Si Pendiam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 25 December 2017

Allahu akbar allahu akbar…
Suara azan maghrib telah berkumandang. Huffh… penat sekali rasanya menahan ini semua. Menahan dari rasa lapar, haus dan godaan-godaan lainnya yang dilarang oleh agama. Gluk… glukk… gluk…
Aduh nikmat tuhan yang manakah yang harus aku dustakan. Air kelapa ini sangat nikmat. Mengalir begitu saja kekerongkonganku. Dingin dan basah rasanya. Setelah lebih 10 jam menunggu waktu berbuka akhirnya terwujud juga.

“Alif, ayo makan dulu. Nanti keburu dingin nasinya.” seru Ibu dari dapur.
“Iya Bu sebentar lagi”, balasku.
“Ayo sekarang!” perintah Ibu
“Iya Bu.” datang menghampiri Ibu di dapur.

Makan malam kali ini hanya ada aku, Ibu dan si kecil Dimas. Hanya kami bertiga di rumah tua ini. Rumah yang bersanggah bambu ini merupakan rumah yang begitu sederhana. Segala sesuatu di rumah ini bernilai sederhana tidak ada yang terlalu berharga. Namun kenangan manis di rumah inilah yang begitu berharga.
Bapak. Kami tidak dapat makan dengan Bapak. Keadaan ini berbeda ketika ramadhan tahun lalu. Dimana suasana makan malam dan berbuka puasa terasa menyenangkan karena kehadiran Bapak. Setiap sore Bapak akan pulang dengan terburu-buru agar tidak terlambat berbuka puasa bersama kami.
Terlihat peluh keringatnya bercucuran, karena ia mengejar waktu sambil sedikit cepat mengendari sepeda reotnya.

“Assalamualaikum Bapak pulang!”, serunya keras
“Bapak!!!”, aku dan Dimas pasti sudah berlari terburu-buru akan mencium tangan Bapak. Kemudian diikuti dengan Ibu.
“Hayoo puasa hari ini penuh tidak Alif, Dimas?”, selidik bapak.
“Penuh dong pak”, jawab kami serentak.
“Alhamdulilah anak Bapak hebat”
Senyum mengembang padaku dan Dimas atas pujian Bapak.

Setelah itu kami akan bersantap malam bersama. Bercerita tentang apapun. Bapak menceritakan perkembangan sawah dan padinya. Ibu menceritakan hasil jualannya hari itu. Aku dan Dimas akan menceritakan tentang betapa kuatnya kami menahan lapar dan haus walaupun banyak sekali yang menggoda kami.
Setelah itu kami akan bersama-sama berangkat menuju surau untuk menunaikan ibadah sholat isya kemudian dilanjut dengan tarawih.

Namun ramadahan tahun ini berbeda. Tidak ada lagi suasana seperti itu. Semua berbeda, ada tempat kosong ketika kami sedang bersantap malam. Satu kursi kosong, dimana dulu bapaklah yang duduk di kursi itu. Tidak ada lagi lari terburu-buru untuk mencium tangan Bapak. Tidak ada lagi cerita di atas meja makan sederhana ini. Tidak ada lagi, semua telah berbeda.
Semenjak kematian Bapak tahun lalu akibat kecelakan itu, yang mengakibatkan seseorang harus meregang nyawa. Dan orang itu adalah Bapak. Bapak kami satu-satunya yang kami miliki. Penopang keluarga kami. Pencari nafkah keluarga kami. Bapak kami adalah segala-galanya bagi kami.

Semenjak itu keadaan berubah. Ibu harus bekerja ekstra. Mulai pagi pukul 2 pagi sudah harus bangun untuk berangakat ke pasar. Kemudian baru pulang sore hari. Dan malamnya harus mempersiapkan dagangannya untuk esok paginya.
Terkadang aku merasa begitu sedih dengan keadaan ini semua. Melihat Ibu banting tulang untukku dan Dimas. Setiap aku menyarankan kepada Ibu agar putus sekolah saja dan membantunya berdagang. Ibu selalu marah.

“Tidak Alif! Apa yang kau katakan? Kau harus tetap sekolah. Apapun yang terjadi. Biar Ibu yang mengurus semuanya. Tugasmu hanya satu nak. Sekolahlah yang baik. Agar kamu dapat menjadi panutan bagi adikmu Dimas nanti”, kata Ibu padaku kala itu.
Aku hanya mampu menurut saja. Namun aku tetap kepikiran dengan Ibu. Akhirnya setiap pulang sekolah aku rajin berada di lampu bangjo menjajakkan koran. Setiap hari aku lakukan, setiap pulang sekolah. Bagaimanapun aku tetap harus membantu Ibu.

Begitu pula dengan Dimas. Ibu akan membuat jajanan pasar. Kemudian Dimas akan membawanya ke sekolah dan menitipkan ke kantin sekolah. Kami sekelurga akan banting tulang untuk tetap hidup. Karena itulah didikan Bapak dan Ibu selama ini.

Setelah berbuka puasa Aku dan Dimas berangkat menuju surau. Ibu tidak ikut, Ibu memilih menjaga di rumah dan bersih-bersih rumah. Setelah sholat isya dan tarawih biasanya anak-anak desa kami akan bermain sebentar. Kami gemar sekali bermain lempar sandal. Dimana nanti sandal akan ditumpuk tinggi-tinggi. Kemudian satu persatu anak akan melemparnya. Jika tumbukkan itu terjatuh maka kelompok yang menang akan lari dan kelompok yang kalah juga berlari namun sambil berusaha menangkap kelompok yang menang.

Permainan ini sangat seru. Tidak bosan-bosan aku bermainnya. Belum lagi jika anggota yang bermain banyak, akan tambah seru lagi. Ketika bermain ada salah satu anak yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Kata Deny salah satu temanku, anak itu pindahan dari desa sebelah. Ia tinggal bersama dengan simbahnya tidak jauh dari surau. Oh begitu pikirku. Namun sepertinya ia tidak banyak bicara, aku lebih sering melihatnya terdiam, duduk, sendirian dan jauh dari kerumunan.

“Hey… kau Dika kan? Aku Alif.” Sapaku sambil mengulurkan tangan.
“Ha..hay i..iya aku Dika.” Balasnya menjabat tanganku dengan gerakan patah-patah dan gugup.
“Ayo main! Kau pasti senang.” Ajakku.
“Tidak usah, aku tidak mahir permainan itu. Lebih baik aku melihat saja.” Katanya sambil gugup
“Hey, kau tidak perlu otak dalam permainan ini. Kau hanya perlu lari saja dan tahu mana kawan dan lawan.” Jawabku mantap sambil menarik tangannya.
Sebelum ia menolak aku sudah memotong bicaranya dan menariknya dalam permainan.
“Hey teman-teman semua. Kita ketambahan satu orang lagi tidak apa-apa kan. Semakin banyak anggota akan semakin seru bukan?” Tanyaku pada yang lain.
“Baik Lif tidak apa-apa. Dia masuk kelompok mana” Tanya Tono.
“Kelompokku saja, sekalian sambil aku jelaskan permainan ini padanya. Bagaimana semua?”
“Baiklah setuju.“ Kata Shidiq.

Permainan dimulai, terlihat sekali jika Dika begitu gugup. Aku berani jamin, pasti ini kali pertamanya ia bermain dengan banyak orang. Aku belum tahu apa-apa tentang anak ini. Namun aku akan mencari tahu itu semua. Mengapa ia begitu pendiam. Suka sekali sendirian. Tidak suka dengan kerumunan banyak orang. Padahal usia 10 tahun seperti aku dan teman-teman yang lain merupakan umur yang paling meyenangkan untuk dibuat bermain betul tidak?.

“Ngos… ngos… aduh aku lelah sekali rasanya seperti baru keliling kampung 10 kali. Kejaran faris memang maut.” Kataku terengah-engah. “Bagaimana, kau juga sudah lelah Dik?” Tanyaku
Terlihat peluh keringat di dahinya. Dan napas terengah-engah sama sepertiku. Sepertinya ia habis berolahraga. Namun anehnya ia tersenyum padaku. Terlihat wajahnya yang tadi suram mulai terlihat terang. Aku tidak tahu bahwa permainan kami ini akan mengubah cahaya di wajahnya itu. Cahaya wajah yang tadinya seperti memiliki beban yang berat, namun sekarang lebih membaik.

“Besok kau harus ikut lagi Dik. Masih banyak permainan anak kampung sini yang lebih menyenangkan. Kau tunggu saja besok ya.” Kataku sambil tersenyum
Ia pun membalasnya dengan tersenyum pula.

Hari semakin larut maka satu persatu anak mulai pulang. Takut jika tiba-tiba salah satu ibu mereka datang dan mengomel serta menarik kuping mereka karena terlambat pulang. Aku pun juga demikian Ibu pasti akan mencari-cari jika aku pulang terlalu larut. Maka kami putuskan untuk mengakhiri permainan dan berlanjut esoknya
“Sampai jumpa Dik. Jangan lupa datang ya.” Dadahku sambil menggandeng Dimas
Ia balas melambai sambil tersenyum.

Sengatan matahari begitu terasa di kepala. Matahari bagai hanya beberapa senti saja dari kepalaku. Ditambah dengan angin panas yang tidak bosan-bosanya bertiup. Tanah gersang dan kering desa kami ini memang ciri khasnya. Rasanya ingin segera pulang aku. Seandainya Ibu tidak menyuruhku pergi mengantar pesanan Mak cik aku tidak akan mau berangkat panas-panas seperti. Belum lagi aku sedang berpuasa. Aduhh lengkap sudah semuanya.

Ketika sedang berjalan aku melihat bayangan yang tak asing bagiku. Siapa dia? Dika bukankah itu Dika. Mau pergi ke mana ia? Diam-diam aku membuntutinya sambil berjalan. Selang beberapa saat tibalah ia di suatu tempat. Dengan aku pastinya.
“Ia pergi ke kuburan? Apa yang akan ia lakukan?” Gumamku dalam hati.
Ia berjalan tenang, melewati kuburan-kuburan lain seolah-olah ia sudah sangat hafal dengan tempat itu. Sepertinya ia kerap datang ke tempat ini. Kemudian aku mengamatinya dari jauh. Dan tibalah ia dikuburan yang akan ia pilih. Ia duduk di pinggirnya. Mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh subur diatasnya. Menyiram kuburan gersang itu dengan air. Memberi sekuntum mawar merah yang indah ditengah-tengah nisan kuburan tersebut. Serta mengecup kedua nisan tersebut.
Aku hanya mampu melihat dari kejauhan dan terdiam tidak mengerti. Lalu tiba-tiba ia menangis. Pelan… pelan… kemudian isak tangisnya semakin keras. Semakin keras namun tertahan. Sampai bergetar badannya karena ia menahan tangis itu. Sepertinya ia sudah lama memendam tangisan tersebut. Kemudian ia mengajak kedua nisan itu bercakap-cakap

“Sekarang Dika sudah punya teman. Teman Dika baik-baik semua. Tidak ada yang jahat pada Dika seperti dulu. Dika tidak menyangka Dika dapat beradaptasi di sini. Awalnya dika takut sekali Dika akan seperti dulu. Dika selalu saja diejek, dihina, dan direndahkan oleh banyak orang. Namun sekarang tidak! Dika ingin berubah, Dika tidak ingin dilihat sebelah mata lagi. Dika berjanji. Dika berjanji demi bapak dan ibu.”

Deg! Aku kaget setengah mati sekaligus menahan airmataku. Tidak tahu mengapa aku merasa sangat sedih mendengar ucapan Dika barusan. Ucapan tulus anak seumuranku yang ia ucapkan sendiri di kuburan. Ucapan tulus dari lubuk hatinya terdalam. Untuk orangtuanya tersayang.
Tanpa kusadari airmataku mengalir begitu saja. Bahkan semakin lama semakin deras alirannya. Aku merasa sedih, bahkan sangat sedih. Aku tidak dapat membayangkan kehidupannya tanpa kedua orangtuannya. Hidup hanya dengan simbahnya saja. Belum lagi keadaan ekonomi yang begitu pas-pasan sama denganku.

Aku merasa malu sendiri saat itu. Seharusnya aku bersyukur aku masih memiliki Ibu di rumah. Yang selalu sayang padaku dan Dimas. Yang mau banting tulang menggantikan Bapak. Namun aku masih saja mengungkit-ngungkit keadaan ketika Bapak masih hidup. Bahwa dulu ketika Bapak masih hidup semua berjalan dengan baik. Padahal sekarang walaupun Bapak telah tiada namun Ibu dengan gigihnya menggantikan peran Bapak. Sehingga kehidupanku tetap berjalan dengan baik pula.
Rasanya aku ingin segera pulang dan mencium tangan Ibu. Ya Allah maafkan Alif Ya Allah maaf. Aku ingin pulang segera dan menemui Ibu. Mengatakan bahwa aku sangat mencintai Ibu apapun yang terjadi. Aku akan membuat Ibu bangga akan diriku. Aku tidak akan membuat Ibu kecewa. Aku akan lakukan apapun yang diperintahkan Ibu. Tidak ada lagi bantah membantah.

Kemudian beberapa menit Dika terdiam dan akhirnya pergi pamit dari kuburan ayah dan ibunya serta tak lupa mengecup nisannya. Aku menemuinya di luar kuburan.
“Dik?” Sapaku
“Eh Lif? Apa yang kau lakukan di sini.” Jawabnya sedikit kaget sambil mengusap mata yang masih tersisa bulir-bulir tangisannya tadi.
“Maaf tadi aku melihat kau jalan sendirian. Dan akhirnya memutuskan untuk membuntuti kau hingga akhirnya ke sini. Aku mengerti sekarang mengapa kau begitu pendiam, tidak suka dengan kerumunan dan lebih baik sendirian.”
Ia hanya menunduk sambil menyimakku
“Maafkan aku soal orangtuamu Dik. Andai aku tahu dari awal tidak mungkin semalam aku langsung mengajak kau bermain padahal aku tidak tahu apa isi hati kau ketika itu. Aku tidak tahu bahwa kau barusan kehilangan kedua orang yang begitu kau sayangi.” Kataku menyesal.
“Tidak Lif, seharusnya aku berterima kasih padamu. Jika kau tidak mengajakku bermain malam itu mungkin sekarang aku akan tetap menjadi Dika yang pendiam. Atau bahkan lebih buruk lagi. Terima kasih Lif, kau sudah mau menjadi teman baruku di desa ini.”
“Sama-sama Dik. Dan dengan adanya diri kau aku menjadi mengerti apa arti rasa syukur. Aku selalu merasa bahwa hidupku inilah yang paling susah. Namun kenyataannya masih banyak orang tidak seberuntung seperti diriku. Dan aku juga merasa sangat senang dapat menjadi temanmu.”
“Ayo kita pulang.” Ajak Dika.
Aku mengangguk mengiyakan.

Di perjalanan menuju rumah tidak henti-hentinya mereka bercakap-cakap. Saling membuka diri. Dika menceritakan mengapa ia pindah ke desa ini. Bagaimana kedua orangtuanya dapat meninggal yang ternyata sama akibatnya seperti kematian Bapak Alif.

Setidaknya aku beruntung memiliki teman baru berjiwa tegar ini. Agar aku pun belajar untuk tegar juga. Lebih mengerti arti kehidupan dan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih banyak bersyukur dan saling mengasihani kepada sesama. Seperti yang diajarkan Dika padaku.

Tamat.

Cerpen Karangan: Sekar Jatiningrum
Blog: sekarjatiningrum.blogspot.com
Seseorang yang baru mencoba menulis.
Untuk teman-teman yang berkenan membaca cerpenku. Aku sangat membuka tangan untuk saran dan kritiknya ya. Yang akan aku buat evaluasi untuk karya cerpenku berikutnya.
terima kasih

Cerpen Si Pendiam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lugunya Hati

Oleh:
Cinta, kata yang selalu melekat dengan usia remaja. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap menjadi bagian dari kisah hangat remaja. Kata itu adalah kata misterius, karena menjadi sebab akan

Friendship or Love (Part 3)

Oleh:
Beberapa hari berlalu. Keno berencana untuk mengajak Nawala bertemu hari ini setelah beberapa hari sebelumnya ia sibuk dengan pekerjaan. Keno membuat pertemuan dengan Nawala dengan alasan untuk kesempatan bisnis

Uang Marjo

Oleh:
Matahari bersinar garang. Menguras keringat dari kulitnya yang tampak legam. Marjo berjalan dengan pikiran mengawang. Kejadian tadi siang masih lekat dalam ingatannya. Sesekali kaos oblong kumalnya disapukan ke muka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *