Siapa?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 21 June 2014

“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.”
“Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?”
“Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus sama persis dengan hpnya, karena dia tidak mau kalau ayahnya tahu bahwa hpnya hilang. Nanti dia bisa dimarahi habis-habisan.”
“Kamu sih, Mad, naruh hp sembarangan. Makannya jadi orang jangan teledor. Sekarang tahu kan akibatnya.” Tiba-tiba ibuku ikut bicara. Bibirnya memang sudah terlihat menyonyo. Sepertinya, kumpulan kata-kata itu sudah gerah berada di dalam mulutnya.
“Tapi kan biasanya aku naruh barang di sembarang tempat juga nggak pernah hilang. Lagian, rumah ini kan terpencil. Siapa yang mau susah-susah kesini cuma ingin nyuri hp mungil itu. Laptop aja yang gede gitu ditaruh sembarangan nggak pernah hilang kok.”
“Pasti ya cuma temanmu yang sering kesini itu.” Tuduh bapakku.
“Siapa maksud bapak? Si Irun? Atau Rani? Mengapa sih bapak selalu menuduh mereka? Ahmad tahu watak mereka. Mereka berdua sahabat Ahmad, pak. Nggak mungkin mereka melakukan itu. Ahmad dan Irun sudah lima tahun hidup bersama. Satu kamar lagi. Malah, orang-orang mengira kalau dia saudara kandung Ahmad karena saking dekatnya. Jadi tak mungkin, lah. Si Rani juga, dia yang selalu menjadi luapan kesedihan Ahmad. Dia selalu memberikan semangat untuk Ahmad supaya rajin sekolah dan belajar. Jadi, Ahmad yakin bukan mereka pelakunya.” Sangkalku.

Suasana pun menjadi hening. Seakan juga merasakan resahnya hatiku. Irun, Rani. Tak mungkin mereka pelakunya. Tapi memang sih, hanya mereka yang selalu datang ke rumahku. Ahhh… Tak mungkin. Bukan mereka pelakunya. Tapi siapa lagi? Kakakku? Tak mungkin kakakku sendiri pelakunya. Buat apa dia mencuri hp yang tak begitu bernilai baginya. Toh, dia juga sudah bekerja. Mampu menghidupi dirinya sendiri. Malah, dia yang membiayai sekolahku.
Orangtuaku? Hah? Lebih tidak mungkin lagi. Mengoperasikan hp saja tidak bisa. Buat apa mencuri hp. Konyol sekali! Lagian, masa orang tua meneror anaknya sendiri. Dasar pikiran sial! Astaghhfirullahal’adzim.
Masak Irun? Memang kemarin-kemarin dia meminjam uangku seratus ribu dan belum dikembalikan juga. Mungkin karena kondisinya terdesak akhirnya dia mengambil…
Ahhh… sial, sial, sial! Nggak mungkin sahabatku sendiri.

Tetapi, siang itu, pas aku tidur di sofa tua ruang tamu hpnya kutaruh di sampingku. Bangun tidur aku langsung sholat ashar kemudian diajak bapak pergi. Pulang-pulang, Irun sudah ada di rumahku, main. Kala aku hendak menitipkan hp itu kepada Irun untuk mengecasnya, eh, tiba-tiba nggak ada. Mungkinkah Irun? Bisa juga kayaknya. Argghh… tak mungkin! Itu tak mungkin! Aku tahu siapa dia. Dia banyak berkorban untukku. Sangat baik padaku.
Dulu pas di asrama, ketika ia hendak berangkat sekolah ia bersedia ke luar membeli nasi untukku. Padahal hari itu aku tidak berangkat sekolah dengan alasan yang tak jelas. Pulang sekolah dia kuajak membeli nasi tidak mau, karena keuangannya hanya cukup untuk makan dua kali sehari. Tapi ia bersedia membelikan untukku. Sedangkan aku hanya leyeh-leyeh seperti raja.
Dan kala ia sudah tidak tinggal di asrama ia tetap baik padaku. Setiap hari jumat dia mau mengantarku pulang karena aku hendak menyelesaikan lukisan kaligrafiku di rumah yang akan kuberikan pada sang pacar. Apa saja keperluanku dia mau membantu dengan ikhlas.
Impossible! Sungguh tak masuk akal jika dia pelakunya.
Rani. Diakah? Mungkin dia menggunakan kelebihan indigonya yang bisa membaca pikiran orang dan bisa memantau suatu kejadian dari jarak jauh. Apakah dia juga punya kelebihan untuk mengambil benda dari jarak jauh?
Sial, sial, sial!!! Pergi kau pikiran jahannam! Sahabat macam apa aku ini. Mengapa aku berperasangka buruk terhadap sahabat-sahabatku sendiri?!

Srrrpp… Ku seruput kopi hitam yang masih mengepul ganas. Bubuk kopinya setengah gelas dan gulanya satu sendok. Ssshhh… Saraf otakku sedikit mengendor karena nikotin yang begitu dalam ku isap.
Irun, Rani, Irun, Rani, Irun, Rani. Bayang-bayang mereka berputar-putar dalam otakku serupa gasing yang begitu bising.
Buughh… Kurebahkan tubuhku di atas sofa ruang tamu. Sssshhh… Bull.. Semakin dalam nikotin itu merayap dalam tibuhku. Mungkin jantungku sangat kewalahan menghadapinya.
Rani, Irun, Rani, Irun, Rani, Irun. Mereka membuatku pusing.
Sssshhh… Bull… Irun, Rani, Irun, Rani, Irun, Rani. Deg… deg… deg… jantungku berdentum semakin cepat.
Rani, Irun, Rani, Irun, Rani, Irun. Ssssshhhh… bull.. deg.. deg.. deg.. deg..
Irun, Rani, Irun, Rani, Irun, Rani, bapak, bapak, bapak, bapak. Hah? Mengapa tiba-tiba wajah bapakku muncul dalam pikiranku? Bapak, bapak, bapak, bapak. Ada apa ini? Mengapa semakin jelas? Tak mungkin! Ini tak mungkin! Bapak, bapak, bapak, bapak…
Blukk..
Ahhhh… Sofaku ambles. Tampak seperti gunung habis meletus. Atau seperti sumur yang kekeringan. Dalamnya kosong mlompong. Tak berisi apa-apa. Hanya udara pengap bercampur debu yang begitu tebal. Hah? Cahaya apa itu di dalamnya? Derrtttt… derrrttt… derrrtt…

Cerpen Karangan: Muhammad Nasir
Blog: nasirsangpujangga.blogspot.com
Facebook: em nasir
Nama saya Muhammad Nasir. umur 17 tahun. alamat saya di bangen, bangunjiwo, kasihan, bantul, yogyakarta.
saya sekolah di MAN Godean Sleman, kelas XI IPA 1.

Cerpen Siapa? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Impian Kayra

Oleh:
Halo! Namaku Kayra. Aku lahir dalam keluarga kurang berada. Aku tidak bisa sekolah karena tidak bisa membayar buku-buku sekolah. Kehidupan ini tidak akan berlangsung lama, kok. Pagi itu, aku

Sejuta Pohon Untuk Ibu

Oleh:
Dulu ketika aku masih kecil, Ayah dan Ibu selalu mendidikku bagaimana cara Aku menghadapi bumi serta alam ini, seperti; menghadapi perilaku manusia, hewan dan tumbuhan di muka bumi ini.

Senyum Terakhir

Oleh:
Makan malam sudah siap, semuanya pun berkumpul. Dengan tangan yang bergetar Mbok Darmi pun turun ke bawah untuk makan malam. “Ini mak.” kata anaknya sambil menyodorkan piring kayu. “piring

Semua Telah Kembali

Oleh:
Aku berdiri di sebelah jendela melihat langit yang gelap tanpa bintang seperti hidupku yang gelap gulita meski kumemiliki segalanya, apapun yang kuminta pasti akan kudapatkan kecuali satu yaitu waktu

The Light at Formosa’s Sky

Oleh:
Mataku mata ikan, tak dapat terlelap malam ini. Sesekali mencoba memejamkan kedua bola mata namun pikiranku melayang. Terpaku memandang wajah malaikat-malaikat yang terlelap pulas di atas tikar tua. Maksud

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *