Siapa Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

Malam itu, angin bertiup sangat kencang, bitang pun menghilang dari keindahan, langit biru itu diselimuti oleh kegelapan malam, cahaya bulan tak terang seperti biasanya. Malam itu, adalah malam yang penuh dengan misteri. Dimalam itu juga, lahir seorang anak laki-laki yang lucu, imut, dan menggemaskan. Ia lahir tanpa seorang bidan, sebelum ia lahir, ibunya sudah tidak tahan untuk melahirkan, akhirnya.

“Oa oaa oaa oaa” tangisan seorang anak yang lucu itu membuat ibunya tersenyum lega. Namun sayangnya, ayahnya tidak menyambut kehadirannya. Karena sebagai seorang militer ia harus memperjuangkan negaranya saat perang. Suara burung yang menakutkan menyelimuti rumah itu, hingga datang seorang polisi ke rumah itu.
“Ada apa pak?” Tanya salah seorang warga dirumah itu.
“apakah ini rumah ibu anis istri bapak burhan seorang militer”
“iyah, benar. Istrinya baru melahirkan, apakah ada yang mau disampaikan?”
“bapak burhan meninggal dalam peperangan, sekarang jasadnya di tampat militer pemerintahan”
“pak polisi, apakah itu benar? Pak sekarang bahagia telah ada dirumah ini, jangan menhancurkan senyumnya pak, tidak mungkin pak burhan meninggal, dia terlihat sehat sehat saja pak, mungkin dia hanya kecapean, jangan mengada ada nyawa seseorang”.
“Maaf pak, itulah kenyataannya, kalau begitu saya permisi dulu”.
Ternyata, percakapan itu didengar oleh bu anis, ia yang sedang tertidur lemah, tak bisa melakukan apapun, hanya tangisan dan kesedihan yang bisa ia lakukan. Kebahagiaan dan kesedihan bersatu menyelimuti rumah itu.

Hingga ia tumbuh besar, hanya dengan seorang ibu yang senantiasa menemani dan menafkahinya. Seorang ibu yang super hero, dengan segala pengorbanan dan kerja kerasnya mendidik anaknya dengan baik sebagai seorang ibu juga seorang ayah.

“ibu, aku mirip gak sama ayah?” Tanyanya polos sambil melihat cermin.
“iya anakku, kamu sangat mirip dengan ayahmu, kamu manis, lucu, tak berbeda dengan ayahmu yang baik”
“emang ayah dimana bu?”
“ayahmu sedang bersama tuhan di sana, di tempat yang indahhh sekali”
“sama tuhan? Siapa tuhan bu? Tuhan jahat gak bu?”
“Tuhan adalah sahabat ayah nak, tuhan itu sangat baik, dia itu sangat sayang sama kita semua”.
“kalau gitu gunes pengen lihat ayah, gunes juga mau lihat tuhan, gunes pengen kasih tau sama mereka kalau nanti gunes mau jadi seorang militer pejuang bangsa.” kata kata manis yang keluar dari mulut mungilnya itu, membuat hati ibunya terharu, tanpa mengetahui tugas seorang militer, ia mengatakannya dengan bijak dan tegas.
“aminn… kenapa gunez ingin jadi militer, emang gunes tau apa itu seorang militer?”
“gunes pengen kaya ayah, kata ibu ayah seorang militer yang baik, kalau gunez udah gede, gunes mau jadi militer”.
“ibu, militer itu jahat gak bu?”
“tidak sayang, militer itu adalah tugas yang baik, demi mempertahankan negaranya, ia rela mengorbankan nyawanya, dan meninggalkan keluarganya”. Ibunya menjelaskan dengan suara tersedu sedu, sambil sesekali mengusap air matanya
“ibu menangis ya?” Tanyanya polos sambil menatap ibunya.
“tidak nak, ibu hanya terharu dengan seorang militer”
“apa ayah juga mau mempertaruhkan nyawanya untuk negara bu?”
“tentu saja, ia siap melerakan nyawanya demi negara, bahkan saat kamu lahir pun…” ibunya tidak kuat menahan air matanya itu.
“kenapa bu, pas gunez lahir kenapa?”
“tidak apa apa nak”
“ibu, ibu kok menagis, apa gunez salah ngomong yah sama ibu?”
“tidak nak, gunez anak ibu yang paling ibu sayang, ibu pengen, suatu saat gunez menjadi anak yang soleh”
“anak soleh itu apa bu?”
“anak soleh itu anak yang berbakti pada orangtua, yang mau membantu orang tua, yang sayang pada orangtuanya, meskipun orangtuanya telah meninggal.”
“kalau gitu, gunez juga mau lah jadi anak soleh, kan orangtua gunez masih ada”
“iyah, kamu harus jadi anak yang soleh, biar nanti masuk surga”.
“iya bu, kalau udah gede, gunes mau jadi anak soleh dan menjadi militer.

Waktu berjalan sangat cepat, hingga gunez tumbuh dewasa menjadi lelaki yang gagah dan berani. Ia tumbuh menjadi anak yang soleh, ia menjaga dan merawat ibunya dengan baik. Di usia yang tidak terbilang muda lagi, ia memanfaatkan sisa hidupnya, hanya untuk menjaga anak semata wayangnya. Tak bisa dipungkiri, cita cita anaknya yang ingin menjadi seorang militer, menjadi kehawatiran terbesar bagi ibunya. ia sangat takut, jika nasibnya yang dulu, akan terulang kembali kepada anaknya.

Alhamdulillah, gunes diterima di sekolah militernya. Dengan ambisi yang tinggi, ia benar benar menekuni cita citanya sebagai militer. Namun sesibuk apapun, ia tidak pernah meninggalkan ibunya sendiri di rumah.
Dalam perkembangan gunez, tak jarang, ia sering menanyakan ayahnya, selalu mengulang ulang tentang ayahnya, sampai ia pun mencari ayahnya.

“ibu, kata ibu, ayah akan pulang, tapi sampai gunes sebesar ini, ayah tak kunjung pulang. Apa ayah sudah meninggal bu? Dulu ketika gunez masih kecil, ibu bilang ayah sedang bersama dengan tuhan. Sekarang gunez pengen tau, dimana tuhan itu bu? Gunez mau menemuinya!”
Ibunya hanya bisa diam dengan kesedihannya. Ia tidak mau menghancurkan mimpi anaknya, oleh karenanya ia tidak mau menceritakan kejadian yang telah menimpa ayahnya.

“ibu, kenapa setiap gunez biacar tentang ayah, ibu selalu menangis? Jika ibu tak mau bicara tentang ayah sama gunez, gunez akan cari tahu sendiri.”
“Jangan nak, kamu tidak..”
“ibu, gunez mau pergi dulu. Jangan cari gunez, gunez tidak akan kembali sebelum gunes ketemu sama tuhan.”
“tapi nak..”
Gunez terlanjur pergi, dengan membawa tas penuh dengan pakaian.

Disela sela kesibukannya, ia selalu memikirkan ayahnya, namun ia tak pernah bercerita kepada teman temannya atau orang orang di sekitarnya tentang ayahnya, maupun tentang sahabat ayahnya, tuhan.
“aku sangat bingung, emangnya dimana tuhan membawa ayah, sampai selama ini. Kata ibu, tuhan tidak jahat, tapi, menurutku tuhan itu jahat. katanya tuhan sahabat ayah, tapi tuhan tidak menyayangi ayah. Kenapa tuhan membawa ayah dan memisahkannya dari keluarganya!” ucapnya dalam hati.
Dalam renungannya, ia melihat temannya membaca buku, tentang tuhan.
“ehhhhh, coba liat bukumu” ucap gunes pada temannya.
“nih” jawab temannya.
“kok, tuhan sih judulnya?”
“emang kenapa? Ada yang salah!!”
“enggak, tuhan kan sahabat ayahku”
“haduhhh gunez, tuhan juga sahabat ayahku, sahabat ibuku, dan sahabatku juga”
“kok bisa begitu? Kapan kamu berkenalan dengannya?”
“yah bisa lah, aku atau ayahku tak pernah berkenalan dengannya, karena ku tau, setiap saat ia pasti selalu mengawasiku”
“baik, kalau gitu katakan padaku, dimana tuhan sekarang?”
“kamu ngomong apa sih?, tuhan itu gak ada dimana mana, kamu aneh!!”
“enggak, aku gak aneh. Tuhan itu ada, dan dulu dia membawa ayahku entah kemana sampai sekarang. Oleh karena itu, aku mencarinya.”
“jangan ngada ngada deh gunez, kamu itu aneh banget!! Tuhan masa dicari”
“kalau kamu memang gak tau tuhan kemana, jangan menghinaku, aku akan cari tau sendiri”

Kemudian, gunez pun pergi untuk mencari tau lagi tentang tuhan. Ia pergi ke toko buku, satu persatu toko buku ia kunjungi untuk mengetahui tentang tuhan. Hingga akhirnya, ia mendapatkan buku yang berjudul “Inilah tuhanku”. Lalu, ia membeli buku itu, dan membawanya pulang ke kosannya.

Sampai di kosan, ia membacanya dengan teliti, kata demi kata, kalimat demi kalimat, agar ia memahami siapa itu tuhan, dan dimana tuhan. Namun, beberapa hari setelah membacanya, tetap saja, dia tak tahu dimana tuhan berada. Kemudian, ia membeli kembali buku buku yang berhubungan dengan tuhan. Tetap saja, dia masih tidak mengerti dan mengetahui keberadaan tuhan.

Sudah beberapa bulan ia tidak pulang ke rumahnya, sedangkan, dirumahnya ibunya sedang sakit. Ia juga tidak mengetahui keadaan ibunya, atau mengabari keadaannya pada ibunya. Tidak ada Komunikasi di antara mereka berdua, tak tau, semarah apa ia pada ibunya sehingga, gunez seseorang yang soleh dan selalu mementingkan ibunya, kini malah tidak pernah menjenguk ibunya tau menyanyakan kabarnya beberapa bulan ini.

Hingga suatu hari, ia mendengarkan siraman rohani di dekat kosan tempat ia tinggal. Mendengar siraman rohani yang bercerita tentang ibu itu, mengingatkan gunez akan ibunya. Sebenarnya ia juga sangat rindu pada ibunya yang superhero, Yang telah merawatnya dari kecil hingga ia dewasa hanya seorang diri. Tanpa lelah ia menafkahi keluarganya yang sangat ia cintai. Tak henti henti linangan air mata sang ibu untuk mendoakan sang buah hati tercinta.
Pada saat itu, gunez pun sadar. Bahwa amarahnya tak akan bisa memperbaiki semuanya. Kemudian, ia menelepon ibunya untuk mengurangi rasa rindunya. Dan alhamdulillah ibunya mengangkatnya.

“ibu?”
“ia nak, apa kabarmu? Ibu sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak menghubungi ibu, ibu selalu mengkhawatirkanmu. Apa kamu masih marah sama ibu. Jangan menghukum ibu seperti itu nak, kamu adalah satu satunya anak ibu, ibu sangat menyayangimu. Ayoo cepat pulang nak, ibu akan menceritakan semuanya padamu, ibu akan menceritakan tentang ayahmu, tentang tuhan, dan semua yang hal yang telah ibu sembunyikan darimu. Cepatlah pulang nak”
“kabar ku baik bu, gimana kabar ibu? Maafin gunez bu, selama ini udah marah sama ibu, selama ini gunez tidak menjadi anak yang soleh, seperti apa yang ibu inginkan. Gunez sangat menyesal bu. Gunez juga sangat merindukan ibu, gunez pengen jadi anak yang soleh lagi. Ia bu, sekarang juga gunez akan pulang bu. Ibu tunggu gunez yah disana”
“syukurlah jika kamu baik baik saja, kabar ibu baik nak, dan ibu sudah memaafkanmu. Ibu akan menunggumu sampai kamu pulang”
“ya udah, kalau gitu, gunez tutup dulu ya bu teleponnya”
“iyah, hati hati di jalan nak, ibu sangat menyayangimu”
“iya ibu, gunez juga sayang ama ibu”

Tak butuh waktu lama, ia pun langsung pergi untuk kembali ke tempat asalnya, dan menemui ibunya.
perjalanannya yang hampir memakan waktu 5 jam, menjadikannya sangat gelisah, ia ingin cepat cepat menemui ibunya. Tak sabar rasanya untuk memeluk ibunya, dia pun berjanji, tak akan pernah untuk meninggalkan ibunya lagi, dan akan selalu menjaganya dengan sepenuh hati.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya ia tiba di rumahnya. Namun, ketika sampai, disana ada bendera kuning terpajang di depan rumahnya. Sedangkan hanya ibunya seorang diri yang tinggal di rumah itu. Seketika tubuhnya pun lemas dan gemetar. Ia tak bisa berkata apa apa. Air matanya terus mengalir, sampai akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri. Kemudian, salah satu warga membawanya masuk kerumahnya. Tak lama setelah itu, dia pun sadar.

“apa yang telah terjadi di rumah ini? Apa yang telah terjadi pada ibuku? Dimana ibuku?” ucapnya khawatir.
“Ibumu telah tiada nak, ia sakit 2 bulan yang lalu dan sekarang dia sudah tiada” ucap salah satu warga disana.
“Bagaimana bisa? Saya baru saja bercakap dengan ibuku lewat telepon, ia akan tetap menungguku sampai aku pulang ke rumah” ucapnya dengan menangis tersedu sedu.
“sebenarnya, pas kamu meneleponnya, ia sedang berada di rumah sakit nak”
“tidak, ini tak mungkin terjadi!!! Takk mungkinnn!! Tak mungkin!!!”. Sambil berteriak dan menangis. Ia tak percaya jika ibunya telah tiada, ia sudah berjanji akan selalu menjaga ibunya, dan tak akan pernah meninggalkan ibunya lagi.

Kemudian ia langsung pergi dan memeluk mayat ibunya yang tergeletak di ruang tamu.
“ibuuuu, ibu kenapa ibu ninggalin gunez bu, ibuuu bangun bu, bangun ibu, ibu bilang ibu akan tetap menunggu gunez sampai gunez pulang. Sekarang gunez udah pulang, ayo bangun bu!! Ibu hanya becanda kan bu, ibu bangunn bu!!!” Tangisnya yang histeris sambil mengoyang goyang kan tubuh ibunya.
“yang sabar nak.. tuhan sangat menyayanginya, oleh karenanya, ia membawanya pergi”
Ia pun langsung terkejut.
“tuhan? Siapa tuhan? Dimana tuhan?. Ia telah membawa ayahku, dan sekarang, apa maksudmu dia telah membawa ibuku?”
“tuhan adalah dia yang telah menciptakan kita, dan seluruh alam ini. Suatu saat ia akan mengambil ciptaannya lagi, termasuk manusia. Dialah yang maha adil dan maha bijaksana.”
“Berarti ayahku? … berarti ayahku sudah tiada seperti apa yang dialami ibuku sekarang? Kenapa tuhan membawanya? Kenapa harus ayah dan ibuku?”
“sabar nak, semua ini adalah takdir yang telah allah rencanakan sebelum lahir, qada dan qadarnya seseorang telah tercacat di kitabnya. Kamu harus menerimanya, karena bagaimana pun itulah keputusannya.”

Sekarang ia mengerti, siapa tuhan. Tuhan yang dulu pernah diceritakan oleh ibunya, tuhan yang telah merubahnya, tuhan yang telah menciptakannya. Dia bukan seperti apa yang ia pikirkan.

Kadang ia merasa tak rela dengan semua ini. Namun, apalah daya, semua sudah terjadi. Mungkin, ini memang sudah menjadi takdirnya. Dan ia harus bisa menerimanya dengan patuh dan arif. Siapa tuhan? Tak perlu ada dalam pikirannya lagi. Karena tuhan adalah sahabatnya dan juga sahabat makhluknya. yang selama ini memberinya rezeki, nikmat, kemudahan, di langit dan di bumi adalah tuhan. Mulai saat itupun, ia bersahabat dengan tuhan. Langit yang mendung, kini menjadi lebih bersinar, karrna cahaya yang selama ini terkubur dalam sebuah rahasia, telah terpancar dan menerangi alam semesta ini.

Cerpen Karangan: Maryanah
Facebook: Maryanah
Saya maryanah siswa Man 4 Tangerang. Cerpen ini adalah cerpen kedua.

Cerpen Siapa Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Pak Hery

Oleh:
Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menandakan kalau pagi sudah datang, seperti biasa Pak Hery bersiap untuk berangkat bekerja. beliau adalah seorang pekerja keras, beliau bekerja dengan gigih hanya untuk

Kenangan Yang Terakhir

Oleh:
Sinar matahari telah menyinari kamarku dan aku terbangun dari tidur lelapku, ternyata hari sudah pagi waktu menunjukkan pukul 05.25 aku langsung bergegas untuk mandi karena aku akan berangkat ke

Luka Di Hati Ibuku

Oleh:
Pagi yang indah kurasakan seperti biasanya, karena aku paling bersemangat jika melihat matahari terbit. disana aku bisa merasakan kedamaian hatiku dalam kehidupan yang kujalani ini. Sudah sebulan lebih aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *