Siapa Aku?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 December 2016

Mungkin orang orang menganggapku sama dengan remaja pada umumnya. Tapi semua itu tak pernah kusadari. Mereka melihatku tidak seperti yang kurasakan, mereka menganggap diriku seperti tidak ada masalah dan tidak ada yang salah. “Sebenarnya apa yang salah, siapa yang salah, dan siapa yang disalahkan”. Aku sendiri tidak tahu bagaimana tentang diriku ini, orang orang menanggapku sebagai anak yang baik dan tidak pernah melakukan hal yang aneh aneh, tapi aku sendiri tidak pernah menilai bagaiamana diriku.

Seperti biasa sebagai remaja yang menginjak usia 17 tahun, yang kini menginjak bangku kelas 12 Sekolah Menengah Atas dan aku sekolah di salah satu sekolah favorit di daerahku. “Pagi Rangga” ujar Dodi. “Aku hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisku tanpa membalas ucapan dari Dodi. Tidak hanya Dodi yang kusapa dengan kurang bersemangat, yaaaa.. sebenarnya aku malas untuk menyapa orang lain, tapi karena biasanya kalau tidak menyapa orang lain, apalagi yang sudah dikenal nanti dibilang sombong lagi “Aduh males banget” ujarku.

“Rangga ayo dong gabung sama kita sini main bareng” ujar Dito yang merupakan Ketua Kelas kami. Dengan seribu alasan aku menolak dan terkadang aku tidak menghiraukan pembicaraannya. “Iya bentar aku lagi sibuk nih banyak banget tugas, kamu duluan aja entar aku nyusul kok” ujarku dengan nada malas. “Beneran ya Rang” saut Dito, “Iya iya” ujarku dengan nada yang agak tinggi. Hingga permainan atau lebih tepatnya sepak bola menjelang selesai, aku belum juga datang untuk bergabung dengan mereka.

Dalam hal akademik pun aku kurang menonjol karena aku sendiri menanggap diriku sebagai orang yang introvert, aku kurang suka berbicara apalagi kalau berbicara di depan umum. Kalau nggak terpaksa aku malas berbicara. Tapi sebenarnya aku memahami mengenai pelajaran yang disampaikan guru, yaaa sama seperti siswa lain pasti ada salah satu atau beberapa mata pelajaran yang tidak disukai. Saat mata pelajaran yang tidak kusukai aku lebih sering termenung sambil mengobrak abrik kertas buramku.

Haikal, teman sebangkuku yang sering menanyakan mengenai pelajaran, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dipelajari. Aku hanya bisa menggeleng gelengkan kepala. “Rangga kalau yang nomor 3 ini gimana ya?”, “Gak tau Kal” balasku sambil menggelengkan kepala dengan rasa malas. “Kalau yang ini gimana?” Haikal. “Rangga, Rangga, Rangga…” Haikal. “Ya iya” jawabku dengan terkejut. “Kamu akhir akhir ini kok sering bengong?, lagi ada masalah ya?” tanya Haikal kepada ku. “Eng, Engg… Enggak kok” jawabku dengan ragu ragu. “kalau gitu lanjutin deh belajarnya” sautku untuk mengalihkan perhatian. Dan Haikal tidak berkata kata lagi.

Aku kurang suka dan bisa dikatakan sangat tidak menyukai berinteraksi dengan orang lain, apalagi di khalayak ramai seperti di sekolah yang banyak siswa siswa dengan berbagai karakter mereka yang tidak kusukai. Tapi kulihat anak anak yang lain pada enjoy aja kaya nggak ada masalah gitu, mereka tampak riang dan gembira saat bertemu dengan teman teman mereka, menghabiskan waktu bersama, bersenda gurau bersama, apapun bersama sama. Tidak seperti aku yang menghabiskan waktu sendirian tanpa orang lain, sebenarnya siapa yang salah yaa… Aku atau teman temanku? Dan siapakah aku?

Bip bip… bip… bip… alarm yang membangunkanku seperti biasa, tidak ada saudara yang membangunkanku karena aku anak tunggal dan aku bersyukur karena tidak memiliki saudara yang terkadang sering berantam tanpa alasan yang jelas. Aku langsung menuju kamar mandi, dengan segera kubersihkan diriku dari keringat semalam, kupakai seragam sekolahku langsung kulahap sarapan yang ada di meja makan, Aku bergegas ke sekolah seperti buru buru padahal sekarang masih jam 06.10. Jalanan masih sepi dan di sekolah masih belum ada orang, hanya ada mamang yang sedang membuka pintu kelas. Hanya ada aku sendiri siswa yang ada di sekolah dan di kelasku, orang orang belum berdatangan ke sekolah. Alasanku datang pagi pagi, adalah hal yang sama aku tidak suka keramaian.

Tok tok tok… tok… “Iya iya bentar”. “Udah pulang Rang” saut Ibu kepadaku. Aku tidak menjawabnya dan aku langsung ke kamar karena aku ingin sendiri. Tak lama kemudian Ibu memanggilku “Rangga Rangga…” saut Ibu. “Iya bu” jawabku. “Buka pintunya nak” pinta Ibu. “Iya bu, ada apa ya?”. “Kamu udah makan belum?”. “Belum” “udah sana gih makan dulu”. Aku berjalan ke dapur untuk mengambil makan siang dan kubawa ke kamar. Ibu melihatku membawa makanan ke kamar, “Eh Rangga kok makannya di kamar sih” tanya Ibu. “Gak apa apa” Jawabku dengan entengnya.

Tok tok tokkk, permisi, “Oh Dito” Ibu. “Iya bu, Rangganya ada?”. “Aduh.., barusan aja dia keluar”. “Kemana bu?”. “Nggak tau tuh, dia nyelonong aja pergi nggak bilang bilang”. “Kapan pulangnya bu?”. “Nggak tau, ada pesan yang mau dititip nggak, nanti Ibu sampein ke Rangga?”. “Nggak ada kok bu”. “Ngomong ngomong Ibu bisa bicara sebentar sama kamu nggak” Ibu. “Iya boleh kok” Dito. “Jadi gini kalau Ibu perhatiin Rangga jarang banget bergaul sama teman temannya, kamu tau nggak kenapa?”. “Nggak tau bu, Iya sih Rangga itu jarang bahkan nggak pernah bergaul sama teman temannya”, “Ibu jadi bingung, ada apa ya sama Rangga, Ibu bisa minta tolong nggak sama kamu?”. “Tolong apaan ya Bu”, “Kamu tolong mata matain Rangga, bisa kan?”. “Bisa sih, tapi kalau ketahuan gimana”. “Nggak apa apa, Ibu jamin nggak bakal ketahuan.

“Besok aku harus mulai memata matai Rangga, tapi gimana caranya ya…? Hmmm… hmmm… Oh iya aku dengar dengar Rangga kalau pergi sekolah pagi pagi banget sebelum yang lain pada datang, dia udah datang duluan. Kalau gitu aku harus datang lebih pagi untuk memantau Rangga. Sesampainya di sekolah tepatnya di depan kelas kulihat Rangga baru masuk ke kelas, jadi aku kalah cepat datang dari pada Rangga. Tanpa berpikir panjang aku langsung menemuinya.” Pikir Dito dalam hati

“Eh kamu Rangga kok cepat banget datangnya masih pagi lho ini” tanya Dito kepadaku. “Kamu sendiri kok cepat banget datangnya? Gak biasa biasanya kamu datang sepagi ini”. “Oh nggak apa apa kok, emangnya nggak boleh ya kalau datang pagi pagi ke sekolah?”. “Jawab dong Rang”. “Ya udah kalau kamu nggak mau jawab, aku mau ke toilet dulu”. Aku tidak pergi ke toilet tapi aku memantau Rangga dari jendela kelas mumpung siswa lain belum pada datang.

“Selang beberapa menit Rangga hanya terdiam tanpa melakukan apapun, sepertinya dia sedang berpikir, tapi apa yang ia pikirkan?. Hari ini aku tidak mendapatkan informasi apapun mengenai Rangga, tapi nanti saat jam istirahat dan pulang sekolah aku tetap akan memataunya.”

Kring… Kring… Kringgg bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan ke luar kelas. “Ranggga ke kantin yuk” ajak teman teman ku Dito, Dodi, dan Haikal. Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Rangga, kok diam aja ayo dong”. “Kalian duluan aja entar aku nyusul”, “Ya udah deh kalau itu mau kamu”. Sambil berjalan menuju kantin mereka membicarakan tentang Rangga. “Dod, kalian sadar nggak sih kalau Rangga itu kaya ada masalah?”. “Kalau menurut aku sih biasa biasa biasa aja kaya nggak ada masalah, dan dia juga nggak pernah cerita ke kita kalau dia punya masalah”. “Tapi bisa jadi Rangga punya masalah berat yang nggak mau dia ceritain ke siapa pun”.

“Hari ini aku kembali melakukan pemantauan terhadap Rangga dan kini aku datang lebih cepat dari Rangga, Ya kalau dipikir pikir seram juga datang sekolah pagi pagi belum ada orang lagi, ntar kalau ketemu yang begituan gimana yaaa, heheehehe. Aku sengaja tidak masuk kelas dulu karena selain aku takut, itu merupakan trikku untuk memantau Rangga, kalau Rangga ngelihat ada tas di kursi pasti dia berpikir ada seseorang yang datang lebih cepat darinya dan yang menjadi kecurigaan, kemana orangnya sementara tasnya ada.”.

Tek tek tek… seperti ada yang berjalan kemari. Jangan jangan Rangga, aku harus cepat cepat ngumpet, Aduh dimana yaaaa, udah deh di bawah meja guru aja, ntar kalau Rangga melakukan sesuatu aku jadi tahu kan… Kulihat dari bawah tampak Rangga memasuki kelas dan duduk di bangkunya. Tak berselang lama di kelas yang sunyi ini terdengar suara tangisan, “kaya suaranya Rangga, tapi ngapain juga dia nangis?”.

“Kenapa kenapa… kenapa aku dilahirkan ke dunia ini kenapa? Aku hanyalah anak orang lain yang tidak jelas asal usul ku, aku tidak tahu siapa dan dimana orangtuaku”. “Oh jadi selama ini Ibu Rangga itu bukan Ibu kandungnya, pantas saja dia selalu terlihat murung dan sering termenung, dan mungkin dia merasa malu jadi anak yang tidak diinginkan makanya dia tidak pernah berinteraksi dan membuka diri untuk orang lain.

“Dodi, Haikal tungguin dong, kita pulang bareng ya”. “Oke buruan ya”. “Ada yang mau aku omongin nih, tapi ini serius dan menyangkut tentang Rangga”. “Jadi gini kemaren aku sudah memantau Rangga di kelas dan ternyata Rangga itu anak yang tidak diinginkan”. “Beneran kamu Dit kamu nggak ngada ngada kan?”. “Beneran Dod, Kal aku dengar sendiri waktu di kelas dia nangis karena dia adalah anak yang tidak diinginkan, nih kalu kamu nggak percaya juga aku punya rekamannya”.

Rekaman diputar
“Eh tunggu dulu, itu bukan nya Rangga”. “Yang mana sih”. “Itu yang duduk di taman didekat pohon gede itu”. “Iya iya benar tuh si Rangga, samperin yuk”. “Hai Rangga, ngapain disini, nggak langsung pulang aja?”. “Hmmmm… Aku nggak betah di rumah”. “Kamu lagi ada masalah ya? Cerita aja sama kita kita, nggak apa apa kok, kali aja kita bisa bantu. “Ayo dong cerita”. “Nggak, aku nggak kenapa kenapa, aku cuman mau sendiri”. “Tapi Rang”. “Cukup Nggak usah ngurusun hidup aku dan nggak usah ikut campur urusan ku titik”. “Hei Rang tunggu kamu mau kemana?”.
“Udah deh biarin aja dia pergi, ditolongoin malah nggak mau bener benar aneh tu anak” ujar Dodi. “Nggak boleh gitu dong, sebagai teman kita harus menolong teman kita yang sedang ada masalah, benar nggak kal”. “Benar tu, dengarin tuh Dod kata Dito”. “Iya iya” Jawab Dodi. “Sekarang lebih baik kita pulang dulu, besok kita lanjutin lagi, gimana?” tanya Dito. “Oke” saut Dodi dan Haikal.

Matahari telah kembali menyinari dunia, pagi pagi seperti biasa anak sekolahan berangkat ke sekolahnya masing masing. Tapi hari ini Rangga tidak masuk sekolah “Dit, Kal, si Rangga kemana kok nggak masuk ya?” ujar Dodi. “Iya nggak kaya biasanya”. “Rangga, Rangga bangun nak udah siang nih, kamu nggak sekolah?, Rangga… buka pintunya nak”. “Kok nggak ada jawaban ya apa Rangga masih tidur, tapi biasanya pagi pagi dia udah bangun, sepertinya ada yang aneh, ya udah deh ntar juga bangun sendiri”. “Kok belum bangun bangun juga ya, Aku lihat dari jendela aja siapa tahu kebuka. “Tuh kan benar jendelanya kebuka, Rangga Rangga kok nggak ada, Rangga Ranggaaa”.

Kring kring… Kring Kring… “Eh bentar handphone aku bunyi”. “Halo Dito”. “Iya bu ada apa?”. “Gawat Dit gawat… Rangga hilang dia kabur dari rumah”. “beneran bu?”. “Iya Dit Ibu serius”. “Ya udah Ibu tenang aja dulu, bentar lagi jam pulang sekolah, Aku sama teman teman bakal bantuin nyariin Rangga ya Bu?”. “Iya iya makasih ya nak”. “Kenapa Dit kok muka kamu cemas gitu habis terima telepon?”. “Rangga Rangga hilang Kal, Dod”.

“Aku bukan siapa siapa, aku tak tahu siapa diriku, Kehidupanku hancur, orang orang membenciku, kenapa kenapa? Apa karena aku ini anak buangan, anak haram?” Isak tangis Rangga di tepi danau. “Aku tidak pantas ada di dunia ini, tanpa teman, tanpa keluarga, yang ada hanya kesakitan yang kurasakan, bayangan itu selalu muncul, siapa dan dimana orangtua kandungku, teganya mereka membuangku, tega…” suara tangis Rangga semakin kencang.

“Ayo kita cari Rangga”. “Dimana Dit”. “Aku juga nggak tau sih harus mulai dari mana”. “Kalau orang orang lagi galau biasanya mereka pergi ke taman”. “Benar juga. Coba kita cari di taman yang kemaren”. “Tuh kan benar itu kan Rangga”. “Iya samperin yuk”. “Hai Rangga kok nggak masuk sekolah?, ada masalah ya”. “Maaf ya Rang bukan maksudku untuk lancang, sebenarnya aku ngupingin kamu di kelas waktu itu” apa benar itu masalahmu?”. “Aku malu aku malu Dit, kenapa diriku dilahirkan seperti ini tanpa orangtua yang jelas”. “sementara mereka punya orangtua yang sayang dengan anak mereka”.
“Kamu nggak usah mikirin hal yang aneh aneh tentang siapa orangtuamu sebenarnya”. “Kamu jalanin aja hidupmu dengan normal, kami tau kok perasaan kamu”. “Kami sebagai teman hanya bisa membantu”. “lupakan saja tentang itu, jalani hidupmu dengan enjoy”. “Dengar ya Rangga dirimu adalah dirimu, jangan kau coba untuk menentang dirimu sendiri, jadailah dirimu yang sebenarnya, jangan kau hiraukan perkataan orang di luar sana, mereka tidak tahu siapa diri kita”. “Tapi Dit Aku sangat malu, aku malu”. “Apa yang membuatmu malu, biarkan malu itu pergi”. “Ayo dong Rangga kita enjoy bareng, kita senang senang pasti masalah itu akan hilang dan terlupakan”.

Dito dan teman teman menarik tangan Rangga dan mengajak Rangga untuk bersenang senang, “Rangga walaupun kamu nggak punya orangtua kandung, kamu masih punya ayah dan ibu yang mencintai kamu, ditambah lagi kami teman temanmu yang selalu ada untukmu, sekarang kamu nggak usah bersedih lagi, kalau ada yang macam macam sini lawan aku”. “Haaa haa haaa” “Kaya kamu aja yang paling berkuasa wkwkwkwkw”. “Cie cie udah seyum senyum aja, ya udah sekarang kita makan bareng, lupakan semua masalah huuuu” Dito. “Makasih ya teman teman kalian udah mau bantuin aku, walaupun aku nggak pernah terbuka sama kalian maafin aku juga karena aku pernah berbuat salah sama kalian”. “Nggak apa apa kok Rang, setiap manusia pasti punya salah, dan kami nggak pernah menanggap itu sebagai masalah, yang penting kita hepi”

Yaaa beginilah kisahku walau aku terlahir sebagai anak yang tidak diinginkan, aku bisa menjadi diriku, benar kata Dito nggak usah peduliin kata kata orang lain terhadap diriku, yang terpenting Jadilah dirimu. Jangan kau simpan masalahmu sendiri yang semakin lama semakin membesar, Masih banyak orang yang peduli dengan kehidupan kita. Siapa diriku diriku adalah diriku bukan orang lain, Jadilah dirimu yang sebenarnya.

Cerpen Karangan: Satria Danur Wenda
Facebook: Satria Danur Wenda

Cerpen Siapa Aku? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jerrot Makin Melorot (Part 1)

Oleh:
GAGAL MOVE ON Awan hitam yang mulai perlahan menutupi awan putih, aku dan Widya yang sedang duduk berdua di puncak tetapi bukan sedang romantis-romantisan melainkan mengatakan putus seperti film

Study Tour Rafki

Oleh:
“Rafkiii…!! Bangun..!! sudah jam berapa ini?!” “Hooammmhh… Bukannya ini hari Minggu Ma…?” “Kan hari ini kamu mau study tour ke Bogor…” “O, iya!!! Aku lupa!! Aku mau mandi dulu

Subuh Kepagian

Oleh:
Waktu masih menunjukkan pukul 01.00 Pagi, tetapi ibu Lian sudah terbangun dari tidurnya. Ia segera bergegas mengambil air wudhu, seperti biasanya ia membangunkan Lian untuk segera mengambil air wudhu

Siput dan Singa

Oleh:
Baru saja aku menapakkan kaki di tanah kelahiranku, lebih tepatnya desa kelahiranku. Panggil saja aku Nadira, gadis berusia 20 tahun yang datang kemari hanya ingin berlibur sekaligus mencari sahabat

Bukan Pemeran Utama

Oleh:
Hari yang cerah dimulai dengan pagi yang cukup dingin, masih jam delapan pagi. Aku bersiap berangkat sekolah dan sempat membetulkan kerudungku di depan kaca rumahku, lalu bersiap pergi namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *