Sister

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 July 2014

“Hahaha…” tawa seseorang terbahak-bahak dari ruang tengah
“woiiii! Berisik” teriakku kesal melihat tingkah kakakku yang sangat menggangguku belajar
“hahaha!!!” tawanya malah semakin mengeras, huuh… gimana bisa konsen kalau begini caranya! Mana besok ulangan sejarah lagi, dan yup! Bagian Pak gunawan tuh, guru yang terkenal killer dan gualak, kalau ada ulangan nilainya jelek, wah bisa-bisa suruh keliling lapangan 10 kali tuh, eh.. kok mikirin pak gunawan sih.

Kenalin namaku Venika ayu rahmania, panggil aja Vika, dan yang ketawa-ketiwi nggak jelas tadi, namanya kak Gina, dia kakakku, yup kami ini dua bersaudara kami dilahirkan di keluarga yang lumayan kaya, Ibuku seorang dokter anak, sedangkan ayahku adalah Dosen di salah satu fakultas di daerah jakarta, aku sebenarnya sangat senang bisa dilahirkan di keluarga kecil ini tapi aku sekarang tidak bisa konsen belajar karena kakakku yang satu itu, akhirnya aku tidak ambil diam, kulangkahkan kedua kakiku menuju ruang tengah tempat kakakku berada, kulihat sosok kakakku yang sedang serius membawa buku komik di kedua tangannya, aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya
“kak, bisa diem nggak sih” omelku kepadanya
“hahaha” dia malah ketawa seperti orang gila, aku semakin geram
Kudekati kakakku yang duduk di sofa kecil berwarna putih keabuan itu, kuambil buku komik yang sedang serius ia baca dengan paksa
“eh, anak kecil lo ngapain tiba-tiba ngambil buku gue!” bentaknya marah, tadi ketawa-ketiwi sekarang jadi mengerikan, aneh
“kak, kalo kakak nggak berisik aku juga nggak bakal ngambil buku kakak kok!” balasku tak mau kalah
“maksud lo?” katanya polos menatapku tajam
“kakakku yang baik, aku sedang belajar nih, bisa nggak sih nggak ketawa terus” suaraku berubah lembut 180 derajat, entah kenapa aku malah melakukan itu
“adikku yang baik, emang masalah buat lo!” katanya menirukan omonganku
“ya masalah lah, kan aku jadi nggak konsen belajar” balasku kesal
“jadi mau lo sekarang apa?” tanyanya
“mauku, kakak bisa diem nggak ketawa lagi. Titik.” Kataku menatap kakakku tajam
“kembaliin dulu bukunya” ujarnya meminta menyuruhku mengembalikan buku yang ada di tanganku, akhirnya kuserahkan buku komik bersampul biru itu, kulihat kakakku tersenyum kembali
“nah, gitu donk” katanya nyengir

‘Ting-tong’ tiba-tiba bel berbunyi, aku pun berjalan ke depan pintu rumah dan memastikan siapa yang datang malam-malam begini “ckiit” pintu kubuka, dan kulihat seorang wanita yang seumuran dengan ibuku menatapku
“ada yang bisa saya bantu?” tanyaku memberanikan diri
“e.. ibu ada?” jawabnya sambil agak gugup
“ada, tunggu sebentar ya bu” kataku ramah lalu mencari ibu

Aku berjalan menuju dapur di dekat ruangan tengah, masih kulihat kakakku membaca komiknya dengan serius
“siapa dek?” tanyanya ingin tau tamu siapa yang datang
“nggak tau” jawabku polos, lalu berjalan menuju dapur
Di dapur kulihat ibu sedang serius memasak untuk makan malam, hmmm baunya harum sekali…
“bu, ada tamu tuh” kataku lalu mendekati ibu yang sedang memasukkan bahan-bahan ke dalam panci
“siapa” tanyanya lalu menengok ke arahku
Aku hanya bisa menaikkan kedua bahuku tanda tidak tau
“kamu ngelanjutin masaknya yah, gampang kok tinggal diudak-udak aja” suruh ibu menyuruhku melanjutkan memasaknya
“tapi, bu aku mau belajar nih” kontan saja aku menjawab seperti itu, karena aku memang sedang butuh belajar
“bentar doank kok” ujarnya
“tapi..” kataku dengan kesal, tapi belum selesai aku bicara ibu sudah pergi

Aku bingung apa yang harus kulakukan, kalau aku nggak belajar aku bisa dihukum gara-gara nilai yang jelek, tapi kalau aku nggak ngelanjutin masakannya bisa-bisa diomelin ibu nih. ‘Aha.. kenapa nggak nyuruh kak Gina aja, dia kan lagi nganggur’ pikirku mendapat ide.

aku pun menghampiri kakakku di ruang tengah, kulihat dirinya sedang terlelap tidur di sofa masih dengan membawa buku komik di atas perutnya, haduuh dasar kakakku memang nggak pernah bisa diandalkan, gerutuku dalam hati, yah terpaksa deh aku melanjutkan memasaknya, sebenarnya aku ingin membangunkan kakakku tetapi aku takut kalau dia marah.

Keesokan harinya…
Aku berangkat sekolah dengan terburu-buru, masalahnya aku mau belajar di sekolah karena semalem nggak belajar, kalau nggak tau sendiri kan resikonya

Aku berangkat sekolah diantar ayahku naik motor, dan aku paling benci jika sudah naik motor, masalahnya mobil papa rusak tanpa sebab kemarin saat mengantarku ke sekolah, alhasil aku telat dateng ke sekolah karena mobilnya mogok.
Akhirnya aku sampai juga di sekolah, kusiapkan diriku menyambut pagi ini dengan semangat, aku pun masuk kelas dengan langkah agak berat karena takut nanti ulangan.
“Vika!” teriak seseorang di bangku depan
“Nina” kataku melihat sahabat akrabku sejak TK
Kuhampiri sahabatku lalu duduk di sampingnya
“tumben datengnya pagi, biasanya telat melulu” kata Nina melihatku datang lebih awal tidak seperti biasanya, aku hanya bisa tersenyum
“gimana vik, kamu udah belajar buat nanti ulangan sejarah?” tanyanya lagi, aku hanya mengangguk pelan, padahal sebenarnya aku baru belajar sedikit, tapi sekarang masih ada waktu jadi bisa belajar, kubuka buku sejarahku lalu membacanya
Tiba-tiba seseorang datang dari balik pintu
“anak-anak kita mulai ulangannya sekarang ya, maaf terlalu pagi soalnya bentar lagi bapak ada tugas” jelas orang yang ternyata pak Gunawan
“huuuu” semua anak bersorak, kulihat wajah-wajah pasrah teman-temanku yang belum belajar

Ulangan pun dimulai, kubaca soal yang ada di secarik kertas ulangan, mataku tetap fokus membaca soal demi soal, ada yang mudah dan sebaliknya, tetapi kebanyakan soal-soal itu banyak yang kurang kupahami, kukerutkan dahiku saat membaca satu soal yang sangat asing bagiku, ‘kenapa soal-soal ini susah sekali’ batinku.

Akhirnya aku selesai mengerjakan soal-soal killernya pak gunawan, langsung saja langsung diperiksa oleh pak Gunawan, sesekali kulihat pak Gunawan yang mengerutkan dahi, aku berharap semoga nilaiku bagus-bagus.
“baiklah anak-anak, dari ulangan barusan hanya lima yang memenuhi nilai KKM, mereka adalah Restu, Alif, Caca, Yuda, dan Nina” katanya menjelaskan, semua anak langsung melongo tak percaya termasuk aku, wah siap-siap menerima resikonya nih.

Sepulang sekolah aku sangat lelah, karena tadi dihukum mengelilingi lapangan 6 kali, tambah satu putaran nih, padahal biasanya 5 kali putaran, dan aku sedang marah kepada kakakku, karena ini semua gara-gara dia aku jadi dihukum

Sesampainya di rumah kucari kakakku untuk membalaskan amarahku ini, tapi kenapa rumah sangat sepi ya? Kucari-cari ibu di dapur, tetapi tidak ada orang, tiba-tiba seseorang masuk ke rumah
“ibu, ayah!” kataku melihat ibu dan ayah dengan muka sedih
“ibu kenapa wajahmu sedih?” tanyaku heran melihat kedua orangtuaku seperti menyembunyikan sesuatu
“kakakmu vik..” kata ibu tidak melanjutkan kata-katanya
“kakak kenapa bu?” tanyaku penasaran
“kakakmu sudah tidak menjadi bagian dari keluarga kita” jelas ayah
“maksudnya?” kataku kurang paham
“orang yang semalam datang kesini itu ibunya, dia menginginkan agar kak Gina ikut orangtuanya pindah ke Padang” lanjut ibu menambahkan, aku masih bingung dengan semua kata-kata ibu
“jadi, maksud ibu kak Gina bukan anak ibu! Kenapa ibu nggak cerita sama Vika?” tanyaku lalu menangis
“maafin ibu nak..” ibu hanya tertunduk sedih
“kapan kak gina pergi?” tanyaku lagi
“baru saja, dia dijemput oleh kedua orangtuanya lalu mereka langsung pergi ke Padang” kata ayah
Tak kuasa air mataku menetes membasahi wajahku ini, aku langsung berlari menuju kamar, aku menangis sejadi-jadinya, aku sangat merindukan sosok itu, sosok kakaku yang tidak akan pernah datang di kehidupanku.

Tiba-tiba aku melihat sepucuk surat di atas meja belajarku, kubuka surat berwarna pink itu lalu kubaca isinya:
To: Vika
From: Gina (kakakmu)
Dek, maafin kakakmu yah yang selama ini selalu ngebuat kesal kamu, maafin juga karena kemaren ngeganggu belajar kamu, kakak nggak tau harus gimana lagi, kakak harus pindah jauh ninggalin kamu sekeluarga, dan sekarang kakak bukan kakakmu lagi, kakak Cuma orang yang ngeganggu hidupmu aja, maafin kakak ya dek kakak nggak akan ngelupain kamu. I LOVE YOU.

Air mataku membasahi kertas surat itu, aku tak kuasa menahan tangis ini, dan sangat terharu membaca surat itu, ‘Kak aku nggak bakalan ngelupan tawa kamu, dan omelan kamu, kamu akan selalu ada di hati Vika. I LOVE YOU TOO MY SISTER.

Cerpen Karangan: Fitriana Isfani Nur Haliza
Blog: fitrianahaliza.blogspot.com
Facebook: Fitriana isfani
Assalamualaikum..
Hai, nama saya Fitriana isfani nur haliza, panggil aja Fitri, saya lahir di Surakarta 10 Mei 2000, hobi saya tentu saja menulis cerita/cerpen, membaca, menggambar, main game dll, Cerpen ‘Sister’ adalah cerpen pertamaku yang aku kirim di Cerpenmu.com, saya Harap kalian suka ceritaku ini ya. terimakasih
Waalaikumsalam..

Cerpen Sister merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semangat Yang Tak Pudar

Oleh:
Sore ini angin terasa lembut saat ia membelai dan dunia seakan sangat sejuk. Seorang remaja laki-laki bernama Ferdian asyik duduk di teras rumahnya. Ia memainkan seruling peninggalan ayahnya yang

Pengorbanan Hati (Part 2)

Oleh:
“Asslamualaikum wr.wb. Apkah benar ini dengan Dara Almira?” Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ku ketahui. “Waalaikumussalam. Iya. Maaf sebelumnya ini dengan siapa?” “Apakah kamu masih ingat dengan

Beliau Itu Ibuku

Oleh:
Namaku Zee. Aku adalah anak tunggal. Aku sendiri adalah seorang pelajar SMA di Jakarta. Ayahku sudah 2 tahun meninggal, disebabkan oleh serangan jantung. Saat ini aku hanya tinggal bersama

Bintang Fajarku

Oleh:
Zainab terjaga dari tidurnya akibat serbuan nyamuk-nyamuk nakal yang kelaparan. Padahal tubuhnya sudah kurus kering tetapi anehnya setiap malam nyamuk-nyamuk itu masih saja mengincar darahnya. Mungkin darah yang mengalir

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *