. “Sekarang Aku bukan anak kecil lagi, yang tidak tahu apa apa”. Kucoba membenarkan keadaanku. Dulu waktu aku masih berumur 4 tahun, mendengar mereka, orangtuaku beradu mulut, bahkan memecahkan kaca lemari dan piring pun aku hanya bisa diam.

Aku merengek dengan isak tangis yang tak senada. Mendengar dan melihat semua itu, tapi tangisanku tak pernah bermakna apa-apa. Karena aku tidak pernah tahu kenapa aku harus menangis. Tapi sekarang semuanya telah berubah, di umurku yang sekarang sudah menginjak 15 tahun, segalanya terlihat jelas, percekcokan yang dulu dianggap adalah sebuah dialog, pecahan-pecahan piring yang dianggap sebagai iramanya.
“Ah…!!! kenapa mereka dipersatukan dengan begitu banyak perbedaan?” Kataku ketus.

Di perkampungan itu pula lembaran kehidupanku bermuara. Orang orang biasa kesana kalau lagi liburan tiba, pemandangan pantai yang biru, pulau-pulau kecil yang menancap kuat di dalam pantainya seakan menjadi penghias ke indahan alam desaku. Disana, para wisatawan lokal maupun asing dimanjakan oleh warna warni keindahan dunia yang tidah pernah ada di belahan bumi manapun. Itulah kata mereka, tentang tanah kelahiranku, Gua Cina, di pinggir selatan kota malang. Yang aku anggap biasa saja. Dan bahkan membawaku ke alam yang sulit kuceritakan.

Suatu hari, yang aku juga tidak bisa kurasionalkan, gubuk yang biasanya ramai oleh kegaduhan mereka yang biasanya beradu mulut dan bahkan saling melempar piring-piring dan apapun yang ada di depan mereka, Pagi ini ibu dan ayah terlihat berbeda, “hahahaha…” suara tawa terdengar jelas di telingaku. “Hahahahahaha,” suara tawa mereka semakin keras dan jelas masuk ke dalam gendang telingaku.
“Ada apa ini?”
“Permainan apa lagi ini? Fikirku dan mentalku penuh dengan sesakan bualan-bualan mereka yang setiap detik mengisi celah-celah kosong pikiranku, yang seakan terpatri kuat dalam ingatan,” bisikku dalam hati. Tiba-tiba suara candaan itu berganti suara panggilan.
“Hitaf, ayo kesini,” suara ibu memanggilku, “i…iiii…iyyyaa ibu”, suaraku terbata-bata, sambil mengusap muka, dan mengingat kembali mimpi yang… “Aarkhhhh… sudahlah!, itu hanya mimpi”. Hitaf ayo merene o diluk,” untuk yang kedua kalinya ibu memanggilku. “enggeh ibu, enggeh”, aku pun bergegas.
Suara tawa yang tadinya begitu menggelegar, tiba-tiba menghilang bak ditelan badai, suara candaan yang menghiasi rumah, yang sekian lama terbias oleh sepi pun hilang diterpa angin. “ayah, ibu, kalian dimana?” “tok.. tok … tok… assalamualaikum, hitaf, hitaf… ayo ndang budal, mumpung masih pagi”, suara itu memnyadarkanku dalam lamunan pendekku akan dimana ibu dan ayah berada.
“wa’alaukumussalam, iya Suga, aku beres-beres dulu ya!”

Aku pun berangkat untuk mencari ikan bersama sahabat karibku, Suga adalah sahabat yang selalu ada, baik suka maupun duka. Dia jugalah yang mengajarkanku untuk hidup. Hidup bernafaskan islam. Orangtuaku yang tak pandai dengan ilmu agama, membuatku ragu dan bimbang akan makna Tuhan yang sesungguhnya.
“Suga, ayo turunkan jaringnya”
“siap bos”
“hahahahaha…” aku tertawa sambil membantu Suga menurunkan jaring itu. Aku bertanya pada suga,
“Menurutmu, hari ini nasib akan berpihak pada kita apa nggak?”
“Maksudmu?”
“Ah dasar kau sialan, itu aja enggak paham,”
“Maksudku, apa Tuhan akan memberikan ikan yang banyak hari ini sehingga kita akan menjadi kaya,”
Dengan nada lirih dia menjawab, “rezki, kematian dan jodoh itu sudah ditentukan sama yang di atas bro, sambil menunjuk jari telunjuknya ke atas, jadi kamu nggak usah khawatir. Yang penting cara kita mensyukuri apa yang diberikan Tuhan untuk kita”. lanjutnya. pertanyaan yang terucap dari mulutku setiap hari ketika aku menjaring ikan bersamanya. Dan jawaban yang sama pula dia berikan untuk pertanyaan itu. Seperti halnya pelakon drama, yang menghafalkan naskah dramannya. Seperti itulah jawabannya, tak kurang suatu apapun, entah itu titik maupun komanya.

“Horeee, horeee…!!!” teriak para penangkap ikan lainnya, “kayaknya mereka mendapatkan banyak ikan hari ini,” ucapku pada Suga, “iya kayaknya!!” tuhan hari ini rupanya lebih berpihak pada mereka dari pada kita, bukan begitu bro, itu sudah rezekinya mereka, mungkin mereka lagi butuh itu”, ujar Suga, meyakinkan.
“Sudah, sudah angkat jaringnya, jangan ceramah disini,”
“Noh! Ke masjid kalo mau berkhutbah, hahahaha” ketawaku sinis.
Sambil mengangkat jaringnya, lagi-lagi hasil yang kami dapat masih sama seperti hari-hari kemarin, yang hanya cukup untuk keperluan makan saja.

Hari semakin sore, kami pun pulang. Sesampainya di rumah, aku tak melihat seorang pun, “kemana ayah dan ibu pergi” tanyaku dalam hati. “Paling mereka ke kota, ke rumah bude.” Aku pun bersih-bersih dan siap siap sholat isya ke musholah.

Sepulang dari musholah, ku duduk termenung di teras gubuk. Malam ini tampak murka, menyembunyikan kebahagian bintang-bintang dan bulan pun hanya bisa tersipu. Suara nyanyian jengkrik menambah keheningan malam pantai Gua Cina. Dan aku sendirian hanya berteman sepi. Aku pun berteriak “Hei…!!!” teriakku, sambil menengadahkan mata ke atas singgasana Tuhan. Mencari celah di antara awan hitam, dengan satu harapan jelas, mendapati dimana singgasana itu bertempat. Aku hanya ingin memastikan apakah yang selama ini ku yakini merupakan suatu kebenaran atau hanya ketakutan akan siksaan yang telah ditanam kuat dalam hati semua manusia oleh para pemuka agama, termasuk sahabat karibku, Suga?

“Aaaaaah…!!!” aku merengek, aku memberontak, sambil membungkus kepalaku dengan kedua tanganku, “tidak, ini tidak boleh ada dalam benakmu, yang harus kamu lakukan adalah percaya tanpa harus bertanya kenapa dan bagaimana” ujar si putih, si hitam tak mau kalah,” lalu, apakah kamu mau mempercayai sesuatu yang tidak jelas keberadaannya, yang harus kamu lakukan sekarang adalah mencari tahu, bukan duduk termenung dan menerima sebuah keyakinan nenek moyangmu? itu bukan keyakinan sejati namanya tapi itu adalah sebuah keyakinan yang tak berdasar”. aku bingung.

Malam pun semakin larut, aku masih duduk termenung dan kembali kupikirkan perkataan si hitam. Tiba-tiba saya tersadar dari lamunan panjangku dan bangkit dari tempat dudukku.

“Si hitam benar, saya harus mencari tahu landasan dari apa yang telah saya yakini selama ini, yang tentunya bersumber dari yang hak. saya tidak mau amalan-amalan yang dikerjakan tanpa berlandas dan nantinya dibilang beragama islam karena dilahirkan dari rahim seorang ibu yang beragama islam –meskipun ayah dan ibu beragama keturunan, toh dengan mengetahui semuanya akan menambah sempurna amalanku”.
“Heiii, KAU, ada apa dengan dirimu, kamu ngak takut akan laknat TUHANMU, mencari kebenaran tentang tuhanmu adalah suatu kenistaan”. Si putih mencoba merusak pikiranku yang sudah mulai terarah, tapi si hitam tak mau diam saja, “Sobatku”,
“Pikirkanlah… pikirkanlah…”
“Dan ikuti kata hati nuranimu, biarkan dia menuntunmu.”
“Allahu akbar, Allaaaahu Akbar…” aku pun terbangun dari lamunan panjang ku dengan kagetnya, mendengar suara adzan menghiasi kampung kecil ku. Suara adzan subuh nan merdu yang dilantunkan oleh Suga, menambah keindahan surga kecilku, Gua Cina, malang selatan.

Otakku masih perputar-putar mencari jawaban, “apakah tadi saya bermimpi?” ah… aku mungkin kecapean sampai-sampai di dalam lamunan panjang mengantarkan saya ke mimpi itu.. “aneh, sungguh aneh, tapi sangat nyata, apakah itu semua hanya mimpi?” Tanyaku, di kesendirianku.

Tak mau larut terlalu dalam tentang pertanyaan itu, saya pun bergegas ke musholah dekat gubukku karena suara iqomah sudah terdengar.

Sekembaliku dari musholah, kembali terdengar suara candaan mereka, yang terdengar jelas hanyalah tawa, “hahahaha…”, ayah… ibu…,” panggilku dari luar sambil berlari-lari kecil masuk rumah, “kalian kemana saja?” kupeluk erat-erat mereka, layaknya anak yang tidak bertemu dengan orangtuanya selama bertahun tahun. Tak bisa kutahan air mata ini, mengalir deras seperi hujan yang membasahi musim kemarau panjang. Mungkin seperti itulah perasaan tumbuhan ketika air hujan mengguyur mereka.

Tiba-tiba ada yang memanggil,
“Hitaf… Hitaf…, koen ndi? Koen gak melu nggole’ iwak a?”
“Koen budal o dise”. Teriakku dari dalam gubuk kecilku “yo wes, ngko’ koen nyusulo yo taf..!”.

Beberapa jam berada di pelukan ayah dan ibu, aku pun menyusul Suga. Hari ini cuaca terlihat tak bersahabat, nampak kemurungan di wajahnya, sesekali petir menyambar dengan keras, awan tebal menghalangi pancaran megah sinar mentari. Perasaanku tak tenang, dalam hati ku berdoa, “ya… Tuhan semoga Suga tidak menjaring di tengah laut”.

Aku berlari dan terus berlari, suara guntur seakan senada dengan hentakan kakiku. Hiruk-pikuk jalan setapak menuju pantai Gua China itu seakan tau keadaan hatiku. Sesekali aku bertanya para penangkap ikan lainnya yang berjalan balik arah denganku,

“pak… pak… bapak lihat Suga”, “tadi saya lihat dia menjaring ikan di tempat biasa nak, tadi saya udah larang dia untuk menjaring, tapi dia nekat”. “Suga… Suga… Sugaaaaaaa… sahabatku, engkau dimana?” angin laut begitu kuat hari ini, jarak pandang pun terhalang oleh badai, aku tersungkur lemas di atas pasir. “tidaaaak… ini salahku, Suga sahabatku, maafkan aku.”

lalu Aku terbangun, kubuka mataku, terlihat atap gubukku, “Suga… Suga.. mana Suga..? ayah, ibu! mana sahabatku? kenapa kalian diam saja”, “maafkan kami nak”, kata penangkap ikan lainnya, temanmu sudah dipanggil Tuhan, Tuhan lebih menyayanginya”, “tidak… tidak… pak! ini tidak adil!, tuhan benar benar tidak adil padaku”. aku memberontak. Lalu kupanggil ayah dan ibuku.
“Ayah… ibu… mana ayah dan ibuku pak? Kenapa kalian diam, kenapa kalian menangis”, teriakku, lalu salah seorang penangkap ikan lainnya menjawab, “ayah dan ibumu telah lama meninggal nak”.
“hahahahaha…,” aku tertawa keheranan.
“bagaimana mungkin? Aku tadi pagi baru bertemu dan mengobrol dengan mereka? Permainan apalagi ini?”

Semenjak kejadian itu, aku menjadi tak berdaya, orang yang mengajariku untuk hidup kini telah pergi ke dunia yang tak bisa kuceritakan. “Ibu dan ayah pun tak juga balik. Aku tak percaya kalau ayah dan ibu meninggal, tidak masuk akal”, paksaku. Lalu kuputuskan untuk ke kota malang, kota dimana bude’ ku tinggal, karena ayah dan ibu biasanya kesana.

“Assalamualaikum, bude’, bude’,” terdengar suara dari dalam rumah, “waalaikumussalam, eh.. Hitaf! Mari.. mari masuk,” ajak budekku. Aku masuk dan tanpa pikir panjang, “bude’ ibu dan ayah mana?” mendengar pertanyaanku itu, mata bude berkaca-kaca, lalu dia duduk, “nak,” kata bude’ ku, “duduklah dulu”, aku kembali bertanya, “ayah dan ibu mana bude’?” dengan nada memaksa. Bude’ tiba-tiba menangis sambil menghela nafas, “ayah dan ibu mu telah tiada nak sejak kamu berumur 10 tahun”. “Bagaimana mungkin bude’?”, “sekarang aku berumur 15 tahun, dan sejak itu pula ayah dan ibu masih ada di rumah bersamaku, hingga kejadian yang mengerikan kemarin. Walaupun semenjak itu ayah dan ibu tidak bertengkar seperti biasanya”.

Bude’ pun bertanya karena penasaran, “kejadian mengerikan apa Taf? Coba kau ceritakan kepada bude, sambil merangkul Hitaf,” Hitaf pun berkisah… Lalu, bude’ berkata, “ayah dan ibumu juga raib oleh ombak itu nak, tepat 5 tahun lalu.” Tanpa menunggu bude’ selesai berkisah aku langsung memotong, “lalu kenapa ayah dan ibu masih ada di rumah, bude’? tegasku. aku berlari ke luar rumah bude’ dan balik ke gubuk kecilku dengan satu harapan, ayah dan ibu ada di gubuk kami.

Dalam perjalanan ke Gua Cina aku hanya bisa melamun, memikirkan semua skenario Tuhan. Lalu, si hitam tiba-tiba muncul, “tak usah kau melamun, berdzikirlah kepada Tuhanmu, iklaskan kepergian teman dan orangtuamu,” “hahahaha”, tawa licik si putih, “Entengnya dia bilang begitu, setelah apa yang semua Tuhan lakukan kepadamu, sampailah gubuk dengan cepat temanku, ayah dan ibumu menunggumu di gubuk” aku terbangun dari lamunan, “kau benar, ini semua salah Tuhan. Kaulah temanku sekarang. Bukan si hitam. Dan tidak juga Tuhannya.
“Hei, si hitam, enyahlah dari kehidupanku”
“Sekarang aku tidak butuh Tuhanmu. Pergilah kau, pergilah dan jangan pernah kembali. Hahahahaha, aku bebas, aku bebas dari aturan Tuhanmu.” Tanpa sadar, orang-orang di bis itu melihat ke arahku. Mungkin berpikir bahwa aku sudah gila, Aku tertawa kecil terkikik-kikik!
“Tidak… jangan engkau lakukan itu sahabatku”
“Engkau harus ku nasehati, agar berfikir ulang,” kata si Hitam.
“Huissss, diam kau, pembual sialan, karena skenario Tuhanmu semua ini terjadi, Tuhanmu mengahancurkan kepercayaanku, kepercayaan yang ditanam kuat oleh sahabat karibku. Tapi apa balasan Tuhan? Ohhhhh…! Sakitnya tuh disini!” sambil ku menunjuk dadaku.
“Usir dia, usir dia dari kehidupanmu” bisik si putih.
“Enyahlah, kau pembual, enyahlah kau, enyahlaaah” teriak ku, sampai suaraku parau.

Dengan berat hati, si Hitam pergi dan lenyap dari pikiran si Hitaf atas perintah Tuhannya. Dan si Putih tertawa bahagia.
“Aku menang, Aku menang”

Bis pun berhenti, aku langsung berlari, sambil memanggil-manggil “ayah,… ibu… anakmu pulang,” dan orang-orang di sekitarku memandangiku dengan keheranan, tapi tak kuhiraukan, “ayah, ibu, kalian dimana?” “Hitaf, Hitaf… kami disini, mari! peluklah kami, kami rindu akan hangatnya pelukanmu” Begitulah skenario yang dimainkan si putih sehingga Hitaf pun terjerat.

Cerpen Karangan: Fatih
Facebook: Fatihurrahman Bima

Cerpen Si Hitaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakit Yang Tak Bisa Dijelaskan

Oleh:
“Disaat ku belum mengerti arti sebuah percerai yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki” ya benar sepanjang malam itu lagu berjudul diary depresiku terus diputar oleh

The Last Memory of Kei (Part 1)

Oleh:
Aku manusia Android. Aku diciptakan karena permohonan seorang Ayah yang anak gadis semata wayangnya tengah dirundung duka yang amat teramat dalam. Serra, gadis (18 thn) yang 1 tahun lalu

Penyesalan Memang Datang Terlambat

Oleh:
“Ibuuuuu!! Mana uang jajannya?” Teriak Cintya. Seorang pelajar SMP yang baru akan berangkat ke sekolah saat jam sudah menunjukan waktu untuknya harus berangkat saat itu juga. “Kemarin kan sudah

Rumahku

Oleh:
Windi adalah seorang anak yang baik. Dia tak pernah membantah perintah orangtuanya, dan ramah pada setiap orang. Windi adalah anak yang paling disayangi di tempat tinggalnya. Suatu hari, Windi

Kisah Tiga Pemburu

Oleh:
Dengan penuh kesabaran mereka berdiam di balik semak-semak. Menunggu tanpa sedikitpun suara yang tercipta, hingga kemudian tiba apa yang telah mereka nantikan. Diarahkannya senapan berlaras panjang itu oleh satu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *